
Setelah sampai dirumah, gw lalu mengemas semua barang yang akan gw bawa ke koper dan 1 ransel.
Setelah mengemas, gw lalu tidur dan pergi sekolah keesokan harinya.
***
Sesuai ucapan si Sasha kemaren, gw pergi ke apartemen si Sasha sebelum berangkat sekolah.
"Ehh? Mau berangkat?" Gw bertanya setelah mendapati dia yang lagi berjalan di lorong apartemen.
"Kau kenapa datang kesini?" Tanya nya
"Lah kan kemaren lo yang suruh"
"Ohh iya juga, ntar aja sepulang sekolah" ucapnya lalu berjalan dan memencet tombol lift dan gw berdiri dibelakangnya.
Pintu lift terbuka dan kami masuk.
Diam dan diam
Gaada yang buka mulut sama sekali sehingga suasana didalam lift hening.
Hingga sampe di lobby apartemen dan kami keluar dari sana mengikuti si Sasha yang berjalan menuju parkiran.
"Udah nyampe, masuklah" ucapnya saat mobil berhenti tepat didepan gerbang sekolah
"Ehh, lo gaikut masuk?"
"Aku akan pergi ke suatu tempat dulu" jawabnya
"Kemana?"
"Tempat umum" jawabnya singkat
"Ohh yaudah" gw membuka pintu lalu keluar dan masuk ke kelas.
"Pagi Yan" ucap gw menyapa si Ian yang lagi berduaan sama si Dea
"Oi" balasnya singkat sambil mengangkat tangannya.
Karena kursi gw didudukin si Dea, gw duduk dulu dikursi si Sasha.
Bel lalu berbunyi dan gw balik ke tempat duduk gw karena guru juga udah masuk dan mulai mengajar
"Si Sasha kemana si? Lama banget" ucap gw dalam hati.
Lalu galama dari itu, pintu terbuka dan nampak si Sasha dibaliknya membawa keranjang supermarket yang penuh dengan makanan dan camilan ringan lalu dia duduk dikursinya.
"Wahh, Sha lo bawa apaan?" Tanya si Dea yang ada dibelakangnya
"Jangan sentuh" jawabnya ketus
Kami lalu melanjutkan pelajaran dan bel istirahat pertama berbunyi. Lalu beberapa menit kemudian, Kak Rangga masuk sambil membawa keranjang yang sama yang penuh diisi cemilan juga ke meja si Sasha.
"Nih" ucapnya
"Ambillah" jawab si Sasha
Kak Rangga lalu mengecek keranjang si Sasha
"Waah, snack jagung, snack ayam rasa jagung bakar, lo emang pengertian sama abang sendiri" ucapnya sambil mengelus kepala si Sasha.
"Apa ini?" Tanya si Sasha sambil melihat isi keranjang yang tadi dibawa Kak Rangga
"Karena gw gatau lo suka apa, jadi gw beliin semua yang ada di super market" jawabnya
"Kejam" gumam Sasha
"Bukan kejam tapi baik" jawab Kak Rangga
Sasha lalu berdiri dan memegang kerah baju Kak Rangga lalu mendorongnya ke dinding.
"Kau gatau apa makanan kesukaanku?" Tanyanya membentak membuat seisi kelas memperhatikan mereka.
"Lo suka semuanya kan?" Jawab Kak Rangga sambil tersenyum dan memiringkan kepalanya.
"Cih, menyebalkan, aku saja tau apa yang 'abangku' suka" ucapnya lalu melepas cengkramannya dan duduk.
Sedangkan Kak Rangga masih berdiri dengan raut muka yang serius memikirkan sesuatu.
"Ohh gw tau, lo suka strawberry kan?" Ucapnya
"Berisik" jawab si Sasha sambil menggumamkan sesuatu
"Iyaa maaf, nih sebagai gantinya" Kak Rangga lalu memberikan segelas es dari dalam keranjangnya dan memberikannya ke si Sasha.
"Rasa kesukaan lo, chocobanana" dia lalu duduk disamping Sasha dan memberikan minumannya.
"Lo belakangan ini jadi pemarah ih, padahal nih ya, kalo lo liat isinya, semuanya penuh sama rasa pisang tau!" Ucap Kak Rangga.
"Kenapa lo jadi gampang marah?" Sambungnya
Sasha hanya terdiam sambil menatap minuman itu beberapa saat.
Lalu, galama dari itu, terdengar suara keributan dari koridor.
"Weh weh, si Zaki berantem sama Kak Gerald" ucap seseorang
"Ehh? Zaki si Nathan?" Tanya Kak Rangga
"Iya si kacamata" jawab si Sasha lalu berdiri dari kursinya
"Wahh dah lama gw galiat dia berantem, liat yuu!" Kak Rangga lalu menarik si Sasha keluar dan melihat dari koridor ke lapangan dibawah sana.
