
Hari terakhir pun tiba dan kami semua lagi berkumpul di depan penginapan buat pulang.
"Gimana Raka liburannya?" Tanya Kak Rangga disamping gw
"Seru, ini pertama kalinya gw liburan sama anak se-sekolah" jawab gw
"Hehe, gw ga minta apa apa loh, tapi kalo lo mau ngasih sesuatu sebagai ucapan makasih ya gw bakal terima"
"Dih, siapa yang bilang mau beliin lo sesuatu?" Jawab gw ketus
"Heh Arshaka!" Ucapnya dengan wajah datarnya
"Apa?" Jawab gw ikutan datar
"Gw minta hadiah, beliin gw sesuatu, ck" ucapnya kesal lalu menginggalkan gw
"Dasar orang aneh" gw bergumam lalu naik ke bus.
***
"UWEEEKKKK"
"Astaga, sabar ya Raka, bentar lagi nyampe rest area, tahan" ucap Ian disamping gw sambil mengusap-usap punggung gw
"Heh anjir jangan di elus-elus, gw tambah mual tau" gw menepis tangannya si Ian.
"Heh, siapa si yang bawa buah durian ke sini? Gapunya otak ya?" Omel si Ian berteriak ke seluruh penjuru ruangan bus yang lagi berjalan.
"Sabar ya Raka, tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan" ucapnya mencoba menenangkan gw.
"Gw turun disini aja bisa ga si? Uweeekkk" gw mencoba menahan nafas mencium aroma durian yang sangat menyengat.
"Hehh anjir ngaku ga, siapa yang ba- Uweeekj" teriak si Ian terpotong karena dia juga ikutan mual dan itu membuat semua orang yang melihatnya jadi tertawa sambil menahan mual.
"Ehh sumpah yang bawa tu buah laknat ngaku ga!!" Teriak si Zaki menggelegar ke seluruh penjuru bus.
"Gaada yang bawa durian, yang lo pada cium itu bau keteknya si Bayu" ucap Vino yang ada disebelahnya sambil menutup hidungnya dengan jarinya.
"Lahh pantesan" teriak mereka seketika dan suasana di dalam bus menjadi ramai.
Sedangkan si Bayu, tersangka utamanya malah ngorok ga meduliin suara berisik yang sibuk merutuki dirinya.
***
Bus berhenti di rest area.
Gw buru buru keluar dan menumpahkan semua isi perut gw dibawah sebuah pohon.
"Haah... hahh, akhirnya lega juga" gw lalu terduduk lemas di salah satu kursi taman didekat pohon itu.
"Hehh" ucap seorang perempuan yang lagi berjalan menghampiri gw lalu melemparkan botol kola dan duduk disamping gw
"Kau mabuk?" Ucapnya sambil memegang dahi gw yang penuh dengan keringat
"Ngga, gw cuma mual aja" jawab gw sambil mencoba membuka botol kolanya.
"Mual kenapa?"
"Di bus bau banget"
"Bau apa? AC nya ganyala emang?"
"Nyala, cuma baunya sampe nutupin pewangi AC" jelas gw
"Nanti naik saja ke mobilku" ucapnya
"Gausah, apa kata yang lain ntar"
"Ck, kau tau aku gaboleh ditolak?" Jelasnya dengan nada dingin khasnya
"Iya iya yaudah"
Gw lalu meminum kolanya.
"Kenapa lo kasih gw kola?" Tanya gw penasaran
"Soda bisa meredakan mabuk"
"Oh ya? Kata siapa?"
"Itu pengetahuan umum, bodoh" ketusnya
"Masa sih? Gw gapernah baca tuh"
"Intinya gitu, makanlah dulu, lalu masuklah ke mobilku" Sasha lalu berdiri dan berjalan meninggalkan gw.
"Hmm, ampuh juga" gw melihat botol kola itu dan berjalan menyusul si Sasha lalu menyesuaikan langkah dengannya
"Sha, mau makan?" Tanya gw disampingnya
"Kau saja, aku kenyang" jawabnya
"Hmm, makan bakso disana yuu" seakan tuli, Raka malah menarik Sasha ke salah satu stand bakso dan duduk disana.
