Love in Castle

Love in Castle
Kecupan ringan



Ketika waktunya pulang, Juan membantu Zest menaiki kudanya. Ia kini berada didepan Juan. Ketika kedua tangan Juan digunakan untuk memegang kendali kuda, otomatis ia langsung memeluk pinggang Zest. Kepalanya tepat berada diatas bahu Zest. Zest sendiri merasa begitu dekat dengan Juan. Padahal beberapa saat yang lalu mereka berdua bertengkar.


Angin dingin dan rintikan air hujan yang menerpa Zest membuatnya menggigil. Juan pun merasakan tubuh Zest bergetar. Iapun mulai memeluk Zest dengan satu tangan. Nisa yang melihat dari kejauhan sedikit khawatir. Ia takut penyakit Zest tiba kembali.


Setibanya di istana, Zest langsung diangkat oleh Juan kedalam kamarnya. "Nisa, apakah memang seperti ini jika kedinginan?"tanya Juan. Nisa yang bergegas mencari selimut langsung menyelimutinya. "Ini adalah hal biasa, Paduka. Ratu hanya butuh istirahat. Dan sepertinya Ratu tidak bisa melanjutkan acara."


"Tidak masalah, Nisa. Aku akan mengatakan pada pengawal." Juan menyentuh pipi Zest dengan punggung tangannya sebelum pergi. Nisa mulai menyelimuti Zest dengan beberapa selimut.


"Nisa.. aku baik-baik saja. Tolong berikan beberapa mantel untukku. Aku harus menemui mereka. Bagaimanapun aku seorang Ratu. Aku tidak ingin mengecewakan mereka." Zest bangkit dari tidurnya.


"Baiklah, Ratu.."


Nissa mulai menyiapkan beberapa mantel untuk dikenakan Zest.


Juan menatap beberapa laporan didepannya. Ia masih tidak percaya Tonzoni belum dijamah oleh Leo. Jika satu daerah rakyat miskin sebanyak itu, bagaimana dengan daerah lainnya. "Vale.. aku perintahkan padamu untuk segera memberikan bantuan bahan makanan pada rakyat Tonzoni dan Azalea. Aku ingin bahan-bahan itu segera diberikan dengan cepat." Juan menggertak meja karena marah pada Leo.


"Masih ada beberapa daerah lagi, Paduka" Bisik Xavi. "Jika tidak dilihat langsung, anda tidak akan tahu."


Juan melirik pada Xavi yang kini telah menjadi ayahnya juga.


"Baiklah.. mulai besok aku ingin kau membuatkan jadwal untukku. Tapi, bagaimana kau bisa tahu?"


"Ratu Zest pernah memberitahuku beberapa daerah mana saja yang tertinggal."


Juan merasa malu. Ia seorang raja tapi ia malah tidak tahu menahu mengenai keadaan kerajaannya. Sepertinya ia tidak salah memilih pasangan. Jika ia tidak menikah dengan Zest, bagaimana ia bisa tahu.


Setelah menutup rapat itu, ia segera kekamar Zest. Ia ingin melihat keadaannya segera. Tapi, ia melihat ruangan terbuka. Setahunya tadi ia membatalkan acara penjamuan antara Zest dan lady-lady di kerajaannya. Ia bertambah terkejut ketika melihat Zest sedang dibantu oleh Nisa menggunakan mantelnya.


"Aku tidak mau mengecewakan mereka, Juan" jawab Zest lemah.


Juan langsung mengangkat tubuh Zest dan membawanya ke kamarnya. Iapun dibaringkan. "Kau harus beristirahat. Banyak tugas yang menantimu." iapun menambahkan "Tidurlah. Kau harus sehat. Kalau tidak, aku terpaksa tidak membawamu ke Azalea dan Tonzoni minggu depan."


"Benarkah?"tanya Zest yang bersemangat hingga terbangun dari tidurnya.


Juan memdorong bahu Zest agar kembali berbaring. "Asalkan kau sehat. Tidurlah." Juan mengecup dahi Zest dengan lembut sebelum akhirnya ia pergi.


Zest yang mendapat perlakuan itu bingung. Itu adalah perlakuan tak terduga. Refleks tangan Zest langsung memegang dadanya. Ketika Juan mencium bibirnya kemarin, tidak senyaman ciuman Juan di dahinya. Perhatiannya membuat jantungnya berdebar.


Nisa berdeham. "Ratu, anda harus segera istirahat. Ingat ucapan Paduka Raja tadi."


"Nisa, mengapa Juan menjadi sosok yang berbeda?" Tanya Zest tak sadar. Wajahnya berubah menjadi merah.


Nisa hanya tersenyum penuh arti. Zest menjadi merasa bersalah saat tadi di panti sosial sikapnya pada Juan sedikit keterlaluan.


Ketika Juan melangkah kekamarnya, ia melihat Leo sedang menunggunya. Leo berdiri didepan kamarnya.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Juan ketus


"Kau sudah mempermalukanku didepan orang banyak. Aku memperingatimu untuk berhati-hati." Leo pun berjalan meninggalkannya. Namun langkahnya terhenti. "Zest. Nama itu sangat indah. Aku sangat menyukainya."


Juan menatap kepergian Leo. "Jangan membawa-bawa Zest. Dia Ratuku!" Juan berkata tajam.


"Bukankah itu alasanmu menikah dengan Zest?Untuk menjadi pion kerajaan ini. Kau berhasil, Juan. Aku menyukainya. Akan aku lakukan apapun untuk merebutnya darimu!"