Temen sekelas Kak Gerald juga mencoba menjauhkan Gerald dari Zaki yang sudah dipukul beberapa kali, dengan hidung yang sudah mengeluarkan darah.
"Lepasin" Gerald memberontak
"Lo gamau nolongin si Zaki, Sha?" Tanya gw disampingnya
"Buat apa?" Jawabnya
"Lo galiat si Zaki dah ngeluarin darah gitu?"
"Terus kenapa?" Balasnya
Karena suasana yang makin ricuh, dan guru-guru juga mulai keluar satu persatu.
"Aahh, sialan. Rangga" ucap si Sasha lalu melompat turun
Kak Rangga mengangguk lalu membawa 2 keranjang itu keluar dari kelas dan berlari menaiki tangga ke atap sekolah.
Sasha berjalan mendekati mereka dan memisahkan keduanya.
"Minggir lo cewek sialan" Gerald melayangkan tinjunya tapi ditahan begitu saja sama si Sasha.
"Mau berantem?" Tanya nya santai
Lalu, Kak Rangga melempar semua jajanan yang ada di keranjangnya dan menembaknya tepat sasaran hingga semua isinya berterbangan diudara.
"Pesta" teriaknya diatas sana sambil mengunyah keripik kentangnya
"Siapapun yang berani mendekat, sniper akan siap menembak dari atas sana" ucap Sasha dengan mengacungkan jarinya ke udara sambil memutarnya menunjuk Kak Rangga.
"Nah Zaki, ayo berpesta" sambungnya sambil menyeringai
Zaki hanya mengangguk sambil menyeringai lalu berdiri tegak.
"Lo pikir lo hebat karena didukung si Sasha" ucap Gerald lalu menyerang Zaki.
Dengan mudahnya, semua serangan dapat dihindari Zaki
Setelah dapat momentum yang tepat, Zaki mengeluarkan tinjunya hingga Gerald terpental mundur jauh dari sana.
Zaki lalu menghampirinya yang sedang mengerang kesakitan tak berdaya.
"Ahh sialan, gara-gara lo citra gw sebagai 'murid teladan' hancur" ucapnya lalu membungkuk dan memegang wajahnya Gerald dan membisikkan sesuatu.
"Gw memang hebat walau ga didukung sama si Sasha, kenapa? Karena gw adalah wakil ketuanya" ucapnya membuat Gerald menjadi bengong menatap udara dengan kosong
Satu tamparan berhasil mengenai pipi kanan Kak Gerald lalu diapun pingsan.
Zaki lalu berdiri dan mengambil kacamatanya yang sudah pecah. Lalu temen temen Kak Gerald menghampiri Gerald dan membawanya ke UKS.
Setelah itu, Kak Rangga melompat turun dari atap gedung setinggi 5 lantai itu dan mendarat dengan sempurna diatas senapan panjangnya itu.
"Pukulan lo gakaya biasanya" ucap Kak Rangga sambil menepuk bahu Zaki.
"Terlalu kuat gundulmu, terlalu lemah tau, beda sama yang gw liat 4 bulan lalu" jawabnya
"Ahahah, gitu ya"
"Sudahlah, ayo kekelas" ucap si Sasha berjalan ke kelas.
Setelah mereka tiba dikelas, gw menghampiri Zaki lalu mengintrogasinya
"Lo bisa berantem? Ko bisa? Belajar darimana? Si Sasha yang ajarin?" Gw menghujaninya dengan banyak pertanyaan.
"Ahaha" dia tertawa canggung
"Dia kan wakil ketuaku, aneh kalo gabisa berantem" ucap si Sasha
"Iya gw tau, tapi gw kira lo cuma pake dia karena otaknya aja buat nyusun strategi atau apa gitu"
"Itu juga benar, tapi dia juga kalo berantem gaada yang bisa ngalahin" jawabnya
"Waah, lo punya 2 sisi ya, 1 rajin belajar, 1 suka berantem"
"Oh iya, gw juga penasaran sama sesuatu"
"Apa?" Tanya Zaki
"Sejak kapan lo gabung ke grup si Sasha? Kenapa juga lo pake nama Nathan?"
"Sejak kita masuk SMA, karena Nathan nama tengah gw" jawabnya
"Kenapa pake nama tengah, gapake nama Zaki aja?" Tanya gw bingung
"Hmm, kalo itu biar gw perjelas"
"Zaki : Ketua kelas.
