
Zest mengikuti langkah prajurit itu. Ia melihat kekiri dan kekanan. Sesekali ia melihat ke belakang. Mereka telah berjalan sangat jauh. Ia menjadi semakin curiga. Tidak mungkin Juan akan membawanya ketempat yang begitu jauh.
"Prajurit, kita akan pergi kemana?"tanya Zest cemas. Prajurit itu membalikkan badannya dan tersenyum menakutkan. Tangan kanannya mengeluarkan sebilah pisau tajam.
Zest langsung berlari secepat mungkin. Ia berusaha berlari sekuatnya. Ia tidak ingin mati ditempat ini. Ia hanya bisa berteriak ketakutan. Tapi prajurit itu bisa berlari lebih cepat darinya. Ketika akhirnya lehernya dapat ditarik dengan cepat oleh prajurit itu, Zest tidak dapat merasakan apa-apa lagi kecuali perutnya yang sangat sakit. Ia melihat pisau tertancap diperutnya. Darah mulai membasahi gaunnya.
"Aku sudah membalaskan dendamku! Raja Juan akan merasakan bagaimana kehilangan seseorang yang sangat berharga. Maafkan aku Ratu, aku harus melakukannya karena suamimu seorang pembunuh. Semua orang yang kusayangi dan kucintai telah dibunuh oleh suamimu." Pria itu menarik kembali pisau yang tertancap diperut Zest. Iapun pergi sambil melemparkan pisau yang tadi telah ia gunakan untuk menusuk perut Zest.
Zest menahan perutnya yang sangat sakit dan mencoba berdiri tegak. Ia memegang perutnya dan cairan kental telah memenuhi tangannya. Tubuhnya ambruk diantara bebatuan.
"Tolong" bisiknya.
Tidak terdengar suara manusia disekitarnya. Yang ia dengar hanya suara alam. Bibir Zest bergetar. "Juan..maafkan aku." Bisik Zest sambil berurai air mata. Ia menutup matanya perlahan dan berharap jika suatu hari ia membuka mata, ia masih ingin berada di dunia.
Juan melangkah masuk kedalam tenda. Setelah mengantar para tamu yang pamit pulang, ia langsung teringat Zest. Ia merindukannya. Ia pula ingin bertanya tentang pembicaraannya dengan Leo. Ia tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Leo tadi.
Ia tertegun melihat tenda kosong. Ia mulai berjalan mencari kesetiap sudut. Tapi ia tidak dapat menemukan Zest. Ia berkeliling dan mulai cemas.
"Nisa!" Panggil Juan kencang
Wanita separuh baya itu berlari tergopoh-gopoh masuk tenda. "Hamba, Paduka.."
"Kemana Zest?"
Nisa nampak panik. Ia langsung mencari keseluruh tenda. "Hamba tidak tahu Paduka. Tadi hamba meminta ijin meninggalkan ratu sebentar karena dipanggil oleh Tuan Vale. Hamba kira, Ratu masih berada ditenda."
"Bagaimana bisa kau tidak tahu?Aku memintamu untuk menjaganya!!" amuk Juan. Kegelisahannya semakin bertambah "Penjaga!" Teriaknya kemudian.
"Maafkan hamba Paduka." isak Nisa. Iapun merasa sangat bersalah. Apalagi Raja telah mempercayakan padanya.
"Kemana Ratu Zest pergi? cepat katakan!" serunya marah.
"Hamba tadi melihatnya kearah bukit, paduka. Paduka Ratu pergi bersama salah seorang prajurit. Hamba mendengar Paduka Raja menunggunya."
"Sejak kapan aku menyuruh prajurit untuk menemui istriku!" tanya nya marah.
Beberapa prajurit masuk kedalam tenda.
"Lapor paduka, hamba menemukan seorang prajurit tergeletak di belakang tenda. Tubuhnya penuh dengan tikaman benda tajam."
Juan langsung bersiaga. Ia kemudian memanggil Vale dan beberapa prajurit. Ia harus cepat-cepat menemukan Zest. Jika tidak, ia takut akan terlambat.
Vale masuk setelah mendengar teriakan Juan. Ia melihat Nisa sedang menangis.
"Ada apa?" tanyanya pada Nisa.
"Maafkan saya, tuan. Paduka Ratu telah hilang." ucap Nisa sambil menangis. " Saya salah karena menghiraukan wasiat Ratu Isle untuk menjaganya." tambahnya.
Vale menepuk bahu Nisa. " Kita cari Zest." ucapnya menenangkan. Jauh dilubuk hatinya, ia pun sama seperti yang lainnya. Cemas.
"Bagi beberapa kelompok. Kita berpencar mencari Zest sekarang!! Cepat lakukan!!" Teriak Juan marah.
Vale menghampiri Juan
"Kau ikut denganku!" seru Juan.
"Baik, paduka."