Mafia'S Girl

Mafia'S Girl
Epissode 53



"Kok mereka lama ya diruang bk? Ini udah hampir bel istirahat ke-2 loh" gumam gw pelan


Saat guru didepan kelas lagi ngajar, lalu terdengar suara tembakan dan kaca pecah dari ujung lantai 3.


"Itu suara apa?"


"Kaya suara kaca jendela pecah" ucap seseorang


"Tadi juga kaya ada suara tembakan kan? Jangan jangan ada *******" ucap yang lainnya


Semua murid dikelas langsung berisik dan berbisik-bisik dengan satu sama lain.


***


Ruang bk.


Dor... Praang


Jendela yang ada dibelakang guru bk pecah karena peluru dari pistol yang dipegang si Sasha.


"Yosh, melenceng dikit!" Ucap Rangga disamping Sasha


"Keluarga Zoey sangat merepotkan"


"Tapi dia siapa?" Tanya Rangga


"Jika bukan Anthony ya Brian, bisa juga salah satu orang suruhan mereka" jawab Sasha


"Waah! Sayang banget dong, kalo tadi lo ngenain kepalanya, lo bisa ngendaliin Zoey sepenuhnya"


"Yahh, aku gamau menguasai keluarga Zoey"


"Kenapa?"


"Karena mereka licik"


"Lo juga sama" ucap Rangga


"Jangan makan dirumahku selama 1 tahun" ucap Sasha sambil melihat Rangga dengan tatapan kesal


"Ehh becanda ko, becanda"


"Tadi itu apa?" Gumam guru bk yang terduduk membeku di kursinya.


"Cih, orang tua sialan, ayo pulang" Sasha lalu berdiri dan keluar diikuti mereka berdua.


Bel istirahat ke-2 berbunyi dan gw langsung menuju ke kantin buat makan siang.


Lalu saat telah tiba disana, gw melihat mereka ber-3 lagi makan dan sesekali Rangga dan Zaki becanda.


Karena gw ke kantin sendirian tanpa si Ian, gw menghampiri mereka dan duduk disamping si Zaki dan didepan si Sasha.


"Kalian dah lama disini?" Tanya gw sambil duduk


"Lumayan lah" jawab Zaki


"Btw, mana si Ian?" Sambungnya


"Gatau, dia ilang pas istirahat pertama" jawab gw


"Pas istirahat pertama" tanya Kak Rangga


Gw mengangguk


"Jadi gimna, Sha?"


"Kayaknya cukup, Zaki karena ini akan menjadi pekerjaan penting, kau ikut ya" ucap Sasha


"Oke, gw free 3 hari kedepan. Kapan mau rapatnya?"


"Nanti malam jam 8, bilang jangan ada yang telat!"


"Oke"


"Gw mau ikut" ucap Kak Rangga


"Mau ngapain?" Tanya Sasha bingung


"Gw mau lawan si Anthony, sekalian balas perbuatannya waktu itu karena dah ngebuat lo masuk rumah sakit" jawabnya


"Terserahlah" jawab Sasha mengizinkan


"Rapatnya mau di basecamp lo?" Tanya Kak Rangga lagi


"Ngga, rapatnya dibawah laut, aku gamau ada orang lain yang tau" jawabnya


"Oke, dah gw bilang di grup" ucap Zaki


"Dibawah laut? Kalian mau nyelam?" Tanya gw bingung


"Hahaha, dasar orang bodoh" jawab Kak Rangga


"Apasi? Gw gangerti"


"Emang gaboleh ngerti kalo soal ini" jawab Kak Rangga sambil tersenyum


Mereka lalu melanjutkan makan tanpa menghiraukan gw.


"Tapi Sha, bukannya lo mau ke Rusia ya besok?" Tanya Zaki


"Lusa" jawabnya


"Ohh berarti kita kerja besok"


"Iya"


"Tapi, bukannya osis ada acara ya Kak?" Tanya Zaki


"Acara apa?" Tanya Kak Rangga kebingungan


"Lahh, lo yang bilang besok kalian mau rapat penyerahan jabatan" jawab Zaki


"Ohh iya, gapapalah itu kan tugasnya ketua osis" jelasnya


"Oke deh, kalo urusan sekolah besok gw serahin sama lo Ca"


"Hmm" Sasha mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.