"Pake apa aja?" Tanya gw
"Aku kenyang"
"Lo laper"
"Aku kenyang" Sasha mengulangi ucapannya
"Kalo gw bilang lo laper ya berarti laper" kekehnya
"Ck, hei Arshaka, kenapa hari ini kau aneh?" Tanya Sasha yang merasa aneh pada sifatnya
"Aneh? Ngga ah" gw membantahnya sambil memesan 2 mangkuk bakso
"Yasudah, diamlah aku akan menemanimu makan" ucapnya.
Lalu, galama dari itu, bakso pesenan gw dateng dan gw langsung menyambarnya
"Makan"
"Aku masih kenyang"
"Lo laper, ayo makan" ucap Raka yang melihat mangkuk bakso tak tersentuh itu.
"Mau gw suapin aja?" Gw menawarkan diri.
"Gausah, iya aku makan" Sasha lalu mengambil mangkuknya dan mulai menyuapkan makanannya.
Ditengah-tengah keheningan itu, terdengar suara cewek yang lembut dan familiar di telinga gw
"Arsha, lo lagi ngapain disini?" Tanya nya lalu duduk disamping gw sambil merangkul lengan gw
"Ehh, Mia? Ngapain lo disini?" Tanya gw bingung sambil mencoba melepaskan rangkulan tangannya.
"Gw mau liburan, gw kan udah nelpon lo waktu itu buat ketemuan di Bandung, lo gainget?"
"Ehh, itu lo yang nelpon?"
Dia hanya mengangguk sambil memperlihatkan senyum manisnya.
Lalu, gasengaja gw ngeliat si Sasha yang lagi merhatiin kita dengan mata tajamnya sambil memegang erat garpu di tangannya dengan aura gaenak seperti bakal ngecabik gw dengan garpu yang dipegangnya
"Arsha, liatin apa? Gw kan disini, liatin gw aja" ucap Mia sambil memegang pipi gw dan menolehkannya menghadap wajahnya.
"Aahh.. euuh iya"
Gw bingung dengan perlakuannya tiba tiba dan juga GW NGERI BAKAL DISIKSA SI SASHA ABIS INI ANJ T_T
"Hahah jangan gini" gw menepis tangannya dan kembali menatap si Sasha dengan tatapan intens-nya.
"Auww" lirihnya kesakitan pada tangannya yang gw tepis tadi
"Ehh, btw siapa dia Arsha?" Sambung Mia yang lagi menunjuk si Sasha dengan jari telunjuknya.
"Dia-" belum selesai gw bicara, si Sasha langsung nyeletuk
"Gw pacarnya, lo siapa?" Ucapnya dengan nada datar
Mia lantas menutup mulutnya kaget
"Beneran? Dia pacar lo Arsha?" Tanya nya gapercaya
"Iyaa"
"Satu lagi, nama dia Arshaka, panggilannya Raka, jangan buat nama aneh ga berkelas kaya gitu" timpal si Sasha.
"Ehh kenapa? Arsha juga gamarah kan dipanggil gitu?"
"Euuhhh" gw gatau mau jawab apa
"Lo ada urusan apa sama dia?" Tanya si Sasha penuh intimidasi
"Gaada apa apa si, gw cuma mau ketemu Arsha doang karena udah janjian sebelumnya" ocehnya
"Janjian? Kapan?" Gw kaget penuh tanya
"Waktu gw nelpon lo"
"Gw gabilang iya, lagian juga gw gatau itu lo yang nelpon" jawab gw langsung
"Jadi kalo tau mau janjian kan?'
"ENGGA!!" teriak gw spontan
Gw lalu berdiri dan menarik si Sasha buat pergi darisitu.
"Kenapa kau harus kabur?" Tanya si Sasha yang masih gw tarik.
"Gw ganyaman, dia masih aja gitu" jawab gw lalu berhenti dan melihat si Sasha sambil memegang bahunya
"Sha, apapun yang dia bilang, jangan percaya, dia pembohong" sambung gw
"Aku tidak peduli" jawabnya ketus
"Intinya jangan di dengerin, ayo pulang gw dah kenyang" gw lalu kembali menariknya menghampiri Kak Rangga.
