Mafia'S Girl

Mafia'S Girl
Episode 40



Jam 4 sore


Gw terbangun di sofa tadi.


Saat gw membuka mata, terlihat si Sasha masih duduk didepan komputernya dan dokumen dokumennya berantakan di mejanya.


"Sha? Belum selesai?" Tanya gw lirih


"Hmm? Kau sudah bangun?" Jawabnya


Gw lalu duduk.


"Makan sana, aku beli makanan tadi" ucapnya


"Jam berapa sekarang?"


"Jam 4" jawabnya


"Hah? Jam 4? Ko ga bangunin sih"


"Kau keliatan enak tidur, jadi aku gamau ganggu" jawabnya


"Yaah, padahal gw pengen nonton sama lo" ucap gw dengan nada lesu


"Dasar, bersiaplah" ucapnya lalu berdiri dari duduknya


"Mau kemana?"


"Keluar, aku ada rapat penting" jawabnya


"Ahh, iya" ngarep bet lo bodoh


"Setelah rapat kita nonton ya" lanjutnya


"Hah? Nonton apa?"


"Film yang kau mau" jawabnya


"Beneran? Jam berapa?" Tanya gw dengan gembira


"Setelah aku selesai rapat" jawabnya


"Lama ga?"


"Tak tahu, cepatlah" ucapnya lalu keluar dan masuk ke kamarnya.


Karena gw seneng malah senyum senyum sendiri, gw pun masuk kamar mandi, mencuci muka gw dan menunggu si Sasha keluar kamarnya.


Beberapa lama gw menunggu akhirnya dia keluar dari kamarnya.


"Kau belum siap siap?"


"Mau siap siap gimana? Baju gw kan dirumah semua"


"Ahh iya, ayo berangkat" jawabnya lalu berjalan menuju pintu keluar.


Setelah sampai di pintu utama apartemen, mobil berwarna merah sudah menunggu di depan sana.


Si Sasha lalu duduk dikursi kemudi.


"Sedang apa? Ayo naik"


"Bentar"


Gw menghampiri dia lalu duduk disampingnya.


Mobilpun mulai melaju meninggalkan area apartemen.


***


Setelah sampai di komple area kosan gw, mobil diparkirin di depan basecampnya si Sasha.


"Naik dan bersiaplah dulu, akan kujemput jika sudah selesai" ucapnya


"Oke" gw lalu turun dan naik ke lantai 2 lalu masuk ke rumah.


Si Sasha turun dan masuk ke basecampnya.


"Ehh, ketua? Kenapa lo kesini?" Ucap Gilang setelah Sasha masuk


"Duduklah"


"Tapi yang lain..."


"Tak apa, segini saja cukup"


Mereka yang ada disana duduk menempati kursi kosong.


"Hmm, ada 7 orang doang ya" ucap Sasha


"Iya, yang lain lagi ke kasino" jawab Gilang


"Anak SMA ko main ke kasino" ucap si Sasha


"Alah, lo sendiri juga mainnya ke bar, ke club, ke tempat hiburan malam" jawab Gilang


"Suka suka aku lah"


Gilang meledeknya dengan menggerakkan mulutnya


"Yasudah, aku gapunya banyak waktu, dengar baik baik, kalian tau Zhang Lin?"


Mereka menggeleng


"Ahh sialan, eehh itu, dia itu... apa ya julukannya?"


"The Worst Devil" sambungnya


"Ahh gw pernah denger, kenapa emang?" Jawab Kenzo salah satu anggota divisi 2


"Gw tau, kenapa Sha?" Jawab Gilang


Sasha lalu memperlihatkan dokumen yang dibawanya ke mereka dan membukanya.


Gilang mengambilnya dan membacanya.


"Sha... lo mau ngambil ini?" Jawab Gilang dengan tangan yang gemetar


"Bagaimana menurutmu?"


"Menurut gw, mening kita adain rapat vertikal tertutup aja, karena ini masalah penting"


"Baiklah, kau beritahu semua ketua divisi kita akan adain rapat tertutup, ajak Rangga dan semua ketua divisi nya"


"Ketua divisi aja?" Tanya Gilang


"Iya, karena aku yakin kalian yang lebih paham tentang ini" jawabnya


"Oke, kapan rapatnya?"


"Jam 7 malam nanti" jawabnya lalu keluar.


Sasha lalu naik ke mobilnya dan menuju ke perusahaan Ayahnya.


***


"Ahh si Sasha lama banget si, padahal udah jam setengah 6 loh ini" ucap gw mengeluh sambil menatap layar handpone.


Lalu, si Sasha nelpon dan dengan cepat gw mengangkatnya.


"Halo Sha, lo dimana? Gw udah rapi nih"


"Maaf" ucapnya singkat


"Ehh? Kenapa?"


"Ada masalah serius di perusahaan, hanya aku yang bisa menangani masalah ini, kita nontonnya lain kali saja, kututup ya"


Telpon lalu tertutup


Gw lalu terduduk lemas dan merebahkan diri dikasur.