***


Jam 15:15


Pelajaran pun selesai dan bel pulangpun berbunyi. Gw lalu merapikan peralatan gw lalu keluar dari kelas sendirian karena si Ian masih belum balik.


Sementara itu.


"Buat apa kita kesini?" Tanya Sasha yang sedang mengikuti Rangga keatap sebuah gedung dekat sekolah.


"Gw mau liat sesuatu" jawabnya


"Liat apa?"


"Tukan, udah gw duga dia masih disini" ucap Rangga yang melihat seseorang sedang tergeletak pingsan.


"Cuma mau liat dia?" Tanya nya


"Tembakan lo tadi emang melenceng kena telinganya, tapi gw gangira dia bakal pingsan selama ini"


"Kenapa? Dia mati?"


"Ngga, tapi kayaknya telinganya gabakal berfungsi normal karena kena panas peluru tadi, nih liat, robekannya sempurna, gw suka kalo liat darah keluar dari anggota tubuh musuh" jelasnya.


"Baguslah, sekarang ayo pulang" ucap Sasha lalu berbalik


"Tunggu, lo gakasian sama dia?"


"Tidak, jika kau kasian padanya, lemparkan saja dia dari sini"


"Haaah, sayang sekali ya Brian, lo kayaknya harus nunggu abang lo jemput kesini deh" Rangga lalu berbalik dan berjalan mengikuti si Sasha meninggalkan Brian yang tergeletak disana.


"Rangga, kenapa dia pingsan selama ini?"


"Anak Papa mana pernah diajarin bela diri langsung, kali ini lo beruntung aja karena dia lagi sendirian" jawabnya


***


Gw memasuki rumah gw dan langsung berbaring dikasur tercinta gw, terus gw mandi dan ganti baju menyimpan baju seragam gw di mesin cuci.


Galama dari itu, pintu diketuk seseorang


"Siapa?"


"Aku" jawab Sasha di luar sana


Gw membukanya dan diapun masuk lalu duduk di sofa.


"Kenapa kesini?" Tanya gw penasaran sambil mengeringkan rambut dengan handuk.


"Menepati janjiku" jawabnya


"Janji? Janji apa?"


"Kau gaingat?"


Gw mencoba mengingat sesuatu, lalu menggeleng


"Haaah, kau mengajakku pergi waktu itu, kau bilang ada tempat yang mau kau kunjungi, kau lupa?" Jelasnya membuat gw ingat


"Ohh iya, hahaha"


"Ck, aneh, cepatlah siap siap, aku tunggu" ucapnya sambil bersandar dan melipatkan tangannya di dadanya


"Gausah"


"Ehh?"


"Gausah, kita bisa jalan jalan ke tempat yang bagus di Rusia nanti, tempat yang lebih bagus daripada di kota sebelah" jawab gw menjelaskan


"Kalau di Rusia aku gayakin akan punya waktu luang yang banyak" jawabnya


"Gw yakin lo bakal ngeluangin waktu yang banyak buat gw" ucap gw pd


"Ck, yasudahlah" jawabnya berdecak sambil berdiri


"Aku pulang, bye" sambungnya bersiap melangkah


"Pulang? Cepet banget" ucap gw menahan dia melangkah


"Iyalah, buat apa aku lama lama disini?" Jawabnya


"Buat nemenin gw"


"Tiba-tiba? Kau jadi takut sendirian ya?" Tanya nya kebingungan


"Ngga juga si, gw cuma mau sama lo aja" gw memeluk perutnya manja


"Hei Arshaka"


"Hmm?"


"Jika kau seperti ini, apa aku harus menunda rapatnya?" Tanya nya sambil memegang kedua pipi gw dan menatap mata gw dalam


"Diundur 1 jam gamasalah kali" gw menjawabnya sambil tersenyum lalu mendekatkan wajah gw ke wajahnya dan bersiap menciumnya.


"Kata siapa boleh?" Tanya nya


"Hmm? Biasanya juga boleh, lo pernah bilang suka ciuman sama gw kan?" Jawab gw


Sasha lalu menyeringai dan mendorong gw hingga gw berbaring diatas kasur dan dia duduk diatas perut gw.


