
"GILANG BAJINGAN!!" Teriak Sasha marah ke para anak buahnya
"Hmm, kayaknya gw salah pilih rumah, gaada peredam suaranya apa?" Ucap gw ke Kak Rangga yang lagi duduk disamping gw lagi main game.
"Pindah rumah dong" jawabnya
"Kemana? Biaya sewanya kan pasti mahal banget"
"Mau tinggal sama gw aja?" Ajaknya
"Eh? Apa?"
"Lo tinggal bayar biaya makan, air, sama listrik doang ko" jawabnya
"Haha gausah, gw udah betah disini"
"Kenapa? Padahal rumah gw lebih bagus dari bangunan ini loh"
"Iya sih, tapi udah betah aja ngerasa aman"
"Ada yang jagain ya dibawah?" Ucapnya sambil tertawa
"Hahaha iya"
"Hmm, gw kebawah dulu ya, perasaan gw gaenak soalnya"
"Iya iya sana, jangan sampe si Sasha ngamuk"
"Gw bahkan ngeri si Gilang yang ngamuk, hahaha" ucapnya sambil menutup pintu
Lalu hp gw bunyi ada yang nelpon.
"Ehh? No siapa?"
Gw lalu mengangkatnya
"Halo?"
"Hai, lo Raka ya?" Jawab seorang perempuan di seberang sana
"Siapa ini?"
"Gw denger kalian mau wisata ke Bandung ya?"
"Lo siapa?"
"Sampai jumpa di Bandung ya, nanti kita ketemuan, bye"
Tuut, telepon diputus.
"Apasi? Orang aneh" gw melempar hp gw keatas kasur, sayang soalnya kalo gw banting ke dinding.
Braakk...
Pintu terbuka keras dan si Sasha masuk dengan Kak Rangga dibelakangnya
Dia lalu duduk disofa dan terlihat luka gores dipipinya
"Heh, kalo pintu gw rusak gw harus gimana?" Ucap gw ngomel
"Bukan urusanku" jawabnya ketus
"Heh" balas gw kesal
"Haha, sorry ya, gw udah bujuk nyuruh pulang tapi dia malah kesini" ucap Kak Rangga sambil tersenyum
"Gw gamasalah si, cuma kenapa dia gitu?"
"Cuma adu mulut biasa" jawabnya
"Terus itu kenapa ko bisa luka?"
"Ahahah, knuckle ring gw kebalik, jadi bagian tajemnya malah didalem"
"Apa hubungannya?"
"Jangan bilang-bilang loh ya, dia mukul gw jadi tangan gw reflek nampar dia" jawabnya cemberut
"Ihh tega lo Kak"
"Kebiasaan"
"Ya masa gabisa dikontrol"
"Kayaknya gw harus ganti prinsip hidup gw deh" ucapnya ga denger ucapan gw
"Rangga, ayo pulang ke apartemenmu" ucap si Sasha lalu berdiri
"Hah? Mau ngapain ke apartemen gw?" Jawabnya
"Ganti suasana" ucapnya
"Ke rumah gw aja ya, jangan apartemen"
"Apartemenmu, ganerima penolakan" jawabnya lalu keluar sambil melemparkan kunci motonya ke Kak Rangga.
"Yaudah Raka, gw pulang dulu ya, bye bye" ucapnya lalu keluar dan menutup pintu
"Aneh" gumam gw masih melihat kearah pintu.
"Ehh bentar, tadi Kak Rangga bilang jangan ke apartemen tapi ke rumah aja kan?"
"Gila, dia punya rumah sama apartemen"
"Hmm, apa maksudnya rumah keluarganya kali ya?"
Gw memikirkan banyak pertanyaan tapi gw gamau mikirin juga, yaudah gw baca komik aja.
***
Dijalan.
"Sha, mau makan yang manis?" Ucap Rangga sedikit berteriak
"Tidak" jawabnya singkat
"Mau minum susu pisang?"
"Tidak"
"Mau martabak?"
"Tidak"
"Mau takoyaki?"
"Tidak"
"Dorayaki?"
"Tidak"
"Mau boba rasa chocobanana?"
"Iya" jawabnya semangat
"Dibeliin kan?" Sambungnya
"Iya" jawab Rangga
"Yeey" ucapnya lalu memeluk Rangga
"Tapi Sha"
"Kenapa?"
