Mafia'S Girl

Mafia'S Girl
Epiisode 47



Mendengar kegaduhan, gw terbangun dan kaget setelah melihat beberapa orang memegang pistol di tangannya dan saat gw berteriak mereka semua berhenti


"Ahh, sial, aku lupa ada orang lain disini"


"Apa harus dibunuh juga, Ketua?"


"Biarkan saja dia, lanjutkan pekerjaan kalian"


Pada saat itu, Anthony melompat kabur dari jendela.


Praaaang


"Ahh, sialan, kejar cepat"


"Tak perlu, disini lantai 7, dia masih hidup jika beruntung, keluarlah" ucap Sasha dan mereka pun menurutinya.


Setelah mereka keluar, gw masih membeku dan menatap si Sasha dengan tatapan kosong


"Apa?" Tanya nya


"Hah hah, ada apa?"


"Ck, tidurlah"


"Mereka gabakal masuk lagi kan?"


"Tidak"


"Beneran kan?"


"Iya"


"Kal-"


"Ahh, diam dan tidurlah" bentaknya


"O-oke"


Gw berbaring lagi dan menatap langit langit sambil sesekali melirik ke arah pintu.


***


Jam 08.45


Semua murid udah kumpul di sekolah dan bersiap berangkat pergi karyawisata ke Bandung.


Lalu, semuanya naik ke bus, gw duduk sebelahan sama si Ian


"Bus nomor 4 kelas 11 IPA 2?" Jawab guru yang bertugas mengabsen.


"Arshaka"


Gw mengangkat tangan gw


"Ayunda ..." absen berjalan dan tiba giliran si Sasha


"Queensha, Queensha kemana?"


"Sasha lagi dirumah sakit, ntar nyusul katanya" jawab Zaki


"Ohh iya saya lupa, lanjut ya, Raisa..."


Setelah selesai mengabsen, bus mulai berjalan mengukuti bus yang ada di depan.


Selama perjalanan, suasana dalam bus rame karena si Ian sama Rafa terus meramaikan suasana.


Sampe di rest area.


Sekitar 1 jam lebih di dalam bus, kami istirahat di rest area.


Gw beli mie instan sama sebotol kopi dan beberapa cemilan lalu kembali ke bus.


"Wihh beli banyak amat lu bro, bagi dong" ucap si Ian yang baru masuk dan duduk


"Beli sana, gabawa uang lo?" Jawab gw


"Bawa lah, mau hemat buat ntar foya foya di sana"


"Emang digunung ada yang jualan?"


"Emang kita mau kegunung?"


"Gatau deh, di Bandung banyak gunung si"


"Bukan gunung bego, tapi banyak kebun teh"


"Ahh iya kali, gw gapernah ke Bandung soalnya"


"Ck ck ck, gw ngambil ini ya" dia mengambil potato chips dari tas belanjaan gw.


"Heh anjir yang ini aja" gw berusaha merebutnya tapi malah sobek dan beterbangan kemana mana anjir


"Noo... keripik gw" gw berteriak sambil menahan air mata


"Upps, sorry, hahaha bentar gw beliin lagi" Ian langsung turun lagi dan beli beberapa potato chips nya dan dia kasih semuanya ke gw.


"Nih nih sorry ya"


"Dih gausah anjir"


"Hmm" jawabnya singkkat sambil menggeleng


"Ahh yaudah makasih" ucap gw


Dia hanya mengangguk


2 jam kemudian, kami tiba ditujuan.


Kami turun dan berkumpul di depan sebuah bangunan penginapan yang ada diatas gunung itu.


Kami berbaris dan diberi pengarahan oleh pembina dari sekolah.


Setelah mendapatkan pembagian kamar, gw masuk ke penginapan di ujung lorong lantai 1 dan sekamar sama si Ian dan 3 orang lainnya.


Malampun tiba.


Kami berkumpul di depan penginapan dengan api unggun dan beberapa acara yang diselenggarakan anggota osis.


Ditengah keramaian itu, sebuah mobil sport berwarna biru muda memasuki area penginapan dan berhenti tepat didepan Kak Rangga.


Sasha keluar dari mobil itu dan melempar kuncinya ke Kak Rangga


"Tolong... parkirin" ucapnya terbata


"Kenapa lo udah keluar?" Tanya Kak Rangga sambil memegang kedua bahunya si Sasha.


"Ya emang hari ini keluar kan" jawab Sasha


"Ehh? Gaada yang halangin lo gitu? Dokter? Perawatnya?"


Sasha menggeleng


"Ahh sialan, padahal mereka dah gw suruh buat nahan lo 4 hari lagi di rs" gumamnya


"Kenapa 4 hari? Kau gamau aku ikut karyawisata ya?" Ucap Sasha dengan muka jengkel.