Dia lalu membungkuk mendekatkan wajahnya, lalu berbisik.


"Raka, maksudku, siapa yang bilang boleh mengundur waktu rapat yang sudah ditentukan?" Bisiknya lalu kembali berdiri.


"Haaah, tidurlah, aku akan pergi rapat" sambungnya lalu berjalan keluar dan membuka pintu lalu menutupnya kembali meninggalkan gw yang masih ada diatas awan dan mencoba berusaha mati matian buat nidurin adek gw lagi:(.


"Aahhh, Sasha sial- cantik banget" gw berniat merutukinya tapi gajadi.


***


Jam 22:13


Gw yang lagi begadang sambil maraton nonton film, kaget karena tiba-tiba lampu mati.


"Aaaaahhhh!!"


Karena rumah dibawah kosong karena mereka rapat ditempat lain, gw ngerasa gaaman dan ketakutan sendirian.


Gw menutup laptop dan naik ke kasur ditemani cahaya hp.


"Tenang, tenang, ini cuma mati lampu biasa karena hujan.


Beberapa menit gw menunggu, gw melihat ada bayangan orang yang lewat didepan jendela rumah gw. Gw bersembunyi dibalik selimut lalu mendengar suara keributan didepan pintu. Lalu pintu gw diketuk seseorang.


"Siapa?" Tanya gw sedikit berteriak.


"Queensha" jawabnya


Gw beranjak dan membuka pintu dan melihat dia berdiri didepan pintu dengan basah kuyup.


"Lo ujan ujanan? Sini masuk"


"Ya makasih" jawabnya singkat


"Kalo lo demam gimana?" Ucap gw sambil memberikan handuk


"Bisa kedokter" jawabnya


"Tapi kan tetep aja -"


"Sudahlah, aku mandi dulu, numpang ya" ucapnya memotong lalu masuk ke kamar mandi.


"Gelap Sha, gw gaada lilin"


"Pinjam hp mu"


"Nih buat apa?" Gw memberikan hp gw


"Senter" dia lalu menyalakan senter dan masuk ke kamar mandi


20 menit berlalu dia keluar dengan hanya menggunakan handuk yang hanya menutupi dada hingga pahanya.


"Pinjam bajumu" ucapnya dan seketika gw menoleh lalu menutup mata gw dengan tangan.


"Heh lo gila ya?"


"Pinjam bajumu"


"Gw gaada baju yang pas sama badan lo"


"Tak apa"


Gw mengambil kemeja gw yang menggantung disebelah kasur gw.


"Nih sana pake"


"Celana"


"Celana juga?"


"Iyalah, kau mau membiarkanku tidur tanpa celana?"


"Aaahhh... bentar" gw lalu membuka lemari dan memilih celana yang pas buat si Sasha.


"Ini bajuku?" Ucap Sasha yang memegang dress tidurnya yang dulu ditinggal disini.


"Ahh iya yang waktu itu, udah gw cuci ko"


"Yaudah aku pake ini aja" ucapnya lalu membuka handuk dan memakainya dengan kemeja gw yang besar dibadan dia.


Gw mengambil handuknya dan mengeringkan rambutnya.


"Lo kenapa ujan ujanan?'


"Bukan urusanmu" jawabnya ketus


"Kalian udah rapatnya?'


"Udah"


"Kak Rangga mana?" Tanya gw penasaran


"Pulang"


"Pulang? Rumah dia kan jauh"


"Rumah orang tuanya"


"Ohh iya, lo tadi dah lama didepan rumah gw?"


"Tidak, setelah sampai aku langsung mengetuk pintu"


"Terus tadi ada seseorang dong didepan rumah gw"


"Iya" jawabnya santai


"Lo liat? Siapa?"


"Seseorang"


"Ya siapa?"


"Lebih baik kau gatau"


"Aaaaah, kasih tau" rengek gw ngotot


"Ck, kau mau tau?"


"Iya, siapa?"


"Brian" ucapnya


"Si Ian? Terus dia dimana sekarang?"


"Dibawa Rafel"


"Kemana?"


