Mafia'S Girl

Mafia'S Girl
Episode 37



Seminggu berlalu dan ujianpun berakhir dengan lancar galancar menurut gw.


Gw lagi ada di kantin berdua sama si Sasha.


"Sha kan UTS dah selesai, kita jalan jalan yu" ajak gw


"Kan sudah kemarin ke gunung"


"Itukan sebelum UTS, ini sesudah"


"Kenapa? Kau ada tempat yang mau kau kunjungi?" Tanya nya


Gw mengangguk semangat


"Dimana?"


"Di kota sebelah"


"Ada apa dikota sebelah?"


"Nanti juga lo tau, mau ya?"


"3 hari lagi" jawabnya


"Kenapa ga besok aja?"


"Kerja" jawabnya singkat


"Kerja? Kerja dimana? Gw ikut dong"


"Jangan"


"Kenapa?"


"Kali ini berbahaya, sebaiknya kau duduk manis saja dirumah"


"Tapi gw mau ikut"


"Jangan!! Biar aku dan Rangga yang mengerjakannya" bentaknya.


"Iya iya"


"Sebagai gantinya, aku akan menginap dirumahmu malam ini" ucapnya sambil memasukkan makanannya kedalam mulutnya


"Besok juga"


"Besok aku gatau akan pulang jam berapa"


"Yaudah malam ini sama pulang dari jalan jalan kita ya" jawab gw


"Oke"


Dia lalu melanjutkan makannya sampai tiba tiba hpnya berbunyi.


"Hmm kenapa?"


"Tidak, bukan aku"


"Kau beneran dapet telepon dari nomor itu?"


"Kau mengangkatnya?"


"Bagus, jangan diangkat jika tidak kusuruh"


"Ya aku tau siapa orangnya, kita akan bereskan dia sekalian bekerja besok, tunggu saja"


Dia lalu meletakkan kembali hpnya.


"Siapa?"


"Leo"


"Leo siapa?"


"Anggotaku, Ketua Divisi 6" jawabnya


"Ohh iya iya, kayaknya gw belum kenal semua anggota lo deh"


"Aku juga sama"


"Ehh masa?"


"Aku hanya mengenal Ketua dari setiap divisi" jawabnya


"Oh ya? Siapa aja?"


"Kau meragukanku?"


"Ngga, gw juga sekalian mau tau aja nama namanya"


"Kau akan tau nanti pelan pelan"


"Gw juga kayaknya belum pernah liat Wakil Ketua lo deh"


"Benarkah? Kau melihatnya hampir setiap hari" jawabnya


"Ehh yang mana? Yang tinggi putih itu bukan?"


"Rafel? Bukan"


"Terus yang mana"


"Kau akan tau nanti" jawabnya sambil tersenyum.


"Kenapa gakasih tau aja langsung si"


"Hmm karena ada suatu alasan"


"Alasan apa?"


"Kau benar benar penasaran ya?" Ucapnya dengan nada dan muka yang kesal


Gw mengangguk sambil menatapnya


"Namanya Nathan" ucapnya


"Nathan?"


Dia mengangguk


"Yang mana?"


"Sudah sore, ayo pulang" ucapnya lalu berdiri


"Heh jawab dulu dong"


"Hmm enaknya kita makan malam apa ya?"


"Sha gw penasaran loh"


Dia lalu terdiam beberapa saat


"Kau tidak akan melepaskanku semudah itu ya?"


Gw mengangguk sambil tersenyum


"Sebaiknya kau ikut rapat nanti malam"


"Di basecamp lo?"


"Hmm, ayo pulang" jawabnya singkat lalu mulai berjalan meninggalkan kantin.


Malamnya jam 7.45 malam.


Gw duduk diantara yang lainnya dan si Sasha berada di kursinya.


"Semua sudah datang?" Tanya si Sasha


"Bang Baron sama Devino belum" jawab salah satunya.


