Mafia'S Girl

Mafia'S Girl
Episode 18



Drrkkk...


Sasha membuka pintu dan berjalan masuk diikuti oleh gw, gw melihat ke arah guru dan tersenyum.


Gw berjalan ke kursi gw dan mendapati seorang perempuan duduk disana.


"Permisi, maaf ini kursi gw"


"Ehh tapi katanya ini kursi kosong" balasnya.


Gw pun melihat ke arah si Ian dan dia pun memalingkan wajahnya.


Ian sialan.


"Tapikan ini kursi gw, lo mening cari tempat lain deh"


"Ehh iya, baik" dia pun bangun dan mengambil tasnya lalu berpindah ke kursi kosong sebelah si Sasha


Gw pun duduk sambil memukul kepala si Ian.


"Ngapain kau?" Suara si Sasha sukses mengalihkan perhatian gw


"Kursinya kosong kan?" ucap anak cewe itu


"Tidak" balasnya datar sambil membuka buku


"Apa gw boleh duduk disini hari ini?"


"Tidak"


"Terus gw duduk dimana?"


"Urusanmu, bukan urusanku"


"Ehmmm, Sasha, kamu izinkan saja untuk hari ini ya" ucap guru yang sedang mengajar


"Tidak" ucapnya hanya melihat buku


"Hari in-"


Braakk si Sasha langsung bangun dan menggebrak meja lalu berjalan keluar


"Guru sialan" ucapnya di barengi pintu tertutup.


Drrkk...


Pintu kembali terbuka dan kepala si Sasha muncul dari sana


"Hei kau, ikut aku" sambil berlalu.


"Gw?" ucap gw


"Udah sana, nanti gw ceritain semua" ucap si Ian


"Iyaa, emm lo duduk di kursi gw aja dulu" gw bangun dan keluar kelas satengah berlari lalu menutup pintu dan gw melihat kanan kiri gw hanya koridor kosong.


"Nyari apa?" terdengar suara perempuan di belakang gw


"Lo nunggu disini?"


"Iya, ayo ikut"


Dia pun melangkah dan gw mengikutinya dari belakang


Dan kami pun sampai di perpustakaan


"Ngapain kita kesini?"


"Baca buku"


"Terus ngapain lo ngajak gw? mening gw di kelas aja tadi ikutin pelajaran"


"Jika tak mau kembali saja sana"


"Ga, males banget gw jalan, tempat duduk gw juga lagi dipake ama cewe tadi"


"Kau kejam" sambil memilih buku di rak buku


"Kejam apa?"


"Kau tadi mengusirnya, lalu sekarang menyuruhnya duduk lagi di kursimu"


"Lebih kejam lo daripada gw"


"Tidak, aku memang begini, dan menurutku itu tak kejam"


"Lo juga kejam sekarang karena ngebiarin gw disini"


"Kubilang, jika tak mau disini, kembali saja!" sambil menghadap gw dan memajukan badannya sampai gw duduk di salah satu kursi


Lalu dia membuka buku fisika dan mulai membacanya.


"Dasar hati es"


Dia tidak menjawab pertanyaan gw, gw pun hanya melihatnya membaca buku, karena gw emang gapernah tertarik sama yang namanya buku, gw memutuskan untuk bermain ponsel dan scroll ig, lalu tanpa sadar gw tertidur.


***


"Kau ini sangat merepotkan, hei bangun" sambil menendang kursi yang sedang gw dudukin


"Hmm? apa?"


"Ayo makan siang" ucapnya sambil membereskan buku dan menyimpannya di rak buku


"Ehh dah siang? haaa? gw kapan tidur?"


"Ck" dia pun berjalan menuju pintu masuk dan gw mengikutinya dengan wajah yang masih mengantuk.


***


"Yoo mas bro" teriak si Ian melambaikan tangannya ke arah gw, lalu gw pun menghampirinya dan duduk didepannya.


"Kemana lo tadi? abis pacaran ya?"


