Love in Castle

Love in Castle
Kebenaran masa lalu terungkap



Mereka mulai melakukan pencarian dibeberapa titik. Team istana dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok pertama ke utara, kedua ke selatan, ketiga kebarat dan keempat ketimur. Juan dan Vale berada di kelompok ketiga. Mereka berjalan ke arah barat bersama beberapa pengawal. Juan melihat Vale dengan cemas." Aku tidak pernah membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada Zest. Aku akan menyesali hidupku jika ada yang terjadi padanya."


"Kita tidak pernah menginginkan sesuatu yang buruk terjadi, paduka. Kita hanya perlu berdoa." jawab Vale. Hatinya sakit ketika mendengar Zest hilang. Ia teringat saat Zest diculik dulu ketika usia masih sangat kecil karena dikira sebagai putri Artaleta. Itu adalah hal paling menyeramkan dalam hidupnya karena kerajaan Artaleta pun berduka. Istana harus rela kehilangan Ratu Isle untuk selama-lamanya gara-gara penculik itu.


Setiap orang berteriak dan memanggil Zest dengan lantang. Juan merasa kecurian. Hanya dalam waktu satu jam saja Zest ditinggalkan olehnya dan Nisa, ia langsung menghilang. Penculik itu sudah ahli dan tahu situasi.


"Zest!Kau dimana!!"panggil Juan cemas.


"Zest! Aku tidak akan memaafkanmu jika kau tidak keluar!Cepat keluar Zest!" teriaknya lagi.


Jalanan bebatuan menyulitkan mereka untuk melangkah.


"Zest tidak mungkin berjalan sejauh ini." ucap Juan.


Ketika mereka hampir menyerah karena tidak dapat menemukan Zest. Ia melihat tubuh wanita sedang berbaring ditanah dari kejauhan. "Zest!" Teriak Juan panik. Ia berlari diikuti Vale dan pengawal.


Saat ia mendekat, Zest sudah tidak sadarkan diri. Juan langsung mengangkat tubuh Zest dan memanggil-manggil namanya. Ia mendekatkan telinganya ke dada Zest.


"Ia masih hidup. Masih ada detak." ucap Juan cemas. Ia melihat wajah Zest pucat dan bibirnya mengeluarkan darah.


"Zest! bertahanlah! Siapa yang melakukannya padamu, Zest? Aku tidak akan mengampuninya!" Teriak Juan. Ia begitu panik dan khawatir.


Tanpa pikir panjang, Juan langsung merobek gaun Zest yang menjuntai, kemudian ia melingkarkan kain itu diseputar perutnya dan menalinya dengan kuat. Itu dilakukan untuk menghentikan darahnya sementara.


"Zest bertahanlah demi aku!" seru Juan. Tak terasa air mata Juan menetes. Ia tidak pernah menangis selain kematian ibunya ketika ia masih sangat muda.


"Zest" pekik Vale ketika melihat perut adiknya bersimbah darah.


"Aku akan membawanya ke istana"ucap Juan cepat. Zest langsung dibawa menggunakan kuda. Juan harus menyelamatkannya. Ia tidak mau menunggu sampai dokter tiba.


Juan diikuti oleh Vale dan beberapa prajurit menuju istana dengan kecepatan penuh. Juan memeluk Zest dengan erat sambil terus memanggilnya.


"Tolong aku!"bisik Zest lemah. Ia tersadar sebentar, lalu tidak sadarkan diri kembali.


"Zest, Bertahanlah.." jawab Juan sambil fokus pada jalannya.


Sesampainya di istana, Zest langsung dibawa kekamarnya. Tapi kemudian Juan mengurungkan niatnya. Zest dibawanya ke kamar Juan. Selagi dokter memeriksanya, Juan menghidupkan perapian untuk menghangatkan ruangan. Sesekali ia melihat Zest dengan sendu.


Dengan dibantu oleh Nisa, dokter membersihkan luka-lukanya. Gaun Zest disobek menggunakan gunting. Melihat itu Juan semakin marah. Ia melihat darah mengotori gaunnya yang berwarna putih. Ia berjanji, siapapun yang melakukannya akan pantas mendapatkan hukuman darinya.


"Paduka, lukanya dalam namun Ratu sangat kuat. Ia mampu bertahan." Dokter itu membereskan peralatannya. "Hamba sudah menjahit lukanya. Kita berharap secepatnya beliau akan sadar."


Ketika dokter itu berdiri, Juan menghampirinya. "Terimakasih dokter. Kau telah menyelamatkan ratuku."


Selepas kepergian dokter dan Nisa, Juan menghampiri Zest yang telah tertidur dengan wajah pucatnya. Ia duduk disamping Zest dan mengangkat tangan Zest dipipinya. "Sayangku, bagaimana ini bisa terjadi padamu? Bertahanlah. Aku akan membalas pada siapapun yang melakukan ini."bisik Juan sedih.


"Ini kesalahan hamba, paduka." ucap Nisa sedih. "Hamba bersalah pada Ratu Isle karena tidak bisa menjaga Ratu Zest dengan baik."


