
"Aaahhh, udara gunung emang gapernah mengecewakan" ucap Kak Rangga setelah kembali dari memakirkan mobilnya.
"Ayo kita naik" lanjutnya lalu berjalan duluan meninggalkan gw sama si Sasha.
"Rangga, kau gabawa belanjaanmu tadi?" Ucap si Sasha menghentikan langkah Kak Rangga
"Ehh iya, lo bawa sendiri sana" jawab Kak Rangga
"Kau saja" ucap Sasha lalu berjalan melewati Kak Rangga
"Heh, yang mau siapa?"
"Yang beli siapa? Kau akan membiarkan ku membawa semua belanjaanmu sampai puncak?"
"Ya gabakal si, tapi gausahlah, diatas juga pasti ada Hadirmart" jawab Kak Rangga lalu berjalan disamping si Sasha dan gw mengikuti mereka.
Kami mulai menaiki anak tangga satu persatu dan belum seperempat perjalanan, gw dah gakuat dan berhenti sambil berpegangan di salah satu tiang disana.
"Aahhh, istirahat dulu dong Kak"
"Lo kenapa? Baru juga naik" ucap Kak Rangga sambil tertawa
"Kaki gw kayaknya mau patah" jawab gw lalu duduk bersandar di tiang itu
"Istirahat dulu saja" si Sasha lalu menghampiri gw dan duduk disebelah gw
"Mau minum Sha?" Tanya Kak Rangga
"Greentea" jawab si Sasha singkat
"Oke bntar ya"
"Ehh, lo ganawarin gw minum juga?" Ucap gw
"Lo mau minum?"
"Iyalah anjir, lo mau biarin gw dehidrasi terus mati di puncak sana?"
"Ribet kalo emang gitu, yaudah lo mau apa?"
"Hmm, gw mau minuman yang seger dan bisa ngebuat kaki gw kuat buat naik ke atas" jelas gw
"Lo bikin aja sendiri minuman kaya gitu mah" ucapnya lalu berbalik dan menuruni tangga lalu membeli minuman gajauh dari sana lalu kembali membawa 3 botol minuman.
"Nih, abisin" ucap Kak Rangga memberikan sebotol minuman ginseng ke gw
"Ko ginseng?"
"Katanya minuman yang bikin kuat" jawab Kak Rangga sambil membuka botol greentea dan memberikannya ke si Sasha.
"Yaudah thanks ya" gw lalu membukanya dan meminumnya tanpa meninggalkan sisa.
"Panas ga Sha?" Tanya Kak Rangga
Sasha hanya mengangguk.
"Bntar ya" Kak Rangga lalu menghampiri orang yang jualan topi dan membawanya kedepan kami.
"Pilih mau yang mana?" Ucapnya
"Yang sesuai dengan bajuku" jawab Sasha singkat
Kak Rangga nampak memilih topi dengan serius dan mencoba memakaikannya ke si Sasha satu persatu.
"Hmm, ini bagus si, cuma kayaknya kegedean"
"Ahh kau lama, beli yang mana saja" ucap si Sasha
"Oke, beli yang ini, ini, ini, sama ini ya" Kak Rangga memilih 4 topi dan memberikan semuanya ke si Sasha.
"Aku ambil yang ini saja" Sasha lalu mengambil 1 topi yang bulat dan memakai topinya lalu memberikan sisanya ke gw.
"Gw yang ini aja" gw mengambil 1 topi hitam dan memakainya.
Kak Rangga lalu membayarnya dan mengambil sisanya.
"Ayo lanjut jalan" ajaknya sambil mengulurkan tangannya ke si Sasha
Kami lalu melanjutkan perjalanan kami dan saat sudah setengah perjalanan, si Sasha berhenti di depan salah satu orang yang jualan gantungan kunci dan kalung.
"Rangga, sini menunduk" Kak Rangga lalu menunduk dan Sasha memakaikan kalung dengan kuku harimau sebagai bandulnya.
"Coba mengaum" ucap si Sasha
"Kaya gimana?" Jawab Kak Rangga dan gw hanya melihat mereka berdua
"Kaya gini, rawwrrrr" sambil mengangkat tangannya
"Hmmpp ahajajahajahahahaha" Kak Rangga dan gw ketawa terbahak bahak setelah melihat si Sasha mengaum
Si Sasha hanya melihat kami yang sedang tertawa dengan wajah yang kesal
"Cih, menyebalkan" ucapnya lalu melanjutkan naik anak tangga menninggalkan kami yang masih tertawa.