"Dia lagi ngapain di perusahaan?" Ucap gw


Gw menampar pipi gw sendiri


"Positif thinking, dia kan bilang ada masalah serius, cuma dia yang bisa nyelesain masalahnya"


"Tapi masalah apa?"


"Ahh mungkin masalah tentang koneksinya"


"Hmm tapi kan kalo masalah koneksi bisa manggil spesialisnya"


"Kalo masalah listrik bisa manggil tukang listrik"


"Masalah apa dong yang cuma bisa di handle sama si Sasha doang?"


Gw terlarut dalam pikiran gw dan tanpa sadar gw perlahan terlelap.


***


Jam 10.23 malam


Gw terbangun karena mendengar suara pintu yang dipukul keras oleh seseorang.


"Oi Arshaka! Kau akan tidak akan membiarkanku masuk?" Teriak si Sasha dibalik pintu.


Gw lalu buru buru bangun dan membuka pintunya lalu melihat wajah kesal si Sasha.


"Lama!" Ucapnya berteriak


"Hah? Lo ngapain kesini?" Tanya gw setengah sadar


"Ehh? Kau sedang tidur ya?"


"Ngga ko, gw udah bangun"


"Aku membangunkanmu ya?"


"Gapapa, lo ngapain kesini?"


"Memang gaboleh?" Tanya nya


"Bukan gitu, kerjaan lo dah selesai?"


"Sudah, setelah selesai aku langsung kesini"


"Kenapa kesini?"


Dia lalu berbalik menatap gw


"Kau tak suka?" Ucapnya pelan


"Ehh? Bukan gitu, gw suka suka aja ko"


"Suka suka aja?" Ucapnya dengan nada kesal


"Iya, kenapa emang?"


"Tak apa" dia lalu berjalan melewati gw menuju pintu keluar.


"Lo mau kemana?" Tanya gw sambil menahan lengannya


"Pulang" jawabnya sambil menepis tangan gw


"Udah malem, nginep disini aja" gw memegang lengannya lagi dan menghadang pintu keluar dengan tubuh gw


"Tak usah, minggir"


"Nginep aja disini Sha, udah malem" jawab gw meyakinkan dia


"Cih" dia lalu berbalik dan duduk di sofa.


Gw mengunci pintu dan duduk disebelahnya


"Sha-"


"Jangan berbicara" ucapnya


"Kenapa?"


"Kubilang jangan berbicara"


"Ya kenapa?"


Dia hanya menatap gw dengan mata tajamnya


Gw lalu menunduk diam


"Haahh, maaf, sepertinya hormon estrogenku menurun"


"Es... doger... apa?" Tanya gw gangerti


"Hormon estrogen"


"Hormon yang memengaruhi perkembangan dan karakteristik seksual pada wanita" jawabnya


"Terus apa hubungannya?"


"Makanya aku akhir akhir ini sering emosi" jelasnya sedikit membentak


"Apasi Sha, gw gangerti"


"Belajar sana, kau ilmu biologi aja gangerti tapi kenapa masuk jurusan IPA?" Tanya nya


"Gw kira masuk jurusan IPA pelajarannya gampang, tapi ternyata lebih susah ya" jawab gw


"Yasudah" balasnya singkat


Dia lalu membuka jaketnya dan bersandar di sandaran sofa.


"Ahh, hari ini capek ya" ucapnya pelan


"Mau gw pijitin?"


"Tak apa, nanti bangun tidur juga akan baikan ko"


"Aah" ucapnya


"Kenapa? Ada yang sakit? Dimana?" Gw dengan panik memegang bahunya dan melihat semua bagian tubuhnya


"Ck apasi, jangan heboh deh"


"Lo tadi kesakitan kan? Sakit apa?"


"Cuma sakit perut biasa" jawabnya


"Sakit perut?"


"Iya, ahhh padahal udah malem aku males keluar"


"Apa rasanya sakit banget?"


Dia hanya mengangguk


Gw menusuk perutnya dengan jari gw


"Ahh, kau mau mati ya?" Bentaknya


"Sakit banget kah?!"


"Iyalah bego"


"Ayo kerumah sakit"


"Ngapain ke rumah sakit"


"Kalo dipegang sakit banget, pasti usus buntu" ucap gw mengoceh


"Usus buntu? Kau mendoakanku punya penyakit usus buntu?"


"Tentu saja ngga"


"Mati sana"


Dia lalu berdiri


"Mau kemana?"


"Keluar sebentar"


"Mau gw temenin?"


"Tak usah"


"Kenapa? Kalo lo pingsan dijalan gimana?"


"Jangan berlebihan"


"Jangan ngeremehin rasa sakit walaupun sedikit loh"


"Terus?"


"Nanti kalo dibiarin malah parah terus bisa mendadak mati karena gakuat nahan rasa sakitnya"


"Oh ya? Kata siapa kau?"


"Kata dokter waktu gw kecil"


"Ohh, apa dokter itu bilang bisa mati karena rasa sakit perut pas datang bulan?"


"Iya, karena datang bul-"


"Ehh apa?"


