Love in Castle

Love in Castle
Kembali kerumah ibu



Saat Juan memasuki kamarnya, ia terduduk dikursi yang menghadap keluar. Kali ini ia harus merelakan terpisah dengan Zest kembali. Ia kembali teringat akan rencananya dahulu menikahi Zest. Ia menggunakan Zest untuk Artaleta. Itu benar adanya. Namun ia tidak dapat memungkiri jika ia terang-terangan jatuh cinta pada Zest. Rasa kehilangan Zest sudah ia rasakan ketika kecil.


Ia pasrah jika rencananya diawal akan membuat wanita yang dicintainya mengalami beberapa kecelakaan. Ia tidak pernah mengkehendakinya. Apapun akan ia lakukan agar Zest mengingatnya kembali. Sangat menyakitkan mengingat tatapan Zest padanya di hutan saat kemarin siang. Ia tidak mengenalnya. Ia bertekad untuk membahagiakan Zest. Jika ia memang harus merelakan Zest pergi untuk membuat mereka bersatu kembali, ia rela melakukannya. Juan menatap foto Zest yang terpampang dengan sangat jelas didinding. Ia nampak sangat cantik. "Apakah akan baik jika aku kehilanganmu?"


Keesokan harinya.


Zest menatap dirinya dicermin. Sedangkan Nissa sedang mengeluarkan beberapa tas yang berisi keperluannya. Hari ini ia pergi kerumah orangtuanya. Itulah yang Nissa katakan. Ia berkeliling menatap isi kamar. Kamar itu nampak tidak asing walaupun ia tidak mengingatnya. Ia pula merasa tidak aneh ataupun tidak canggung ketika bertemu dengan Juan. Pria itu sangat baik dan terlihat mencintainya. Ketika hidupnya kemarin-kemarin tanpa arah, saat ini ia mulai tahu kemana hidupnya akan dibawa.


Ia percaya pada ucapan Juan. Apakah dulu iapun mempercayainya? Apakah mereka saling mencintai? Banyak pertanyaan yang mengelilingi kepalanya. Tiba-tiba kepalanya pusing. Ia terduduk disofa. Nissa melihatnya dan ia langsung menghampiri Zest.


"Yang Mulia, anda baik-baik saja?" Nissa terlihat sangat cemas.


"Aku hanya sedikit pusing, Nissa.."


"Apakah anda mengingat sesuatu?"


Zest menggeleng. "Sejak kapan kau menjadi asisten pribadiku, Nissa?"


"Sejak anda berusia tiga tahun..Ratu. Waktu anda seusia kecil sekali."


Zest hanya mengangguk pelan. Ia tersenyum. Sayangnya ia tetap tidak mengingatnya.


Saat mereka mulai berjalan keluar istana, Juan sudah menunggu diluar. Ia tampak sedih. Zest hanya menatapnya.


Juan menarik Zest kedalam pelukannya. "Aku akan sering mengunjungimu, Zest. Kau harus cepat sembuh. Aku merindukanmu yang dulu." Bisik Juan. Ia terus memeluk Zest dengan erat. "Aku tidak pernah berharap akan kehilanganmu dari sisiku lagi, Zest. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu."


Zest membalas pelukan Juan. "Terimakasih Yang Mulia. Aku akan berusaha untuk mengingatnya"


"Cepat beritahu aku saat kau mengingatnya" Juan melepaskan pelukannya dan mencium pipi Zest beberapa waktu.


"Ada sesuatu yang lucu Yang Mulia?" Tanya Nissa ketika mereka berada dikereta. Nissa sedikit bingung ketika melihat Zest tersenyum sendiri.


Zest melihat Nissa dengan malu. Nissa bisa menebaknya.


"Raja sangat baik pada anda, Ratu. Hamba tidak dapat membayangkan jika anda jatuh cinta saat anda tidak mengingatnya. Itu adalah cinta sejati. Tidak peduli anda mengingatnya atau tidak, hati anda berdua sudah terpaut pada hati yang paling dalam."


Zest terdiam mendengar ucapan Nissa.


"Apakah hamba benar? Apakah Ratu sudah menyukai Yang Mulia Raja?"


Zest mendesah. "Aku tidak tahu, Nissa. Hanya saja sejak dua hari yang lalu bertemu dengan Raja untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berbeda disini." Zest menyimpan tangannya diatas dadanya.


"Hamba yakin, anda akan cepat sembuh Yang Mulia.." jawab Nissa bahagia.