
Zest menatap pria disamping kakaknya dengan tatapan menyipit. Juan yang melihat itu hampir saja tertawa. Ia tidak pernah melihat gadis yang sangat menarik perhatiannya seperti itu. Gadis itu bukan saja cantik, tapi ia memiliki rambut paling indah diantara semua gadis yang dikenalnya. Matanya bulat penuh dan bibir semerah delima.
Juan menghampiri Vale tanpa melepaskan tatapannya pada Zest.
"Kau tidak pernah mengatakan memiliki adik. Kau bisa menjelaskannya padaku?" Tanya Juan sambil tersenyum.
Iapun berbalik pada Zest. "Senang berkenalan denganmu, Lady Zest." Juan berkata dengan tenang. Ia membawa tangan Zest pada mulutnya dan mengecup ringan. "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Zest menggelengkan kepalanya. "Aku rasa ini adalah pertama kalinya hamba bertemu dengan paduka. Maafkan atas ketidaksopanan hamba." Ia menundukkan kepalanya. Juan semakin terpesona pada kebaikan dan kesopanan gadis didepannya. Ia membalikkan badannya dan menatap Vale. "Bisa kau jelaskan?"tanya Juan kembali.
"Yang harus menjelaskan bukanlah hamba, paduka. Biarlah orangtua saya yang menjelaskan." Ucap Vale tenang. Tapi zest merasa tidak tenang. Persembunyiannya selama dua tahun akan berakhir. Vale hanya tersenyum sambil menatapnya.
Zest menatap wajah Nissa yang sejak tadi tersenyum sendiri. Perpisahan selama belasan tahun membuat mereka lupa satu sama lain. Mereka sedang menuju perjalanan pulang kerumahnya. Jika mengingat kejadian tadi, sungguh membuatnya puas. Terlebih ketika Raja Juan bertanya mengenai kehidupan di Azalea dan Tonzoni, dengan lantang ia menjelaskan bagaimana keadaan mereka sejak 2 tahun terakhir dilihatnya.
Kereta memasuki gerbang rumahnya yang mewah pada malam harinya. Namun, Zest tidak dapat menemukan ibunya disana. Beberapa penjaga berkata kalau ibunya dipanggil oleh Raja Juan. Zest termenung. Apakah orangtuanya mendapatkan masalah akibat kejujurannya mengenai Azalea?
Jika mereka dipanggil karena ketidaksopanannya, maka ia sedang dalam masalah besar. Raja itu memang pergi dari Azalea beberapa jam yang lalu, tidak seperti dirinya yang baru saja pulang karena banyak warga menahannya. Ia yakin sekali kedua orangtuanya dipanggil karena masalah yang dibuat olehnya.
Nisa menghampiri Zest dan memegang keduatangannya. "Tidak mylady. Pasti ada sesuatu yang lain. Mylady sudah sangat sopan pada Paduka Raja. Bahkan tadi hamba lihat, paduka sangat terpesona melihat lady." Ia mencoba menenangkan. Tapi Zest memang sangat sulit ditenangkan kecuali oleh kakak dan ibunya.
Dilain tempat.
"Xavi, bisa kau jelaskan padaku mengenai anak perempuanmu?" Tanya Juan tajam. Kini mereka sedang berada di taman istana. Terdapat empat cangkir teh disana. Juan tidak mau membuat Xavi dan istrinya terkejut dengan dipanggilnya mereka. Tapi mendengar ia mengatakan itu, wajah Xavi terlihat cemas dan sedikit pucat.
"Maafkan hamba Paduka. Zest selama ini tinggal diluar negeri. Sama seperti Paduka namun berbeda negara karena alasan satu dan lain hal. Ia baru saja kembali 2 tahun yang lalu ketika usianya 17 tahun. Kami tahu, seharusnya ia mulai diperkenalkan diacara-acara kerajaan. Namun sayangnya Zest selalu menolaknya dan mengatakan ia lebih menyukai pergi ke Azalea daripada ke acara kerajaan. Alasan lain adalah ia tidak mau menerima lamaran dari manapun" Jelas Xavi.
"Maafkan hamba paduka. Tapi anda harus mengingat sesuatu mengenai putri kami."ucap Imelda namun Juan sepertinya tidak peduli.
Juan menyesap teh nya. "Anak gadismu cantik dan berhati emas. Ia sangat cocok jika dijadikan ratuku. Aku ingin melamarnya."
Xavi dan Imelda hanya bertatapan. Sedangkan Vale hanya tersenyum samar.