"Iya pacaran di alam mimpi"


"Hah?" sambil menutup mulutnya " lo tidur ama si Sasha?" ucapnya pelan


"Jangan mikir sembarangan, gw diajak ke perpustakaan, dia baca buku gw tidur"


"Ohh gitu ya, pantes muka lo kaya orang abis bangun tidur gitu"


"Lah kan emang iya kambing"


"Makan ini" ucap si Sasha sambil duduk dan memberikan gw bubur ayam, dan dia pun makan bubur ayam miliknya.


"Eh? gw kan ga pesen"


Dia pun menatap gw dengan tatapan tajam,


"I-iya gw makan, makasih" gw mengambil sendok dan menyuapkan sesendok bubur ke mulut gw


"Ehh lo gamakan Yan?" ucap gw


"Lagi dibeliin, nah tuhh dateng" Lalu duduk seorang perempuan depan si Sasha dan memberikan satu porsi batagor ke depan si Ian


"Makasih ya, Dea"


"Iyaa" dia pun tersenyum


"Ohh, dia Dea, pindah 3 hari lalu, waktu kalian masih di rumah sakit"


"Halo Dea" gw menyapa dia dan mencoba senyum seramah mungkin.


"Dia namanya Arshaka, panggilannya Raka" jelas si Ian ke cewe itu


"Lalu cewe es ini namanya, Queensha, panggilannya Sasha, lo jangan cari masalah ama dia ya, ni anak yang udah gw ingetin aja sekarang dah ngelewatin banyak hal bahaya" sambil melirik gw.


"Halo, Sasha" sapa cewe itu ramah


"Hm" balasnya sambil lanjut memakan buburnya.


"Gw boleh jadi temen lo?"


"Ngga"


Kami pun makan siang bersama sampai datang seseorang ke meja kami.


"Sha, lo ikut gw nanti malem ya" ucap Kak Rangga sambil nyimpen minuman di meja.


"Ke?"


"Kerja, lumayan jauh si"


"Eehh lo gila ya, Kak? dia baru keluar dari rumah sakit dah diajak kerja" kata gw ke Kak Rangga


"Ehh ada Raka, gimana kepala lo?"


"Udah baikan, bentar, jangan ngalihin pembicaraan ya"


"Hahaha, perhatian amat lo ama si Sasha, dia mah dah sembuh ni liat" sambil meninju lengan atas si Sasha


Gw melihat dia yang masih melanjutkan makan tanpa ada ekspresi merasa kesakitan


"Liat kan mukanya? datar kaya papan" ucapnya sambil ketawa


"Yakan tetep aja dia baru keluar rumah sakit"


"Ohh atau mau lo aja yang ikut gw kerja nanti malem?"


Mendengar itu si Sasha langsung bangun dan memegang kerah Kak Rangga.


"Yaudah makanya lo aja, nanti dia malah nginep lagi dirumah sakit" ucap Kak Rangga sambil liat si Sasha "Lepasin dong aahh, gw cuma becanda"


Sasha melepaskan kerahnya dan kembali duduk lalu melanjutkan makan,


"Gw tunggu di basecamp anak buah lo ya, ketemu nanti malem, Sha" ucapnya pergi sambil melambaikan tangannya.


"Sha lo dah kerja ya? kerja apa?" tanya si Dea


Sasha tidak menjawab dan meminum minuman yang dikasih Kak Rangga tadi.


Triing...


Suara notifikasi di hp si Sasha


"Aku harus pergi" ucapnya sambil bangun


"Lo mau kemana?" ucap gw


"Ada urusan, ni bayar makanannya nanti ya" sambil memberikan uang berwarna merah yang dia ambil dari sakunya.


"Kebanyakan ini anjir"


Dia hanya menatap gw dan langsung pergi begitu saja.


"Gapapa lahh, sekalian bayarin punya gw juga, hahaha" seru si Ian


"Gapunya uang lo?" ledek gw


"Sembarangan, ambil aja, buat bayarin makanan kita berempat" ucapnya


"Ehh, gw gausah, gw ada uang ko" ucap si Dea


"Udah gapapa, uang dia banyak, gabakal marah kalo cuma ngabisin segini mah"


"Anak gila"


***


Kami menyelesaikan makan lalu kembali kekelas.


