Love in Castle

Love in Castle
Peringatan Raja Artaleta



"Apa yang kau lakukan dikamarku?" Tanya Zest ketika baru saja naik ketempat tidur. Ia terkejut saat melihat Juan masuk kekamarnya. Ini terlalu mendadak.


"Kau adalah istriku. Kau ratuku. Apakah seorang suami tidak boleh melihat istrinya sebelum tidur?" Juan menghampiri Zest sambil melihat beberapa selimut yang menyelimuti Zest. Iapun duduk disamping tempat tidur Zest.


Zest tidak mengatakan apapun kecuali menutup matanya rapat-rapat. Juan kemudian berbaring disamping Zest. Tapi ia tetap tak peduli.


"Apakah kau marah padaku, sayang?" Tanya Juan sambil menatap mata Zest yang terpejam.


"Tidak" Zest membalikkan posisi tidurnya sehingga memunggungi Juan


Juan menarik bahu Zest sehingga mereka berhadapan kembali. "Katakan jika kau marah padaku. Kita baru saja beberapa hari yang lalu melakukan pernikahan. Kaupun baru kemarin dinobatkan menjadi Ratu Artaleta."


Zest membuka matanya. Juan sedikit terkejut melihat tatapan mata penuh kemarahan. "Aku tidak bangga menjadi seorang ratu. Kau tidak perlu mempedulikanku. Aku akan menjalankan tugasku sebagai ratu semampuku."


"Baiklah kalau kau sudah tahu tugasmu." Jawab Juan sambil bangkit dan berjalan keluar. Dalam hatinya ia merasa bingung. Ia merasa sedikit kecewa pada ucapan Zest tadi. Bagaimana bisa ia tidak peduli pada wanita yang nantinya akan terus berada disampingnya dan melahirkan anak-anaknya? Tapi melihat Zest marah seperti tadi, ia merasa Zest bertambah cantik.


Ketika diluar ia bertemu dengan Nisa. "Nisa.." panggilnya pelan.


"Ya Paduka."


Juan tiba-tiba membalikkan arah. "Em..tidak jadi. Kau jaga ratuku dengan baik." Juan kembali kekamarnya sambil tersenyum.


"Baik paduka."


Zest kesal. Ia merasa telah dijadikan pion oleh Juan untuk menjadi Ratu Artaleta. Itu tidak diinginkannya. Juan bisa mengaturnya karena ia adalah raja. Sedangkan ia? Setiap gerak geriknya selalu diwaspadai. Ia tahu itu.


Pintu dibuka pelan. Zest menutup matanya kembali. Ia pikir Juan kembali masuk kedalam.


"Paduka Ratu, anda sudah tidur?" Nisa datang membawa nampan berisi teko air panas.


Zest membuka matanya. "Nisa, aku pikir Juan."


Nisa menyimpan nampan itu disamping tempat tidur. Ia menghampiri Zest.


"Apakah kau kedinginan, paduka?" tanya Nisa sedikit khawatir.


Zest menggelengkan kepalanya. "Tidak Nisa, aku sudah memakai selimut berlapis. Aku tidak kedinginan lagi."


Nisa membetulkan selimut Zest.


"Nisa, apakah dulu aku pernah ke kamar ini?" tanya Zest sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Kenapa paduka? Apakah kau mengingat sesuatu?" tanya Nisa.


"Tidak. Hanya saja aku merasa ruangan ini tidak asing. Sepertinya aku pernah tinggal dikamar ini."


"Dimanakah Ratuku, pengawal? Sejak pagi aku tidak melihatnya. Apakah ia sakit?" Tanya Juan beberapa hari kemudian. Sejak kejadian malam itu, Juan tidak pernah sekalipun masuk kedalam kamar Zest. Merekapun tidak pernah berbincang kecuali ketika didepan pejabat. Pekerjaan yang dilakukan Juan sangat banyak. Ia tidak sanggup menghindarinya. Jika saja ada yang bisa membantunya. Vale telah banyak membantunya. Ia tidak bisa untuk terus mengandalkannya.


"Ratu diajak oleh panglima Leo mengunjungi panti sosial, Paduka.." jawab pengawal itu.


