Love in Castle

Love in Castle
Mencoba mengingat



Imelda membawa sejumlah gaun yang akan dipakai oleh Zest nanti malam. Ia dan suaminya akan mengadakan makan malam dengan para pejabat istana untuk bersilaturahmi. Rasanya sudah sangat lama ia tidak melakukannya. Sejak Zest hilang, ia tidak pernah mengadakan pesta.


"Nissa.. aku harap Zest menyukai gaun ini. Sudah hampir seminggu ini ia tinggal disini tapi belum ada kemajuan. Ia selalu mengurung diri. Aku memikirkan Paduka Raja."


Nissa menggelengkan kepalanya "Tidak Yang Mulia, saya yakin ingatan Ratu Zest akan pulih secepatnya. Kita harus bersabar. Anda tidak perlu memikirkan Yang Mulia Raja. Yang saya dengar dari pelayan istana, Yang Mulia Raja sedang membenahi pekerjaannya diistana. Beliau mengabaikan pekerjaan untuk mencari Ratu selama 4 bulan kemarin."


"Aku tau, pencarian Zest telah mengabaikan pekerjaannya. Aku sedih saat itu. Tapi kini aku bahagia karena Zest telah ditemukan." ungkap Imelda senang.


Mereka berjalan menuju kamar Zest. Tak lama


mereka pun mengetuk pintu kamar Zest. Setelah mendengar Zest mengatakan masuk, mereka berdua memasuki kamar Zest.


"Mama, aku merasa pusing. Sepertinya aku hanya ingin beristirahat saja.." rengek Zest.


"Apa yang terjadi, ratuku sayang?" Imelda menghampiri Zest yang sedang duduk disamping tempat tidurnya. Ia memegang penyangga tempat tidur.


"Ratu, anda tidak apa-apa?"tanya Nissa cemas.


"Jika aku tidak ikut acara makan malam itu, apakah tidak apa-apa?" Tanya Zest.


"Beristirahatlah, mama akan mengatakannya pada ayahmu."


Zest mengangguk pelan. Kemudian ia berbaring di ranjang. Ketika Imelda pergi, Nissa menghampiri Zest.


"Apa yang terjadi Ratu?"


"Perlahan pasti akan sembuh. Saya yakin, Ratu." ucap Nissa.


"Tapi aku merasa tidak nyaman, Nissa. Setiap aku bertemu dengan orang-orang, mereka mengenalku. Tapi aku tidak mengenal mereka. Aku merasa frustasi." Zest mulai menangis tersedu-sedu. "Bagaimana jika ingatanku tidak pulih? Bagaimana jika aku tidak bisa mengingat Raja?"


"Sabarlah Ratu. Besok hamba akan mengajak anda ke Tonzoni. Itu adalah daerah yang biasa anda kunjungi. Mungkin anda akan mengingat sesuatu."


Zest langsung menatap Nissa dengan mata berbinar. "Benarkah?"


"Ya.. disana ada taman bunga tempat anda menghabiskan waktu. Sekarang beristirahatlah. Akan hamba beritahu jika Yang Mulia Raja tiba."


Suasana hati Zest mulai membaik. Ia tersenyum pada Nissa."Baiklah Nissa, terimakasih."


" Selamat siang ,Ratu. Semoga istirahatmu menyenangkan dan nanti malam anda bisa mengikuti pesta." jawab Nissa sambil menutup pintu.


Juan menatap dirinya di cermin. Ia telah menggunakan tuxedo terbaik miliknya. Malam ini ia akan bertemu dengan Zest setelah perpisahan mereka seminggu yang lalu. Juan merasa bersalah karena seminggu ini ia tidak mendatanginya. Ia berharap Zest dalam keadaan baik-baik saja.


Setelah bersiap-siap, Juan pergi bersama beberapa pengawalnya menggunakan kuda. Ketika sampai disana, banyak tamu-tamu yang sudah hadir disana. Ia melihat ibunya sedang menerima tamu. Tapi ia tidak melihat keberadaan Zest dan Nissa. Iapun berkeliling mencari keberadaan Zest tapi ia malah bertemu dengan Nicole.


"Yang Mulia, ada yang ingin saya sampaikan. Tapi tidak disini." Ucap Nicole pelan.


Juan menatap Nicole yang tiba-tiba ada didepannya. Apakah ibunya mengundang Nicole juga? Entahlah. Tapi yang pasti malam ini ia tidak bisa diganggu jika ia bersama Zest.


"Baiklah. Mari kita berbincang ditaman sebentar."