Mafia'S Girl

Mafia'S Girl
Episode 22



Gw masuk ke ruangan itu dan mata ini terbelalak dengan ruangan yang super mewah dan interiornya ditata dengan rapi.


"Silahkan masuk dan tunggu kami menyajikan makanan dan minuman untuk kalian" (anggap aja pake bahasa inggris) pria itu menutup pintu setelah kami masuk dan duduk menunggu.


"Ternyata ruangan vip club itu kaya gini ya" ucap gw ke si Sasha


"Iya"


"Lo pernah ke klub sebelumnya?"


"Pernah"


"Pernah?"


"Iya, pekerjaan ku kebanyakan di klub"


"Ahh iya, pekerjaan ya" mikir apasi gw? mana mungkin lah si Sasha ke klub cuma buat have fun.


Gw melihat dia sedang memakai sesuatu ke telinganya.


"Pake apa lo?"


"Earphone, Rangga"


"Gw gaperlu?"


"Tidak, kau hanya cukup mengikuti kata kataku saja"


"Ooh oke"


Srrrk...


Pintu terbuka dan beberapa pelayan membawa minuman dan makanan, yang gw liat mereka juga membawa botol minuman yang gw kira itu minuman beralkohol.


"Maaf telah membuat anda menunggu lama Mr." pria itu melangkah masuk dan duduk di kursi sebelah kami dan beberapa pelayan meletakkan hidangannya di meja depan kami, lalu mereka keluar.


"Bagaimana perjalanan anda?" sambil membuka botol dan menuangkan isinya ke dalam gelas kecil lalu menyodorkan minuman itu ke arah gw.


Gw harus minum minumannya kah? gw terdiam cukup lama lalu si Sasha menjawab pertanyaan pria itu


"Membosankan" dia menyenggol pinggang gw dengan tangannya dan tangan satunya lagi mengambil kue kering yang ada di atas meja.


Gw mengambil minuman itu lalu menghabiskannya dalam sekali teguk.


"Perjalanan panjang pasti terasa membosankan Mrs, seperti biasa ya, Mr Aaron selalu hebat dalam hal minum:)" dia tersenyum sambil melihat gw.


"Dia menjadi pemabuk berat setelah kami menikah" balas si Sasha.


"Ahh seperti itu ya, Mrs apa anda ingin minum juga?" pria itu bertanya sambil menuangkan minuman di gelas yang tadi, setelah selesai pria itu menyodorkannya ke arah si Sasha lalu gw mengambilnya dari tangannya, pria itu menatap gw kebingungan.


"Dia sedang hamil, gabaik jika minum alkohol" gw berbicara sambil melihat kearah lain dengan muka yang memerah, lalu meneguk minuman itu.


"Ah begitu ya? maaf Mr saya tidak tahu, kalu begitu silahkan istirahat dulu sejenak sambil menikmati hidangannya, saya akan keluar" pria itu lalu bangun dan membungkukkan badannya di depan gw lalu keluar.


Plaak... gw menampar wajah gw sendiri.


"Kenapa kau?" tanya si Sasha keheranan


"Kayanya gw dah mabuk deh"


"Kau baru minum 2 gelas"


"Btw, sorry ya"


"Soal apa?" tanyanya sambil mengunyah kue kering di mulutnya


"Soal gw..bilang lo lagi ha...mil" ucap gw terbata bata


"Memang benar" balasnya santai


"Haaaah!!!?" suara gw lumayan keras sampai menggema di ruangan ini


"Kenapa kau?"


"Lo? hamil? sama siapa?"


Buaagh... dia memukul kepala gw


"Istrinya Aaron, dia lagi hamil" lalu dia membuka botol minuman dan meminumnya langsung.


"Gw kirain lo hamil beneran" gw melihat dia yang masih meneguk minumannya


"Lo kuat minum ya" sambung gw


"Kadar alkoholnya tidak terlalu tinggi, berbeda dengan yang kau minum"


"Hhmmm, apa waktu lo nyelamatin gw juga lo lagi minum, trus botolnya lu lempar pake api?"


"Iya"


"Lo sadis juga ya"


"Eemm, itu aku"


"Kita cuma duduk disini aja kan?"


"Tidak, nanti kita harus ke tempat diskotiknya dan sedikit beraksi disana"


"Ngapain?" tanya gw sambil melihat si Sasha


"Lihat saja nanti"


Saat dia bilang gitu, dia mengeluarkan hpnya dan membaca pesan dari seseorang.


"Siapa?"


"Rangga, dia akan masuk sekarang"


"Kenapa gadari tadi?"


"Kau harus banyak belajar" dia melihat gw sambil ngangguk-ngangguk


Kaya deja-vu, itu kan yang dibilang Kak Rangga tadi di depan hutan, waah mereka punya ikatan batin apa ya? haha


Gw kembali melihat kearah dia, lalu menemukan sesuatu dirambutnya.