"Ke rumahnya lah"


"Ko dibawa pulang?"


"Nanti kalo sudah waktunya kau akan tau, sudah kering?"


"Belum"


"Yasudah tak apa, ayo tidur"


"Lo kedinginan nanti kalo rambut lo masih basah"


"Lalu kau begadang mengeringkannya?"


"Gw ada hair dryer, bentar"


"Gausah"


"Kenapa?"


"Sekarang mati lampu, kau bodoh?"


"Ahh iya gw lupa"


"Ayo tidur" dia lalu berdiri dan naik ke kasur


Gw mematikan senter HP dan menarik selimut lalu berbaring disamping si Sasha.


***


Pukul 05:32.


Gw terbangun karena udara dingin yang masuk melalui ventilasi diatas pintu.


"Ehh? Si Sasha kemana?"


Gw lalu bangun dan mandi, memakai seragam sekolah dan keluar lalu naik bus menuju sekolah.


Saat tiba, gw melihat banyak orang berkumpul didepan mading sekolah.


"Aaah, gasabar liat Rangga tanding basket bulan depan" ucap salah satu anak cewe yang lagi berkerumun.


Karena penasaran, gw mendekat dan melihat langsung madingnya.


"Kenapa kau yang terpilih?" Tanya Sasha yang ada didepan gw


"Hahaha ya mana gw tau, pelatihnya mau di notice gw kali" jawab Kak Rangga disebelahnya


"Ayo tanding, besok siang aku akan ke Rusia" ajak si Sasha


"Gw gapernah nolak permintaan lo, ayo!" Mereka lalu pergi ke lapangan basket diikuti gw dan anak anak lain.


Setelah mereka masuk, Sasha membuka seragamnya dan hanya mengenakan baju kerja hitamnya. Dan beberapa anak cowok nampak teriak kesenangan.


"Lo gila ya? Jangan buka baju didepan banyak orang! Nih pake jaket gw!" Ucap Kak Rangga membentaknya


"Jaketmu berat, aku begini saja"


"Sha, lo mau pamer bekas ciuman di perut lo?" Tanya Kak Rangga berbisik


"Aku pakai jaketku saja" Sasha lalu memakai jaketnya


"Lagian ngapain si seragamnya harus dibuka segala?" Tanya Kak Rangga kesal


"Biar gampang bergerak" jawabnya.


Pertandingan dimulai. Bel masuk udah berbunyi daritadi, tapi gaada seorangpun yang beranjak dari duduknya. Sudah lama pertandingan berlangsung, skor mereka terus bertambah dengan skor saat ini, 20-20.


Ditengah pertandingan, Zaki yang gajauh dari gw tiba-tiba berdiri dan berteriak.


"Oi, kita telat 10 menit, cepetan bego" teriaknya diikuti si Sasha dan Kak Rangga yang kaget dan mereka langsung berlari meninggalkan lapangan.


"Yaah, padahal lagi seru main ko malah lari" ucap salah seorang dari mereka.


Karena mereka langsung lari gitu aja, satu persatu murid yang menonton meninggalkan lapangan. Dan gw pun kembali ke kelas.


"Ehh ko kosong, yang lain kemana?" Gw duduk ditengah ruangan kelas yang kosong itu, lalu guru pelajaran keduapun masuk.


"Ehh, kamu doang? Yang lain kemana?" Tanya nya


Gw hanya menggeleng sambil tersenyum.


***


15 menit kemudian, Sasha, Rangga dan Zaki tiba dilokasi.


"Salam ketua" ucap mereka serentak


"Lo telat 25 menit Sha" ucap Rafel


"Aku tau, semua sudah disiapkan?" Tanya Sasha


"Sudah ketua" jawab Bagas


"Oke, ayo berangkat sekarang" ucapnya


"Bagas, kau sudah memasktikan mereka dimana?" Sambungnya


"Ya ketua, mereka ada dirumah" jawabnya


Mereka lalu berangkat mendatangi sebuah rumah yang megah dan dengan sekejap melumpukan semua penjagaan rumah yang sangat ketat itu.


Sasha lalu membuka pintu dan masuk. Beberapa anggota dibelakangnya masuk dan berpencar menyerang seluruh pegawai yang ada di rumah itu tanpa suara.


