
Kereta yang membawa Juan dan Zest berjalan dengan hati-hati. Prajurit yang mendampingi mereka kurang dari dua puluh orang. Itu dikarenakan Juan dan Zest akan berkunjung kedaerah yang menurut Zest teŕtinggal. Juan harus memastikan sendiri. Sedangkan menurut Zest, daerah yang ia ketahui tertinggal dan miskin hanya Tonzoni dan Azalea saja. Awalnya mereka memang akan pergi ke Azalea dan Tonzoni, tapi Zest memberikan usul lain. Jika saja Juan tidak mengajak Zest, ia tidak akan pernah melihat wajah ceria Zest selama beberapa hari ini.
Perjalanan menuju Banchore menempuh jalur yang sedikit sulit karena dikelilingi oleh bukit dengan dedaunan lebat. Selain itu jalannya masih berbentuk bebatuan. Zest sedang tertidur disampingnya. Saat roda kereta mereka menggilas batu, kereta menjadi miring dan Zest terbangun dengan tiba-tiba.
"Kau baik-baik saja?"tanya Juan khawatir.
"Ya." Jawab Zest. Iapun melihat keluar jendela dan tersenyum.
"Masih lamakah?"tanya Juan sambil melihat sekeliling.
"Bolehkah aku menggunakan kuda? Sebentar lagi akan sampai. Pemandangan didepan sana sangat indah. Sayang jika dilewatkan tanpa merasakannya langsung." Rengek Zest. "Ayolah, paduka Juan.." tambahnya
Juan menatap Zest. "Apakah ini sifat aslimu? Manja?"
Zest merasa kehilangan kontrol. "Maafkan aku Paduka, tapi sayang jika dilewatkan." Zest mencoba menggodanya. Sejak kejadian seminggu yang lalu ditaman, mereka menjadi lebih natural. Setiap malam, Juan selalu masuk kekamarnya hanya untuk memastikan ia tertidur. Setiap hari Zest pula membantu Juan membaca laporan-laporan yang terlihat ganjil.
"Aku menyukaimu seperti itu. Kau terlihat menggoda." Jawab Juan bersemangat. Tapi selain itu, Juanpun merasa tidak bersemangat. Lady Nicole ada dibelakang mereka bersama dengan Leo. Ia yakin mereka berdua merencanakan sesuatu. Leo sengaja melakukannya. "Baiklah, mari kita naik kuda. Kita naik kuda bersama."
"Aku ingin sendiri." Seru Zest.
"Tidak bisa, sayang. Nyawamu bisa terancam. Aku tidak mau membiarkan itu terjadi. Aku belum bisa kehilanganmu." Goda Juan. Zest menatap Juan sambil menggelengkan kepalanya. Ia hanya mendesah dan berkata "oke"
"Berhenti!!" Ucap Juan pada kusir kereta.
Mereka berduapun keluar. Juan terlebih dahulu turun dari kereta dan membantu Zest untuk turun. Udara sejuk terasa langsung memenuhi kepalanya. Zest tersenyum bahagia. Akhirnya ia bisa merasakan kesejukan itu lagi. Juan merasa berhasil karena menbuat Zest tersenyum seperti itu.
"Tidak ada yang terjadi, tolong siapkan satu kuda untukku. Kami akan menggunakan kuda untuk menikmati pemandangan."jawab Juan penuh wibawa.
Vale tidak menjawab. Ia hanya menatap Zest karena ia tahu itu pasti idenya. Zest membuang wajahnya. "Bukan aku, kakak.."ucapnya pelan. Namun titah raja tidak bisa dibantah. Valepun menyiapkan satu kuda terbaik untuk mereka.
Zest dibantu oleh Vale naik ke kuda setelah sebelumnya Juan menaikinya. Hampir satu tahun ia tidak datang ke daerah ini karena jauhnya tempat ini.
"Paduka, bagaimana jika terjadi sesuatu?"tanya Vale resah. Mereka berdua adalah raja dan ratu. Berada diluar itu adalah sesuatu yang sangat meresahkan. Nyawa mereka akan sangat beresiko. Valepun membawa kudanya dan berdekatan dengan kuda Juan.
"Untuk apa kau ikut denganku, Vale.." jawab Juan. Zest hanya tersenyum melihat tingkah kedua orang yang penting dalam hidupnya.
"Kau diam dibelakang. Aku didepan. Tidak perlu dikawal." Jawab Juan pada Vale
Vale hanya mengangguk dan mundur.
Zest tertawa senang, ia bahkan mengangkat kedua tangannya karena senang.
"Kau senang?" tanya Juan.
"Ya, aku senang. Kau tidak terlihat seperti raja sekarang ini. Kita hanya rakyat biasa." jawab Zest senang.
"Dasar liar." ucap Juan sambil mencubit pipi Zest.,