"Suruh mereka datang dalam waktu 15 menit" ucapnya


Gw mengedarkan pandangan gw bergantian melihat mereka satu persatu. Dan gw melihat seseorang yang kaya gaasing dimata gw, tapi siapa ya?


10 menit kemudian, Bang Baron datang diikuti Devino dibelakangnya dan duduk dikursi mereka.


"Darimana kalian?" Tanya si Sasha


"Gw abis nambal ban sepeda gw, padahal kemaren kemaren baik baik aja" jawab Devino dan gw memalingkan muka gw.


"Saya baru selesai mandi" jawab Bang Baron


"Kau mandi malam malam?"


"Yasudah, ayo mulai rapatnya" lanjutnya


"Buta lo? Gw duduk samping lo loh daritadi" jawab laki laki yang gaasing buat gw


"Ahh, sejak kapan kau disini? Kau nampak berbeda tanpa kacamata" jawab si Sasha


"Duduk disamping kiriku" sambungnya lagi.


"Ini kan disamping kiri Ca, lo buta arah ih" jawabnya


Ca? Jadi dia si Zaki? Nathan itu Zaki? Pantes gw ngerasa gaasing pas liat wajahnya.


"Ehmm, yasudah, Nathan kau duluan" ucap si Sasha


"Oke" dia lalu berdiri dan membuka mulurnya mulai berbicara.


Gw hanya mendengarkan apa yang si Zaki sampaikan dan ketua dari setiap divisi dan beberapa angota mereka juga nampak serius mendengarkan.


"Hmm, tapi jika salah satu diantara mereka mengenali wajahmu, kau akan berada dalam masalah besar loh"


"Ngga bakal, karena ada lo" jawanya lalu tersenyum


"Ck, lanjutkan" jawab si Sasha dengan muka kesal.


Zaki menyelesaikan ucapannya.


"Oke, itu informasi tentang orang orang yang akan kita serang besok, untuk tempatnya sesuai dengan apa yang udah gw sampein tadi. Untuk rencana, biar Rafel, Leo dan Bagas yang buat. Kita akan ketemu dengan kelompoknya Kak Rangga dilokasi." Jelasnya.


"Tapi Ca, gw kayaknya ngeliat wajah yang ga asing deh disini" lanjut si Zaki


"Ngapain si cupu ada disini?" Sambungnya sambil melirik ke arah gw


"Heh anjir lo ternyata sering ngatain gw ya dibelakang?" Ucap gw dengan wajah yang kesal.


"Hmm gw disini Nathan sebagai Wakil Ketua, bukan Zaki sebagai Ketua Kelas, lo ngerti kan, Raka?" Jelasnya


"Iya iya, lo ternyata galak juga ya kaya si Sasha" jawab gw menggerutu


"Hahaha, tampilan saat kerja sama sekolah harus beda dong, ya kan Ca" jawabnya sambil tersenyum ala Zaki si ketua kelas


"Hmm, akhiri sampai disini saja, sampai jumpa besok jam 5 pagi" ucapnya lalu berdiri dan diikuti para anggotanya yang lain dan mereka menunduk secara bersamaan.


"Selamat Malam Ketua" ucap mereka serentak


Sasha lalu berjalan kearah pintu dan menarik gw keluar.


"Kau sudah tau siapa Wakil Ketua ku kan?" Ucapnya saat menaiki tangga


"Tapi seriusan si Zaki?"


"Nathan"


"Wahahh, ko bisa?"


"Memang apa yang tidak bisa?"


"Lo yang pilih dia?"


"Tidak, dia yang meminta bergabung, lalu kujadikan Wakil Ketua" jawabnya


"Tapi kenapa di kerjaan lo yang waktu itu dia gaikut?"


"Dia ikut bekerja jika pekerjaannya penting dan memerlukan otak dan tenaganya" jawabnya sambil membuka pintu kamar kos gw


"Gw bisa simpulin kalo kerjaan lo kali ini berbahaya ya?"