"Sha"


"Hm?"


"Ada sesuatu di rambut lo"


"Ambil"


"Hah?"


"Ambil"


Gw lalu mendekat dan mengulurkan tangan gw kearah kepalanya si Sasha, setelah lumayan dekat, si Sasha narik kerah gw dan wajah kita berhadapan berjarak kurang lebih 3 cm.


"Diamlah" dia berbisik


"Maaf mengganggu" gw samar samar mendengar suara perempuan dan pintu tertutup


Beberapa detik setelah itu, si Sasha ngelepasin kerah kemeja gw dan mendorong gw ke sofa.


"Ada siapa tadi?"


"Wanita, Istri pria yang tadi"


"Ehh? istrinya ko keliatan muda?"


"Hmm, Sugar Baby"


"Ohh, berondongnya ya?"


"Iya"


"Btw, nama pria tadi siapa? dia pemilik club ini?"


"Takahashi Yanae, dia orang Jepang segaligus pemilik club ini, dia sering dipanggil Bos Yan"


"Trus nanti gw panggil dia Bos Yan ya?"


"Tidak, kau pikir kenapa dia tadi sampai harus membungkuk di depan mu?"


"Ehh? kenapa?"


"Karena Aaron lebih kaya dari dia, kita gantiin mereka buat bahas kerja sama antar perusahaan, jika nanti kau diberi surat kontrak, ambil dan baca, lalu tolak"


"Kalo dia nanya 'kenapa ditolak' gw harus bilang apa?"


"Kau ambil saja dari apa yang kau baca nanti"


"Baiklah"


"Ayo" dia lalu bangun dari duduk nya


"Mau kemana?" tanya gw


"Diskotik, kita akan segera beraksi, cepatlah"


"Iya" gw bangun lalu jalan mendahului si Sasha.


Saat gw mau memegang gagang pintu, tiba-tiba pintu terbuka sendiri.


"Mr. Aaron, anda mau kemana?"


"Niki bilang dia mau mencoba makanan yang dijual didepan jalan sana, tadi kami melihatnya"


"Ohh, kami juga menyediakannya, anda duduk saja dulu sambil kita membahas kerja samanya, pelayan akan mengantarkan makanannya."


"Baiklah, ayo peanut" si Sasha lalu menggandeng tangan gw dan melihat kearah gw sambil tersenyum.


Gw baru kali ini liat dia senyum!! aaaaaakkk kebahagiaan macam apa ini? kenapa gw jadi berdebar ya?


Dia lalu mencubit pinggang gw menyadarkan gw yang lagi menatapnya itu.


"Ahh iya baiklah" gw lalu melangkah lagi dan duduk di sofa tempat gw duduk tadi.


"Silahkan dibaca dulu, Mr. Aaron" dia menyodorkan map biru dan beberapa lembar kertas didalamnya.


Gw mengambil map itu dan membaca isinya satu persatu.


Saat membaca, gw tahu bahwa si Mr. Aaron dan si Bos Yan ini bekerja sama untuk memproduksi sebuah makanan yang dicampur dengan narkoba dan menjualnya secara ilegal.


Karena melihat gw kebingungan, si Sasha ikut membaca surat kontrak itu, setelah beberapa saat membaca, dia kembali duduk dan mengatakan sesuatu.


"Ahh aku tidak mengerti urusan laki-laki"


"Anda hanya perlu medukungnya sepenuhnya, Mrs"


"Tentu saja, aku selalu mendukungnya dari dulu, dan sekarang lihat, dia sudah sukses dan kaya" ucapnya, gw yakin dia bermaksud mengatakan sesuatu dari kata katanya.


"Hmm, sepertinya kontrak ini tidak menguntungkan bagiku" gw meletakan map itu kembali keatas meja


"Ehh, apa ada yang harus diubah?" ucapnya.


"Ini, aku tidak mau bagian ini" gw menunjuk salah satu poin disana.


"Tapi kenapa anda tidak mau di poin ini?"


"Aku mau menjualnya secara bebas" mampus!! ngomong apa gw? narkoba mana bisa dijual bebas, bodoh... bodoh... bodoh


"Sepertinya jika dijual secara bebas itu berbahaya bagi perusahaan kita"


"Tapi untungnya lebih besar"


"Kita bisa menjualnya ke orang orang tertentu dengan harga tinggi"


"Kami yang akan memproduksinya, anda hanya perlu menarik konsumen untuk membelinya"


"Aku tau karena aku sudah membacanya, tapi aku merasa itu tidak menguntungkan bagiku"


"Kenapa anda bisa merasa begitu?"