"Rangga, ayo pulang duluan" ucap si Sasha
"Ehh kenapa?"
"Jangan banyak nanya" ketusnya
"Oke, gw bilang ke guru dulu, lo ikut kita Raka?"
Gw mengangguk
"Yaudah sana masuk, gw pamitan dulu" Kak Rangga lalu berlalu menghampiri guru pengawas.
Gw duduk dikursi belakang samping si Sasha yang lagi memandang keluar jendela dengan wajahnya yang datar.
"Sha? Lo kenapa?" Tanya gw penasaran
Dia gamenjawab sama sekali
Lalu, Kak Rangga masuk dan mulai melajukan mobilnya pulang.
Dan sepanjang perjalanan si Sasha hanya diam melihat keluar jendela.
***
Mobil berhenti tepat di depan rumah gw.
Gw dan si Sasha turun
"Makasih ya Kak"
"Btw, kenapa lo ikut turun?" Tanya gw bingung
"Ada beberapa urusan disini"
"Ohh yaudah"
"Sha, gw pulang ya, ntar lo pulang minta anter aja ke Rafel atau Gilang" ucap Kak Rangga
Sasha hanya mengangguk lalu berlalu memasuki basecampnya dan gw naik ke kamar kos gw.
"Ahhh, akhirnya kasur kesayangan gw" gw merebahkan diri di kasur gw sambil memeluk bantal guling yang ada disebelah gw.
"Kalian pasti kangen sama gw ya, maaf ya gw tinggal liburan 4 hari" ucap gw seperti orang gila ngobrol sama kasur sendiri.
Lalu karena kecapean dan pegel duduk di mobil, gw perlahan tertidur.
***
Gw terbangun karena mendengar suara gedoran keras di pintu gw
"Siapa?" Tanya gw dengan suara serak
"Aku" ucap Sasha dibalik pintu
Gw lalu bangun dan membukanya.
"Kenapa lama?" Tanya nya dengan wajah kesal
"Gw lagi tidur" gw lalu kembali mengunci pintu dan duduk di kasur.
"Kenapa lo masih disini? Gapulang?" Tanya gw penasaran
"Tak ada siapa siapa di basecamp, jadinya aku kesini" jawabnya yang lagi mainin hp nya
"Ohh yaudah" gw lalu perlahan merebahkan tubuh gw dikasur dan menutup mata
"Btw, pinjam ponselmu" ucapnya tiba tiba
"Buat apa?" Tanya gw yang masih merem
"Cepat" gw lalu meraba kasur gw dan memberikan hp gw padanya.
"Apa pin nya? Buka" ucapnya dengan nada kesal
"Tanggal ulang tahun gw"
"Berapa ulang tahunmu?" Tanya nya
"Ehh? Bukannya lo tau?" Tanya gw bingung lalu duduk
"Aku lupa"
"Hah? Sini" dia memberikan hpnya ke gw dan gw mengetikkan pin nya lalu kembali memberikannya
"Buat apa si?"
"Menghapus semua nomor cewek dikontakmu" jawabnya tiba tiba
"Hah? Kenapa?" Tanya gw bingung
"Ck, jangan simpan nomor perempuan lain selain aku" jawabnya sedikit membentak
"Kenapa?"
"Ck jangan banyak tanya" jawabnya kesal.
Gw lalu tersenyum dan duduk disampingnya
"Kenapa? Lo cemburu?" Tanya gw menggodanya
"Terus kalo bukan cemburu apa namanya?"
"Aku hanya tak suka"
"Sama aja itu artinya lo cemburu" jawab gw semakin menggodanya.
"Heh Arshaka, kau mau mati ya?" Bentaknya
"Gapapa kalo mati ditangan lo"
Dia semakin geram dan akan memukul gw, tapi tiba tiba terhenti karena mendengar suara dering telpon dengan nomor tak dikenal
"Angkat" ucap si Sasha sambil memberikan hp gw
Gw mengambilnya dan mengangkatnya.
"Halo?"
"Halo Arsha, lama banget angkat nya, lagi ngapain?" Ucap Mia dibalik sana
Gw lalu melihat si Sasha dan lagi lagi tatapan tajam itu kembali menusuk gw
"Ahahah, gw lagi sibuk, kenapa lo nelpon gw?"