"Hm, jika salah sedikit saja mungkin aku dan si Kacamata akan mati" jawabnya sambil membuka jaketnya dan duduk di kasur gw sedangkan gw duduk di sofa di depannya


"Hah beneran?"


"Makanya Kelompok Rangga juga akan ikut bekerja di misi kali ini"


"Bukannya kalian suka kerja bareng bareng ya?"


"Iya, tapi kali ini berbeda, jika sebelumnya hanya melibatkan Rangga, Raymond dan Rion, sekarang melibatkan semua anggota di kelompoknya" jelasnya


"Begitu pula sebaliknya, yang biasanya hanya melibatkan Aku, Rafel dan Gilang, kali ini melibatkan semua anggota di kelompokku" sambungnya


"Kenapa lo gakerja kaya orang normal aja si?"


"Aku sudah memberi tahu alasannya" jawabnya lalu berbaring


"Lo udah tau siapa orang suruhan Ayah lo buat ngebunuh Ibu lo sama Pacar lo?"


"Iya"


"Siapa?"


"Orang yang sama saat dia membunuh kedua orangtuamu" jawabnya santai


"Lyodra? Si Dea?" Jawab gw gemeteran


"Bukan Dea, tapi Kakaknya, Violet" jawabnya


"Si Dea punya Kakak?"


"Iya, Harry dan Violet" jelasnya


"Jadi yang ngebunuh orang tua gw Kakaknya, Violet?"


"Iya"


"Kenapa? Apa alasannya?"


"Kuceritakan nanti, aku harus tidur cepat malam ini" jawabnya lalu berbalik membelakangi gw.


Gw lalu berpindah ke kasur gw dan berbaring disampingnya sambil memeluknya.


"Kau takut?" Tanya si Sasha memegang tangan gw yang gemeteran


"Gw ngerasa sedikit gelisah"


"Kenapa?" Tanya nya sambil berbalik menghadap gw


"Lo bakal nepatin janji lo besok lusa kan?"


"Kenapa? Kau melihatku seperti seseorang yang gabisa nepatin janjinya? Aahhsss, berani beraninya cowo cupu sepertimu meng-" ucapnya terhenti karena gw membekap mulutnya


Dia menatap gw dengan tatapan tajam


"Gw cuma memastikan" jawab gw sambil tersenyum lalu melepaskan bekapan tangan gw.


"Cih"


"Lo gabakal luka luka kan nanti?"


"Tak tahu"


"Jangan pokonya, kalo nanti lo luka luka terus lukanya gabisa ilang gimana?"


"Gaada bekas luka apapun di tubuhku"


"Oh ya?"


"Kau gapercaya? Nihh lihat tubuhku, mulus dan bersih mengkilat seperti ubin masjid" jawabnya


Gw hanya tertawa mendengarnya.


"Kau benar benar gapercaya?"


"Ngga, nih liat bekas luka yang ada dileher lo aja masih ada" jawab gw menyentuh bekas lukanya


"Bekas luka gaakan hilang secara instan jika kau mengucapkan mantra "menghilanglah" lalu bekasnya menghilang itu gaakan" ocehnya


Gw hanya tertawa memdengar ocehannya.


"Jangan tertawa, kau semakin menyebalkan jika kau tertawa" omelnya


"Jadi gw beneran boleh liat tubuh lo kan?" Tanya gw meledeknya


"Ya, lihat saja" jawabnya dengan wajah yang kesal.


Gw tertawa kecil sambil menyeringai lalu duduk dan mulai membuka kancing bajunya.


"Ehh? Apa yang kau lakukan?" Tanyanya kaget sambil menahan tangan gw


"Katanya boleh"


"Ahhh, itu... itu, ah sudahlah ayo tidur" jawabnya lalu berbalik


Gw hanya tertawa melihat tingkahnya dan kembali berbaring sambil memeluknya dari belakang.


"Selamat Tidur Sha" ucap gw sambil mencium lehernya.


Dia lalu berbalik dan membenamkan wajahnya di dada gw.