"Ehh, tunggu Sha" Kak Rangga dan gw menyusul si Sasha.
"Eh bntar Kak" ucap gw menghentikan Kak Rangga
"Kenapa? Lo kebelet?"
"Tadi lo udah bayar belum kalungnya?"
"Ehh iya, ayo balik lagi" jawabnya lalu kembali turun sambil menarik gw dan membayarnya
Setelah sampai puncak.
"Duuh tu anak mana si? Kalo ilang kan berabe" ucap Kak Rangga melihat lihat sekitar mencari keberadaan si Sasha
"Dibelakangmu" terdengar suara si Sasha di belakang kami.
"Ahh Queensha Ratuku, lo gapapa kan? Jangan ngilang gitu dong" ucap Kak Rangga sambil memeluk si Sasha
"Kalian lama, jadi aku tinggal ke toilet sebentar" jawab si Sasha dibalik pelukan Kak Rangga.
"Kak udah dong, kalo dia keabisan nafas, gw ngejomblo seumur hidup" ucap gw menarik Kak Rangga dan melepaskan si Sasha dari pelukannya
"Bodo amat, lo nikah aja sama cewe lain, asal jangan adek gw" jawabnya
"Hehh? Kenapa?"
"Lo belum layak buat dapetin si Sasha. Lo belum bisa ngelampauin gw" jelas Rangga
"Iya iya, cowo cupu kaya gw mana bisa ngelampauin Tuan Rangga"
"Hahaha, becanda Ka, becanda" balasnya sambil merangkul pundak gw.
Kami menjalani hari di puncak gunung itu sambil foto foto, ngasih makan monyet, dan banyak lagi yang lainnya.
"Diam disana" ucap si Sasha mengeluarkan hpnya.
"Lo mau foto gw ya?"
"Hm cheese" ucapnya
Gw pun memasang gaya andalan gw.
"Ck, gaya apaan itu, ganti"
"Ganti kaya gimana? Gini bagus tau?"
"Ahh ganti, ikutin aku ya"
Dia lalu berpose dengan imut
"Ihh apaan gaya kaya tikus gitu"
"Ahh cepet ikutin" ucap si Sasha merengek.
"Gamau"
"Cepet"
"Iya iya, gimana? Gini?"
"Nahhh, tahan ya 1...2...3"
Satu buah foto terambil di hpnya si Sasha dan gw pun mendekat buat ngeliat hasilnya.
"Bagus kan?" Tanya nya sambil tersenyum
"Hmm iya terserah lo" jawab gw
"Sha, Ka, sini" teriak Kak Rangga memanggil kami untuk duduk di salah satu saung lesehan disana.
Lalu kami menghampirinya dan duduk didekatnya.
"Ahh, pinggangku hancur" si Sasha langsung tiduran di kaki Kak Rangga begitu dia duduk.
"Kenapa?" Tanya Kak Rangga sambil mengelus kepala si Sasha.
"Tak apa, punggungku pegal"
"Kelamaan berdiri si lo"
"Kau yang memberikanku sepatu kaya gini" ucapnya sambil menendang sepatu heels yang ga terlalu tinggi itu.
"Heh, jangan di tendang gitu dong, nanti kalo rusak gw bisa dicuekin Ruby" omel Kak Rangga.
"Kau bisa membelikannya yang baru" ucap si Sasha.
"Gamau, kalo gw nemenin dia belanja, gw pasti cuma jadi tukang bawain belanjaannya dia doang" jawab Kak Rangga dengan muka kesal.
Lalu galama dari itu, 3 jagung bakar yang diantar penjualnya datang.
"Kau beli jagung bakar?" Tanya si Sasha lalu duduk
"Iya, ayo makan" jawabnya lalu mengambil 1 dan mencium aromanya.
"Ahh, wanginya lebih enak dari wangi bayi" ucapnya.
"Thanks ya Kak" gw lalu mengambil jagungnya dan mulai memakannya perlahan.
Sekitar jam 5 sore, dan kita ngerasa dah puas main, lalu kami pulang dan gw sama Kak Rangga nginep di rumah si Sasha karena nyampe sekitar jam 8.30 malem.
"Sha, siapin baju gw dong, gw mau mandi" ucap Kak Rangga lalu masuk ke kamar mandi.
"Dia kira dia ada baju apa disini?" Jawab si Sasha dengan nada kesal sambil membuka lemari dan mengambil 1 kemeja dan celana selutut lalu menaruhnya diatas kasur.
