Mafia'S Girl

Mafia'S Girl
Episode 33



Besoknya...


Si Sasha bangun di kamarnya lalu mandi dan pergi menuju bandara.


"Queensha" ucap seorang lelaki sambil melambaikan tangannya.


Sasha mendekat dan laki-laki itu memeluknya, iya sekarang hari keberangkatan adik sepupu si Sasha, Daniel ke Amerika, disana sudah ada ayah, ibu, Zaki dan adiknya yang mengantarkan anaknya ke bandara


"Lo jangan kangen ama gw ya nanti" ucapnya dengan nada yang dibuat sedih


"Tidak akan" balas si Sasha dingin


"Cihh, gaseru" lalu dia melepaskan pelukannya dan memalingkan wajahnya ke arah lain


"Dasar, nihh" si Sasha lalu memberikan paper bag ke si Daniel


"Waah apa ini?" Ucapnya sambil menerima paper bag itu dan membukanya


"Perjalanannya akan lama, jangan beli makanan sembarangan di pesawat nanti, tidak higienis" jelasnya


"Lo ampe masakin gw, makasih ya, tunggu ya nanti pulang gw bakal lamar lo jadi istri gw" sambil mengelus kepala si Sasha dan tersenyum.


Ayah dan ibunya hanya tertawa melihat tingkah laku anaknya.


"Makasih ya Sasha, udah repot-repot dateng kesini sama masakin makanan buat Daniel juga, dia pasti bakal ngurus apartemen kamu dengan baik ko" ucap ibunya


"Iya Tante"


"Kau" ucapnya sambil menunjuk Daniel dengan tangannya "Jangan menyentuh barang ibuku di kamarku" sambungnya


"Iya gaakan, lagian kuncinya pasti di lo kan?"


"Iya"


"Ihh bodo"


"Kan bisa saja kau merusak pintunya"


"Gatertarik gw sama barang-barang dikamar lo" ejeknya


"Baguslah, siap-siap sana, 15 menit lagi meluncur, hati-hati dijalan ya" si Sasha mengucapkan itu sambil mengelus kepala Daniel


"Apasi elus-elus sembarangan, emang gw bayi?"


"Dimata orang tua, anak mereka selalu bayi, iyakan tante?" Ejeknya dengan ibunya


"Iya bener" ibunya tertawa dan memeluk si Sasha.


"Yaudah, Daniel berangkat ya Ma, Pa, Zaki, Dek, sama Calon Istriku" sambil bergantian memeluk mereka


"Calon istri, kau mau tidur dijalan ya di sana?" Gertaknya


"Mama, ajarin si Sasha becanda dong, dia gaseru tiap di becandain" ucapnya ke Mamanya


"Iya, nanti diajarin, sana nanti keburu ditutup pintu pesawatnya"


"Iya, daaah~" dia lalu pergi sambil melambaikan tangan, kami menunggu beberapa lama dan pesawat pun sudah mulai terbang ke atas langit sana.


"Zaki, kamu bareng Sasha aja ya kesekolahnya" ucap Papanya


"Emang boleh Sha?"


"Iya" balasnya dingin


"Iya Pah, yaudah" jawabnya ke Papanya


"Yaudah kami berangkat ya om, tante" ucap si Sasha pamitan sambil mencium tangan mereka.


"Hati-hati ya, jangan ngebut safety first" ucap Papanya Zaki


"Iya Pah" jawab Zaki


Lalu mereka berangkat dari bandara menuju sekolah dengan jarak yang lumayan jauh.


***


Sekolah pukul 10.16


Gw sibuk mendengarkan pelajaran sampai akhirnya pintu terbuka dan si Zaki ama si Sasha masuk.


"Kalian berdua kemari dulu" ucap guru yang sedang menjelaskan di depan kelas


Mereka berdua lalu berdiri bersebelahan didepan guru itu


"Darimana kalian? Kenapa baru datang sekarang?" Bentaknya


"Kami dari bandara bu" jawab si Zaki sambil menunduk sementara si Sasha hanya diam saja sambil mengunyah permen karet dengan tangan yang ada di saku jaketnya.


"Abis ngapain dari bandara?"


"Nganterin Kakak saya" balasnya


"Lalu kamu abis darimana?" Sambil menunjuk si Sasha dengan penggaris


"Sama" jawab si Zaki


"Kenapa ikut ke bandara?"


"Sha, jawab" si Zaki berbisik ke arah si Sasha sambil beberapa kali menyikutnya.


