Love in Castle

Love in Castle
Bisakah menolak?



Xavi, istrinya dan Vale sangat terkejut dengan ucapan Raja. "Tapi Paduka, anda baru saja bertemu dengannya tadi siang. Mengapa paduka terlalu cepat mengambil keputusan? Putri hamba masih kekanak-kanakan. Ia masih begitu manja dan keras kepala." Xavi sebenarnya tidak berani membantah. Namun ketidaksukaan Zest pada Raja kemungkinan akan mempersulitnya. Ia tidak mau itu terjadi. Zest bukanlah gadis bodoh. Ia terpelajar. Siapapun pasti akan langsung menyukainya jika pertama kali bertemu.


Imelda tersenyum dalam diamnya. Ratu Isle, mimpimu menjadi kenyataan. Aku yang akan mewujudkannya,pikir Imelda.


Seakan tidak mau mendengar penjelasan mereka, Juan langsung memotong pembicaraan mereka. "Jadi, apakah lamaranku diterima?" Tanyanya tajam.


Xavi menatap istrinya dengan cemas. Tetapi Imelda hanya mengangguk tanda menyetujuinya. Kemudian ia menatap Juan dengan takut. Ia tak pernah menolak apapun perintah Juan. Tapi, jika ia harus menyerahkan anak gadis kesayangannya dan tidak normal layaknya semua putri, ia takut mengecewakan.


"Bagaimana Xavi?" Tanya Juan kembali. Ia tetap tenang dalam bicaranya.


"Maafkan hamba, Paduka.. Sebelumnya hamba harus bertanya terlebih dahulu pada putri hamba."


Juan tertawa lepas sehingga seisi ruangan menatapnya.


"Apa maksudmu? ada kemungkinan aku akan ditolak?"


Xavi menggelengkan kepalanya. "Tidak..tidak.. bukan begitu maksud hamba"


Juan mengangkat tangannya. "Cukup ! Aku akan menganggap lamaranku diterima."


Juan berdiri dan memanggil seseorang. "BERITAHU SEMUA WARGA KERAJAAN ARTALETA, AKU AKAN SEGERA MELANGSUNGKAN PERNIKAHAN DALAM WAKTU DEKAT"


Xavi tidak dapat berbuat banyak. Ia melihat Vale sebelum memutuskan untuk pulang dan segera memberitahukan lamaran Raja pada Zest. Ketika akhirnya hanya ada Juan dan Vale, Vale memberanikan diri untuk berbicara mengenai Zest.


"Paduka"


Juan menoleh pada Vale. Wajahnya terlihat sedikit tidak enak. "Katakanlah. Aku siap mendengarkan." Apapun yang Vale katakan, ia selalu mendengarkan.


"Hamba ingin bercerita tentang adik hamba."


"Ceritakanlah"


"Zest adalah gadis baik. Mungkin jika nanti Paduka menikah dengannya, tidak banyak orang yang mengetahui Zest. Pasti banyak orang yang terkejut karena hal yang sangat mendadak ini. Selama ini papa tidak pernah membuatnya diketahui. Itu karena ketika berumur 3 tahun, Zest pernah mengalami penculikan. Traumanya sangat parah. Hingga kinipun kami merasa jika penjahat itu masih ada. Zest sering tidur dalam ketakutan hingga sekarang."


Juan tidak sekalipun menatap Vale. Ia mendengarkan tapi tidak terlalu kompleks. Ia tidak peduli mengenai masalah Zest. Ia memang menyukainya tapi ada hal lain yang sangat ditunggu karena yang terpenting adalah reaksi sepupunya jika ia menikah. Tidak ada harapan lagi baginya untuk mendapatkan Kerajaan Artaleta .


