Love in Castle

Love in Castle
Akhirnya bertemu



Vale sedang menyiapkan kudanya untuk dibawa menuju Azalea . Ini masih terlalu pagi tapi ia tidak mau mengecewakan Rajanya. Sudah hampir seminggu ia tidak pulang kerumah. Pekerjaannya yang banyak membuatnya tidak bisa pulang. Jika ia pulang, ia pasti telah memberitahukan rencananya pada Zest. Vale yakin sekali Zest tidak akan berada di Azalea hari ini. Ia tersenyum, biarlah Raja bertemu dengan Zest. Bagaimana reaksi mereka berdua jika bertemu.


Juan yang sudah menggunakan pakaian kasualnya menepuk punggung Vale dari belakang." Ada apa kau tersenyum sendiri? Ada sesuatu yang membuatmu bahagia?"


"Paduka sudah siap?" Tanya Vale terkejut.


"Panggil aku Juan untuk hari ini. Aku tidak ingin kau kelepasan dengan memanggilku paduka saat berada disana."


"Baiklah kalau begitu. Kuda sudah siap. Perjalanan kita hanya membutuhkan waktu satu jam." Jawab Vale melupakan pertanyaan Juan yang pertama.


"Kau tidak ingin memberitahuku kenapa kau bahagia?"


"Kau akan mengetahuinya nanti saat berada disana."


Juan meresponnya dengan senyuman. Namun ia berkata. "Apapun itu, aku akan bahagia."


Mereka berdua pun mulai bersiap dan melakukan perjalanan ke Azalea saat itu juga. Kuda yang mereka naiki bukanlah kuda sembarangan. Kecepatan lari kuda itu dapat menandingi kecepatan lari cheetah. Juan sangat menyayangi kuda itu layaknya sahabat.


"Vale, kau tahu? Semalam aku berfikir, jika aku menikah apakah Leo akan menikah juga? Aku tahu kemarin ia sangat marah padaku. Tapi, aku memang sudah curiga pada daerah itu sejak setahun terakhir. Hanya saja baru kali ini aku ingin melihat sendiri." Juan mulai berbicara ketika mereka berhenti sejenak saat melihat danau.


"Kau akan menikah?" Tanya Vale semangat.


"Aku yang berencana akan menikah tapi kau yang bersemangat."


"Tentu saja aku sangat bersemangat. Sudah seharusnya kau memiliki ratu."


"Aku akan meminta ayahmu untuk membuat undangan pada setiap Lady yang ada di negara kita. Aku akan memilihnya."


Vale hanya tersenyum mendengar ucapan Juan. Apapun alasannya, ia sangat mendukung jika Raja menikah. Sudah beberapa tahun ia kesepian. Seingatnya, Ia pernah berhubungan dengan seorang lady setelah Nicole meninggalkannya. Kali ini, adiknya harus ikut dalam undangan. Ia tidak boleh mengurung dirinya terus-menerus di rumah. Mungkin jika hari ini mereka bertemu, Zest hanya akan menjadi satu-satunya kandidat kuat untuk menjadi Ratu Artaleta.


Sepanjang perjalanan, Juan terpesona dengan pemandangan Tonzoni. Tapi, senyumnya tiba-tiba hilang ketika banyak antrian warga yang sedang meminta makanan. Kemudian beberapa warga ada yang sedang tertidur diatas jerami disepanjang jalan menuju Azalea. Wajah mereka lusuh. Semua orang menatap mereka berdua. Dalam pikirannya, ada saudagar kaya yang akan memberikan mereka bantuan. Anak-anak tidak dapat menikmati kebebasannya karena keterbatasan permainan, para orangtua yang banting tulang nampak tidak sanggup melakukan pekerjaan. Ia lihat beberapa prajurit istana sedang berkacak pinggang menatap mereka yang sedang bekerja. Hati Juan campur menjadi satu. Antara sakit, marah dan ingin segera memberikan hukuman pada Leo dan pengawal-pengawalnya.


