
Ucapan Leo beberapa hari yang lalu membuat Juan naik darah. Dua kali Leo mengancamnya akan memiliki Zest. Ia mengepalkan tangannya sehingga jarinya menjadi putih. Tidak akan ia biarkan siapapun merebut Zest darinya.
"Zest sangat cantik dan juga pintar. Aku tidak menyangka istrimu bisa mengerjakan semua laporan kerajaan dengan baik. Aku menyukainya." ucap Leo untuk kedua kalinya.
Juan dengan cepat memukul wajah Leo tepat di wajahnya. Ia tidak menerima Leo akan mengatakan itu. Juan merasa ancaman Leo nyata.
Teringat beberapa hari yang lalu, Zest mampu mengatasi masalah pajak. Begitu pula dengan keuangan-keuangan beberapa daerah yang terlihat janggal. Zest mampu menyelesaikan masalah yang tidak bisa ia selesaikan hanya dalam waktu dua hari. Zest dapat menjadi pelengkapnya. Ia berjalan dihalaman istana. Pikirannya kacau. Banyak sekali yang harus dipikirkannya. Mulai dari Leo, Zest, Istana, Pajak.. Tapi mengapa Leo bisa tahu apa yang dilakukan Zest? Leo jelas-jelas telah memata-matai istrinya.
Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika ia melihat dewi, tidak..tidak.. itu adalah Ratunya. Zest nya. Zest terlihat sedang bermain-main dengan bunga bawaannya. Ia ingat pernah melihatnya ketika sedang di Azalea. Wajahnya sangat ceria. Tidak ada sakit atau apapun. Bukan itu saja, ia kembali teringat pada gadis kecil yang dulu pernah melakukan hal yang sama. Juan terkejut. Apakah gadis itu adalah Zest? Anak gadis yang selalu ia tunggu namun tak kunjung datang?
Ketika melihat Juan, Nisa dan pengawal lainnya mengundurkan diri tanpa sepengetahuan Zest. Zest sendiri tidak pernah merasa sesenang ini. Taman-taman cantik milik Ratu Isle membuatnya begitu bahagia. Hanya dengan melihat warna-warna bunga dan kupu-kupu yang terbang dari sana kesini, ia merasa bahagia.
Zest berbaring dirumput dimana kiri dan kanannya terdapat bunga-bunga mawar merah yang sangat indah. Ia bertelanjang kaki dan tidak pernah berfikir jika nanti ada duri yang menusuknya. Tiba-tiba seseorang duduk disampingnya. Zest menoleh dan terkejut melihat Juan berada disana. Zest hampir berdiri jika Juan tidak menariknya untuk duduk.
"Duduklah. Aku tidak akan mengganggumu. Aku juga tidak mau berdebat denganmu." Ucap Juan sambil menghela napas. Kemudian ia membaringkan kepalanya dikaki Zest. "Jangan tolak aku. Semalam aku kurang tidur. Biarkan aku tidur walaupun sebentar." Tambahnya.
"Aku memanggil seluruh pejabat istana untuk memberitahu mereka hasil investigasimu tentang pajak istana. Mereka pikir, aku memilih Ratu yang salah. Nyatanya aku tidak salah memilihmu."
Sesuatu yang sangat tidak terduga baginya. Pria ini membuat jantungnya berdebar-debar. Perlahan, Zest menyentuh rambut Juan dengan kedua tangannya. Zest yakin ada sesuatu yang sedang dipikirkan Juan selain pekerjaannya. Ia tidak bisa bertanya karena takut membebaninya. Ia hanya bisa memberinya semangat
"Apakah kau ingat sesuatu Zest? Melihatmu seperti ini membuatku teringat pada seorang gadis kecil. Kakinya tanpa alas berlari kesana kemari. Rambutnya panjang terurai sangat indah. Aku jadi mengingatnya. Sayang, ia tidak pernah datang kembali. Hanya dua kali ia datang ke istana."
Zest tersenyum. "Siapa gadis kecil itu?"
Juan tersenyum sambil berkata "Kau."
"Aku?"tanya Zest bingung. Juan tersenyum. "Aku juga tidak tahu pasti. Aku hanya mengingatnya sedikit. Aku harap gadis itu adalah kau."