Juan membalikkan badannya. "Apa maksudmu?"


"Ketika paduka berusia 10 tahun, terjadi tragedi menyakitkan di istana."


"Ketika mama meninggal?" tanya Juan


"Aku ingat, ketika mama meninggal aku berada diluar negeri untuk pertukaran pelajar."


"Ya paduka. Saat itu terjadi kepanikan karena istana disusupi orang-orang yang memang berniat membunuh paduka Juan. Tidak ada yang tahu jika paduka sedang pertukaran pelajar. Saat itu Ratu Zest disangka paduka oleh pembunuh-pembunuh itu. Tapi pembunuhan Ratu Zest dapat digagalkan oleh Ratu Isle. Ratu Isle tertusuk tepat di jantungnya." Isak Nisa. Ia sedih jika mengingat kematian Ratu yang paling disayanginya.


Juan menatap Nisa nanar. Hatinya begitu sakit mendengar hal yang terjadi saat itu. Tidak ada yang mengatakan jika ibunya dibunuh oleh seseorang.


Nisa melanjutkan ceritanya. "Ketika Ratu Isle kritis, ia memberikan pesan terakhir untuk menjaga Ratu Zest sampai ia bisa masuk istana dan menikah dengan anda, paduka."


"Apakah Zest tahu?"


Nisa menggeleng. "Ratu Zest tidak tahu apa yang terjadi saat itu. Hanya saja kejadian itu membuat Ratu trauma. Ada saat ketika dingin tiba, ia mengalami alergi kuat yang berasal dari rasa takut. Karena saat itu sedang terjadi cuaca dingin."


"Pantas saja aku seperti pernah mengingat sesuatu ketika aku masih muda. Ternyata ingatanku tidak salah. Zest adalah gadis itu. Gadis yang kutunggu-tunggu saat itu."


"Saya permisi, paduka." jawab Nisa sambil berjalan keluar.


Juan menghampiri Zest yang belum sadarkan diri. Ia duduk di kursi dan menggenggam tangannya.


"Zest, aku tidak tahu siapa yang melakukannya. Aku akan menghukum siapapun dibalik kejadian ini."


"Ini hanyalah resiko sebagai seorang ratu." Zest membuka matanya dengan perlahan. Ia sangat lemah.


"Zest!" Juan terkejut dengan jawaban Zest. "Jangan mengatakan kau seolah-seolah menjadi ratu yang terpaksa. Aku telah memilihmu. Aku benar-benar bersalah melihat kau seperti ini." Juan menundukkan wajahnya menangis. Tidak pernah ada seorangpun yang membuatnya menangis kecuali Zest. Ia merasa telah mengakibatkan wanita disisinya terluka. Padahal semenjak menikah, mereka berdua mulai berhubungan dengan baik. Kemudian ia teringat kematian ibunya yang tiba-tiba.


Zest mengangkat tangannya pelan. Ia mengelap airmata Juan. "Seorang Raja tidak boleh lemah."


Juan menatap wajah Zest yang lemah. Ia menggelengkan kepalanya. Kemudian ia menatap matanya. "Maafkan aku, Zest. Aku membuatmu terluka."


Zest kemudian menepuk ranjang disisinya. "Tidurlah disini, Juan. Aku hanya ingin ditemani. Aku mohon." Juan pun membaringkan tubuhnya disamping Zest. Kemudian ia bertumpu hanya pada satu lengan dan menatap Zest.


Karena kesakitan, Zest tidak bisa menggeser tubuhnya. Juanpun langsung menyimpan lengannya untuk menjadi alas kepala Zest.


"Apakah aku tidak sopan melakukan ini padamu?"tanya Zest lemah.


"Tidak Zest. Tidak sama sekali. Kalau bisa aku ingin menyerap sakitmu, Zest." Bisik Juan. Ia tahu Zest kesakitan dan ia menahannya. Wajahnya pucat.


"Sayangnya tidak bisa, Juan.." Zest berkata sambil tersenyum.


"Kau harus sembuh, sayangku." Juan mencium dahi Zest pelan.


Zest terdiam.


"Kau tidak mengatakan sesuatu?"tanya Juan


"Untuk apa aku mengatakan sesuatu. Karena pada akhirnya aku akan dibuang. Tapi, hingga saat itu tiba, aku akan melaksanakan semua tugasku hingga selesai."


"Apa yang kau katakan? Aku tidak pernah akan membuangmu. Tidak pernah sekalipun dalam benakku untuk membuangmu. Kau adalah pelengkap untukku." Juan sedikit kesal dengan ucapan Zest.


Zest tidak menjawabnya. Juan terdiam namun tak lama terdengar dengkuran halus dari sisinya.


"Aku mencintaimu, Zest. Jangan katakan sejak kapan karena akupun tidak tahu. Aku membutuhkanmu. Aku menyayangimu. Tidak ada yang bisa menggantikanmu, selamanya.." Juan mengecup kening Zest dengan lembut.