Juan mengepalkan tangannya. "Berani-beraninya Leo lakukan ini!"


Juan langsung memanggil beberapa prajurit untuk mengikutinya ketempat dimana Zest berada. Juan dan beberapa prajurit termasuk Vale langsung melesat.


Ketika sampai ditempat tujuan, Juan tak dapat melanjutkan langkahnya ketika melihat Leo tengah menatap Zest dengan serius. Ia menatap Zest yang sedang memeluk seorang gadis kecil. Juanpun terpesona melihat Zest untuk pertama kalinya.


"Jiwa sosial Ratu memang tidak dapat diragukan lagi. Sejak kecil ia seperti itu Paduka. Ia bahkan sempat menyelamatkan anak kecil yang dituduh mencuri disebuah rumah makan" Ucap Vale sambil mengenang masa lalu.


Juan menghampiri Zest dan memanggilnya. "Ratuku.. apa yang kau lakukan disini?"


Zest yang sedang memeluk seorang gadis kecil terkejut. "Juan."pekiknya. Ia tidak menyangka Juan akan menyusulnya.


"Mengapa kau tidak mengatakan akan datang kesini? Bukankah hari ini kau ada jadwal bertemu para Lady?"


"Masih ada waktu Paduka. lagipula Panglima Leo telah bermurah hati dengan mengajakku ke panti sosial ini. Bagaimana bisa aku tolak?" Jawab Zest tanpa melepaskan tatapannya pada Juan. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Juan ketika mendengar hal itu.


Vale terkejut dengan jawaban Ratu Zest yang tak lain adalah adiknya. Ia telah menjadi wanita dewasa sekarang. Ucapannya benar-benar hebat. Ia menantang suaminya. Zest membuat Raja mati kutu. Ia dapat melihat Juan sedang cemburu. Bagaimana bisa Zest membandingkan dirinya dengan Leo, yang tak lain adalah musuhnya.


"Maafkan aku sayang." Juan menarik pinggang Zest hingga mereka berhadapan. "Aku janji akan menemani kau kemanapun saat tugasku berakhir. Tapi tolong jangan pergi bersama orang lain. Itu bisa membuatku cemburu."bisiknya.


Karena kemesraan mereka, orang-orang yang berada disana menjauhi Raja dan Ratu nya. Apapun yang terjadi hanya mereka yang tahu. Zest melihat sekelilingnya sudah tidak ada siapa-siapa. Iapun mencoba melepaskan tangan yang melingkari pinggangnya. "Lepaskan aku"


"Sudah aku katakan untuk tidak pergi dengan Leo!Apakah kau tidak mendengarnya kemarin-kemarin ?" Juan bertanya dengan marah.


"Kau tidak bisa mengaturku! Sudah aku katakan aku akan melakukan semua tugas Ratu dengan baik!" Zest beranjak pergi dari sana. Namun kemudian Juan menarik tangannya sehingga mereka berhadapan. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Zest kesal.


Tiba-tiba Juan menempelkan bibirnya pada bibir Zest. "Kau adalah Ratuku. Ingat itu! Aku memperingatkanmu! Ini terakhir kalinya kau kulihat pergi bersama Leo. Aku tidak akan segan-segan untuk..." ucap Juan ketika akhirnya ia melepaskan.


"Membunuhku? Atau berpisah dariku? Aku tidak peduli." Zest mulai melangkah pergi. Ia menitikkan airmata. Nisa yang melihat kejadian itu dari kejauhan merasa sedih. Ia masih dapat melihat wajah Raja yang nampak terkejut.


"Anda tidak apa-apa, Paduka?"tanya Nisa cemas. Ia cemas melihat wajah Juan yang nampak shock.


"Aku tidak apa-apa Nisa. Hanya sedikit terkejut. Kenapa Zest mengatakan hal itu? Apa yang terjadi padanya?"


"Jangan kau pikirkan, Paduka." Jawab Nisa


Juan tidak menyadari jika Zest sebenarnya kecewa dengan sikap Juan. Selama beberapa hari ia tidak pernah muncul dihadapannya. Mereka tidak pernah bertemu secara pribadi. Saat bertemu pun hanya pada saat ada acara kerajaan.