"Hmm, yang tadi beneran cewek lo? Dia gasecantik gw" ucapnya
"Dia cantik ko, lebih cantik daripada lo, uangnya banyak lagi" jawab gw berniat memanasinya.
"Lo liat dia dari uangnya ya?" Tanya si Mia
"Ngga lah, tapi enak aja punya cewek banyak uang, gakaya lo" ucap gw membalikkan perkataannya sebelumnya
"Heh, uang gw juga banyak tau" jawabnya sambil tertawa kecil
"Gw gapeduli si" gumam gw pelan.
"Oh iya, besok ada film yang gw suka, kita nonton ya, gw dah beli tiketnya, babay" ucapnya menutup telpon.
Gw menoleh melihat kearah si Sasha dan gw menunduk setelah melihat matanya yang berapi api.
"Siapa dia?' Tanya nya
"Mantan gw"
"Kenapa nelpon?"
"Dia ngajakin gw nonton"
"Kapan?"
"Besok"
"Pergilah"
"Gw ganiat mau pergi"
"Lalu? Aku ga dengar penolakan darimu"
"Gw belum sempet bilang, telponnya keburu ditutup"
"Yasudah pergi saja" dia lalu berdiri dan hendak berjalan keluar tapi gw menahan tangannya.
"Mau kemana?"
"Pulang" jawabnya sambil menepis tangan gw
"Udah malem, nginep aja disini"
"Tak usah, aku mau nginep di rumah mantan mu"
Gw lalu terdiam
"Lo cemburu" gw mengatakannya sambil senyum senyum
"Tidak, untuk apa aku cemburu?" Jawabnya
"Boong, lo cemburu karena ngira gw mau pergi sama si Mia buat nonton kan besok?" Tanya gw makin menggodanya
"Ngga, aku gacemburu" ucapnya lalu menuju pintu keluar dan gw menghadang pintunya dengan tangan gw
"Mau kemana? Gamau pelukan dulu?" Ledek gw
Sasha menutup matanya sambil menarik nafas dalam menahan sabar lalu berbalik.
"Ka-" belum selesai Sasha berbicara, bibirnya langsung dibungkam dengan ciuman tiba tiba yang Raka lakukan.
Bibir itu awalnya hanya menempel saja, lalu perlahan, Raka mulai ********** lembut
"Buka mulutnya" ucap Raka sambil menatap dalam mata Sasha.
Raka memegang dagunya Sasha dan mulai ********** lembut sambil memainkan bibirnya Sasha.
Sasha mencoba mendorong pria didepannya, tapi tenaganya tak cukup membuat pria itu terdorong mundur.
Karena terbuai dengan ******* lembutnya Raka, Sasha perlahan memejamkan matanya dan mulai membuka mulutnya lalu mengalungkan tangannya di bahu Raka.
Raka meletakkan tangannya di pinggang Sasha lalu mengusap punggungnya perlahan.
Gw perlahan turun mencium bagian leher dan meninggalkan tanda merah disana.
"Raka, hmmph" lirik Sasha
Gw lalu menatap matanya hangat.
"Sha, gw suka lo cemburu" ucap gw lirih
"Cih" dia lalu mendorong gw dan membuka pintu lalu keluar.
"Ehh sayang mau kemana? Yang tadi masih belum selesai" gw lalu menyusulnya keluar.
Gw mengikutinya sampe tiba dipinggir jalan.
"Sha, ayo pulang, yakin gamau lanjutin yang tadi?" Ucap gw menggodanya.
Dia hanya diam dan memberhentikan sebuah taksi.
Dia lalu masuk ke kursi belakang dan gw masuk ke kursi depan disamping pengemudi.
"Kenapa ikut masuk?" Tanya si Sasha
"Mau bujuk lo"
Gw lalu ngasih tau alamat apartemen si Sasha dan mobilpun mulai melaju.
"Sha" gw menoleh kebelakang dan melihat wajah si Sasha dengan tangan yang menyilang di depannya
"Shaaa~ jangan cemburu atuh" ucap gw sambil memasang wajah imut
Dia hanya diam sepanjang jalan sambil mendengar ocehan gw yang sedang berusaha membujuknya.
