
"Hmm, gw mending jadi sniper atau jadi fighter ya?" Ucap Rangga yang sedang mengemudikan mobilnya bersama Sasha, Raymond, Rion dan Rhino
"Untuk sekarang lebih baik kau menjadi flanker"
"Ngebosenin kalo jadi flanker"
"Kalau jadi sniper, kau tidak akan berkontribusi"
"Iya si, gedung nya tertutup semua"
"Kalo jadi fighter kau akan membuat keributan besar"
"Gapapa, gw kan suka keributan"
"Kau mau merusak rencanaku ya?" Tanya nya dengan wajah kesal
"Yang bikin rencana kan Bang Bagas, kenapa bilang rencana lo?"
"Bagas kan anggotaku"
"Ya tetep aja kan dia yang buat"
"Yasudah, pokoknya kau harus jadi flanker"
"Terus siapa yang nyerang kalo gw jadi flanker?"
"Ada Raymond"
"Dia aja yang jadi flanker"
"Kau saja"
"Cih, menyebalkan"
"Raymond lebih unggul untuk pertarungan jarak dekat"
"Gw bahkan lebih kuat dari dia"
"Oh ya?"
"Iyalah, coba aja dulu tangan gw ga patah"
"Kau masih merasakan efeknya?"
"Iya, tapi ga sesakit dulu si"
"Benturan besar seperti itu tak mungkin dilupakan tubuhmu"
"Gimana ya cara hilangin nya?"
"Kau pikir aku tau?"
"Padahal gw mau nyobain teknik baru yang gw pelajarin dulu"
"Oh ya? Kau belajar teknik apa?"
"360° no scope, hahahaha" (three sixty no scope)
"Ck, dasar pecandu game"
"Kenapa? Gw jadi pinter tembak-tembakan belajar di game tau"
"Yayaya, jangan bicara omong kosong"
"Apanya yang omong kosong?"
"Kau pikir aku tak tahu"
"Apanya?"
"Kau belajar menembak saat usiamu 10 tahun, saat itu kau tergila gila dengan kakekku yang sedang berburu menembak burung kan di dekat area camp sekolahmu dulu?"
"Eehhh? Lo tau darimana?"
"Mana belahjar nembaknya pake pistol air lagi, hahahah" ledek Sasha tertawa
"Ehhmmm, heh emang lo galiat sekarang ada gunanya? Gw juga sering lindungin lo dari kejauhan" jawabnya dengan wajah kesal
"Tapi tinjumu masih terasa sakit ko" ucap Sasha mengalihkan pembicaraan
***
"Ketua Divisi 2 siap diposisi" ucap Gilang di walkie talkie nya
"Bahus, berhiaplah hebentaw hagi" jawab Sasha sambil memakan kue cubit yang dia beli dijalan saat akan menuju ke gedung itu
"Heh lo gabisa serius apa sekarang?" Ucap Rangga yang kesal
"Kenapa? Aku sedang serius ko"
"Gara gara lo mampir dulu beli tu jajanan mana harus ngantri, kita telat 3 menit tau"
"Memang kenapa? Gaada yang bisa menghentikanku kalo masalah perut" jawab Sasha sambil tersenyum
"Waah, heh anak sialan, sejak kapan lo jadi doyan makan?" Ucap Rangga kesal
"Sebelumnya juga kan aku doyan makan" jawabnya datar
"Sebelumnya lo makan 3 hari sekali, ngemil chips doang jam 4 sore, udah itu udahan, sekarang perut lo jadi karung ya?"
"Ssstttthhh, jangan bilang perutku karung, perutmu sudah kaya sumur duluan" jawab Sasha balas meledeknya
"Lo ngajakin gw berantem ya?" Ucap Rangga sambil melipat lengan bajunya
"Kau pikir aku takut?" Jawab Sasha menatapnya dengan tajam
Mereka memandangi satu sama lain selama beberapa saat, lalu tertawa bersamaan
"Ahaaahhaaha, sumpah tatapanmu kaya orang mesum" ucap Sasha sambil tertawa
"Heeh mata lo kayaknya mau keluar tadi, hahahaha" jawabnya
Lalu, Zaki menghampiri mereka
"Sha, semua dah siap"
"Oke, bagaimana kita akan masuk?" Tanya Sasha
"Tenang, gw udah nyiapin sesuatu yang bagus buat lo"
"Buatku? Terus yang lain?"
"Gampang, nih ganti dulu baju lo" Zaki lalu memberikan paper bag.