"Raka, kau gamandi?"
"Males, mandiin dong" jawab gw yang lagi tiduran di kasurnya.
"Kau bukan bayi" jawabnya
"Gw kan bayi gede lo"
"Dih, mandi sana, pake kamar mandi di kamar sebelah aja ya"
"Tapi gw gaada baju ganti"
"Pakai baju Rangga nanti"
"Tapi males bangun"
"MANDI GA!!" Bentaknya
"Iya iya mandi" jawab gw bangun lalu berlari kekamar sebelah dan mandi disana.
Setelah selesai mandi, gw keluar dan mendapati kemeja dan celana diatas kasur dan gw memakainya lalu keluar kamar itu.
"Sudah selesai, kemarilah" ucap si Sasha yang duduk di sofa bareng Kak Rangga.
Gw lalu menghampiri mereka dan duduk disampingnya.
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa? Ayo belajar biologi dari ahlinya" jawab si Sasha
"Buat apa belajar biologi?"
"Besok UTS" jawab Kak Rangga sambil tersenyum
"Ahh iya gw lupa" jawab gw kikuk.
"Tapi kan Sha" ucap Kak Rangga ragu
"Kenapa?"
"Besok kimia dulu hari pertama" jawabnya
"Hei, kau jangan berbohong"
"Ngapain boong, nih liat nih" jawabnya sambil menunjukkan layar hpnya di depan muka si Sasha.
"Hahaha, dasar Rangga Sialan!!" Bentaknya
"Sekarang udah malem si kacamata gamungkin dateng" sambungnya
"Kimia doang mah gampang" ucap Kak Rangga meremehkan
***
"Hahaha, ga gampang deng" ucap Rangga setelah melihat semua soal kimia di depan matanya
"Aaahhh, ancur deh nilai kimia gw" sambungnya dengan wajah cemberut.
Sedangkan diruangan Raka.
Gw hanya sibuk mengedarkan mata ke seluruh penjuru ruangan mencari seseorang yang bisa ngasih gw contekan.
Sedangkan saat gw melihat si Zaki, dia ngerjainnya cepet banget anjir, gw liat dia yang lagi nulis nulis rumus sambil mengisi kertas jawabannya. Sedangkan si Sasha hanya memandangi kertasnya dengan tatapan tajam seolah ingin membunuh kertas soal itu.
"Ayunda, bagi contekan dong" ucap gw ke temen sebangku gw.
"Boleh, nih liat aja"
Gw melihat kertasnya dan masih kosong juga anjir belum ada yang keisi
"Lo daritadi nulis apaan?"
"Rumus, cuma ganemu jawabannya, gw bingung, lo tau rumusnya"
"Ahahaha, gw gabakal nanya kalo tau" jawab gw
Gw mengisi kertas jawaban gw dengan pasrah dan sesekali dapet jawaban dari si Ian dan yang lainnya.
35 menit berlalu dan Zaki bangun dari duduknya lalu mengumpulkan soal ujiannya lalu keluar kelas.
Lalu galama dari itu disusul si Sasha dan dia langsung keluar.
"Ahh mati gw" gw melihat kertas jawaban gw dan masih banyak yang kosong.
Waktu masih berlanjut dan gw masih mengisi soal soal yang tepat berada di depan gw.
"5 menit lagi" ucap guru pengawas.
Gw yang mendengar itu langsung panik dan menoleh ke arah si Ian.
Dia hanya tersenyum pasrah sambil menunjukkan kertas jawabannya yang masih sama kaya gw.
"Ayunda, lo udah"
"6 lagi, liat dong"
"Barter" gw menunjukkan kertas jawaban gw dan dia nampak menulisnya di kertas jawabannya begitupun dengan gw.
"Waktu abis, sini maju dan kumpulin" teriak guru pengawas itu dan beberapa dari mereka berdiri sambil menggumpulkan kertas jawabannya. Sedamgkan gw masih sibuk menulis jawaban milik si Ayunda.
"Arshaka, Ayunda jangan pacaran di kelas" ucap guru pengawas melihat kami.
Lalu anak anak dikelas itu tampak bersorak meledek kami.
"Ih bukan Pak" jawab gw menyangkal
"Ngga ko Pak" jawab si Ayunda
"Ehmmm, bapa ngerti ko karena pernah muda, ayo sini kumpulin cepetan!" Jawabnya lalu gw mengumpulkan kertas jawaban gw yang belum terisi semua.