
Degg!!
ketahuan? siapa? apa gw? atau si Sasha?
Gw yang panik mencoba tenang dan mencoba berkali kali menghubungi si Sasha.
"Sha? lo dimana?"
"Hadang pintu dengan apa pun, cepatt!!"
Gw langsung berlari ke arah pintu dan menghadang nya dengan sofa yang ada diruangan itu.
"Heii, dengarkan ini baik baik, 70 65 41 buka brankas nya lalu ambil dokumennya, aku akan segera menyusulmu"
Gw dengan perasaan yang panik dan juga jantung gw berdetak dengan cepat mencoba membuka brankas dengan kode yang sudah di berikan.
"Ayo Raka tenanglah"
Bruk...Bruk
terdengar seseorang yang berusaha membuka pintu.
"Cepat... cepatt" dengan keadaan yang sedikit panik dan tangan yang gemeteran gw akhirnya berhasil membuka brankas nya dan menemukan banyak dokumen disana.
"Yang mana?"
BRAKK!! mendengar suara dorongan pintu yang keras gw memutuskan untuk mengambil semua dokumennya lalu menghubungi si Sasha
"Sha lo dimana?"
"Hah...hah...hah... pergilah melalui atap, ada seseorang yang akan menarikmu naik, jangan sampai dokumennya hilang"
"Terus lo gimana?"
"Aku akan membereskan pekerjaan ku! cepatlah jangan banyak bicara"
Setelah suaranya dibalik sana hilang, ada tali yang jatuh dari atap tempat tadi mereka kabur.
"Cepat!"
Gw berjalan ke arah tali itu tapi tidak sempat karena pintu yang sudah terbuka dan beberapa orang yang memakai pakaian serba hitam masuk mengelilingi gw dengan menodongkan pistol mereka ke arah gw.
"Siapa kalian?"
"Berikan dokumen itu jika kau masih ingin hidup"
Dokumen ini? memang apa sih isinya dokumen ini? Sasha lo dimana?
"Tidak, ini tugasku, dan aku harus menyelesaikan tugas ku kan?"
Dari belakang salah satu pengawal terlihat bayangan orang yang tinggi lalu memukul salah satu pengawal dengan memutar kepalanya.
Lalu dia berlari kearah gw dan melawan para pengawal yang berusaha untuk memukulnya.
"Cepat lari, biar dia dan aku yang bereskan semuanya."
Tanpa memikirkan apa apa lagi gw meraih tali yang ada di depan gw dan mencoba naik, lalu ditarik dengan seseorang diatas sana.
"Lo gapapa?"
"Ah ya, terima kasih"
"Gimana rasanya?"
"Melakukan pekerjaan ini"
"Sedikit deg degan dan bingung"
"Bingung? wajar si, ini kan kali pertama lo bekerja kaya ini"
"Ayo pergi" ucap gw
"Lo gamau lihat tontonan yang menyenangkan dulu?"
"Apa? kalau kita ketahuan kita bisa mati disini"
"Tidak akan, sudah sini lihat dulu"
Dia meraih tangan gw melihat orang yang tadi masih berkelahi dengan para pengawal nya, gerakannya sudah tak selincah tadi, mungkin dia kelelahan karena bertarung dan dipukuli beberapa kali juga. Bruk, dia jatuh tengkurap dan terlihat sangat kelelahan, para pengawal itu menodongkan pistol nya ke arah dia, lalu...
Bruk... terlihat seseorang sedang melempar tubuh seorang pria tua yang yang berlumuran darah.
"Lihat, sebentar lagi dimulai" seru seseorang disamping gw dengan antusias
"I-itu Sasha?" gw melihat dia yang sedang ngos ngosan dan menatap tajam para pengawal itu. Tapi tunggu, kapan dia ganti baju? masa dia pake double tadi? gw memerhatikan dia dari atas sampai bawah dengan setelan baju serba hitam.
"Memang siapa lagi? lihat dan dengarkan baik baik."
"Ketua" seru seorang pengawal yang menghampiri tubuh pria tua itu
"Apa yang kau lakukan?" serunya dengan suara yang keras.
"Hanya membunuhnya" ucapnya datar dengan nafas yang masih terengah
"Beraninya kau" seorang pengawal maju dan mencoba melawan si Sasha tapi tiba tiba dia jatuh terlempar jauh kebelakang
"Kenapa dia tiba tiba terlempar?"
"Memang lo galiat tadi si Sasha memukulnya"
"Eeh? kapan?"
"Lo belum pernah melihatnya berkelahi? jika belum lihat saja sekarang, lo akan merasa seperti menonton film action."
Gw melihat ke arah bawah lagi dan melihat si Sasha sedang berkelahi dengan para pengawal, beberapa dari mereka ada yang menggunakan pemukul baseball tapi mereka tetap kalah melawan si Sasha yang hanya bertarung dengan tangan kosong.
Dor... terdengar suara tembakan pistol, dan itu mengenai lengan kanan si Sasha.
Dia tidak terlihat kesakitan dan menghampiri orang yang menembaknya lalu menunduk membuat wajah pengawal itu menghadapnya menggunakan kakinya.
"Apa kau tidak malu? bertarung melawan seorang perempuan saja harus menggunakan senjata? jangan menunjukkan muka busuk kalian dihadapanku lagi, urusan kita sudah selesai."
Dia pergi keluar ruangan itu dengan santai.
Apa ini pekerjaan yang dia maksud? jadi waktu kemarin juga sama? seberapa bahaya yang sering dia hadapi? tapi kenapa gw yang harus bantuin dia buat kerja hari ini?
Banyak pertanyaan yang belalu lalang di kepala gw, sampai akhirnya gw tersadar dengan suara di earphone gw
"Dimana kau? cepat keluar, pekerjaan selesai"
"Ahh iya"
***