"Ck, dari bandara" jawabnya dingin


"Kenapa ikut ke bandara?"


"Nganter" balasnya


"Nganter siapa?"


"Kakaknya si kacamata" balasnya


"Memang kamu siapanya sampai harus ikut mengantar segala"


"Ck,berisik, aku kakaknya" balasnya dengan suara yang meninggi dan tangan yang sudah terkepal


"Maksudnya kakak sepupu, Bu" ucap si Zaki sambil menenangkan si Sasha


"Memang harus diantar sekeluarga ya?" Lalu guru itu berbalik dan lanjut menulis di papan tulis lalu secara tiba-tiba...


Terdengar suara pukulan keras mengenai sesuatu... sekelas langsung teriak panik dan si Zaki yang ada disamping si Sasha langsung nahan dia dari belakang. Ya si Sasha mukul guru itu dan suara pukulannya keras banget. Beberapa murid menjauhkan guru itu dari si Sasha dan sebagian lagi nahan si Sasha dan masih kewalahan, sehingga banyak anak kelas lain yang melihat kekelas kami karena keributan itu.


"Sha, lo ngapain?" Terdengar suara Kak Rangga menerobos kerumunan dan menghampiri si Sasha sambil memegang wajahnya si Sasha


"Lepasin dia, ngapain kalian pegang-pegang adek gw" sinis Kak Rangga ke beberapa murid yang menahan si Sasha, lalu mereka melepaskannya.


"Lo ngapain Sha?" Tanya Kak Rangga ke si Sasha yang masih marah dan memegang bahunya.


"Haahh... terpaksa deh gw pake cara ini" dia lalu melepas dasinya dan meminta dasi si Zaki lalu mengikat tangan dan kakinya si Sasha.


"Lepas" si Sasha masih mencoba memberontak dan Kak Rangga menggendong si Sasha keluar melewati mereka yang sedang berkerumun


"Liat apa kalian? Acaranya udah berhenti dari tadi, bubar" bentaknya ke anak kelas lain lalu mereka berlari ke kelasnya masing-masing, dan si Sasha udah mulai tenang saat digendong Kak Rangga.


Kak Rangga membawa si Sasha keluar dan entah kemana, lalu guru itu dibawa ke uks dan kelas kami menjadi jam kosong sampai istirahat makan siang tiba.


Gw bareng si Ian dan si Dea ke kantin buat makan siang lalu si Ian duduk di meja yang sudah ada 2 orang duduk berhadapan. Iya maksudnya si Sasha ama Kak Rangga.


"Ngapain kalian duduk disini?" Tanya Kak Rangga melihat kami yang sudah duduk di kursi kosong dekat mereka


"Yang lain penuh, tuh liat" jawab si Ian sambil mengedarkan pandangannya ke semua penjuru kantin


"Ck, dasar pengganggu" balasnya berdecak


"Lo yang ngapain disini, bukannya bawa si Sasha ke RSJ" balas si Ian sambil ketawa


Lalu Kak Rangga memegang kerah baju si Ian dengan muka yang marah dan memukul wajahnya sehingga suasana kantin menjadi ramai dan kami menjadi pusat perhatian.


Gilaaa!! Gw harus hentiin Kak Rangga, gw liat Kak Rangga ngehajar guru waktu dihukum aja udah ngeri gimana kalo si Ian?


Gw lalu melihat si Sasha yang sedang menundukkan kepalanya dengan tangan dan kaki yang masih diikat


"Sha, tolongin si Ian, hentiin Kak Rangga" ucap gw sambil menggoyangkan badannya.


"Ehh, lo ngapain sentuh-sentuh dia, hah?" Dia lalu berbalik saat gw mendekati si Sasha


"Rangga, ayo pulang" ucap si Sasha lalu Kak Rangga pun nurut dan menggendong si Sasha keluar kantin.


"Yan, lo gapapa?" Ucap gw mengahampiri si Ian yang tergeletak di lantai.


"Ahh, sialan, sejak kapan dia jadi sekuat itu" ucapnya lalu duduk dan memperlihatkan luka yang didapatnya.


"Sakit ga, Yan?" Tanya gw


Dia lalu memukul kepala gw


"Sakit lah, tulang gw nyut nyutan" ucapnya


"Ayo ke uks" gw lalu membantu dia berdiri dan sampai di uks, guru penjaga uks mengobati luka si Ian.