"Sekarang udah malem, pada tutup, besok aja ya"
"Kau saja yang bikin"
"Gw gabisa bikin boba"
"Gamau besok maunya sekarang"
"Gaada Sha, ganti yang lain aja bisa?"
"Yaudah nasi kuning"
"Heh anjir, jangan yang aneh aneh dong"
"Beli itu aja" jawab si Sasha sambil menunjuk pedagang sate
"Oke" Rangga berhenti tepat didepannya
"Mau berapa tusuk?"
"Kau mau?"
"Iyalah"
"Maraton?"
"Ayo"
"Yasudah, beli 133 tusuk"
"Kenapa ganjil?"
"Memang harus genap?"
"Iya, makanya gw bulatin jadi 100"
"Kenapa berkurang?"
"Terserah gw lah, tunggu ya"
Rangga mengantri dan mereka menunggu beberapa lama.
Rangga membayarnya dan kembali.
"Kenapa banyak banget"
"Tadi lo minta lebih banyak, kita beli 10 bungkus buat berdua loh"
"Kenapa? Kan ada Raymond yang akan habiskan"
"Heh, emangnya wakil ketua gw bukan manusia?"
"Dia kan memang bukan manusia, kau juga sama"
Jreb
"Gw manusia anjir"
"Yasudah ayo berangkat"
Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju apartemen Rangga
"Rangga, apa yang akan kau lakukan kalau aku suka Rafi?"
"Gabakal ngelakuin apa apa"
"Kenapa?"
"Soalnya gw yakin kalo lo nembak dia, pasti lo ditolak hahaha" jawabnya sambil tertawa
"Kenapa tiba tiba bilang suka si Rafi?" Sambungnya penasaran
"Lagian dia ganteng banget kan"
"Iya si"
"Makanya ini salahmu"
"Kenapa jadi salah gw?"
"Kau merekrut dia yang goodlooking soalnya"
"Soal goodlookingnya emang sengaja, tapi lo tau kan gw mungut dia?"
"Iya, mantan kriminal kan gabisa dapet kerjaan"
"Tapi lo tau ga kenapa dia masih diterima di masyarakat?"
"Karena dia ganteng, aku tau" jawabnya dengan wajah dan nada yang kesal
"Kenapa suara lo kaya kesel gitu?"
"Rangga, apa aku bisa menikah?" Ucap Sasha tiba tiba
Rangga lalu memberhentikan motornya tiba tiba lalu membuka helm nya dan menoleh melihat si Sasha
"Ayo turun, udah sampe" ucapnya sambil tersenyum.
***
Jam 07.30 pagi
Gw terbangun disambut cahaya matahari yang masuk melalui kaca jendela gw
"Hmm? Masih pagi, tidur 5 menit lagi" gw lalu berbalik dan melanjutkan tidur.
Tapi entah kenapa tiba tiba perasaan gw gaenak.
Gw lalu duduk dan mandi lalu keluar buat beli makan di supermarket.
"Ada lagi Kak?"
"Ngga"
"Wafer nya sekalian mumpung lagi promo beli 1 dapat motor"
"Ngga usah"
"Minyak gorengnya lagi turun harga mau sekalian?"
"Ngga"
"Pul-"
"Mbak tolong ya, saya bilang ngga ya ngga" ucap gw samil menatapnya dengan tatapan tajam
"Pulsa nya?"
"Gaperlu" gw lalu membayar dan keluar
"WAAAAA" gw berteriak lalu tersungkur kebelakang melihat sosok Kak Rangga yang ada didepan pintu dengan aura gaenak
"Ehh lo kaget?"
"Iyalah anjir, lagian lo mau ngapain pagi pagi disini?"
"Ehh iya juga ya, ngapain gw kesini"
"Lah? Lo jalan tanpa arah ya? Kasian kaya pemuda yang malang" jawab gw meledeknya
"Gw emang pemuda yang malang" jawabnya dengan nada sedih
"Lo kenapa? Mabuk ya? Pagi pagi dah minum?"
"Raka, gw harus kuat kan?"
"Lo kan emang kuat"
"Tapi gaada olahraga yang nguatin perasaan kan?"
"Ngomong apasi? Gw bingung? Lo kenapa?"