"Sudah sampai, Mas" ucap supir taksi itu.
Gw lalu membayar ongkosnya dan turun menyusul si Sasha yang udah keluar duluan.
"Sha, tunggu dong" gw berlari menghampirinya yang sudah masuk ke lift dengan pintu yang hampir tertutup.
"Shaa" gw masih mencoba membujuk si Sasha
Dia hanya diam sampai masuk ke apartemennya.
"Shaa" gw menarik tangannya lalu memeluknya.
"Lepas" ucapnya sambil mencoba mendorong gw
"Gamau" gw makin mengeratkan pelukan gw
"Lepas" ucapnya masih mencoba meronta
Gw hanya menggeleng
"Gamau, lo pasti bakal kabur lagi"
"Aku ada dirumah, mau kabur kemana?"
"Ya siapa tau gitu kan"
"Ck, lepas" dia melepas pelukan gw
"Hahaha Sha, lo imut kalo lagi cemburu gitu, gw jadi pengen nyerbu lo sekali lagi" gw menyusulnya dan memeluknya dari belakang
"Raka, lepas"
"Gamau, sini liat gw"
"Cemburunya jangan kelamaan dong, soalnya wajah lo jadi imut, gw gayakin bisa tahan" gw mencium tengkuknya
"Arshaka lepas, jangan begini" ucapnya sambil mencoba melepas pelukan gw.
Gw lalu menggendongnya dan mendudukkannya diatas meja bar sambil menatap dalam matanya.
"Raka, mau apa kau?" Tanya Sasha menatap Raka dengan penuh tanda tanya.
"Sha, jangan nguji kesabaran gw" jawab gw
"Nguji kesabaran apanya?"
"Kaya gini, lo tau gw dah nahan nahan sejak kita dirumah gw?"
"Jangan begini" ucapnya lirih sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah
"Shaa, kenapa wajah lo cantik banget si" ucap gw seketika dan langsung memegang kedua pipi si Sasha dan mulai mendekatkan wajah gw.
"Raka, mau apa?"
"Diamlah, ikuti saja"
Raka lalu menciumnya dalam dan mulai memainkan lidahnya. Sasha hanya mengikuti permainan Raka dan membiarkan pria itu memimpin arah ciuman ini selanjutnya.
Sasha mengalungkan kedua lengannya di bahu Raka dan mulai terbuai dengan permainan yang pria didepannya lakukan di bibirnya. Raka menahan tengkuk Sasha dan mulai menelusuri setiap rongga mulutnya dengan lidahnya.
Raka lalu menggendongnya dan membawa Sasha memasuki kamarnya lalu membaringkannya.
"Raka, ini gabenar" ucap Sasha lirih
Raka mengabaikan ucapannya dan kembali mencium Sasha tepat dilehernya dan meninggalkan beberapa tanda merah disana.
"Rakaa hmmph"
Raka yang mendengarnya menjadi semakin bergairah dan tangannya mulai membuka rompi yang dikenakan si Sasha, lalu megusap punggungnya dan perlahan menarik turun resleting bajunya dan membuka kaitan bra-nya.
Raka beralih mencium bibir Sasha dengan lembut dan mengusap perutnya perlahan dengan tangan yang sudah berhasil lolos menuju dadanya dan meremasnya perlahan.
Dengan tangan yang masih memainkan dadanya, Sasha membalikkan posisinya hingga pria itu kini berada dibawahnya.
"Sha, lo mulai nakal ya" ucap Raka lirih
"Kau yang mulai" Sasha mencium bibir Raka dan menggigitnya beberapa kali lalu beralih mencium lehernya hingga meninggalkan banyak beberapa tanda merah dilehernya.
Tangan Sasha yang sudah masuk mengelus perut ratanya perlahan menaikkan baju yang pria itu kenakan lalu membukanya dan mulai mencium dadanya.
"Wow, latihan dengan Rangga ternyata membuat badanmu terisi" ucap Sasha sambil meraba dada Raka yang sudah terisi otot karena hampir 2 bulan latihan dengan Kak Rangga.
