
"Mama.. aku tidak mau berada di istana." Rengek seorang gadis kecil pada ibunya. Rambut gadis itu pirang panjang terurai. Kulitnya sedikit pucat. Matanya basah karena menangis. Selain itu hidungnya merah karena menangis. Gadis itu tidak pernah melepaskan jari-jarinya digenggaman ibunya.
Ratu Isle Aurora Philip berjalan didampingi para pengawalnya untuk menghampiri seorang gadis manis yang terus membuatnya terpesona. "Ada apa sayangku?"tanyanya sambil merangkul gadis manis dihadapannya.
Gadis itu menatap Ratu isle dan menghentikan tangisnya. Ratu Isle menyentuh mata gadis itu yang basah. "Aku takut berada disini."
Ratu Isle tertawa sambil menatap Imelda. "Aku tahu sekali kapan anak ini lahir. Dari pertama melihatnya, aku jatuh hati dan ingin memilikinya." Imelda hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Imelda, aku akan membawa gadisku ini ke taman. Kau tunggu aku didalam." Ucap Ratu Isle sambil menuntun Zest kecil menuju taman.
Ratu Isle memperlihatkan taman bunga miliknya pada Zest. Zest langsung berlari ketika melihat taman itu untuk pertama kalinya. "Kau senang bukan?"
Zest kecil mengangguk bahagia.
"Mama!!" Panggil anak lelakinya. Ia sedikit angkuh dan dingin. Juan tahu ibunya sangat menyukai gadis kecil itu. Entah berapa kali ia sering berjumpa dengan Duchess of Vanguard hanya untuk melihat anak gadisnya.
Ratu Isle membalikkan badannya dan melihat Juan sedang menatapnya dengan marah. Ia tersenyum sambil memanggilnya.
"Sayangku.. bisakah kau bermain dengan gadis cantik itu? Nanti jika kalian dewasa, mama akan menjodohkan kalian berdua."
Juan semakin marah. "Aku tidak mau!!"
"Lihatlah sayang, gadis itu sangat manis. Kau tidak tertarik? Mama akan meninggalkan kalian berdua." Ucap Ratu Isle.
Ketika mereka tinggal berdua, Juan kecil menghampiri Zest kecil sambil mendorongnya. "Aku tidak suka kau kesini!"
Zest kecil menangis sambil bangkit dari tanah. "Mama!!"
"Panggil saja mamamu! Aku tidak takut! Dasar Cengeng!"
Zest langsung berlari mencari ibunya.
"Pergilah!! Aku harap kau tidak kembali lagi"teriak Juan.
Ketika Zest berlari, bukannya mencari ibunya ia malah berlari tak tahu kemana. Beberapa kali ia terjerembab ke tanah. Ia menangis lebih kencang. Juan yang melihatnya nampak merasa bersalah. Ia tahu gadis itu ketakutan.
Zest kecil menatap Juan dengan mata berkaca-kaca "Apa yang akan kau lakukan kalau aku tidak memaafkanmu?"
Juan berjongkok. "Aku adalah pangeran negeri ini. Aku akan menjadi raja suatu saat nanti. Aku akan melakukan apapun. Bangunlah, aku minta maaf . Oke Zest !"Zest tersenyum dan membalas uluran tangan Juan.
Aku akan membawamu bermain denganku disana." ucap Juan sambil menunjukkan sebuah tempat.
"Aku ingin pergi menemui mama" rengek Zest.
"Aku akan membawamu kesana, tapi nanti setelah para orang dewasa selesai dengan kegiatannya."
Zest menunduk.
"Ayolah, aku akan membawamu memakan buah-buahan paling enak diistana ini. Kita akan memintanya pada Nissa."
"Pangeran..pangeran!" panggil Nissa
Juan membalikkan badannya. "Itu pelayan ibuku. Dia pasti mencari ku."
Nissa mendekat "Pangeran, sudah saatnya kita pergi. Kereta sudah siap didepan."
"Nissa, kau tidak lihat aku sedang bermain!" bentak Juan.
"Maafkan aku pangeran, sekolah lebih penting daripada bermain." jawab Nissa pelan
Juan mendesah kesal. Ia menatap Zest
"Zest, maafkan aku, aku harus pergi sekolah. Aku akan mengantarmu kepada ibumu. Kau tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa."
"Aku pasti akan menemuimu kembali." jawab Juan sambil memeluk Zest kecil.