"Gapapa, gw pergi dulu ya, ada urusan, bye" ucapnya lalu pergi
"Aneh" ucap gw pelan
"Siapa yang aneh?" Si Sasha tiba tiba muncul di samping gw
"WAAAA" teriak gw kaget
"Kenapa kaget?"
"Sejak kapan lo disitu?"
"Barusan, kenapa?"
"Kalian hari ini kenapa si?"
"Kenapa apanya?"
"Muncul tiba tiba terus ngagetin"
"Hmm, mungkin sekarang April mop"
"Sekarang udah bulan Juli"
"Mungkin Juli mop"
"Gaada istilah kaya gitu, lo ngapain disini?"
"Kenapa? Aku tidak boleh ada disini?"
"Ya boleh si, tapi mau ngapain"
"Mau belanja" jawabnya
"Ohh oke silahkan" ucap gw sambil membukakan pintu
"Tunggu disini, aku gaakan lama" ucapnya lalu masuk.
Gw lalu duduk dikursi depan supermarket dan memakan sarapan gw.
"Kenapa makan disini?" Ucap seseorang yang ada didepan gw
"Ehh lo kalo gasalah Rafel kan?"
"Iya ahaha" jawabnya lalu duduk didepan gw
"Kenapa makan disini? Ga dirumah?" Ucapnya
"Gw lagi nungguin seseorang" jawab gw
"Sasha ya?"
"Ko tau"
"Keliatan lah, tuh orangnya lagi milih snack" jawabnya sambil menunjuk si Sasha
"Btw lo ngapain disini?"
"Mau jemput si Sasha" jawabnya
"Jemput?"
"Iya, Rangga lagi sibuk katanya, yaudah minta gw buat jemput dia disini" jelasnya
"Ohh yaudah"
Lalu galama dari itu, si Sasha keluar dengan beberapa tas ditangannya
"Kau sudah datang" ucapnya menghampiri kami
"Iya, ayo" jawabnya lalu berdiri mengambil semua tas belanjaan si Sasha.
"Ayo Raka"
Gw mengikuti mereka sampe ke halaman depan rumah kami.
"Gw naik duluan ya"
"Oke" jawab Rafel lalu masuk ke basecamp mereka diikuti si Sasha.
"Salam, Ketua" ucap beberapa orang didalam sana serentak.
"Leo dan Devino ada disini?"
"Mereka lagi dibawah" jawab Rafel
"Padahal masih pagi tapi sudah ada di bawah?"
"Ada pacar mereka juga"
"Ck, panggil mereka kehadapanku" ucap Sasha lalu duduk dikursinya
Rafel lalu membuka jendela lalu turun dengan tangga yang ada disana dan membawa mereka ke depan si Sasha.
"Duduk" ucap si Sasha lalu mereka duduk
"Devino, yang mana pacarmu?"
"Ini sebelah gw"
"Ohh oke"
"Iya, jangan galak galak ya Sha, soalnya kita ceritain lo ke mereka lo tuh baik, ngomongnya cute, sama sikapnya manis, oke" jelas Devino
"Hahaha, tentu saja" jawab si Sasha sambil tersenyum membunuh kearah si Devino
"Jadi, siapa nama Kakak kakak ini" sambungnya
"Nama gw Devi" ucap pacarnya Devino
"Gw Zahira" ucap pacarnya Leo
"Ohh, jadi Kakak Devi dan Kakak Zahra" ucap si Sasha
"Zahira, bukan Zahra" protes Leo
"Mulutku, bukan mulutmu" balasnya
Leo hanya memutar matanya sambil berdehem
"Maaf ya Vino, Leo, tapi tempat ini bukan tempat untuk pacaran" ucap si Sasha dengan nada lembut dan senyum membunuh
"Sejak kapan ada aturan itu?" Jawab Devino
"Tau, padahal dia juga sering pacaran diatas" Jawab Leo
"Memang kenapa? Lantai atas kan bukan milikku"
"Lantai basement juga, si Nathan yang buat" jawab Devino
"Ini kan tanah milikku"
"Ya terus? Si Nathan kan udah dapet izin lo"
"Ahh, iya juga si, tapi kan akses masuknya dari sini"
"Ya emang kenapa kalo dari sini?" Ucap Leo
"Berarti secara galangsung tempat itu juga milikku dong"
"Milik Nathan" ucap Leo
"Nathan kan sepupuku"
"Gaada hubungan keluarga kalo soal relasi bisnis" ucap Leo sambil tersenyum
"Memang dibawah ada apa si?"
