Love in Castle

Love in Castle
Indah pada waktunya



"Bagaimana kabar anda hari ini Paduka? Sudah beberapa hari sejak kejadian itu," ujar Nisa yang masuk setelah kepergian kedua orangtuanya.


"Masih belum, Nisa. Hanya saja aku masih sulit untuk berjalan. Perutku masih terasa sakit. Nafasku masih sedikit tersengal." jawab Zest pelan. Ia masih berbaring di tempat tidur karena Juan telah melarangnya untuk melakukan aktivitas apapun.


Nisa menyimpan beberapa gaunnya didekat ranjang. "Itu berarti Paduka belum sembuh."


Zest melihat Nisa dengan bingung. "Nisa, kenapa kau membawa semua gaunku kesini?"


"Ini permintaan Paduka Raja. Anda sudah pindah kekamar ini, Ratu."


"Maksudmu, kini kami sudah menjadi seorang suami istri?"tanya Zest yang semakin bingung.


"Tentu saja, Ratu. Bukankah kalian memang suami istri?"


"Tapi Nisa, bukankah kita memang tidak pernah satu kamar? Aku seperti hiasan kerajaan saja."


"Jangan berkata seperti itu, Ratu. Bukankah anda merasakan jika Paduka Raja semakin memperhatikan anda. Beliau tidak pernah pergi dari sisi anda sedetikpun. Anda bukan hiasan namun asset Raja yang paling berharga."


Zest terdiam. Kemudian airmatanya mulai bercucuran. Nisa datang menghampiri Zest dan memeluknya. "Aku bahagia untukmu, Ratu."


"Kemana Juan, Nissa?" tanya Zest ketika mengingat Juan. Ia mengelap airmata nya.


"Sedang melakukan pengadilan terhadap orang yang menusuk Ratu."


Zest tersentak terkejut. "Tidak Nisa, aku harus menghentikannya." Ia mencoba untuk bangkit dari tidurnya. Tapi ia tidak bisa berjalan tegak. Zest berjalan sambil memegang perutnya dan sedikit meringis. Nisa sudah melarangnya tapi jangan katakan Zest jika ia bukan wanita yang ngotot.


"Ratu.. Hamba mohon duduklah ditempat. Jangan pergi kemana-mana, anda masih sakit." seru Nisa cemas.


Zest menggelengkan kepalanya. "Aku harus menghentikannya, Nisa.."


Beberapa orang sudah berada diruang meeting itu. Juan menatap marah pada orang yang telah menusuk Zest. Vale dan Leo pun merasa marah.


"Aku akan memberikanmu hukuman.." ucapnya terhenti ketika ia melihat pintu ruangan terbuka.


"Tunggu Paduka...." ujar Zest yang masuk dengan tiba-tiba keruangan itu dipapah oleh Nisa. Juan terkejut luar biasa. "Apa yang kau lakukan disini, sayang?"


"Kau tidak bisa memberikan hukuman pada pria ini. Aku mohon lepaskanlah.." ujar Zest memelas.


"Aku tidak bisa, pria ini telah membuatmu terluka. Aku tidak menerimanya." Juan bangkit dari kursinya dan menghampiri Zest yang terlihat kesakitan.


"Apakah kau pernah bertanya, kenapa ia melakukannya?" tanya Zest dan membuat Juan terdiam. "Tidak bukan?"tambahnya.


Kini Juan sudah berada didepannya. Zest memohon pada Juan dengan tatapan memelas. Juan mendesah dan berjalan keluar. Ia kecewa karena tidak bisa membuat keputusan dibalik wajahnya yang terlihat kesakitan itu.


"Pergilah tuan. Apapun yang terjadi pada keluargamu, kami mohon maaf. Kami akan mencari tahu." Zest menghampiri pria yang telah menusuknya tanpa rasa takut.


Pria itupun membungkuk untuk meminta maaf pada Zest." Aku terpaksa melakukannya paduka. Dengan lembut Zest berkata "Aku memaafkanmu. Pergilah.."


"Sebenarnya apa yang kau lakukan?"tanya Juan marah saat Zest masuk kekamar.


"Aku menerima sakit ini karena kesalahanmu, Juan."ucap Zest tajam.


