
Zest menatap Juan tanpa berbicara. Aku bukanlah sebuah barang. Kau menganggapku sebagai sebuah barang yang suatu saat akan hilang. Tentu saja, jika aku hilang mungkin kau akan kehilangan tameng berhargamu. Zest menunduk sedih. Juan menatap Zest cemas. Ia semakin yakin sekali Leo telah mengatakan sesuatu yang tidak-tidak pada Zest.
"Kita pulang besok lusa Vale, tolong kau siapkan beberapa tenda untuk kami." ucap Juan
"Baik, Paduka." Vale berdiri dibelakang Juan. Ia menatap adiknya yang terlihat sedih.
"Baiklah Zest, aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi. Aku harus bertemu dengan tamu-tamu yang tadi dibawa oleh Leo." ucap Juan sambil memegang lengan Zest. Zest hanya terdiam. "Nisa, selama aku tidak ada ada. Aku menyerahkan Zest padamu. Jaga Zest untukku." Juan pamit pada Zest sambil mengecup pipinya. Ia menatap Nisa sambil menganggukkan kepalanya.
Sebelum Juan keluar, ia masih sempat menatap Zest yang terlihat murung. Ia tak tahu harus melakukan apa. Ia yakin Leo telah mengatakan hal yang melukai hatinya. Dan itu tentangnya. Apa yang ia bicarakan dengan Zest? Ia harus menemui Leo untuk mengetahui apa yang terjadi.
Nissa hanya menganggukkan kepalanya.
"Nisa.." panggil Zest
"Ratu, Tolong percaya hanya pada Paduka Raja." Jawab Nisa cepat. Ia tahu kegundahan Zest.
Tapi Zest menatap kearah lain. Ia sedang berfikir.
Hari menjelang petang ketika Juan selesai dengan hampir semua tamu-tamunya. Ketika ia melihat Nicole tak jauh darinya, sejujurnya ia merasa sangat malas. Tapi, ia juga adalah tamunya saat ini. Ia tidak mau berlaku tidak adil.
"Selamat petang, lady nicole.." ucap Juan.
"Bagaimana jika kita berbincang sebentar. Sudah lama sekali. Oh ya, istri anda sangat cantik sekali, Paduka."
Juan merasa sedikit lega ketika Nicole berkata tentang Zest. "Baiklah, mari kita berbincang."
Ketika sedang berbincang, Juan melihat Leo tengah menatapnya sambil tersenyum. Senyumannya membuat Juan berfikir sesuatu. Akhirnya ia putuskan untuk mengucapkan selamat tinggal pada Lady Nicole dan menghampiri Leo.
"Apa yang kau katakan pada Zest?"tanya Juan kesal.
"Cukup untuk membuatnya cemburu." Jawab Leo sambil menatap Nicole.
"Kkkkau!" Ucap Juan marah. Iapun pergi meninggalkan Leo dan bergegas ke tenda untuk menemui Zest. Diluar tenda ia bertemu dengan Nisa. Tanpa bertanyapun Nisa langsung berkata "Ratu sudah tidur, Paduka."
"Aku hanya ingin melihatnya sebentar." jawab Juan.
Ia masuk kedalam dan melihat Zest sedang berbaring. Ia duduk disampingnya dan terus menatapnya. Ia ingat ucapan mendiang ibunya ketika ia kecil, ia harus mencintai istrinya apapun yang terjadi. Seperti ia mencintai ayahnya. Tentu saja Juan mencintai Zest. Semakin lama semakin besar. Ia tidak ingin kehilangan wanita yang ada didepannya. Walaupun Zest sedikit membangkang dan liar tapi hidupnya menjadi berwarna.
Ketika ayahnya berada diambang kehancuran, hanya ibunyalah yang memberikan semangat besar untuk ayahnya. Ketika ayahnya yang tidaklah pintar masalah ekonomi, hanya ibunya yang setia membimbingnya. Kini hal itu terjadi padanya. Zest membantu nya bekerja dalam pemerintahannya. Ia tidak menyangka Zest seseorang yang pintar. Ia tidak salah memilih.