Kuda mereka melambat ketika melihat antrian yang begitu panjang ketika kuda yang mereka naiki memasuki Azalea. Lebih panjang daripada yang dilihatnya tadi. Hati Juan tersenyuh ketika makanan yang dibagikan tidak layak.


"Bagaimana bisa Leo mengatakan kalau Azalea dan Tonzoni diperhatikan!" Ucapnya marah. Ia tidak sanggup menutupi kemarahannya saat itu juga.


"Sabar, kita harus menemui salah satu warga disini." Vale mencoba menenangkan.


Juan dan Vale pun menyimpan kudanya dan mengikatnya di pohon yang berada tak jauh dari mereka. Mereka menatap satu demi satu warga disana. Vale pikir ucapan Zest bohong. Ternyata selama ini ia yang salah. Ia merasa malu pada adik perempuannya itu. Zest memiliki hati yang mulia. Hanya dua tahun saja ia dapat menemukan daerah-daerah miskin yang sampai sekarangpun ia tidak tahu.


"Banyak yang kelaparan." Bisik Juan. Vale hanya mengangguk mengiyakan.


Salah seorang warga menghampiri mereka. Wanita separuh baya itu tampak kelelahan dan bingung dengan kedatangannya. Ia masih menggunakan celemek yang sedikit kotor.


"Siapakah Tuan-tuan ini?"tanya wanita yang diketahui bernama Nina itu.


"Kami hanya saudagar yang ingin memberikan sumbangan. Tapi, bisakah aku bertanya pada anda, nyonya? Kau terlihat lelah." Ucap Juan ramah. Ia merasa wanita didepannya sangat kelelahan. Ia kasihan dan merasa bersalah.


"Iya Tuan. Kami sangat berterimakasih kepada anda karena datang ke tempat ini. Selama ini hanya ada satu orang saja yang biasa menyumbang pada kami. Jujur saja, kami sangat kelelahan karena warga yang meminta makanan pada kami bertambah banyak." Ujar Nina sedih.


"Sejak kapan semua ini dimulai? Bisa kau ceritakan?" Tanya Juan dengan nada cemas. Jika waktu dapat diulang, ia ingin mengulangnya kembali dan mengembalikan hak-hak warganya.


"Mari ikut saya, Tuan. Kita bicara didalam." Jawab Nina.


Juan mengepalkan tangannya karena marah. Ia tidak menyangka Leo bisa melakukannya. "Aku berjanji, tidak akan lama lagi kalian tidak akan kelaparan seperti ini." Iapun berbisik pada Vale. "Kita harus berterima kasih pada dermawan yang selalu membantu, Vale. Kita harus mengundangnya ke istana."


Vale hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia tahu adiknya sedang berada disini. Tapi ia tidak menemukannya dirumah ini. Ia lihat hanya ada Nisa sedang membantu para wanita yang tengah memasak.


"Jika tidak ada Lady Zest, kami tidak tahu bagaimana keadaan kami sekarang. Dia seperti malaikat bagi kami. Dia datang tiba-tiba dan membantu kami." Ujar Nina yang membuat vale terdiam. Vale merasa malu karena jiwa sosialnya kalah dengan adiknya.


"Lady Zest? Dimana aku bisa bertemu dengannya, nyonya?" Tanya Juan penasaran.


Wanita itu memanggil Nisa yang sedang membantunya didapur. Ketika Nisa menghampiri wanita itu, ia terkejut melihat Vale. Wajahnya langsung terlihat bahagia. Bagaimana tidak, sudah satu minggu mereka tidak bertemu.


"Tuan muda, apa yang sedang anda lakukan disini?"tanya Nissa gugup.


Tanpa menjawab, Vale langsung melirik pada Juan. Ia tidak memberitahunya langsung karena pelayannya itu pasti akan sangat terkejut. Begitu pula dengan Nina yang terlihat bingung. Namun ketika Nisa melirik kesamping dan bertatapan dengan Juan, ia terkejut luar biasa. Ia langsung berlutut. " Maafkan hamba Paduka, hamba tidak sopan. Hamba tidak tahu jika Paduka yang berada disini."


