Love in Castle

Love in Castle
Pulang ke Artaleta



Zest melihat bangunan megah didepannya. Ia merasa pernah melihat bangunan itu disetiap mimpinya. Sesekali ia menatap wajah Juan. Ia tidak ingat sama sekali dengan raja tampan itu. Dan faktanya adalah ia sendiri merupakan ratu kerajaan itu yang berarti bahwa ia istri dari raja tampan itu.


"Ratu..." panggil seorang wanita paruh baya dengan jalannya yang tergopoh-gopoh.


Zest menatap bingung wanita itu.


"Hamba Nissa, Yang Mulia.."


Juan menghampiri mereka. "Zest tidak ingat padamu, Nissa. Ia hilang ingatan."


Nissa menutup mulutnya karena terkejut. Duke dan Dutchess of Vanguard pun langsung tiba setelah mendengar putrinya ditemukan.


"Zest! Ratuku! Zest!" panggil Imelda. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan putrinya. Xavi memeegang lengan Imelda dengan erat. Mereka memasuki ruangan dimana Zest dan Juan berada.


"Zest!" panggil Imelda. Ia menangis ketika melihat putrinya. Ia berlari menghampiri Zest dan memeluknya. "Aku kira kau tidak akan selamat Zest!" Isak Imelda.


Zest bingung. Ia menatap Juan dan Nissa.


"Zest kehilangan jngatannya." ucap Juan.


Mereka tidak dapat menyembunyikan kesedihannya setelah mendengar putrinya hilang ingatan. Imelda duduk dikursi dan menangis.


Juan duduk didepan Imelda. Ia menatap Nissa.


"Nissa, bawalah Zest kekamarnya. Hari sudah petang. Aku ingin berbicara sebentar dengan Duke dan istrinya."


"Baiklah Yang Mulia.."


Zest dibawa menuju kamarnya yang dahulu. Juan tidak ingin membawanya kekamarnya karena ia takut Zest belum siap. Ia tidak mengenalnya.


Juan duduk dikursinya. Ia dikelilingi oleh Duke dan istrinya serta beberapa kerabat dekat yang datang dengan cepat setelah Zest dibawa ke kamar.


"Bagaimana jika Ratu dibawa ke kediaman kami hingga ingatannya kembali.."tanya Imelda


"Benar Yang Mulia.." jawab Vale


"Apakah itu tepat? Akupun berfikir seperti itu. Tapi, aku tidak ingin berpisah dengannya lagi. Sudah cukup empat bulan ini aku sendiri." ungkap Juan.


Juan terdiam dan menatap keluar jendela.


Zest berbaring dibantu Nissa. Ketika Nissa berjalan membawa beberapa selimut, Zest mengerutkan keningnya.


"Untuk apa selimut itu, Nissa?"


"Yang mulia akan sakit jika tidak menggunakan selimut banyak."


"Tapi aku tidak memerlukannya. Aku tidak merasa kedinginan. Gaunku tipis dan halus. Cukup dingin jika memakai selimut satu. Tapi aku sangat menyukainya. Aku menyukai cuaca dingin."


Nissa terkejut. "Apakah Yang mulia sudah sembuh?"


"Aku tidak merasa sakit.."jawab Zest sambil berbaring.


"Aku bersyukur sekali Yang Mulia. Baiklah, cepatlah tidur Yang Mulia. Anda tadi sudah melakukan perjalanan jarak jauh. Hamba akan berada disini sampai anda tidur."


Zest tersenyum. Ia bahagia mendapatkan kenyataan bahwa banyak orang yang mencintainya.


Juan berjalan menuju kamar Zest. Ketika masuk kekamar, Nissa nampak sedang membereskan selimut yang tadi dibawanya.


"Apa yang sedang kau lakukan, Nissa?"


Nissa membalikkan badannya dan menemukan Juaj berada dibelakangnya. "Yang Mulia, hamba sedang membereskan selimut Ratu."


Juan mengerutkan kening. Tapi Nissa langsung berkata "Sepertinya Ratu sudah sembuh. Tadi beliau berkata sudah terbiasa tidak memakai selimut saat situasi sedang dingin. Beliau hanya cukup memakai satu selimut saja."


Juan tersenyum. "Betulkah?" Juan langsung menghampiri Zest yang sudah terlelap. Ia duduk disamping ranjang dan menatapnya. "Aku ingin kau menjaganya Nissa. Aku akan melepaskan Zest sementara agar ia mengingat masa lalunya. Aku ingin ia mengingatku. Sakit sekali melihatnya tidak mengenalku."


"Apa maksud anda, Yang Mulia.."


"Aku menyerahkan Zest pada kedua orangtuanya. Ini demi masa depan Artaleta."


"Baiklah Yang Mulia, apakah anda akan berada disini? Atau hamba yang akan menjaganya?"


Juan berdiri. "Aku akan kembali kekamarku. Kau berjagalah disini." Nissa membungkuk sementara Juan keluar dari kamar Nissa.