"Rangga, atas" ucap Sasha memberi isyarat ke Rangga yang gajauh darinya.


Rangga mengangguk dan naik ke lantai 2 diikuti Raymond.


"Nathan, Leo, ke basement"


Mereka mengangguk sambil mengeluarkan pistol mereka untuk berjaga-jaga.


Sasha lalu naik ke lantai 3 bersama Gilang dan Devino, memeriksa setiap sudut bangunan itu dengan teliti hingga mereka memasuki sebuah kamar tidur yang rapi dengan warna abu putih.


"Dia tidak dirumah?" Tanya Gilang


"Dia disini, baru aja keluar" jawab Sasha sambil menyibak tirai gorden dan terlihat kaca jendela yang sudah pecah.


"Dia kabur? Yah sayang banget" Gilang


"Vino, dapet laporan dari anggotamu?" Tanya Sasha


"Ngga" jawab Devino sambil menggeleng


"Hmm, baiklah, ay-" ucap Sasha terpotong


"Oke, tahan dan ikat dia di ruang tengah bersama Ayah dan adik perempuannya" jawab Sasha kepada seseorang dibalik earphonnya.


"Gilang, pergilah ke atap, mulai ledakkan kecil disana lalu turun ke ruang tengah" ucap Sasha memberi perintah.


Gilang mrngangguk dan pergi keatap.


Devino pergi ke ruang selanjutnya sementara Sasha udah turun ke ruang tengah di lantai dasar.


Setelah sampai disana. Dia melihat seorang laki-laki yang tengah diikat dengan beberapa luka diwajahnya dan perban ditelinganya.


Sasha duduk di sofa menghadap laki-laki itu lalu bersandar di sofa.


"Aku yakin kau sudah tau kenapa aku dan para anggotaku disini" ucap Sasha sambil menyeringai


"Lepasin gw" jawabnya sambil memberontak


"Lepasin lo? Buat apa?" Balasnya


Lalu, galama dari itu, seorang perempuan jatuh dari lantai 3 dengan tubuh yang berlumuran darah.


Melihat itu, laki-laki didepan Sasha berteriak melihat ibunya terjatuh dengan darah yang keluar dari beberapa bagian tubuhnya.


"Wahh, Ibu mu sudah mati kayaknya, tenang saja, kau akan kubunuh terakhir ko" ucap Sasha mengintimidasi


"Ketua, maaf tadi anak perempuan ini memberontak" jawab salah satu anggota divisi 2.


Perempuan itu didorong hingga berlutut didepan Sasha.


"Halo Cintya, lama gaketemu ya, sekalinya ketemu malah kaya gini" ucap Sasha sambil mengangkat wajah Cintya dengan kakinya.


"SINGKIRIN KAKI LO DARI WAJAH ADEK GW BAJINGAN!" Brian memberontak di kursinya dan alhasil Sasha mengangkat pistolnya menodongkannya ke kepala Cintya.


"Sekali lagi kau berteriak, aku gajamin keselamatan adikmu" jawab Sasha yang sudah menarik pelatuknya.


Sementara Cintya hanya menangis terisak didepannya.


"Brian, aku yakin kau ga sebodoh itu untuk terus melanggar kata kataku" sambungnya


"Lo gaada hak buat ngatur ngatur gw" jawabnya


"Oh ya? Kau tau Anthony dimana?" Tanya Sasha tiba tiba


"Gw gabakal kasih tau lo" jawabnya


"Gadikasih tau juga aku sudah tau, dia gapulang 2 hari kan?" Ucap Sasha sambil menyeringai


Brian hanya diam dengan dada yang naik turun menandakan amarahnya yang memuncak


"Anthony, dia sebenarnya ada disini, 2 hari ini dia aku kurung dia di basement" jawabnya sedikit berbisik lalu membuat gestur dengan tangannya supaya yang mendengarnya tutup mulut.


Mendengar itu, nafas Brian semakin menderu dan menatap Sasha dengan tajam.


"Gw bunuh lo" gumamnya


"Mau bunuh aku? Coba saja kalau kau bisa" jawab Sasha sambil menyeringai dan menembak Cintya tepat di atas alisnya.


