Love in Castle

Love in Castle
mimpi buruk



Juan mulai kehilangan konsentrasinya setelah mendapat ancaman dari Leo beberapa waktu yang lalu. Ia memang seorang Raja, tapi ia tak mau kehidupan pribadi masuk pada pekerjaannya. Ketika otaknya sudah tak mampu berfikir, ia mulai meninggalkan pekerjaannya dan terdiam diruang kerjanya seorang diri.


Zest sedang berjalan menuju taman belakang ketika ia melewati kamar Raja yang terbuka. Selama menikah, ia belum pernah mengelilingi istana. Ia melihat Juan sedang termenung dikursinya. "Masuklah, Zest." Ucap Juan. Zest terkejut mendengar Juan memanggil namanya. Mata mereka saling bertemu. Ia tersenyum pada Zest.


Zestpun masuk kedalam dan menghampiri Juan. Ia lihat banyak sekali laporan-laporan diatas meja. Juan terlihat sangat lelah. Ia tahu sekarang, Juan terlalu sibuk bekerja sehingga melupakannya. "Ada yang bisa kubantu?"tanya zest. Ia duduk di sofa yang tak jauh dari meja kerjanya.


Juan tersenyum. "Kau mau melihat laporanku?"


Zest mengangguk pelan. Juan langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri sofa Zest. "Duduklah disana, sayang. Aku akan duduk disini. Kau bisa melihatnya."


"Saat kau tidurpun, kau bisa langsung bekerja. Pantas saja aku tidak ada yang menemani."


Juan memegang pundak Zest sambil tersenyum. "Maafkan aku."


Zestpun pindah tempat dan duduk dikursi Raja. Ia mulai membuka laporan itu selembar demi selembar. Ia menatapnya dengan serius. Juan tersenyum dan perlahan menutup matanya. Bukan hanya lelah tubuh, matanya pun lelah. Ia butuh istirahat untuk sejenak.


Juan terbangun dan menatap kesekelilingnya. Butuh beberapa waktu untuk menyadarkannya atas apa yang telah terjadi. Iapun bangkit dan terkejut ketika melihat Zest sedang tidur diatas ranjangnya. Ia tersenyum. Iapun melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajah agar ia bisa melihat laporannya kembali.


Ketika ia kembali dari kamar mandi, ia melihat Zest sedang gelisah dalam tidurnya. Ia hanya melihatnya.


"Tidak!Jangan!Tolong aku! Mama! Papa! Kakak!Tolong aku!" Teriak Zest dalam tidurnya. Juan cemas dan menghampiri Zest. Zest menangis histeris dan membuka matanya. "Ada apa Zest?"tanya Juan khawatir.


Zest tidak menjawabnya. Ia hanya menangis ketakutan. Juan menggoncang bahu Zest. "Sadarlah, Zest!" Ucapnya bertambah khawatir. Zest hanya menangis tapi tidak histeris. Juanpun memeluk Zest. "Baiklah, menangislah." Bisiknya. Ia memeluk Zest sepanjang malam tanpa bertanya apa yang terjadi. Ia yakin sekali, Zest pernah menghadapi sesuatu yang membuatnya trauma hingga kini.


Nisa terdiam. Jika ia mengatakannya, akan memberikan luka lama pada Raja Juan dan keluarga Vanguard. Ia tidak mau itu terjadi. Biar Raja mengetahui dengan sendirinya.


"Saya tidak tahu, paduka. Paduka bisa menanyakannya langsung pada kedua orang tua paduka yang tak lain adalah Duke of Vanguard."


Juan merasa ada yang aneh pada Nisa. Ia harus menanyakannya langsung pada ayahnya.


Zest berada didepan cermin yang ada di kamarnya. Tadi malam ia berada di pelukan Juan dan ia tidak ingat apa yang terjadi. Wajahnya memerah. Ia malu.


"Jika kau melamun seperti itu, paduka.. paduka Raja akan memanggilku dan bertanya apa yang sedang kau lamunkan." ucap Nisa ketika ia masuk kedalam kamar Zest.


Zest menatap Nisa, ia kembali menyisir rambutnya. "Aku masih tidak ingat apa yang terjadi semalam."


Nisa hanya tersenyum tanpa memberitahu apa yang ditanyakan Juan tadi.


Leo menggebrak meja ketika melihat laporan pajak yang masuk padanya. "Pemasukan kita turun drastis! Bagaimana bisa Juan menggapai beberapa tempat dalam waktu seketika!"


"Orang-orang istana menyebar dengan cepat. Yang saya dengar, Raja Juan mengenal daerah-daerah itu dari Ratu Zest."


"Zest.. Zest... wanita itu, yah.. ia cantik! Aku mencintainya. Dan dia akan menjadi milikku!!" teriak Leo sambil tertawa.