Selesai mengobati, guru penjaga uks lalu bertanya


"Kenapa bisa luka kaya gini?" Tanyanya ke si Ian


"Dipukul Kak Rangga" jawabnya


"Ehh? Rangga? Dia biasanya gabakal mukul tanpa alasan, kamu cari gara gara ya ama dia?" Balasnya


"Cuma becandain si Sasha" jawabnya


"Pantesan, kalian gatau ya pasti?" Balasnya


"Tau apa?" Jawab si Ian penasaran


"Mereka itu kaya ibu ama anak" ucapnya


"Maksudnya?" Si Ian makin penasaran dan gw pun mendengarkan cerita guru itu.


"Iya, kaya ibu dan anak, Queensha ibunya, Rangga anaknya, Rangga ngelindungin Queensha, terus Queensha ngurusin Rangga. Kalian pasti liat tadi Rangga ngegendong Queensha pulang sambil diikat kan?"


Kami lalu mengangguk.


"Coba kalo gadiiket, dia pasti dah ngancurin sekolah ini, hahaha" sambungnya sambil tertawa


"Tapi kenapa pas Kak Rangga gendong dia, dia langsung tenang" tanya gw penasaran


"Pelukan Rangga itu hangat, apalagi bahunya yang lebar, makanya dia langsung tenang" jawabnya sambil senyum-senyum


"Ibu pernah digendong Kak Rangga emang?" Tanya si Ian yang heran melihat guru itu senyum senyum sendiri


"Pernah dong dulu, waktu Rangga kelas 1 dan ada kegiatan disini, semua murid kelas 1 2 dan 3 harus ikutan, terus kan ya ibu kebagian buat bimbing kelas nya Rangga, pas malamnya ada kegiatan cari harta karun keliling sekolah, karena keadaan gelap gaada lampu sama sekali, ibu yang bimbing mereka jalan didepan terus galiat kalo ada lubang buat dibikin kolam renang didepan terus ibu jatuh deh dan diselamatin Rangga, heheh"


"Ohh gitu ya, berarti waktu itu lubangnya dalem banget dong?" Tanya si Ian


"Belum terlalu dalem si karena emang masih awal pembangunan, mungkin cuma 2,5 meter" jawabnya


"Kasihan Queensha, dia pasti dimarahin habis-habisan sama Rangga"


"Hah? Kak Rangga emang suka marahin si Sasha?" Tanya gw heran


"Kamu gatau? Padahal semua murid disini kayaknya tau deh" ucapnya


"Lo tau Yan?" Tanya gw ke si Ian


"Tau" balasnya


"Ehh? Apa cuma gw doang yang gatau?"


"Kamu pasti baru masuk ya, jadi gatau" ucap guru itu dan gw pun mengangguk.


"Rangga suka marahin Queensha kalo dia macem-macem di sekolah, contohnya kaya tadi, Bu Wen lagi ngajar terus liat Queensha sama ketua kelas baru masuk terus introgasi mereka di depan kelas sambil bentak bentak dan dipukul Queensha, lalu ribut sampe kedengeran ke kelas 12 di lantai 3, maksudnya Rangga gamau Queensha yang bergerak sendiri kalo ada yang bikin dia marah di sekolah, kaya Pak Asep kemarin, itu kan katanya gara-gara ngatain Queensha dan bikin dia kesal lalu membentak Pak Asep lalu Rangga yang mukulnya bukan Queensha" jelasnya panjang.


Dan gw menyadari sesuatu


"Ooh, berarti kalo dia dah bilang 'Ck, berisik' berarti dia dah kesel ya?" Ucap gw.


Lalu mereka pun mengangguk bersamaan.


"Ko kalian bisa tau serinci itu?" Tanya gw heran


"Karena kita disini dah 1 tahun lebih jadi tau" jawab si Ian


"Terus Bu Wen gimana?" Tanya si Ian


"Dibawa kerumah sakit" ucap guru itu


"Separah itu sampe harus dibawa kerumah sakit?" Tanya si Ian


"Iya, ada darah ngalir keluar dari-" ucapnya terhenti


"Dari apa bu?" Tanya si Ian


"Anak-anak mesum, kenapa mau tau?" Ucapnya sambil memukul kepala kami.


"Ehh apanya yang mesum?" Tanya si Ian kebingungan


"Intinya gitu deh, gausah tanya soal Bu Wen lagi" jawab guru itu sambil membereskan kotak obat setelah selesai ngobatin si Ian tadi.


Lalu, galama dari itu bel bunyi dan pelajaran terakhir dimulai.