
Mentari di pagi hari itu membuat bunga-bunga yang berada di taman Kerajaan Artaleta bersinar seindah warna-warna pelangi. Bunga-bunga itu tumbuh dihampir sekeliling kerajaan. Milik siapa lagi jika bukan milik mendiang Ratu Isle. Hingga kini, bunga-bunga itu terus dirawat oleh anak lelaki satu-satunya keluarga itu karena hanya taman itu peninggalan ibunya yang diberikan padanya.
Raja Phillip baru saja meninggal dua tahun yang lalu karena infeksi paru-paru yang dideritanya. Itu pernyataan dokter walaupun banyak yang meragukannya. Kini Pangeran Juan telah naik tahta menggantikan ayahnya. Banyak konspirasi yang diterimanya karena ia dirasakan belum siap naik tahta sebagai Raja. Termasuk persaingan dengan sepupunya yang menginginkan naik tahta pula.
Beberapa orang menganggap Juan tidak layak untuk menjadi Raja karena ia tidak tahu menahu mengenai situasi Artaleta sejak ia sekolah diluar negeri. Hampir sepuluh tahun Juan disekolahkan diluar negeri tanpa diketahui alasannya. Para pejabat kerajaan memperkirakan jika Raja Phillips melakukannya untuk menyiapkan Juan sebagai penggantinya. Namun sayang, Juan tidak dapat menyelesaikan sekolahnya dibidang ekonomi karena berita kematian Raja yang sangat mendadak.
Juan berjalan didampingi oleh asisten dan penasihat kerajaannya. Xavi atau Duke of Vanguard telah menjadi penasihat kerajaan sejak ayahnya masih hidup. Dan Juan tetap mempertahankannya karena jika tidak, mungkin kerajaan tidak akan berjalan dengan baik tanpa arahannya selama dua tahun ini. Asistennya merupakan anak dari Duke of Vanguard sendiri yaitu Vale.
Vale sendiri merupakan sahabatnya sejak kecil. Mereka berpisah ketika Juan harus sekolah diluar negeri selama beberapa tahun. Namun hubungan mereka tetap baik. Ketika usia mereka menginjak 15 tahun, mereka sekolah ditempat yang sama diluar negeri. Raja Philip mengatur agar Vale bisa sekolah ditempat Juan. Itu dilakukan agar keselamatan Juan dapat diatasi. Ia tahu bagaimana Vale. Pemuda itu pintar bela diri dan taktiknya tidak pernah diketahui lawan.
Juan dan Vale melangkah dengan tergesa-gesa. Mereka berjalan menuju ruang rapat. Pagi ini diadakan rapat dengan para pejabat mengenai pajak yang diterima kerajaan. Juan melupakannya karena tadi ia berkuda bersama Vale mengelilingi istana. Lagipula, ia merasa rapat kali ini tidak akan menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Ketika ia masuk, semua orang telah duduk dikursinya masing-masing.
Duke of Vanguard memulai rapat itu dengan sesi penjelasan. Juan sendiri tengah berkutat pada pembukuan yang sedang dilihatnya. Banyak pertanyaan yang ditanyakan padanya saat ia berkeliling. Ia tidak mau dicap sebagai raja yang tidak mementingkan rakyatnya. Beberapa kali ia berfikir membutuhkan seseorang yang ahli terhadap pembukuan didepannya. Namun siapa?
Ketika melihat pembukuan itu, Juan tidak bisa melihat adanya penyimpangan. Semuanya tercatat dan tidak ada yang mencurigakan. Pajak yang diterima kerajaan sesuai dan pembagian dana pada rakyat miskin pun semuanya sesuai. Tapi, Juan merasa ada sesuatu yang janggal. Ia harus menyaksikan sendiri. Ia teringat beberapa kali ketika berkeliling wilayahnya banyak yang menyerukan daerah Azalea. Tidak ada yang mengetahui keadaan Azalea bahkan Vale sekalipun.
"Aku harus berada disana. Apakah kau tahu daerah Azalea?"bisik Juan pada Vale yang berada disampingnya.