***
"Ini yang kau siapkan?" Ucap Sasha dengan nada kesal mendapati dirinya memakai baju pelayan
"Hahaha anjir, cocok juga jadi pembantu" ledek Rangga tertawa
"Gimana? Bagus kan? Mobil catering bakal dateng 4 menit lagi" jawab Zaki
"Ck, berapa menit lagi acaranya?"
"24 menit lagi" jawab Zaki
"Ahh, aku benci menunggu"
Lalu, 4 menit kemudian, sebuah mobil box melaju menghampiri mereka dan dihalangi oleh Zaki
"HEH MAU MATI YA?" Teriak supir itu memarahi Zaki
"Ambil alih mobilnya" ucap Zaki ke beberapa anggotanya disana
Mereka lalu mulai mengambil alih mobilnya dan beberapa dari mereka masuk dan bersembunyi didalamnya.
"Oke Sha, lo udah nyiapin jawaban kalo ditanya nanti?"
"Jawaban apa? Kau saja yang urus"
"Ehh ko gw?"
"Aku tak peduli, kau urus semuanya, yang paling penting bagiku ya cuma pekerjaan ini"
"Ahh, ketua macam apa lo"
"Kau juga wakil ketua macam apa, memberikan ketua baju seperti ini"
"Ini tuh rencana perfect nya Bang Bagas tau!"
"Ahh sialan, ayo berangkat"
Zaki menyalakan mobilnya lalu masuk ke gedungnya dengan selamat.
***
Saat acara dimulai, Mereka bergerak dengan sangat hati hati dan diam diam memasang bom di seluruh bagian ruangan.
"Sha, Brian ada di atap sama seorang cewe" ucap Zaki
"Sebutkan ciri cirinya"
"Tingginya setara lo, putih rambutnya panjang terus-"
"Cukup, aku dah tau"
"Iya gw juga tau"
"Baiklah terus awasi mereka, ada laporan dari Leo dan Yuda?"
"Anthony lagi nyambut beberapa tamu di depan"
"Bagaimana dengan Rudy? Kau melihatnya?"
"Gw ngeliat dia sekitar 2 menit lalu masuk ke salah satu ruangan di deket dapur"
"Toilet?"
"Bukan, gw sempet liat isinya walau sekilas, ruangannya gede ko"
"Oke, kembali bekerja, aku akan melayani orang orang sialan ini"
"Oke, hati hati ya, gw udah suruh Vino buat nahan Brian di atap, jadi dia gabakal bisa turun dan ngancurin rencana kita"
Acara berjalan dengan meriah, lalu Rudy dan Anthony tampak sedang berbincang di salah satu sudut ruangan
"Hei, dekati mereka" perintah Sasha ke salah satu anggota divisi 3 sambil menyentuh earphonennya.
Dia lalu mendekati mereka perlahan dan berdiri tepat disamping mereka.
"Hmm, kayaknya ada yang aneh, kamu tau pimpinan perusahaan C kan?" Tanya Rudy
"Iya ayah, aku galiat dia di pintu masuk tadi, apa gadatang?"
"Tadi sempet nelpon, katanya lagi dijalan ko"
"Mungkin bannya bocor kali, harus kebengkel dulu" jawab Anthony
"Apaan si, sana sambut lagi tamu yang datang" ucap Rudy ke Anthony
"Daritadi gaada yang datang, udah kali"
"Jagain ga?"
"Eeeh iya iya"
Anthony lalu pergi ke pintu depan.
Sasha masuk ke toilet dan menyalakan walkie talkienya.
"Tim pencegat lapor"
"Ada 24 mobil dan orang didalamnya ikut dibuang" jawab salah satu dari mereka
"Oke"
"Gilang masuk"
"Gilang disini"
"Kerahkan beberapa anggotamu untuk mengawasi sekitar gedung menggunakan senjata, ganti"
Sasha lalu mengganti bajunya dan keluar dari toilet.
"Rafel, bagaimana makanan dan minumannya?" Tanyanya sambil menghampiri Rafel yang ada didekatnya
"Udah selesai Sha, lo jangan makan aja semua makanan atau minuman yang ada disini, gw masukin racunnya banyak, tadi gasengaja"
"Oke, beritahu Gilang juga, dia suka ceroboh"
"Sip" Sasha lalu masuk ke ruangan yang tadi Rudy masuki.
Dia berjalan memasuki ruangan itu dan menghampiri meja kerja disana lalu menyimpan alat penyadap di bawah mejanya, lalu memasang beberapa bom dan keluar.
"Nathan lapor" ucapnya di earphonennya
"Beberapa tamu yang pingsan udah gw pindahin ke ruang pendingin"
"Hei itukan ciri khasku, kenapa gapakai ciri khasmu?"
