Love in Castle

Love in Castle
Salah paham



Aku sembuh, pikir Zest. Ia melihat kudanya yang terdiam sambil menatapnya. Zest berdiri dan menaiki kuda itu kembali. Ia tersenyum bahagia tanpa merasakan sakit kepalanya dan darah yang mengalir didahinya.


"Istana, Jorgi!!!"teriak Zest sambil tertawa.


Juan sedang berada di lapangan belakang ketika salah seorang penjaga menemuinya.


"Paduka Raja, Lady Nicole sedang menunggu anda di gazebo taman." Seorang prajurit tiba diruang kerja Juan.


Juan berdiri dari duduknya. "Baiklah. Aku akan menemuinya." Ia berjalan menuju taman belakang. "Sediakan teh melati alami ke taman belakang."ucapnya sambil berjalan meninggalkan lapangan.


Lady Nicole tersenyum ketika melihat Juan berjalan kearahnya. Tidak pernah ia merasa sebahagia ini. Berbincang dengan Juan adalah cita-citanya saat ini. Ketika Zest tidak mengingatnya sama sekali, ia ingin hadir sebagai sahabat. Kali ini mungkin terakhir mereka bertemu karena ia akan pergi sekolah.


"Kau nampak sangat kelelahan, paduka.." ucap Nicole sambil berdiri.


Juan duduk dikursi sambil tersenyum. "Duduklah. Aku memang sedang kelelahan. Tapi bukan masalah bagiku."


"Bagaimana dengan istrimu? Saat tadi malam hamba tiba disana, hamba dengar ratu sedang sakit."


Juan mengangguk pelan. "Ya."


Ketika Zest tiba disana beberapa prajurit nampak heran melihat pakaiannya kotor dan didahinya mengeluarkan darah. Tapi Zest dapat segera menghadapinya. Keinginan Zest saat ini adalah memeluk Juan dengan erat.


Ia kini berada ditaman, ditempat yang sangat ia rindukan. Walaupun kini suasana dingin tapi bunga-bunga disana tetap berbunga sangat indah. Terdengar suara seseorang sedang berbicara. Zest melihat Juan sedang berbicara dengan Nicole. Hati Zest sedikit cemas.


"Aku akan melepaskan Zest. Aku tidak bisa membiarkannya terlalu keras untuk mengingat masa lalu. Selama ia berada disampingku, ia selalu mendapat musibah." Ucap Juan sedih.


Nicole mendekati Juan dan memegang kedua tangannya.


Zest mundur selangkah. Matanya nanar mendapatkan kenyataan Juan akan melepasnya. Seharusnya Juan memberinya semangat. Bukan dengan menyerah, pikir Zest. Ia berbalik dan berlari menuju kudanya. Ia mengabaikan sakit yang menyerang kepalanya.


"Awalnya aku ingin melakukan itu. Tapi, aku tidak bisa Nicole. Sering sekali aku mencoba untuk menyerah. Tapi setelah semua yang aku lakukan? Aku telah menunggunya selama ini. Apakah aku pantas untuk melepasnya?"tanya Juan kesal.


"Hamba yakin Ratu akan sembuh." ucap Nicole.


"Oh ya, ada apa kau menemuiku?"


"Aku senang mendengarnya." Iapun berdeham ketika melihat seseorang mendekati mereka. "Maaf, aku harus kembali kedalam. Vale sudah menyusul." Ucap Juan. Ia melihat Vale sedang berjalan kearahnya. Nicole menatap kepergian Juan dengan wajah prihatin yang mendalam.


"Paduka"


"Bagaimana keadaan Zest?"tanya Juan


"Pagi hari paduka Ratu telah membuat kekacauan, Raja.."


Juan mengerutkan keningnya.


"Ratu menghilang. Ia diberikan ijin untuk menggunakan kudanya."


"Siapa yang mengijinkan?" tanya Juan marah.


"Ayah hamba, paduka. Beliau merasa kasihan pada Ratu. Jadi sejak pagi hari beliau mengijinkannya berjalan-jalan disekitar rumah hamba."


Juan berjalan diikuti oleh Vale.


Ia merasa pengorbanannya akan terbayarkan. "Nanti malam aku akan makan malam dirumahmu. Sekalian aku ingin melihat Zest. Sejak kemarin aku tidak melihatnya."


Vale menganggukkan kepalanya. "Baik, Paduka."


Tiba-tiba Vale merasa penasaran dengan kedatangan Nicole ke istana. Ia sedikit tidak enak bergerak. Juan menoleh pada Vale. "Ada apa?"


Vale terdiam. Seakan tahu pada kegundahan Vale, Juan tersenyum. "Nicole hanya datang untuk silaturahmi. Tidak ada maksud lain."


"Anda harus berhati-hati, paduka."


"Tenang saja Vale, hatiku hanya ada Zest. Tidak ada wanita lain yang aku pikirkan saat ini."


Vale hanya menunduk walaupun tetap didalam hatinya ia merasa tidak tenang.