Gw duduk di kursi gw sambil melihat kursi si Sasha yang hanya ada tasnya doang


"Dia gabalik ke kelas dulu apa?"


Lalu cewe baru itu pun menyimpan tasnya di kursi sebelah si Sasha, dan ketua kelas pun menghentikannya.


"Jangan buat kita dalam masalah ya, lo duduk disana aja ya, udah gw bawain tadi meja ama kursi di gudang sekolah" ucap ketua kelas menunjuk meja di belakang kursi si Sasha.


"Makasih ya" ucapnya


Dia pun duduk di kursi itu dan mencoba membuat dirinya nyaman.


Bel masuk dan pelajaran terakhir pun berakhir, gw membereskan buku buku gw dan memasukkan nya kedalam tas.


Lalu seseorang masuk dan berjalan dengan tertatih dengan luka di samping bibirnya, lalu duduk dikursinya.


"Sha, lo gapapa?" ucap gw menghampiri dan duduk di kursi samping dia.


"Tidak, minggir" dia pun bangun sambil membawa tas nya.


"Dihh, lo kenapa si? diem dulu sini, gw obatin dulu"


"Gausah"


"Ganerima penolakan" gw menarik badan dia duduk dan keluar kelas menuju uks untuk mengambil obat obatan.


***


Gw kembali ke kelas dan disana hanya ada Ian, Dea, Ketua Kelas, dan beberapa anak cewe yang lagi piket, gw ngeliat si Sasha lagi nyembunyiin wajahnya di tangannya diatas meja.


Gw berjalan dan duduk disamping meja nya


"Sha, sini liat luka lo, gw obatin dulu"


Dia mengangkat kepalanya dan membuka kemeja nya, melihat itu gw langsung tutup mata.


"Lo gila ya? kenapa buka baju depan gw"


"Kau bilang mau mengobati lukaku, buka matamu"


Gw pun membuka mata gw dan melihat dia memakai atasan hitam yang menutupi dadanya.


Gw melihat ada banyak luka bekas goresan pisau seminggu yang lalu dan juga ada beberapa luka lebam yang gw duga dia abis berantem saat ngilang tadi.


"Haaa, Sha di badanlo banyak banget luka yang kaya goresan pisau" ucap si Dea sambil melihat semua bekas luka yang ada dibadannya.


Gw pun membuka kotak obat dan mulai mengobati semua luka lebam nya.


"Lo nanti jangan pergi ama Kak Rangga ya, kondisi lo sekarang aja dah kaya gini, lo abis ngapain si pas ngilang tadi? ini urusan yang lo maksud?"


"Berisik" ucapnya. "Lalu bagaimana jika aku benar tidak pergi dengan Rangga? kau yang akan menggantikan ku bekerja?"


"Iya, gw bisa ko"


"Ckk, jangan berhayal, kau saja masih merasa pusing kan?"


"Bisa gw tahan, gara gara gw, badan lo sekarang banyak luka sayatan pisau waktu nyelamatin gw waktu itu".


"Nanti juga menghilang"


"Pokonya lo diem aja di rumah lo, biar gw yang gantiin lo kerja ama Kak Rangga"


"Terserah kau saja" dia bangun dari kursinya mengambil tas dan baju seragamnya,


"Kacamata, kode 13" ucapnya lalu keluar dengan jalan yang sedikit pincang.


Zaki mengangguk


"Lo mau mati ya?" ucap si Ian duduk di meja depan gw


"Kenapa emang?"


"Inget, gara gara dia, lo diculik dan kepala lo dipukul, luka segitu buat dia gaada apa apanya".


"Dia juga kaya gitu kan karena nolong gw waktu itu".


"Terserah lo dah, gw dah bilangin lo, ayo kita pulang" ucapnya sambil mengajak si Dea pulang.


"Eh gw gimana?" ucap gw berteriak ke arah si Ian


"Urusan lo, hahah"


Mereka menghilang setelah berbelok keluar dari pintu.


Gw pun merapikan kotak obat itu lalu mengambil tas dan pulang, melewati mereka yang sedang piket.