"Bukankah kau dulu pelayan ibuku?" Juan sedikit terkejut saat melihat Nisa. Nissa sendiri hanya mengangguk.


"Betul, Paduka. Saya Nisa. Ketika anda pergi sekolah keluar negeri, hamba diutus untuk melayani keluarga Vanguard."


Juan melihat kebingungan Nina. "Bangunlah, Nisa. Kau membuat wanita ini bingung." Jawab Juan tenang." Kau beritahu dia siapa aku pelan-pelan. Nanti ia terkejut."


Nisa mengangguk.


Nisa pun berbisik pada Nina dan sesaat kemudian matanya terbelalak akibat terkejut. Wanita itu langsung berlutut. Tapi ditahan oleh Juan. " Jangan seperti itu, nyonya. Aku memang raja tapi, aku sedang menyamar. Aku harap kau tidak mengatakannya pada warga disini. Aku berjanji pada kalian. Situasi seperti ini tidak akan berlangsung lama. Aku akan memperbaikinya. Aku berjanji." Juan berkata sepelan mungkin. Ia lihat warga yang mengantri menjinjitkan kakinya untuk melihat melihatnya.


"Terimakasih Paduka Raja." Jawab wanita itu dengan berlinang airmata. Ia tidak pernah menyangka Raja akan mendatanginya secara mendadak.


"Lalu, mana dermawan itu? Aku ingin berterima kasih padanya. Namanya tadi kau sebut. Lady Zest. Benar bukan?" Ucap Juan. Tapi kemudian ia menoleh pada Vale. "Apakah kalian saling mengenal? Maksudku dengan dermawan itu." Tambahnya


"Ia adalah..." Vale tidak dapat melanjutkan ucapannya.


"Aku adalah pengasuh sekaligus penjaga Tuan sejak kecil." Jawab Nissa ketika melihat Vale tertunduk.


"Maksudku Lady Zest. dimana ia?" Tanya Juan kembali sambil berdiri. Ia melihat keseluruh ruangan tapi sepertinya tidak ada.


"Ia.. ia berada ditaman belakang, paduka.." jawab Nisa gugup. Ia berharap pertemuan ini berjalan lancar.


Juan merasa ada yang aneh pada Nisa dan Vale. Iapun berjalan kebelakang dan tertegun ketika melihat seorang gadis tengah menikmati ladang bunga. Ia berlari mengejar kupu-kupu yang hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain. Juan terpesona melihat kecantikan gadis itu. Ia tak henti memandangnya. Semuanya seperti dejavu. Ia seperti pernah mengalaminya namun entah kapan. Ingatannya menjadi sangat buruk ketika ia terus menerus diberikan pelajaran disekolahnya dulu.


"Maafkan aku, paduka. Aku tidak pernah memberitahumu." Ucap Vale yang sekarang berada disampingnya.


"Siapakah gadis itu, Vale? Kekasihmu?"tanyanya sedikit kecewa. Namun, Vale tidak menjawabnya melainkan memanggil gadis itu. "ZEST!!!"


Mata gadis itu menoleh dan berbinar ketika melihat Vale.


"Kakak!!!" Teriaknya sambil berlari menghampiri Vale dan Juan. Tatapannya hanya tertuju pada Vale seorang. Tidak pada pria disampingnya atau para wanita dibelakang mereka.


"Kakak?"tanya Juan bingung.


Zest berlari dan langsung menghambur pada pelukan Vale. "Kakak, aku merindukanmu. Sudah satu minggu kau tidak pulang kerumah. Kau lebih mementingkan kerajaan daripada keluargamu. Kau jahat! Apa bagusnya Raja itu!" Ucapnya sambil cemberut. Juan mendengarnya terpesona. Ketika gadis itu tersenyum atau marah sekalipun ia tampak cantik.


"Maafkan aku, Zest sayang. Aku harus bekerja karena banyak hal yang harus aku lakukan. Oh ya, kau harus memberikan salam pada paduka Raja. " Vale melepaskan pelukan Zest dan melihat seseorang disampingnya. Ia terkejut. Zest merasa bersalah karena membicarakan hal buruk tentang Raja.