Nathan : Wakil Ketua Raditya's Group
Narendra : Ketua Executive di perusahaan ayahnya sebagai pewaris" jelasnya
"Wahh keren, lo punya 3 jabatan di nama lo" ucap gw terkagum kagum
"Heh, gw juga sama loh" ucap Kak Rangga
"Oh ya?" Tanya gw penasaran juga
"Iyalah, Rangga Xaverius Edgar. Gw ketua Selena's Group, gw juga wakil ketua osis, terus gw juga pewaris sempurna di perusahaan ayah gw" jelasnya
"Kayaknya kalian bertiga sama deh"
"Ngga si, si Sasha beda" jawab Kak Rangga
"Iya dia beda" jawab Zaki
"Bedanya?" Gw memiringkan kepala penuh tanya
"Dia cuma ketua Raditya doang gaada yang lain" jawab Zaki
"Loh bukannya dia juga pewaris perusahaan ya?"
"Kalo perusahaan ayahnya yang disini iya, cuma dianya yang gamau" jelas Kak Rangga
"Kenapa gamau?" Gw kepo
"Tanya aja sendiri" ucap Kak Rangga
Gw melihat si Sasha.
"Apa?" Ucapnya saat kami terdiam dan memerhatikannya.
Lalu, terdengar pengumuman dari speaker tiap kelas di sekolah.
"Kepada Queensha dari kelas XI IPA 2, Rangga dari XII IPA 2 dan Zaki dari kelas XI IPA 2, harap segera menuju keruang bk, sekali lagi..."
"Yaah keruang bk" Keluh Zaki
"Gapapa, diruang bk enak ada makanan gratis, ayo" jawab Kak Rangga lalu berdiri.
Lalu, mereka keluar dan menuju ruang bk yang ada diujung lorong lantai 3.
Saat mereka tiba disana, terlihat guru bk dan kepala sekolah memarahi teman temannya Gerald, lalu mereka pun masuk.
"Kalian duduk dulu, nanti giliran kalian" ucap guru bk yang berdiri dibelakang kepala sekolah.
Mereka lalu duduk dan tanpa basa basi, Rangga mengambil piring berisi gorengan diatas meja guru bk dan memakannya.
"Wahh, masih anget" ucapnya
"Mau Sha?" Sambungnya
Sasha menggeleng
"Mau Ki?"
Zaki mengambil 1 dan memakannya juga.
Beberapa lama menunggu, akhirnya guru bk dan kepala sekolah duduk didepan mereka.
"Zaki!" Bentak guru bk
"Iya?" Jawabnya singkat
"Kok bisa kamu berantem sama Gerald! Kamu gatau Ayahnya Gerald siapa?"
"Ngga, siapa emang?" Zaki menggeleng
"Dia tuh..." ucapnya terhenti
"Siapa?" Tanya Rangga ikut penasaran
"Pemasok uang" Sasha membuka mulut
"Maksudnya?" Tanya Rangga yang masih bingung.
"Kau tahu kenapa Gerald masih sekolah disini padahal dia sama kaya kita?" Ucap Sasha
"Ahh iya, Ayahnya nyogok mereka buat ga keluarin dia karena image keluarganya" jawab Zaki spontan
"Hmm" Sasha mengangguk
"Setiap Gerald buat masalah di luar atau disekolah, pasti Ayahnya mengirim uang sebagai bayaran untuk tutup mulut" sambungnya.
"Sudah!" Bentak Kepala Sekolah
"Rangga, kenapa membawa senapan ke sekolah?" Sambungnya
"Gabawa, emang setiap hari juga disitu kok" jawab Kak Rangga
"Setiap hari? Kamu menyimpan senjata api diatap gedung sekolah?" Bentaknya murka
"Kenapa emang?" Jawab Kak Rangga dengan santai sambil masih mengunyah gorengannya.
"Kenapa anak SMA punya senjata api? Diarimana kamu mendapatkannya?"
"Bukan urusan lo" jawab Rangga membuat kepala sekolah tertohok
"Kamu juga Queensha" ucap guru bk
"Kenapa ga lerai mereka?" Sambungnya
"Untuk apa? Aku suka liat si kacamata berantem" jawab Sasha
"Alasan macam apa itu"
"Aaah, berisik banget si, cuma guru bk doang ko serasa yang punya sekolah" jawab Sasha
"Apa? Kalo emang saya yang punya sekolah kamu mau apa?" Emosinya meluap.
"Mau ngancurin keluarga dan sekolah lo" ucap Sasha lalu mengeluarkan pistol dari balik jaketnya.
"Duduk" sambungnya sambil mengarahkan pistol itu ke guru bk.
"Kamu pikir saya akan tertipu dengan pistol mainan?"
Dan...
Dorr.