"Sebagai kakak, hamba hanya menginginkan agar paduka menjaganya." Vale berkata dengan sungguh-sungguh. Juanpun berbalik dan menatapnya. "Kau tidak perlu khawatir, penjaga dan pengawalku banyak. Aku akan menjaganya. Sekarang kau pulanglah dan beritahukan hal yang baik tentangku. Aku pikir Zest tidak menyukaiku." Tambahnya sambil tertawa.


Zest terdiam dan terpaku ketika mendengar dirinya dilamar oleh seorang Raja. Rasanya sangat tidak mungkin mengingat ia belum pernah diperkenalkan kepada khalayak luas. Ia tidak pernah sekalipun mengunjungi kerajaan seumur hidupnya.


Zest duduk didepan jendela kamarnya seorang diri. Lampu kamarnya tetap menyala. Ia tidak mungkin bisa tidur malam ini setelah mendengar ucapan kedua orangtua dan kakaknya. Apa yang harus ia lakukan? Selama melakukan persembunyian, ia berusaha untuk menolak lamaran dari siapapun. Hari ini, hanya dalam waktu beberapa jam saja, persembunyiannya terbongkar.


Mata Zest memandang keluar kamar. Ia tidak membiarkan Nisa masuk walaupun ia tahu Nisa pasti sangat mencemaskannya.


Teringat ketika ia bertemu dengan Raja muda itu di bukit Tonzoni, Azalea. Azalea? Bagaimana jika ia tidak bisa mengunjungi daerah itu kembali? Apa yang harus kulakukan? Apakah ia bisa menolak lamaran Raja? Tapi, ini adalah Raja. Kuasa Raja tidak bisa dibantah.


Ketika Nisa masuk kekamar keesokan paginya, ia terkejut melihat Zest tetap duduk dalam kursi itu selama semalaman. Ia berlari agar segera sampai pada kesayangannya.


"Lady, apa yang kau pikirkan?"tanya Nisa yang datang kekamarnya membawakan beberapa gaun yang telah dilipat.


"Kau sudah mendengarnya bukan?" Tanya Zest sedih." Aku sengaja tidak membiarkanmu masuk karena semalaman aku berfikir. Aku sedih, Nisa. Aku tidak bisa berfikir."


Nisa mengangguk sambil tersenyum. "Kau akan sangat menyukai berada di istana, Lady. Aku yakin sekali"


"Bagaimana kau bisa optimis seperti itu?"


"Saya berada disana sejak Raja Juan belum dilahirkan. Saya adalah asisten Yang Mulia Ratu Isle, ibunda Raja Juan." Ucap Nissa tetap tenang. Iapun menyentuh kedua tangan Zest dan tersenyum. "Jika saja Nona tahu kenapa seorang Nisa ada bersamamu selama ini, kau akan mengerti."tambahnya.


"Betulkah? Apakah aku akan mengerti?" Jawab Zest dengan tatapan nanar. "Aku tidak mau menikah dengan Raja, Nisa" keluh Zest.


Nissa terkejut mendengar ucapan Zest. Ia langsung menghampiri gadis kesayangan didepannya itu. "Kenapa kau tidak ingin menikah? Kau tidak boleh berkata seperti itu, Nona."


"Karena alergiku, aku aneh, aku tidak normal, lagipula kenapa ia ingin menikah denganku padahal kita baru saja bertemu satu hari. Itupun hanya beberapa jam saja. Apakah kau tidak merasakan ada yang aneh? Bagaimana nanti aku hidup disana? Bagaimana jika aku tidak bisa pergi melihat daerah-daerah kumuh? Nisa, tolong bantu aku untuk menolaknya!" Rengek Zest. Ia memang jauh lebih dekat dengan Nisa. Karena kemanapun ia pergi, Nisa selalu berada disampingnya.


"Bagaimana aku bisa membantumu Lady, jika yang menginginkan ini adalah raja. Aku yakin sekali, Lady.. penyakitmu akan sembuh. Trauma itu akan hilang karena aku yakin Raja Juan akan menjagamu."


Zest hanya terdiam mendengar ucapan Nisa.