Darah yang segar mengenai tubuh dan wajah Brian yang membuatnya semakin marah dengan air mata yang sudah mengalir keluar.


"Ohh, tanganku licin" ucap Sasha sambil menutup mulutnya dengan tangan yang penuh darah.


Lalu, terdengar ledakan kecil dari atas.


"Ohh, sudah dimulai" ucap Sasha lalu Gilang terlihat menuruni tangga dan menghampirinya.


"Irma dan Cintya sudah mati, sekarang giliran Rudy atau Anthony?" Tanya Sasha ke Brian yang semakin marah


"Jawab" ucap Gilang sambil menyubit pipi Brian gemas.


"GW BUNUH KALIAN SEMUA ANZENG!" Teriak Brian memenuhi seisi rumah dengan suara marahnya.


Doorr...


Gilang menembak kaki Brian tepat di tulang keringnya dan itu sukses membuat Brian berteriak lagi.


"Ohh iya, kau mau lihat bagaimana Kakakmu mati?" Tanya Sasha ke Brian yang masih mengerang kesakitan.


"Ngga, gw mohon lepasin kita, gw minta maaf walaupun gw gatau salahnya apa" ucap Brian disela isak tangisnya


"Kenapa kau minta maaf, kalian gaada salah ko, aku melakukan ini karena gasuka dengan kalian, terutama Anthony" jawab Sasha yang membuat Brian dan Gilang terkejut.


"Kau tau kenapa aku datang jauh-jauh dari Rusia ke sini? Jika kau pikir aku kesini untuk sekolah, kau salah besar" sambung Sasha.


"Lo ngelakuin ini semua cuma demi kesenengan lo doang?" Tanya Brian


Sasha mengangguk.


"Ohh udah mulai, liat deh ini bakal seru tau" ucap Sasha ketika melihat layar tv yang menyala dengan menunjukkan Anthony dengan Leo disana dan Zaki yang menutupi wajahnya dengan masker dan topi.


"Brian, coba tebak Kakakmu akan dibunuh seperti apa" ucap Sasha


"Pertama, ditusuk. Kedua, ditembak sama seperti Cintya. Ketiga, dia akan mati karena terkubur reruntuhan gedung?" Sambungnya


"Ngga, ngga, tolong bebasin Kakak gw Sha, kita temen kan?" Ucapnya


"Temen? Aku gapunya temen" jawab nya


"Tolong jangan lakuin ini, gw... gw bersedia ngelakuin apapun asal lo jangan bunuh Kakak gw" ucap Brian memohon.


Sasha hanya menghela nafas dan menembak layar tv nya berkali kali.


Lalu, Rangga datang dan menghampiri Sasha dengan Rudy yang dia bawa dengan cara diseret seperti karung beras.


"Ohh ada Brian, hai" ucapnya sambil duduk disamping Sasha.


"Pah" gumam Brian melihat Rudy ayahnya terkulai lemas disebelah adiknya dengan tubuh yang berlumuran darah dan wajah yang bolong seperti tertusuk sesuatu.


"Tenang, dia belum mati ko" jawab Kak Rangga ke Brian yang sedang melihat ayahnya dengan air mata yang mengalir.


Lalu, rumah bergetar dan puing-puing bangunan lantai 3 turun dan menghantam benda dibawahnya.


"Hmm, lantai 3 udah hancur. Ayo pulang" ucap Sasha sambil berdiri


"Semoga selamat ya" sambungnya sambil memegang kepala Brian dan meninggalkannya disana.


Sasha keluar diikuti Rangga, Gilang dan beberapa orang lainnya. Lalu Zaki dan Leo juga keluar dari basement sambil membawa Anthony yang terkulai lemah dengan pisau yang masih menancap di bahunya.


"Semua dah keluar kan?" Tanya Sasha


"Udah Sha" jawab Zaki


Sasha lalu mengangguk dan memasuki mobil. Lalu mobilnya dan mobil yang liannya bergerak mrninggalkan rumah megah itu.


Rumah yang tadinya megah itu meledak hingga membuat tanah bergetar dan seketika bangunan itu sudah rata dengan tanah.