Love in Castle

Love in Castle
percaya padaku



Juan menyentuh pipi Zest dan mengelusnya. Ia terus menatapnya. Ketika kedua mata itu terbuka, ia terus menatapnya. Zest bangun dari tidurnya. Ia mengingat ucapan panglima Leo ketika tadi mereka berbincang. "Apakah aku harus percaya padamu?" tanya Zest pelan.


Juan tidak melepaskan sentuhannya dipipi Zest. "Aku mohon Ratu-ku, kau hanya perlu percaya padaku. Apapun yang terjadi saat ini, esok atau lusa. Aku ingin kau percaya padaku. Aku tidak ingin kehilanganmu karena aku mencintaimu, Zest."Bisik Juan pelan. Ia mendekatkan wajahnya.


Bulu mata Zest yang panjang dan lentik tidak bisa ia lepaskan dari bibirnya. Zest menutup matanya ketika Juan menciumnya dengan mesra. Tidak ada paksaan dan yang terasa hanya kelembutan. Dan ketika Juan mencium bibirnya, Zest hanya merasakan kelembutan dan ketulusan Juan. Mereka saling melepaskan diri. "Bagaimana aku bisa kehilanganmu, Zest."bisiknya sambil memeluknya dengan erat.


Zest membalas pelukan Juan. "Suatu saat kau harus siap jika kehilanganku." bisik Zest.


"Aku tidak mau kehilanganmu. Jangan pergi menjauh. Aku perintahkan agar kau tidak pergi dan luput dari pengawasanku."


"Aku bisa jaga diri. Aku akan baik-baik saja." Jawab Zest tanpa melepaskan pelukannya pada Juan. Juan hanya tersenyum. Salah satu tangannya ia gunakan untuk membelai rambut Zest.


Mereka berpelukan hingga keesokan paginya. Zest dapat merasakan hembusan nafas pada lehernya. Ia membuka matanya dan melihat Juan tengah meringkuk ditubuhnya. Ia memeluknya dengan erat. Zest mengusap pipi Juan untuk membangunkannya. Tapi Zest malah merasakan pelukannya semakin kencang diperutnya. "Aku tidak ingin berakhir. Biarkan aku seperti ini, Zest." bisiknya dengan mata tertutup.


"Kau harus bertemu dengan tamu-tamu kerajaan, Juan. Kau yang mengundang mereka." Bisik Zest.


"Ah.. betul sekali." Jawab Juan sambil bangun dari tidurnya.


"Zest, aku harap kau tidak kemana-kemana. Untuk terakhir kalinya aku peringatkan. Banyak orang jahat disekitar kita. Kau harus berhati-hati. Aku akan membiarkan Vale berada disampingmu."


"Tidak perlu, Juan. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku memiliki Nisa."


Sejak pagi yang sangat indah bagi mereka, Juan tetap harus mengelilingi Banchore bersama tamu-tamunya. Walaupun Banchore adalah daerah miskin sama seperti Azalea. Namun pemandangan di Banchore lebih cantik daripada Azalea. Acara ini tidak akan berlangsung lama, ia masih bisa menemui Zest dan menjaganya.


Dilain tempat beberapa waktu kemudian.


"Paduka, maaf hamba tinggal sebentar saja. Hamba dipanggil Lord Vale." Ucap Nisa pada Zest.


"Pergilah.." jawab Zest sambil menyisir rambutnya. Hari sudah terlihat sedikit gelap. Ia menatap dirinya di cermin.


Zest sudah berganti pakaiannya setelah tadi mandi. Ia menggunakan gaun yang sedikit santai. Tidak terlalu tebal atau tipis. Ia menunggu kedatangan Juan. Terlihat didepan tenda, seorang prajurit berdiri. Zest menatap pintu tenda dan menghampirinya. Ada seorang prajurit yang berdiri disana.


"Ada apa, prajurit?"tanya Zest ramah.


"Maaf Yang Mulia Ratu, hamba diberitahu oleh Yang Mulia Raja untuk mengantar Yang Mulia ketempat spesial"


"Bukankah malam hampir menjelang, prajurit?"tanya Zest bingung.


"Hamba hanya diperintahkan Yang Mulia." jawab pria itu tanpa menatap wajahnya. Ia masih menunduk.


"Baiklah.." jawab Zest antusias.