Love in Castle

Love in Castle
Acara pertama Zest



Dasar Brengsek!Teriak Leo ketika melihat berita utama dikoran istana pagi itu. Ia terkejut melihat pengumuman pernikahan Juan. Ia tidak menyangka berita yang dia dapatkan pagi ini membuat jantungnya terasa berhenti berdetak. Segala usahanya akan sia-sia jika Juan melakukannya.


"Kau bisa menikah, tapi aku bisa yakinkan kalau pernikahanmu tidak akan lama. Aku akan merebut pengantinmu, Juan!! Sudah cukup kau bermain-main denganku, anak ingusan!!"


Leo membantingkan apa yang ada dihadapannya. Botol minuman, asbak hingga buku ia layangkan kedinding sehingga terdengar suara yang sangat kacau. Ia tidak pernah merasa sekesal dan semarah ini. Beberapa penjaga hanya bisa melihat kemurkaan Leo tanpa berbuat apa-apa.


Atas permintaan Xavi, sebelum pernikahan dilakukan harus diadakan pesta untuk mengenalkan Zest pada semua orang-orang. Xavi sempat mendengar ucapan miring dari beberapa warga mengenai Zest. Ada yang mengatakan Zest adalah anak haram dan memiliki ilmu hitam. Xavi tidak tahan mendengar ucapan miring mengenai anak gadis satu-satunya. Ia sangat mengenal Zest. Gadis itu selalu mematuhi orangtua dan tidak pernah mengecewakannya. Ia kecewa karena kabar miring itu terlalu cepat beredar tanpa bisa dihindari lagi.


Halaman rumah keluarga Vanguard telah penuh oleh kereta-kereta para undangan. Raja Juan belum juga tiba. Rencananya ia akan disambut langsung oleh Vale didepan gerbang rumahnya. Para saudagar, pejabat dan beberapa undangan dari kerajaan tetangga telah hadir dirumahnya. Rumah itu tidak pernah seramai itu karena ini pertama kalinya Xavi mengadakan pesta. Penjagaan dirumah itu sangat ketat. Walaupun kejadian telah sangat lama sekali, tapi pesta kali ini akan membuat kehadiran Zest diketahui oleh para penjahat itu.


Didepan cermin, Zest masih sibuk didandani. Ia menatap cermin ketika sosok ibunya dan Nisa ada dibelakangnya. Ibunya tersenyum bahagia. Berbeda dengan Nisa yang tersenyum memaksa. Ia yang paling tahu isi hati Zest. Sesekali ia menganggukkan kepalanya. Nisa hanya ingin mengatakan jika keputusannya tidak salah. Ia yakin keputusan itu adalah benar. Ia tertunduk mengingat ucapan Ratu Isle yang menginginkan Zest menjadi anak perempuannya.


"Putri mama paling cantik didunia.." Dutchess of Vanguard memeluk putrinya dengan erat. Sedangkan Zest sendiri sedang tersenyum walaupun dalam hatinya ia merasa sedih.


Terdengar jejak kaki seseorang yang sedang berlari kekamarnya. Ia membuka pintu dengan cepat. Nafasnya tersengal-sengal. Usianya tak kurang dari 10 tahun.


"Raja Juan ingin menjemput Lady Zest untuk turun. Ia sedang berjalan kemari."


Orang-orang yang ada disana langsung diusir oleh Imelda. Tapi tanpa diusirpun mereka sudah tahu harus pergi. Tinggalah Zest sendiri. Jantungnya berdegup dengan kencang. Bagaimanapun ini adalah pertama kalinya ia akan ditampilkan didepan publik. Ia gugup dan takut.


Zest berdiri dengan cepat. Tapi, gaun panjangnya membuat kakinya menginjak ujung gaun sehingga ia terjatuh. Ia cukup malu karena terjatuh didepan seorang raja. Juan menghampirinya dan membantunya berdiri. Ia menahan tawanya.


"Kau tidak apa-apa?"


"Ya. Aku rasa.." Zest berdiri dengan bantuan Juan. Ketika mereka berdiri berhadapan, Zest membungkukkan badannya. "Selamat malam, Paduka. Aku mohon maaf atas kejadian tadi."


Juan mengangkat tangan Zest kebibirnya. Kemudian ia menengadahkan wajahnya dan kedua matanya saling bertemu. "Apakah kau sudah siap untuk acara dibawah?"


"Iya." Jawab Zest tanpa menghiraukan lututnya yang sakit akibat terjatuh tadi. Ia yakin jika dirinya bukan tunangannya, Raja pasti sudah mentertawakannya. Bodoh sekali dirinya.


Mereka berduapun melangkah menuju ruangan tempat acara berlangsung. Para tamu terpaku ketika kedua sosok yang paling ditunggu saat itu tengah berjalan memasuki ruangan. Raja Juan memang terkenal dengan ketampanannya. Hari ini, hampir semua lady yang menyukainya akan sakit hati. Pandangan para tamunpun tak lepas dari keanggunan Zest. Ia sangat cantik dan tak tersentuh. Kulitnya sangat mulus. Putih dan bercahaya. Matanya bulat berwarna hijau tua seperti Imelda, ibunya. Dan rambutnya pirang panjang bergelombang seperti Duke. Mereka berdua tidak dapat diragukan lagi. Mereka sungguh serasi.


Juan merasakan jari-jari Zest menekan lengannya dengan kuat. Ia tahu gadis disampingnya sangat gugup. Bagaimanapun ini pertamakalinya ia diperkenalkan dengan publik.


Leo menatap pasangan itu penuh amarah. Tapi ketika matanya bertemu dengan mata Zest, ia terpesona. Ia tidak pernah merasakan hal seperti itu sebelumnya. Gadis itu adalah permata terpendam dari Artaleta. Leo merasa telah jatuh cinta pada gadis itu. "Aku akan memilikimu, cantik! Aku akan mengambil ratumu perlahan beserta kerajaanmu, Juan!!"