
"Apa yang anda lakukan, Yang Mulia?" Tanya Nissa ketika melihat Zest turun dari ranjangnya. Ia berjalan menuju jendela.
"Aku ingin melihat keadaan diluar. Apakah Juan sudah tiba?"
Zest melihat ramainya diluar. Sayangnya kepalanya masih pusing sehingga ia tidak bisa turun kebawah. Ketika pandangannya diarahkan menuju taman, ia melihat Juan sedang berbincang dengan seorang wanita. Mereka nampak akrab sekali. Sesekali Juan terlihat menyimpan tangannya dibahu wanita itu. Hal itu membuat hati Zest merasa berdegup kencang. Apakah selama mereka menikah, Juan sering melakukannya dengan wanita lain? Apa yang menjadi alasan ia hilang ingatan? Apakah gara-gara Juan?
Zest kembali ketempat tidur dan berbaring. Ia sempat mengatakan "Nissa, kepalaku terasa sangat pusing. Aku tidak ingin siapapun mengganggu istirahatku. Termasuk Raja. Aku ingin sendiri, Nissa. Tolong tinggalkan aku. Jika kau keluar dari kamarku, tolong matikan lampunya."
"Ada apa Yang Mulia? Mengapa anda tampak aneh?" Tanya Nissa khawatir.
"Tolonglah Nissa.. aku sedang berusaha keras untuk mengingat masa laluku. Aku hanya ingin tenang." Rengek Zest.
"Baiklah Yang Mulia. Panggil hamba jika anda membutuhkan."
Nissa berjalan keluar sebelum ia mematikan lampu kamar. Zest bangkit dari tidurnya kemudian mengunci pintu itu. Ia kembali berbaring diranjang dan mulai terisak. Kenapa hatinya begitu sakit?
Nissa berjalan kebawah dengan perasaan gelisah. Apa yang terjadi pada Ratu? Apa yang akan ia katakan pada semuanya nanti?
"Nissa!!"panggil Juan
Nissa terdiam ditempat. Ia menggigit bibirnya. Kemudian ia membalikkan badannya. "Iya Yang Mulia."
"Dimana Zest?
Nissa berfikir cepat. "Beliau sedang tidur Yang Mulia..Sejak sore kepalanya pusing. Untuk itulah kami melarangnya turun kebawah."
"Aku akan melihatnya."Juan segera naik keatas.
"Maafkan hamba Yang Mulia. Ratu benar-benar sedang beristirahat. Beliau mengingatkan saya untuk tidak seorangpun masuk kedalam kamarnya."
Juan mengerutkan keningnya. "Kenapa? Aku suaminya. Aku adalah Raja Artaleta. Tidak ada yang bisa melarangku."seru Juan.
"Maafkan hamba Paduka. Hamba hanya meneruskan perintah Ratu."
"Paduka Ratu hanya terlalu keras mengingat masa lalunya sehingga ia sering merasa kesakitan."
"Apakah aku terlalu keras?"
Nissa menggeleng. "Paduka Ratu yang bersikeras untuk mengingat, paduka.."
"Baiklah, sepertinya aku harus membiarkannya seorang diri." Juanpun turun kembali dari tangga. Ia mulai membaur kembali dengan para tamu undangan lainnya. Ia kecewa karena tidak bertemu dengan istrinya.
Padahal ia sangat merindukannya. Juan mulai mengeluarkan alkoholnya yang tersimpan di lemari. Satu gelas saja tidak akan cukup untuk malam yang panjang.
"RATU HILAAANGG!!"teriak Nissa keesokan paginya.
Semua orang berbondong-bondong menghampiri Nissa yang terlihat pucat pasi.
"Ada apa Nissa? Apa yang terjadi?"tanya Imelda cemas.
"Ratu Zest hilang, Yang Mulia."jawabnya panik.
"Dia tidak hilang. Pagi-pagi sekali ia menemuiku di istal. Ia ingin berkeliling menggunakan kudanya." Xavi masuk dengan santainya. Imelda menoleh pada suaminya yang baru saja datang.
"Kau membiarkannya pergi, sayang?"tanya Imelda resah.
"Ia bersikeras sekali. Ia mengatakan ingin sembuh. Ia ingin mengetahui semua masa lalunya. Lagipula tidak ada salahnya. Aku percaya padanya."
Mereka hanya bisa terdiam sambil menatap Xavi.
Zest membawa kudanya dengan kencang. Ia bahkan tidak tahu kemanakah kudanya melangkah. Ia hanya mengikuti arah angin. Ia ingin mengingat semuanya. Tapi disatu sisi ia takut pada kenyataan yang telah terjadi. Banyak pertanyaan yang mengelilingi kepalanya.
Apa yang harus aku lakukan?? Zest tidak menyadari didepan ada pohon tumbang yang menghalangi langkah kudanya sehingga kudanya berhenti mendadak. Zest tidak mengingat apa-apa lagi kecuali dirinya terbang diudara. Itu seperti pernah ia lakukan dahulu. Ketika sampai ketanah, Zest langsung langsung terjerembab. Ia menyentuh dahinya dan merasakan cairan kental dijari-jarinya. Iapun berdiri dan menatap tangannya yang berdarah. Ia meringis namun sakitnya menjadi semakin kuat. Tiba-tiba ia mulai merasakan sosok gadis kecil berusia 5 tahunan yang terjatuh dari kudanya. Kemudian saat musim dingin seperti ini, seorang gadis nampak selalu hidup berpindah tempat untuk mencari cuaca panas. Kemudian ia teringat kembali wajah kedua orangtuanya dan kakak laki-lakinya. Kemudian ia teringat tentang pernikahannya. Zest mulai menangis. Tiba-tiba pula ia teringat mengapa ia amnesia. Ketika ia berlari dari kejaran Leo, Zest masuk ke hutan hujan dan terjerembab karena bebatuan disana.