Saat sedang asyik meraba-raba dadanya Raka, Raka membalikkan kembali posisinya dan menahan tangan Sasha dengan tangannya
"Sha, kalo lo kaya gitu lo bener bener gabakal bisa lepas dari gw malem ini" ucap gw sambil menatapnya dengan wajah yang memerah karena ulah si Sasha tadi.
Gw kembali menciumnya dengan sedikit agresif dan ga meninggalkan celah baginya walau hanya sekedar bernafas.
"Raka, hmmp" ucapnya disela sela ciuman itu.
Raka mengabaikannya dan tangannya telah menyusup kedalam bajunya lalu mulai meremas dadanya perlahan.
"Aahhh" sebuah suara ******* berhasil lolos dari mulut Sasha walau dia telah menahannya dengan susah payah.
Ciuman itu perlahan turun mengenai pipi, telinga, lalu lehernya yang meninggalkan banyak bekas merah karena ciuman panasnya.
Sasha yang menikmatinya mengalungkan tangannya ke leher Raka dan mulai menggeliat setelah pria itu mencium telinga yang menjadi kelemahannya itu.
Tangan yang sedang berada di pinggul Sasha itu perlahan menaikkan bajunya dan membukanya hingga perempuan di bawahnya itu hanya mengenakan hot pant-nya saja.
Setelah berhasil menanggalkan bajunya, Raka mulai beralih mencium perut Sasha dan membuatnya menggeliat.
Raka meninggalkan banyak bekas merah yang menghiasi perut putih bersih itu lalu kembali menatap mata Sasha dalam dan hangat
"Be my girlfriend?" Ucap Raka lirih
Sasha balas menatapnya lalu menarik tengkuk Raka dan kembali menciumnya dalam. Disetiap ciuman yang Raka lakukan, Sasha selalu terbuai dengan ciuman yang kini menjadi candunya itu, bibir yang hangat, lidah yang lembut, aroma Vanilla yang manis dan juga menggugah selera dengan perasaan yang kini menyelimuti hatinya seperti ada ribuan kupu-kupu yang sedang beterbangan di perutnya.
Tanpa sadar, Raka sudah mulai mencium dadanya dan sesekali menghisapnya pelan dengan tangan yang sudah menelusuri pahanya.
Sasha menekan kepala Raka hingga makin menempel di dadanya dengan hisapan Raka yang sudah mulai agresif.
"Stop, hentikan, ini gabener Raka, ini salah" gumam Raka dalam hati yang menyuruhnya menghentikan kegiatannya.
Namun, otak dan hatinya ga sejalan hingga Raka masih melanjutkan kegiatannya dengan tangan yang sudah membuka kancing hot pant-nya Sasha.
"Sha, boleh gw buka kan?" Raka menatap mata Sasha dalam dan hangat.
Sasha balik memandangnya dengan tangan yang masih menggantung di bahunya Raka.
"Gw gabakal lakuin kalo lo gamau" sambungnya
Sasha menatap mata Raka dalam dan diam lalu menciumnya sekejap.
Walaupun perempuan di bawahnya ini tidak mengatakan sepatah katapun, tapi dia tau bahwa perempuan itu mengizinkannya melakukan apapun.
Raka lalu tersenyum tipis dan kembali mencium Sasha lembut dan terjatuh diatas tubuhnya
"Ehh? Kau kenapa?"
"Gw lemes, cape, gantian dong lo yang lakuin"
"Yasudah istirahat saja, kita lanjutkan lain kali"
Sasha bangun dan membantu gw tidur dengan nyaman
"Cium dulu" ucap gw sambil memanyunkan bibir gw dan menahan dia yang mau berdiri
"Kau sudah menciumku tadi" jawab Sasha menolak
"Beda, tadikan gw yang cium, sekarang lo" ucap gw manja
"Tak mau"
"Aaah ayo" gw semakin memanyunkan bibir gw.
Dia lalu memutar matanya dan mencium gw sekilas.
"Udah, tidurlah"
Si Sasha yang mau berdiri, gw menariknya sampe dia jatuh di atas gw dan gw memeluknya erat.
"Raka-"
"Shht, ayo tidur, jangan lepasin pelukannya kalo bukan gw yang lepasin ya" Raka perlahan mengantuk dan menutup matanya.