"Cih, dasar bodoh" ucapnya lalu membuka pintu dan keluar.


Gw lalu menyusul si Sasha dan nemenin dia jalan ke supermarket.


"Ngapain kau mengikutiku?"


"Gw mau nemenin emang gaboleh?"


"Tidak"


"Heh"


"Apa?"


"Beliin gw cola sekaleng" ucap gw setelah sampai didepan supermarket.


"Kenapa ga masuk?"


"Gw tunggu disini aja"


"Yasudah" dia lalu masuk ke supermarket dan galama dari itu keluar.


"Hei" dia melemparkan susu pisang ke arah gw


"Susu pisang?"


"Sudah malam, jangan minum cola" jawabnya


"Emang kenapa?"


"Nanti kembung pas tidur" jawabnya


"Kata siapa?"


"Kata seseorang yang aku kenal" jawabnya


"Gw yakin pasti Kak Rangga"


"Jangan menyimpulkan seperti itu"


"Kenapa? Orang yang lo kenal pasti Kak Rangga doang kan"


"Iya"


"Makanya gw yakin itu kata Kak Rangga"


"Iya" jawabnya


Gw lalu menusuk susu pisang itu dengan sedotan dan meminumnya.


"Emmm, rasanya enak loh, lo mau?" Ucap gw sambil memberikan susu pisang itu ke depan mukanya.


"Tidak"


"Kenapa? Padahal rasanya manis loh, enak banget"


"Aku tau"


"Ohh atau mau coba sesuatu yang beda?"


"Sesuatu yang beda? Apa itu?"


"Sini ikut gw" gw lalu menarik tangannya memasuki gang yang sempit dan gelap.


"Kenapa kesini? Kau mau membunuhku di gang gelap ini?"


"Katanya mau coba sesuatu yang beda"


"Apa? Pengalaman membunuh orang?"


"Bukan, diem ya rasanya pasti lebih manis"


Gw lalu menyedot susu pisang dan membiarkannya ada dimulut gw, gw lalu memegang pipi si Sasha dan menciumnya memindahkan susu yang ada dimulut gw kemulutnya.


"Gimana? Lebih manis kan?"


"Rasanya jadi aneh" ucapnya dengan muka yang aneh


"Aneh gimana?"


"Rasa pisangnya jadi pahit, pweehh" jawabnya


"Cihh, ayo pulang" gw lalu berjalan duluan meninggalkannya di belakang gw.


"Hah dasar" dia lalu menyusul gw dan menyeimbangkan langkah nya dengan gw.


Setelah sampai rumah, dia menyelesaikan urusannya setiap bulan di kamar mandi dan keluar.


"Udah selesai? Ngantuk ga? Mau tidur sambil gw pijitin?" Ucap gw setelah dia keluar dari kamar mandi dan duduk disamping gw


"Tak usah" jawabnya


"Kenapa?"


"Kau mau mencoba sesuatu yang baru?" Tanya nya


"Hah? Sesuatu yang baru? Apaan?"


"Sebentar"


Dia lalu berdiri dan mengambil sebotol susu strawberry di kantong plastik dari supermarket tadi lalu kembali duduk di samping gw.


"Apa? Lo mau nyium gw ya?" Tanya gw sambil perlahan menjauh darinya


"Iya" dia lalu menusuknya dengan sedotan dan meminumnya lalu mencium gw dan memasukkan susu strawberrynya ke mulut gw.


"Kalau pake susu strawberry rasanya jadi lebih manis" ucapnya sambil duduk di pangkuan gw menghadap gw.


Gw hanya melihat matanya


"Katakan sesuatu, jangan melihatku seperti itu"


"Iya, rasanya lebih manis karena langsung dari bibir lo" jawab gw spontan


"Dasar anak mesum" ucapnya lalu bangun dari pangkuan gw dan gw menahannya lalu memeluknya.


"Sha, jangan pergi ya"


"Kau kenapa? Memangnya aku mau pergi kemana?"


"Gw cuma kepikiran kata kata lo waktu itu"


"Kata kata yang mana?"


"Yang dirumah sakit"


"Raka, untuk besok dan selanjutnya, kau jangan sedih ya" (episode 34 bagian akhir)


"Aku tak akan pergi kemana mana" ucapnya


"Setidaknya aku akan terus bersamamu sampai akhir" sambungnya


"Tuh kan lo mau pergi"


"Aku tak akan pergi"


"Janji ya"


Dia hanya tersenyum dan memeluk gw dengan erat dengan jantung yang berdebar


"Sha, jantung lo kenapa?"


Gw sedikit mendorong tubuhnya tapi dia kembali memeluk gw dengan erat


Dari situ gw tau, walau gakeliatan tapi dia lagi nangis tanpa suara.


Kenapa gw tau? Karena gw pernah ngalamin hal semacam ini sebelumnya, tapi dulu ibu gw, bukan pacar gw (walaupun si Sasha juga belum jadi pacar gw si)


Dia gamau nunjukkin sisi lemahnya dihadapan gw ya


Gw balas memeluknya dan mengusap punggungnya.