Juan menghampiri Zest dan mengangkat tubuhnya kemudian dibaringkan ke ranjang. "Apa kesalahanku?"


"Aku meminta maaf karena membuatmu marah. Aku mengetahuinya ketika tadi berbicara dengan ayah dan ibuku. Kau pernah membuat keluarganya meninggal. Apakah kau ingat? Setahun yang lalu, kau membuat hukuman pada keluarga itu karena mereka adalah kelompok pencuri. Tapi, apakah alasan mereka mencuri? Mereka benar-benar kemiskinan, Juan..Apakah kau pernah mengetahuinya? Kau tidak bisa memberikan hukuman seberat itu. Mereka tidak menghilangkan nyawa seseorang." Tiba-tiba Zest mendesah karena kesakitan.


"Apakah sakit?"tanya Juan cemas.


"Tidak sebanding dengan kesakitan pria itu, Juan. Kalaupun aku mati, kau tidak akan senekat pria tadi. Kau bisa menikah lagi dan mencari ratu baru untukmu."


Zest membalikkan badannya kesamping. Ia terlalu sedih untuk menjawabnya. Tapi Juan menyentuh bahu Zest. Dan membenamkan kepalanya di leher Zest dan memeluknya. Zest terkejut.


"Jangan berkata seperti itu Zest. Aku tahu aku melakukan kesalahan itu setahun yang lalu. Aku masih ingat terus kejadian itu. Aku terus menerus merasa bersalah sejak tahu keluarga itu membakar diri mereka sendiri."


Satu tangan Zest membelai rambut Juan dengan lembut. Kemudian Juan mengangkat wajahnya. Ia menatap mata Zest. "Jangan katakan kau mati. Karena kalau kau mati akupun akan mati. Aku tak sanggup kehilanganmu. Aku tidak mungkin mendapatkan ratu secantik dan sebaik dirimu." Juan mengecup ringan bibir Zest. "Aku mencintaimu, Zest"


Zest terkejut dan shock mendengar pengakuan Juan. "Bagaimana bisa kau mengatakan mencintaiku disaat seperti ini?"


"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin kau tahu. Aku tidak bosan mengatakannya."


Zest langsung memeluk tubuh Juan. "Itulah kata-kata yang ingin aku dengarkan, Juan. Aku tidak tahu, kenapa kau melakukannya padaku. Kau membuatku merasa tidak berarti diistana ini."


"Itu tidak benar,Zest sayang. Kau sangat berarti bagiku dan bagi wargaku."


"Benarkah?"


"Akan aku buktikan kalau kau sangat berarti bagiku" Juan langsung mencium bibir Zest yang terbuka. "Bibir ini selalu menggodaku. Tapi sayangnya aku tidak bisa berlama-lama disini. Pekerjaanku masih sangat banyak" Tambah Juan.


Zest menatap Juan dengan sedih. Ia melepaskan pelukannya perlahan. Ia menyentuh perutnya dan perlahan melepaskan diri dari Juan. "Pergilah.." ucapnya pelan. Juan merasa tidak enak pada Zest. Terlebih ketika Zest melangkah menjauhinya. Iapun menghampiri Zest dan mengangkat tubuhnya. Zest diangkat untuk dibaringkan ketempat tidur.


"Aku tidak ingin kau sedih, Zest." Ucap Juan sambil membaringkan tubuh Zest.


"Kalau kau betul mencintaiku, kau tidak akan membiarkanku bersedih bukan?"


Juan mengangguk.


"Kalau begitu, tinggalah disini bersamaku, Juan. Kau selalu meninggalkanku dan membuatku sedih."


"Jika kau mengatakan dengan nada menggoda seperti itu, bagaimana bisa aku mengabaikannya."


Zest tersenyum sambil menarik wajah Juan dengan kedua tangannya. Ia mengecup bibir Juan pelan. "Aku mencintaimu."bisiknya.


Juan tidak sanggup menahan godaan Zest. Iapun mulai mengajari Zest cara-cara yang paling menakjubkan yang selama ini sangat ia harapkan.


Juan menatap wajah Zest. Ia menyentuh wajahnya dan tersenyum. "Kau memang Zestku. Kau adalah gadis kecil yang sejak dulu kucari. Jika bukan karena mama yang mengatur ini, kita tidak akan bersama." Bisik Juan pelan.