
Juan menarik kedua tangan Zest dan melingkarkan tangannya dipinggangnya. "Pegang erat.."ucapnya. Mereka tidak tahu jika para tamu yang ikut dalam rombongan terkagum-kagum melihat kemesraan pengantin baru itu. Awalnya banyak yang beranggapan pernikahan mereka terjadi karena sebuah kepura-puraan. Tapi nyatanya mereka salah. Raja terlihat sangat mencintai ratu.
Sepanjang perjalanan, Juan terkesan dengan pemandangan Banchore. Ucapan Zest semuanya benar. Ia tahu segalanya tentang kerajaannya. Ia sendiri malah tidak tahu beberapa wilayah.
"Inilah saatnya." Bisik Zest
Juan menatap rumah-rumah tanpa penghuni dan dibiarkan kotor oleh pemiliknya dengan perasaan menyesal. Banyak warga menjadi pengemis dengan meminta-minta dijalan.
"Ibu Zest!Ibu Zest!" Teriak seorang gadis kecil.
Zest langsung melihat anak kecil itu. Ia terkejut melihat sosoknya yang ketakutan. Wajahnya masih polos namun ia dibiarkan menghadapi kerasnya dunia orang dewasa.
"Dolores!"pekiknya. Anak kecil itu begitu ketakutan. Zest yang sedang berada di kuda meminta berhenti.
"Bagaimana jika itu ancaman,Zest?"tanya Juan waspada.
"Aku mengenalnya, Juan.. tolong hentikan kudanya. Pasti ada sesuatu terjadi." ucap Zest dengan nada cemas.
Ketika Juan menghentikan kudanya, Zest langsung berlari pada anak itu dan memeluknya. "Ada apa sayang?"
Gadis itu berkata dengan terbata-bata. "Tolong kami Ibu Zest, penduduk sedang mengamuk karena mereka tidak mendapatkan jatah makan siang mereka. Dapur umum telah hancur."
"Bukankah persediaan kalian masih banyak?" Tanya Zest shock.
Juan mendekatinya dan mendengarkan semua ucapan anak itu.
"Aku mendengarnya dari salah satu pengawal yang aku suruh ke Banchore, Juan." ucap Zest sambil menatap Zest.
Juan mengerutkan keningnya. Ternyata diam-diam Zest telah melakukan sesuatu diluar pengetahuannya.
"Maafkan aku." ucap Zest sambil memegang tangan Juan. Juan hanya mengangguk sambil tersenyum. Bagaimana ia bisa marah jika apa yang Zest lakukan untuk rakyatnya?
"Persediaan habis, ibu Zest. Dua hari yang lalu ada kawanan perampok yang mencuri persediaan kami."ucap anak itu tiba-tiba.
Zest memeluk anak itu kembali. "Kau tenang saja sayang, kami akan kesana sekarang. Kau sudah makan?"
Anak itu menggelengkan kepalanya. Kemudian Zest menatap Juan dengan memelas. Juan tahu apa yang diinginkan oleh Zest. Tidak ada yang dapat meragukan jiwa sosial Zest. Ia hanya mengangguk ketika melihat kepergian Zest dengan gadis kecil itu.
"Banchorr sebetulnya hanya memiliki sedikit rakyat miskin. Tapi sama seperti Tonzoni, pajak yang diterapkan terlalu tinggi dan banyak warga yang menjadi miskin." Jelas Vale yang kini berada dibelakangnya. Ia membawa berkas-berkas yang memang diperlukan oleh Raja.
Entah berapa lama lagi Juan harus menahan amarahnya. Ia mrngepalkan tangannya. Ia harus membuat perhitungan dengan Leo secepatnya tanpa melibatkan Zest.
Semuanya terjadi tanpa sepengetahuannya. Ia melihat para prajurit sedang membuat beberapa tenda untuknya dan beberapa tamunya. Jika seperti ini, ia menyesal membawa beberapa tamu dengannya. Apa yang akan ia katakan pada mereka ketika melihat rakyatnya kesulitan. Pasti mulai sekarang banyak yang meragukan kepemimpinannya.
Ketika Zest sedang berbincang dengan anak-anak seperti biasanya, Juan berada diluar sedang berbicara dengan Vale. Dari kejauhan Juan dapat melihat Zest sedang dikelilingi oleh para warga. Ia merasa kagum ketika melihat Zest seperti itu. Ia seperti ibunya. Zest menatapnya dan tersenyum. Ia melambaikan tangannya.
"Apakah Ratu merepotkan, Paduka?" Tanya Vale tiba-tiba.
Juan menoleh sambil tersenyum. "Tidak. Justru Zest sangat membantuku. Aku hanya takut sesuatu terjadi padanya."
"Sesuatu?" Vale bingung dengan jawaban Juan.
"Ya, aku tidak boleh mengalihkan pandanganku padanya. Aku sudah katakan pada Zest untuk tidak pergi sedetikpun tanpa pengawasanku. Aku harap dia mengerti."
Vale merasa tenang dan sekaligus lega ketika Juan mengatakan hal itu. Itu berarti Zest akan aman.
"Aku harap ia akan aman bersama anda. Ratu memang wanita yang manja dan kuat. Tapi, ia memiliki kelemahan Paduka. Ia terkadang mudah ketakutan. Berbanding terbalik dengan sifatnya yang seperti biasanya."
"Kenapa bisa seperti itu? Aku pikir ia wanita kuat."
"Saat-saat tertentu ia menjadi sangat lemah, Paduka. Untuk itu sebenarnya hamba dan orangtua merasa sedikit ketakutan. Mungkin kelemahan itu akan datang kembali suatu saat."
"Aku harap tidak selama aku ada disampingnya. Tapi, dua hari yang lalu Zest mengalami mimpi buruk. Untung saat itu aku berada disampingnya."
Vale terkejut dengan ucapan Raja. "Apakah Ratu merasa ketakutan?"
"Ya, ia takut. Ia mengatakan tentang penculikan. Aku tidak bertanya banyak karena aku takut akan mengembalikan masa lalunya. Aku memang tidak tahu apa yang terjadi padanya. Tapi firasatku mengatakan ia pernah trauma."
"Betul, Paduka. Jika saatnya tepat, Paduka akan mengetahuinya."
Juan menatap Zest yang terus memegang tangan gadis kecil itu. Mereka tertawa bersama-sama. Apapun trauma yang pernah terjadi pada Zest, ia berharap ialah yang dapat menyembuhkannya.