"Soalnya identitas gw paling penting daripada lo"
"Yasudah, lakukan saja sesukamu, bagaimana dengan Rudy? Apa dia merasa ada yang aneh karena sebagian besar tamunya hilang?"
"Dia juga pingsan, gw bawa dia ke ruang eksekusi"
"Ruang eksekusi? Ada dimana?"
"Di basement 1 sama dilantai 2 pintu diujung yang digembok"
"Rudy kau tempatkan dimana?"
"Di lantai 2"
"Dia makan apa?"
"Muffin, terus pingsan mulutnya berbusa banyak banget, untung area sana agak sepi jadi gw gampang buat mindahin dia"
"Baiklah"
"Sisa tamu tak sebanyak yang tadi, Anthony pasti akan menyadarinya, dimana dia sekarang?"
"Dia ada diruangannya"
"Sambungkan aku ke Bagas"
"Nih" Zaki memberikan alat komunikasinya
"Punya lo kemana?" Sambungnya
"Sedang terhubung dengan Rangga"
"Ohh oke"
"Bagas, alat penyadapnya berfungsi?"
"Iya, ketua, mereka sedang berbicara" jawabnya lalu terdengar suara Anthony dari radio perekam
"Tamunya kenapa berkurang? Apa udah pada pergi? Ko ga pamitan?"
"Tidak tuan muda, mobil di parkiran tidak berkurang" jawab seorang laki laki
"Terus maksudnya mereka hilang gitu aja?"
"Say-"
"CARI! ACARA UTAMA AJA BELUM DIMULAI KENAPA MALAH GAADA, CARI SAMPAI KETEMU" teriaknya murka
"Bagus, kau tahan si laki laki tadi, jangan biarkan dia kembali ke Anthony" ucapnya memerintah si Zaki
"Lo mau kemana?"
"Kemana lagi? Pekerjaan kita akan dimulai sekarang" jawabnya sambil tersenyuk menyeringai.
Zaki lalu menjauh darinya dan pergi menangkap laki laki itu.
Sementara itu Sasha masuk ke ruangan Anthony berada.
Tok tok tok
"Masuk" jawabnya dari dalam sana
Sasha masuk dan mengunci pintu
"Siapa lo?" Tanya nya
"Lama ga ketemu ya, ehh? Apa belum pernah ketemu ya?" Jawab Sasha lalu duduk di sofa yang ada disana
"Lo siapa?"
"Queensha"
"Queensha?" Tanya nya kebingungan
"Iya, kau tak perlu tahu detailnya"
"Cih, lo ga ngasih tau juga gw udah tau"
"Jadi lo penyebabnya ya?"
"Penyebab apa?"
"Lo nyulik semua tamu disini kan?"
"Tidak, bukan aku"
"Yah mau itu lo atau bukan juga gw gapeduli, yang mau gw tanyain sekarang adalah... kenapa lo dateng kesini?"
"Negosiasi" jawab Sasha singkat
"Negosiasi apa?"
Sasha menyerahkan sebuah kotak yang dia ambil di tempat sebelumnya dia bekerja
"Apa ini?"
"Buka saja, aku tau kau sangat membutuhkan ini"
Anthony mengambil kotak itu dan membukanya
"Aku tahu bisnis ilegal yang kau jalankan" ucap Sasha
"Terus apa hubungannya sama ini?"
"Itu akan sangat berguna dan aku yakin kau juga mengetahuinya"
"Jadi lo mau apa?" Tanya Anthony dengan wajah gelisah
"Bukan hal yang sulit"
"Katakan"
"Kau tau Natania? Bunuh dia"
"Apa?"
"Kenapa? Kau tak berani karena dia pacarmu? Ah maksudku tunanganmu"
"Apa alasannya?"
"Ayahnya, kau juga tau kan ayahnya dia mengetahui semuanya?"
"Kenapa ga lo aja sendiri?"
"Aku akan melakukannya, tapi menurutku akan lebih bagus jika kau yang melakukannya, jika tak mau yasudah, ini akan kuambil kembali, lalu keluarlah dalam 10 menit" Sasha mengambil kembali kotak itu lalu berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.
"Ahh satu lagi, sepertinya nyawa Brian dan Cintya ada ditanganmu, kau yang membunuhnya" ucapnya lalu keluar.
Anthony masih membeku shok melihat apa yang tadi dia lihat didalam kotak itu.
"Dia berbahaya, dia psikopat" gumamnya sambil berlutut dan memegang kepalanya.
"Kenapa dia bisa dapetin barang itu?"