"Ahh bukan gitu, gw cuma gamau lo kecapean karena kemaren udah kerja. Mana bahaya lagi"


"Lupakanlah, sana parkirin, aku mau makan dulu" ucapnya sambil berjalan


"Ahh enaknya makan apa ya?" Gumamnya sambil berpikir


"Cihh, dimana gw harus markirin ni mobil" Kak Rangga lalu masuk ke mobilnya dan mulai membawanya ke suatu tempat.


"Hmm parkir disini aja deh, lahannya juga gakepake."


***


10.00 PM


Suasana di depan penginapan rame karena api unggun dan juga acara yang akan diadakan jam 11 nanti malem.


Gw, Kak Rangga, Sasha, dan beberapa temen Kak Rangga lagi kumpul di salah satu gazebo yang tersedia disana.


"Ahhh, aku ngantuk, apa acaranya gabisa besok aja? Hoaaam" ucap Sasha sambil mengucek matanya.


"Lo ngantuk? Tidur aja sana, kamar gw dah rapi" jawab Kak Rangga


"Ahh lupakan saja, minta si kacamata percepat waktunya"


"Ok, gw ntar minta waktunya dicepetin 30 menit"


"30 menit? Ahhh apa gabisa lebih cepat?"


"30 menit dah cepet, mereka yang kerja nancepin penunjuk arah juga harus cepet cepet balik kesini tau, dipikir didalem hutan gaserem apa?"


"Emang seserem apa? Banyak pohon bukan banyak hantu"


"Kan mereka bisa aja nyasar"


"Ahh iya iya, ck ayo bersiap"


Sasha lalu berdiri dan meninggalkan kami semua disini.


Ketua osis lalu membuka acara malam itu dan mereka semua bersorak antusias sambil mengambil nomor yang dibuat berpasangan.


"Gw dapet 17, lu berapa Yan?" Ucap gw ketika membuka amplop berisikan nomor.


"4, ahh mana paling awal lagi" jawabnya sambil melihat nomornya.


"Ahahah, 4 angka sial loh" ledek gw


"Ehmm, tukeran dong bang Arshaka"


"Ogah" jawab gw singkat sambil meninggalkan dia ditemgah keramaian itu.


"Eeh sekali ini aja" ucapnya sambi mengikuti gw.


"Lo dapet nomor berapa kak?" Tanya gw ke Kak Rangga sambil duduk disampingnya


"17"


"Wahh, si Rania juga nomor 17 kalo gasalah"


"Rania? Siapa Rania?"


"Cewe dikelas gw"


"Ohh, gw berpasangan sama Kakak Kelas dong ya"


"Dia baik kok"


"Raka" ucap si Sasha belakang gw


"Hmm?" Jawab gw sambil berbalik melihatnya


"Ayo jalan" ucapnya singkat


"Hah?"


Dia lalu memperlihatkan nomor yang dia dapat.


"Ehh? Katanya gw pasangan sama Kakak Kelas"


"Siapa yang bilang?"


"Kak Rangga"


"Ahh, dia pikun udah tua, ayo jalan" jawabnya lalu menarik gw memasuki hutan.


"Waah, pikun? Udah tua? Harusnya gw bilang nomornya gaboleh dituker" gerutu Kak Rangga


"Rangga, ayo jalan" ucap Rania


"Lah, kenapa gw harus jalan sama lo"


"Nih, adek lo keras kepala banget minta dituker" ucapnya sambil memperlihatkan nomornya.


"Wahh, dia lupa sama abangnya sendiri, ayo jalan" jawab Kak Rangga lalu mulai berjalan memasuki hutan.


***


"Sha, itu suara apaan?"


"Suara angin" jawabnya


"Aaah" gw berteriak kaget


"Suara gesekan ranting pohon" ucapnya


Lalu, Sasha berhenti sambil menghela nafas


"Kenapa berenti?" Tanya gw ketakutan


"Ck" dia lalu melanjutkan berjalan menelusuri area hutan.


"Masih lama ga si? Jangan jangan kita nyasar?"


"Tuh kau liat penunjuk arahnya? Kita gabakal tersesat kalo mengikuti penunjuk arahnya" jawab Sasha


"Ko ga nyampe nyampe ke penginapan si? Jangan jangan penunjuk arahnya palsu" ucap gw panik


Sasha lalu berjalan melihat petunjuk arahnya


"Hmm, kayaknya penunjuknya kegeser, Arshaka, kita tersesat" ucapnya datar


"Hah? Jangan becanda" jawab gw sambil ketawa


Sasha lalu ikutan ketawa lalu berhenti sambil menatap gw sinis


"Serius?" Tanya gw setelah melihat wajah seriusnya


"Aeuhh, diamlah, ayo pulang"


"Mau pulang gimana? Katanya kita tersesat"


"Kita ikutin aja jalan kita dateng tadi"


Gw hanya mengikutinya dari belakang


Setelah beberapa lama kita menelusuri hutan dan tak kunjung menemukan jalan pulang.