"Untuk apa kau kesana, paduka?"Vale terkejut dengan ucapan Juan karena ia tidak pernah membicarakan Azalea selama ini.
"Aku ingin melihat sendiri penyaluran bantuan. Aku pikir daerah itu yang paling parah. Rakyat miskin disana jauh lebih banyak dari perkiraan kita. Sepertinya kita harus menyamar kembali. Aku harus melihatnya sendiri. Aku merasa ada yang janggal."
Vale hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia tahu keinginan Raja muda itu tidak bisa dibantah. Apapun yang dimintanya harus segera dpilaksanakan. Lagipula ia mengetahui Azalea dari adiknya. Banyak sekali kritikan yang diterima olehnya gara-gara Zest. Namun apa daya, ia tidak mau memperburuk situasi. Ia hanya menjadi pendengar yang baik.
Juan berdeham dan menatap Leo yang terlihat tidak tenang. Ia langsung bertanya pada sepupunya yang merupakan panglima tertinggi dikerajaannya.
"Apakah Azal a diperhatikan dengan baik, Leo?"
"Apa yang dapat kau jaminkan, panglima?" Tanya Juan dengan senyum sinisnya.
"Nyawaku sendiri, paduka"
"Kau terlalu berlebihan, panglima. Aku tidak meminta nyawamu untuk jaminan. Aku minta jabatanmu." Juan tertawa mengejeknya. Semua orang terkejut termasuk Leo sendiri.
Sejak kecil Leo dan Juan tidak pernah akur satu sama lain. Apa yang dimiliki Juan pasti akan dimiliki Leo tak lama kemudian. Dan sekarangpun yang ia inginkan adalah tahta. Leo diajarkan oleh kedua orangtuanya untuk tidak pernah kalah. Apapun yang terjadi bahkan cara yang licik sekalipun.
Leo mengepalkan jari-jarinya hingga berwarna putih. Matanya merah menahan amarah. Aku akan memastikan tak lama lagi akulah yang berada dikursi itu, ujar Leo dalam hati. Ia begitu marah sejak Juan naik tahta. Ia yang telah dipersiapkan oleh ayahnya untuk menjadi calon raja yang baik, harus menelan kekecewaan ketika Juan datang dan merebut semua yang sudah diimpikannya.
"Anda tidak seharusnya melakukan itu, paduka" pria tua itu mencoba memperingatkan Juan mengenai tindakannya kali ini.
"Jangan terlalu merisaukanku, Xavi. Aku tahu apa yang aku lakukan dan konsekuensinya. Aku tahu Leo. Ia akan menggunakan cara paling licik untuk menggulingkanku" Juan menjawabnya dengan tenang. Ia masih memandang luasnya kebun bunga milik ibunya itu dari balik jendela ruang kerjanya. Beberapa pelayan nampak sibuk mengurus taman. "Xavi, apakah kau tahu daerah Azalea?" Tanya Juan tanpa membalikkan badannya.
"Tentu saja paduka. Tempat itu yang biasa didatangi oleh anak hamba." Jawab Xavi cepat namun ia sedikit melupakan sesuatu hingga akhirnya terdiam.
Juan mengerutkan keningnya sambil berbalik dan menatap Vale. "Vale? Kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku tentang Azalea? Valepun tidak pernah mengatakan tentang daerah itu."
"Mungkin Vale memiliki alasan khusus, paduka." Xavi merasa berkeringat. Ia ketakutan jika Juan mengetahui tentang permintaan Ratu Isle untuk menyembunyikan putrinya. Bukan hanya itu, putrinya sendiri pula tidak mau keluar dari persembunyian. "Berapa pasukan yang harus hamba siapkan?"tambahnya.
"Aku tidak akan memakai pasukan. Aku dan Vale akan menyamar sebagai seorang dermawan."
"Tapi, ini menyangkut keamanan anda Yang Mulia.."
"Aku akan aman selama Vale bersamaku, Xavi.."