"Intuisi ku tajam"


"Aah begitu? baiklah, akan saya ubah dengan kontrak lain, apa anda bersedia menunggu?"


"Kami akan ketempat karaoke, ayo sayang" gw meraih tangan si Sasha dan berjalan keluar dari ruangan meninggalkan pria itu sendirian.


"Sialan, kenapa dia menolak? padahal keuntungannya akan besar bagiku, apa dia sudah memperkirakannya sebelumnya?" gerutu Bos Yan dalam hatinya.


***


Gw keluar melewati pintu dan melihat ada Bang Bagas berjaga disana.


"Posisi masing-masing, bersiaplah" ucapnya di earphone nya dia


Kami lalu berjalan ke tempat diskotik, gw ngikutin dia dan si Sasha duduk di kursi yang ada disana sambil mengawasi sekitar,


"Tak ada yang mencurigakan, sekarang" ucapnya di earphone yang dia gunakan.


Dia lalu duduk sambil memakan makanan yang ada di meja itu.


"Lo lagi ngapain si?"


"Makan"


"Lo mau makan saat yang lain kerja?"


"Kita akan beraksi setelah semuanya sudah siap"


"Apanya?"


"Kau terlalu banyak tanya, diam dan ikuti saja"


"Tapi kan gw juga mau ngerti"


"Rangga yang akan mengajari mu nanti"


Setelah mengucapkan itu, dia menutup telinganya dan mungkin sedang mendengarkan orang yang berbicara di seberang sana dengan earphone.


"Hmm" ucapnya sambil mengangguk


Dia lalu mengikat rambutnya dan beberapa saat kemudian, ada seseorang yang menjatuhkan tas tepat dibawah kaki Bang Baron.


"Raka, ikut aku" dia lalu bangun dan Bang Baron mengambil tas itu lalu mengikuti si Sasha pergi ke arah lorong yang lumayan sepi.


Btw, dia tadi manggil gw pake nama kan? iya kan? gw bari pertama kali denger dia manggil nama gw.


Gw senyum senyum sendiri saat sedang berjalan di koridor lalu gw menabrak si Sasha di depan gw.


"Eeh? lo kenap-" belum selesai gw bicara, mulut gw dibekep ama Bang Bagas.


"Ssttt" ucapnya sambil menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya.


Gw pum cuma ngangguk dan dia pun melepaskan tangannya yang membekap mulut gw.


"Kenapa Sha?" gw bertanya sambil berbisik.


Dia lalu berjongkok dan mengintip lorong di sebelah kiri, lalu dia mengulurkan tangannya ke Bang Bagas, dan Bang Bagas memberikan sebuah pot yang terbuat dari kaca.


Gw mengintip sedikit lorong itu dan melihat ada beberapa orang bodyguard sedang berjaga di depan pintu melihat ke arah dinding.


Dia lalu mengangkat tangannya dan melemparkan pot kaca ke arah atas dan pot itu pecah tepat di ujung lorong.


Praang...


Mendengar suara pecahan, mereka langsung berpaling melihat kearah suara dan kami pun langsung berjalan ke depan sana.


"Lemparan lo bagus" ucap gw sedikit berbisik


"Kau harus pintar matematika" ucapnya.


"Lo pikir gw gabisa mtk apa?"


"Kau memang tidak bisa mtk kan?"


"Tau darimana lo?"


Dia gak menjawab pertanyaan gw dan berbelok ke lorong sebelah kanan.


"Sha, mereka gabakal ngejar gitu? soalnya aneh aja kan ada pot pecah padahal disana gaada tanaman"


"Mereka sedang mencari kita" ucap Bang Bagas dari belakang.


Saat kami sedang berjalan, si Sasha berhenti di depan pintu yang sedikit terbuka dan mengintip kedalamnya.


"Diam disini" dia lalu masuk sambil mengendap ngendap.


Gw melihat dia dari celah pintu, dan melihat ada seorang laki laki duduk menyamping dari pintu dengan 2 orang wanita dengan pakaian terbuka tampak sedang menggoda laki-laki itu dan ruangannya cukup kecil, gw melihat si Sasha dia mengendap ngendap berjalan ke belakang sofa, dan anehnya, mereka tidak sadar apa kalo ada seseorang yang masuk?


Seorang wanita tampak sedang mengambil botol minuman, lalu secara mendadak, si Sasha menyergap laki-laki itu dengan tangannya dan memukul lehernya dengan sikutnya lalu laki-laki itu pingsan. 2 orang wanita itu tampak ketakutan dan berlari ke arah pintu masuk untuk keluar tapi mereka tiba-tiba terjatuh dan pingsan.


"Masuklah" kami masuk keruangan itu.


"Ini ruangannya agak kecil dari yang tadi ya" tanya gw


"Iya, tadi ruang vip khusus untuk mereka"


"Mereka siapa?" tanya gw lagi


"Aaron dan Nikita" balasnya.