"Mustahil lo belum pernah kesana" jawab Leo
"Belum, tempatnya kan kecil"
"Dibawah kan ada DJ Booth, gakedengeran emang tadi kita lagi nge DJ?" jawab Devino
"Ehh iya kah?"
"Iya, ada dancing floor nya juga" sambung Devino
"Ada mini bar juga, banyak coctailnya" ucap Leo
"RGB room lagi" sambung Rafel
"Ah sial, apa yang si kacamata pikirkan sampe buat club di lantai basement?" Gumamnya
"Katanya si biar gabayar kalo butuh hiburan"
"Tapi disini kan sepi, gaada yang bisa dimainin juga"
"Bisa mainin DJ"
"Emang dia bisa DJ?"
"Heh albumnya laris di pasaran tau"
"Oh ya?"
"Itu lo tau club yang waktu itu kita kerja bareng Rangga? Di diskotiknya kan puter lagu DJ buatan si Nathan"
"Oh ya? Kenapa aku gatau? Kenapa dia gabilang?"
"Soalnya pasti lo bakal bilang 'Yasudah' " ucap Leo sambil memanyunkan bibirnya meledeknya
"Haha, sudahlah, panggil Gilang kesini" jawab si Sasha
"Lo aja yang telepon" ucap Rafel
Sasha mengambil hpnya dan menelepon Gilang.
"Halo, Pangeran Gilang sedang liburan, silahkan bicara secepatnya agar tidak mengganggu waktu liburan Pangeran Gilang yang berharga ini" terdengar suara Gilang di seberang sana
"Kemarilah, kutunggu 15 menit" jawab si Sasha lalu mematikan teleponnya
"Ahhhh, Ketua sialan, gabisa apa anggotanya liburan seminggu?" Omel Gilang sambil berteriak ke hpnya yang sedang ada di Pantai itu.
***
"Ada apa?" Teriak Gilang setelah membuka pintu basecampnya lalu duduk disamping si Sasha.
"Kau cepat 15 detik"
"Gw ngebut mertaruhin nyawa tau" ucapnya sambil memalingkan wajah kesalnya
"Ada apa?" Sambungnya
"Nih" Sasha menyodorkan sebuah kotak kecil panjang dan pipih ke hadapan Gilang
"Apaan ini?"
"Kado ulang tahunmu" jawabnya
Gilang perlahan mengambilnya lalu membukanya
"Apaan padahal ulang tahun gw kan 3 hari lagi"
"2 hari lagi aku akan wisata ke Bandung, jadi sekarang saja"
"Hmm, yaudah makasih" jawabnya
"Kau gajadi marah kan?"
"Ngga, sebagai gantinya lo kasih gw liburan seminggu tapi dibayarin ya" ucapnya dengan mata berbinar
"Ahahaha, seharusnya kukasih besok aja ya" ucapnya pelan
"Kedengeran tau" omel Gilang
"Yaudah nih, pin nya ulang tahun ku, kau tau kan?" Ucapnya sambil memberikan kartu atm
"Isinya?"
"Cukup biaya makanmu selama 3 bulan" jawabnya
"Wahh, gw bisa liburan ke luar negeri nih"
"Jangan keluar negeri, di negara ini aja"
"Kenapa?"
"Kalau tak mau akan kuambil lagi kartu nya, sini balikin"
"Gamau, oke makasih ya Ketua ku yang cantik, imut, lembut, gapernah kasar sama anggotanya, tapi bohong, gw lanjutin liburan gw dipantai dulu ya, dadah!" Oceh Gilang lalu keluar
"Rafel, kenapa kau bawa orang gila kaya dia kepadaku?"
"Lo yang minta gw bawa dia kan?"
"Apa aku bisa memecatnya?"
"Lo punya motto khusus buat kerja kan?"
"Iya, aaaahhhhh!!! Yasudah, aku pergi dulu, ada urusan penting" Sasha lalu keluar.
"Hmm, ko genrenya jadi berubah ya?" Tanya Rafel
"Authornya gapunya referensi nih" jawab Devino.