Love in Castle

Love in Castle
Penculikan Ratu Zest



Leo sangat marah ketika beberapa saat yang lalu melihat Juan dan Zest memperlihatkan kemesraan mereka. Setiap hari mereka menjadi perbincangan warga. Hati Leo sangat sakit. Semua yang seharusnya menjadi miliknya dirampas oleh Juan. Ia akan bersikeras agar Zest dapat menjadi miliknya. Ia berada diruangannya. Beberapa anak buahnya telah berada diruangannya. mereka melakukan rencana. Apapun yang terjadi, ia harus memiliki Zest.


Juan sedang berjalan menuju ruangannya namun terhenti ketika melihat Zest sedang berada ditaman. Ia sedang tertawa bersama para pelayan dan tukang kebun. Juan senang sekali melihatnya tertawa seperti itu. Ia tidak bisa membayangkan jika melihat wajah cantik itu berubah. Iapun kemudian menghampiri Zest. Para pelayan dan tukang kebun langsung menghindar saat melihat raja mendekati mereka.


Zest membalikkan tubuhnya dan tersenyum saat melihat Juan sedang berjalan kearahnya. Juan langsung memeluk Zest dengan erat.


Ia mencium kepala Zest dengan lembut. "Apa yang kau lakukan?"


"Menikmati musim panas terakhir. Besok musim dingin dan aku harus bersiap dengan itu."


Juan menatap Zest. "Aku tidak akan membiarkan kau kedinginan. Kau akan selalu hangat karena aku berada disampingmu."


"Aku percaya itu!" Ucap Zest pelan sambil mengecup bibir Juan.


" Tapi sayangnya besok aku harus meninggalkanmu selama beberapa hari. Kau bisa menjaga dirimu?"


"Aku akan baik-baik saja."


"Apakah aku bisa mempercayaimu?"


"Tentu saja"


Mereka berduapun tersenyum dan terus berpelukan. Mereka tidak pernah membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi.


Zest sedang berada dikamarnya seorang diri. Nisa saat itu sedang membawakan makan malam untuknya. Sejak musim dingin dimulai, Zest hampir tidak pernah keluar dari kamarnya. Hanya kamarnya yang terdapat perapian. Juan pula telah sedikit merenovasi kamarnya jika sewaktu-waktu musim dingin tiba. Itu semua ia lakukan agar Zest tidak sakit. Ia membayangkan apa yang dilakukan oleh Juan saat mereka berpisah.


Zest terbangun ketika merasa ada orang diberanda kamarnya. Ia bangun dan berjalan menuju pintu kaca. Ia membuka gorden berwarna putih itu. Ia dapat melihat hujan sedang turun dengan lebatnya. Ia tidak melihat siapapun diberanda kamarnya. Tiba-tiba Zest tidak dapat menyadari apapun ketika ada sebuah tangan yang membekam mulut dan hidungnya. Ia pingsan dan tidak sadarkan diri.


Ketika Nisa masuk kekamar Zest, ia terkejut saat melihat kamarnya dalam keadaan kosong. Pintu dan jendela dalam keadaan terbuka. Mantel yang membungkus tubuhnya berada dilantai. Begitu pula dengan jepit rambutnya.


"Tidak, Ratu!!!" Teriak Nisa panik. Ia berlari keluar. "Ratu diculik!! Ratu diculik!! tutup gerbang istana!"


Hampir semua orang berlalu lalang mencari keberadaan Zest dan prajurit yang berada di pintu istana telah menutup semuanya. Namun sayang mereka terlambat.


"Paduka Raja, ada surat untuk anda." Ucap Vale.


Juan, aku sudah membawa istrimu tercinta. Jika aku tidak bisa mengambil tahtamu, maka aku membawa istrimu. Saat kau menemukan istrimu nanti, kau terlambat karena Zest sudah menjadi milikku.


Juan mengepalkan tangannya. "Cari Leo keseluruh negeri!aku harus menemukannya!"teriak Juan marah.


"Apa yang terjadi, Paduka?"tanya Vale khawatir


"Zest diculik!Leo yang melakukannya. Dasar penghianat!" Seru Juan marah.


Juan langsung berlari menuju kudanya. Udara sedingin ini membuat Juan ketakutan. "Zest..." ucapnya penuh dengan tekanan. "Kembali ke istana!" teriaknya.


Zest terbangun dengan kepala sakit. Tubuhnya menggigil. Ia melihat sekelilingnya. Itu tempat asing. Ia mengingat-ingat apa yang terjadi. Tiba-tiba pintu terbuka. Cahaya mulai menerangi ruangan. Ia tidak bisa melihat siapa orang itu.


"Kau sudah bangun?"tanya seseorang.


Zest terkejut melihat orang yang dikenalnya dengan baik itu. "Apa yang kau lakukan padaku?"tanyanya marah.


"Aku melakukannya karena aku mencintaimu, Zest! Aku tidak dapat mengambil tahta dari suamimu. Untuk itulah aku membawamu."


"Kau tidak bisa melakukan ini, Leo. Kau bisa dipenjara. Kejahatanmu ini sangat fatal." Zest mencoba untuk membujuk Leo bagaimanapun caranya.


"DIAM!!!!!!!!!" Teriak Leo


Zest langsung terdiam. Orang yang ia hormati tiba-tiba menjadi seorang yang berbeda. Ia tidak menyangka Leo mempunyai dendam pada Juan. Ia tidak tahu masalah yang terjadi antara mereka berdua.


Ia harus melarikan diri. Bagaimanapun caranya. Ia tidak peduli dengan cuaca dingin. Ia tidak peduli dengan apapun. Ia harus pulang. Ia harus bertemu Juan. Ia kemudian berfikir. Jika ia kembali ke istana, keselamatan Juan menjadi ancaman baginya. Ia yakin Juan akan menyelamatkannya.


"Juan akan menyelamatkanku!"seru Zest.


Leo tertawa. "Ya, saat itulah kau sudah menjadi istriku!" Ia keluar dari kamar itu sambil membanting pintu. Ia segera mengunci pintu itu dan membiarkan ruangan dimana Zest berada dalam keadaan gelap gulita dan hujan yang deras.


Angin dingin yang masuk ke jendela ruangan terasa sangat menusuk. Zest menggigil. Ia memeluk tubuhnya. Ketika lampu tiba-tiba padam seluruhnya, ia meringkuk ketakutan. Cahaya dari kilatan petir masuk kedalam ruangannya. Zest menutup wajahnya. Ia langsung teringat ketika masih kecil iapun pernah merasakan penculikan. Bukan hanya penculikan tapi nyawanya saat itu terancam. Benar-benar terancam. Ketakutan masa lalu membuatnya semakin ketakutan saat ini. Ia hanya menangis ketakutan.