"Sha ini dimana? Ehh liat? Gw udah ngeliat pohon ini tadi"


"Pohon disini sama semua" jawabnya lalu senter ditangan si Sasha mulai berkedip


"Ehh" ucapnya sambil menepuk nepuk senternya. Lalu senternya mati.


"Ahh, mati, pinjam hpmu"


Gw lalu meraba tubuh gw mencari hp.


"Hp gw ada di jaket, jaket gw ditinggal tadi di gazebo, pake hp lo aja"


"Hpku dimobil" jawabnya santai


"Hah? Terus gimana? Mana gelap lagi, gw laper, banyak nyamuk" ucap gw sambil menepuk nepuk nyamuk yang hinggap di tangan gw.


"Duduk sini, kita tunggu saja" ucapnya sambil duduk bersandar disalah satu pohon


Gw lalu duduk disebelahnya.


"Sha, gw mau nanya dong"


"Hm?"


"Lo kenal Kak Rangga sejak kapan?"


"Sejak aku masuk SMA" jawabnya


"Ohh gw kira udah lama"


"Ayah kita partner bisnis dari aku kecil dulu, cuma waktu itu aku hanya tau dia punya anak cowo, soalnya gapernah ketemu, pas ketemu sejak aku masuk SMA"


"Terus darimana lo tau kalo dia anaknya temen ayah lo?"


"Aku gatau, Rangga yang pertama kali menyapaku di Kantin"


"Ahh iya si, gamungkin lo duluan yang nyapa orang, hahah"


"Hmm, kalo ingat kata katanya saat menyapaku dulu, aku jadi malu karena dah kenal dia hahaha" ucapnya


"Oh ya? Dia nyapanya gimana emang?"


"Gini, ehmm"


"Queensha, lo Queensha kan? Anaknya Om Adnan pewaris sah MH GROUP? Gw juga denger denger lo katanya bikin satu organisasi Mafia ya? Wahhh ketua Mafia sekolah disini dong. Terus lo katanya dapet tawaran masuk ke organisasi Mafia di Rusia ya? Lo terima atau tolak?" Ucapnya dengan wajah kesalnya


"Ahh, dia dulu cerewet sekali, saat itu aku ingin menyumbat mulutnya dengan onigiri yang sedang kumakan"


Gw hanya melihatnya bercerita dengan ceria.


Dia lalu menoleh dan menatap ke arah gw


"Kenapa?"


"Hm? Apanya?"


"Kau melihatku seperti itu? Kenapa?"


"Ngga, gapapa" gw lalu membenarkan posisi duduk gw.


Dan terdengar suara jangkrik yang menemani keheningan di tengah hutan ini.


Sekian lama menunggu, gw mulai ketakutan karena bulan tepat berada diatas gw.


"Sha, kita disini mau sampe kapan?"


"Entahlah" jawabnya singkat dengan tubuh yang mulai kedinginan


"Lo kedinginan ya?"


"Tidak, hanya sedikit dingin"


"Gw gaada jaket, sini" ucap gw sambil merentangkan tangan gw


Dia menatap gw dengan mata kesal


"Apa? Kau mau memelukku? Jangan berpikiran mesum di tengah hutan gini" ucapnya dengan wajah jengkel


"Hah? Wahh gw cuma mau ngehangatin lo tau, lo nya aja yang mikir kejauhan" jawab gw kesal.


Ditengah perdebatan itu, perlahan gw mulai mendengar suara orang orang yang lagi nyariin kita, dan terlihat samar samar cahaya senter di kejauhan.


"Sha, mereka nyariin kita kan?" Tanya gw menunjuk kearah datangnya cahaya senter itu.


Sasha mengangkat kepalanya lalu melihat kearah yang gw tunjuk.


Dia lalu berdiri


"Sha" terdengar suara Kak Rangga dari kejauhan sana.


Sasha perlahan berlari kearah datangnya suara itu.


"Shaa" teriak Kak Rangga saat melihat si Sasha berlari kearahnya.


Sasha lalu memeluk Kak Rangga dengan erat.


"Sha, lo gapapa kan? Ko bisa nyampe sini si, ini jauh loh dari penginapan" omelnya sambil memakaikan jaket ke tubuhnya si Sasha.


"Syukurlah lo ga ilang, ayo pulang"


"Gendong" ucapnya di balik tubuh Kak Rangga


"Hm? Sini naik" Kak Rangga melepas pelukannya lalu membelakangi si Sasha. Sasha melompat naik ke punggungnya.