"Ooh gitu ya"


"Bantu aku mengikat mereka"


Bang Bagas langsung mengeluarkan tali dari tas itu dan mengangkat laki-laki itu lalu membawanya ke pojok ruangan, gw membawa salah satu wanita yang pingsan tadi dan berusaha menggendongnya, tapi si Sasha malah menarik kaki wanita satu lagi dan menariknya seperti karung beras.


Karena cewe ini juga keliatan berat, gw ngelakuin hal yang sama lalu mereka bertiga diikat dan mulutnya disumpal kain.


"Ini Nona" Bang Bagas memberikan baju serba hitam ke si Sasha.


Dia mengambilnya, lalu Bang Bagas menarik gw untuk menatap pintu?


"Ngapain kita liatin pintu?"


"Jika anda ingin mati, silahkan berbalik"


Gw ngerti apa yang dia bilang, si Sasha lagi ganti baju kan? haahh... dia sering banget ganti baju si.


"Selesai, kau buka jas mu" ucap si Sasha.


Gw berbalik dan melihat dia menggunakan baju serba hitam dengan rambut pendeknya.


"Jadi tadi cuma wig?"


"Buka jas mu"


Gw membuka jas gw dan menarik lengan kemeja gw kebawah sikut


"Tumben pintar"


"Heh!"


"Ambil ini" dia menyodorkan pistol ke arah gw


"Ini buat apa?" tanya gw


"Ahh, kau belum terbiasa membunuh seseorang ya? yasudah, kau pakai ini, lalu kembali ke ruangan tadi dan bekerjalah dengan baik! mengerti?"


Dia bilang itu sambil memakaikan earphone di telinga gw.


"Gw sendirian?"


"Iya, ini tugasmu, buat Yanae bersamamu dalam waktu yang lama, jika dia memberikan kontrak yang baru, terima saja, jika dia menanyakan ku, bilang saja aku pergi melihat sekitar bangunan dengan Bagas ya"


"Iya, lo mau kemana?"


"Melaksanakan tugasku" dia lalu berjalan kearah pintu.


"Ooh satu lagi, nama Bagas disini adalah Robert, mengerti?"


"Iya"


"Jangan sampai ketahuan" ucapnya lalu menutup pintu.


"Bang Bagas mau nunggu disini?" ucap gw ke Bang Bagas yang sedang membersekan isi tas


"Iya, saya harus mendapatkan informasi lebih dari mereka, anda kembali saja"


"Baiklah"


"Hati-hati, jangan sampai tertangkap"


Gw mengangguk dan keluar dari ruangan itu lalu kembali menelusuri lorong yang gw lewatin tadi dan saat berbelok, gw melihat 2 bodyguard yang tadi berjaga di depan pintu, kini berjaga di depan berlokan lorong itu, dan saat gw mau melewati mereka, mereka menghadang jalan gw dan bertanya


"Apa anda lewat disini tadi?" tanya salah satu dari mereka.


"What do you mean? i can't understand what you say about" (apa yang kamu maksud? saya tidak faham apa yang anda katakan)


"Ohh, I am sorry sir, what's your name?"


"My name? I am Aaron"


"Mr Aaron?"


"Yes"


"Ohh, I am sorry" mereka lalu membungkuk dan memberikan jalan buat gw, dan gw pun tiba di diskotik lalu melanjutkan perjalanan gw menuju vip room tadi.


Setelah gw tiba, gw membuka pintu dan melihat pria itu sedang duduk dikursinya tadi lalu menoleh setelah mendengar pintu terbuka dan berdiri saat melihat itu gw.


"Mr. Aaron? you're back alone?"


"Ya, Nikita sedang berjalan jalan di sekitar sini ditemani Robert"


"Anda tidak menemaninya?"


"Tidak, dia bilang selesaikan pekerjaanku dengan cepat, dia ingin cepat cepat istirahat"


"Aah kalau begitu, silahkan duduk, ini kontrak lain yang sudah saya ubah sedikit, silahkan dilihat"


Gw melihat map itu dan membaca isinya berbeda sedikit dengan yang tadi.


"Kau sudah lama menunggu disini?"


"Tidak, Mr."


"Baiklah, nampaknya sedikit menarik, akan ku tanda tangani"


"Benarkah? terima kasih banyak Mr."


"Ikuti apa yang dia mau, aku akan menjemptumu setelah semua selesai"


Pip...


Suara si Sasha hilang setelah dia berbicara seperti itu.


"Untuk merayakan kerja sama kita, Mr"


Dia menyodorkan gw minuman berwarna kuning di gelas yang besar dan gw pun menerimanya lalu kami bersulang dan meminumnya sambil membahas rencana lahiran Nikita?.