
Zest menatap kamar terbarunya. Tadi pagi ia baru saja melakukan upacara pernikahan dengan Juan. Semuanya terasa seperti mimpi. Ia disumpah sebagai ratu artaleta. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi ratu.
Para warga berdiri disepanjang perjalanan ketika mereka kembali dari istana tempat melakukan pernikahan. Mereka terlihat sangat bahagia. Bukan hanya itu, pesta setelah pernikahanpun sangat meriah sekali.
Kamar itu hampir sama dengan kamarnya yang ada dirumah. Bedanya, kamar ini tidak memiliki pembakaran untuk menghangatkan ruangan. Ia tidak peduli dengan itu. Tapi, ketika Zest melihat lampu kamarnya, ia merasa takut. Ia seperti merasa pernah berada dikamar ini sebelumnya. Tapi ia tidak ingat sama sekali.
Kamarnya diketuk. Zest langsung bersiaga seketika. Ketika suara Nisa terdengar, ia mendesah lega.
"Ratu.. kau baik-baik saja? Kau kedinginan?"tanya Nisa cemas.
Zest menggelengkan kepalanya. "Tidak Nisa."
Nisa masuk kedalam kamar dan menghampiri Zest.
"Nisa, apakah benar tadi sore aku sudah melakukan pernikahan?"
"Benar, Ratu.."
"Apakah sekarang aku sudah menjadi seorang Ratu?"
Nisa menatap wajah Zest dengan wajah sedih. Ia menggangguk sedih. "Ratu tadi siang sudah melakukan sumpah."
"Lalu dimanakah Raja? Apakah aku sedang diabaikan? Kenapa sikap Raja berubah? Sampai kapan aku akan menunggunya?" tanya Zest bingung.
"Tidak Ratu, mungkin Raja kecapean."
"Lalu, dimanakah Juan sekarang?"
"Yang hamba dengar, ia sudah tidur dikamarnya."
Zest membaringkan tubuhnya diranjang dan membalikkan tubuhnya.
"Hamba akan menemani Ratu disini."
"Tidak Nisa. Tidurlah. Kau pun lelah. Terimakasih untuk hari ini." Jawab Zest sambil menutup mata. Nisa menghampiri Zest dan menarik selimut agar menutupi tubuhnya. Ia khawatir alergi akan menyerang tiba-tiba.
Ketika Nisa keluar dari pintu, Zest membuka matanya.
Jika ini yang ingin kau lakukan padaku, baiklah. Aku tidak akan peduli padamu selain demi kerajaan. Aku tidak akan mencampuri semua urusanmu. Kau telah membuat jarak denganku dihari pernikahan kita. Sekarang aku tahu alasan apa dibalik pernikahan ini. Kau hanya menginginkanku untuk pendamping saja. Untuk itulah kenapa aku tidak mau berurusan dengan Raja. Kau semena-mena.
Tiba-tiba pintu terbuka perlahan. Zest berpura-pura tidur. Ia merasa ada seseorang yang mendekati ranjangnya. Zest sangat takut sekali. Ia merasa kepalanya disentuh.
"Zest, aku minta maaf padamu. Aku tidak ingin membebanimu dengan pernikahan ini. Kita akan melakukannya secara perlahan. Aku tahu keputusan yang kuambil terlalu cepat. Selamat malam, Zest!" Ucap Juan sambil mengecup kening Zest. Iapun berjalan keluar kamar Zest.
Mata Zest terbuka perlahan. Tangannya menyentuh dahi yang tadi dikecup oleh Juan. Ia sadar terlalu cepat mengambil kesimpulan. Zest tersenyum dan merasa bisa tidur malam ini. Ternyata Juan tidak menyebalkan yang ia kira. Ia masih punya hati.
"Apakah Ratu sudah bangun?"tanya Juan pada penjaga kamar Zest yang ada disampingnya.
"Ratu sedang berbincang dengan Panglima Leo, Paduka."
Juan tersenyum puas. Ia ingin melihat wajah Leo saat ini. "Dimanakah mereka sekarang?"
"Diruang makan, Yang Mulia. Beliau-beliau sedang menunggu anda."
Ketika Juan memasuki ruang makan, ia melihat Zest sedang tersenyum pada Leo.
"Apa yang sedang kau bicarakan, sayang? Kalian sepertinya akrab sekali." Tanya Juan menghampiri Zest.
"Kau memang tidak salah memilih wanita, Paduka. Ratu adalah wanita terbaik dan tercantik yang pernah hamba temui." Leo memuji Zest sambil menatap tajam pada Juan.
"Untuk itulah aku langsung menikahinya. Ia memang ditakdirkan untukku dan kerajaanku." Jawab Juan sambil mencium pipi Zest. "Selamat pagi, sayang."
Zest hanya tersenyum tanpa menjawab ucapan Juan. Ia teringat pada kecupan dikeningnya tadi malam. Wajahnya tiba-tiba merah.
Leo menatap wajah Zest yang tiba-tiba berubah saat kehadiran Juan. "Baiklah, masih banyak yang harus hamba lakukan. Hamba pamit dahulu, selamat pagi." Leopun mengundurkan diri dari ruang makan itu. Tapi saat ia keluar dari ruang makan, ia kembali menatap Zest. Ada sesuatu yang aneh.
Ketika mereka sedang makan, Juan menatap tajam pada Zest.
"Sepertinya kau menyukai Leo daripada aku sendiri. Kau tidak pernah tersenyum seperti itu padaku." Ucapnya tajam.
"Hanya perasaanmu saja, paduka." Zest menghentikan makannya sambil menatap Juan.
"Kau tidak akan aku ijinkan untuk berbincang dengan Leo seperti itu. Kau adalah Ratu Artaleta sekarang."
"Kau tidak berhak memerintahkanku seperti itu! Lagipula, aku tahu mana yang menjadi batasan-batasanku menjadi seorang ratu." Jawab Zest sambil beranjak berdiri.
"Aku berhak karena aku suamimu. Dan kau adalah Ratuku." Ucapnya tajam.
"Seorang Ratu tidak akan diperlakukan seperti ini." Zest pergi keluar diikuti Nisa dan pengawal.
Juan terdiam. Zest adalah wanita terhormat dan pintar. Ia bukan wanita biasa. Apakah Zest tahu tentang alasannya menikah ? Ia tidak menyangka Zest akan melawannya seperti itu. Ia adalah Ratunya. Juan tidak salah memilih. Seorang Ratu Artaleta tidak boleh lemah.
Juan menyadari sesuatu. Ia berada diruang makan seorang diri. Sedangkan Zest langsung pergi. Iapun memanggil Nisa.
"Ada apa, Paduka?"tanya Nisa yang berlari menghampirinya.
"Bawakanlah Zest sarapan. Ia baru sarapan sedikit sekali." Juan mengatakannya dengan tenang.
Nisa tersenyum. "Baiklah, Paduka. Akan hamba bawakan ke kamar."