Love in Castle

Love in Castle
Melarikan diri



Imelda menangis sedih diruangan istana. Xavi dan Imelda langsung berangkat menuju istana ketika mendengar penculikan itu terjadi. Mereka panik karena untuk kedua kalinya anaknya mendapatkan kejadian yang sama.


Juan masuk didampingi oleh Vale dengan wajah lesu. Mereka tidak tahu harus mencari kemana lagi untuk menemukan Zest. Jejak mereka belum dapat ditemukan di manapun. Ia merasa tidak pantas karena tidak dapat dengan cepat menemukan ratunya.


"Bagaimana, paduka?"tanya Imelda panik. Ia mulai menangis.


Juan menggelengkan kepalanya. "Belum ditemukan." Ia melangkah menuju kamarnya. Tubuhnya lemas, jantungnya berdebar parah. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Leo pada istrinya. Juan memegang salah satu tiang tempat tidurnya. Ia ketakutan jika harus kehilangan Zest.


Sudah beberapa hari melakukan pencarian pada Zest namun hasilnya sia-sia. Leo seperti hilang ditelan bumi. Juan berada dikamarnya. Ia termenung sendiri. Disaat cuaca dingin seperti ini, apakah Zest mampu bertahan?


"Zest... "ucap Juan pelan. Kerinduan yang sangat menyiksanya membuatnya sempat kehilangan akal dalam melakukan pencarian. Beberapa pekerjaan kerajaan terbengkalai.


Juan menundukkan kepalanya. Rasanya separuh jiwanya telah pergi. Ia takut tidak bisa bertahan. Ia meneteskan airmata karena rindu. Iapun mengambil minuman di atas meja. Sejak menikah dengan Zest, ia tidak pernah meminum minuman itu lagi. Namun kini, ia tidak dapat menahannya untuk meminumnya.


Zest membuka matanya ketika ia terus merasakan hawa dingin merasuki hingga ke tulang-tulangnya. Kemudian ia melihat sebuah kertas yang tersimpan diatas meja. Kertas itu berlipat-lipat. Zest membukanya.


Tonzoni? Ia berada didaerah Tonzoni?


Zest melihat keluar dan mulai mengingat-ingat tiap tempat yang terlihat dari kelopak matanya. Tiba-tiba ia teringat, tempatnya berada adalah dihutan yang berada tak jauh dari rumah sosial milik Nina. Dengan penuh optimisme, Zest mulai mencari cara untuk bisa kabur karena sudah beberapa hari Juan belum bisa menemukannya. Disudut ruangan terdapat jendela kecil. Dengan tubuhnya yang kecil, ia yakin bisa keluar dari sana. Kesempatan itu pasti ada. Ia mencoba dan terus mencoba. Tubuhnya lemas tapi ia hiraukan.


Tok..tok..


"Lapor paduka, keberadaan panglima Leo telah diketahui!" Ucap salah seorang prajurit


Juan langsung bergegas untuk menyusul keberadaan Leo dan Zest.


"Dimana kau sembunyikan istriku?" Teriak Juan penuh amarah. Ia langsung memukuli Leo dengan membabi buta. Jika tidak ada Vale mungkin Juan sudah menghabisi Leo.


Tiba-tiba Leo tertawa. "Istrimu sudah melarikan diri 2 hari yang lalu. Mungkin sekarang telah menjadi santapan harimau hutan."


"Jangan kau bohongi aku!"


"Aku tidak berbohong. Cari saja istrimu disini! Dia cerdas bisa melarikan diri dariku!"


Juan berusaha untuk meninju wajah Leo tapi ditahan oleh Vale. Tubuh Juan kemudian ambruk. "Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa kau melibatkan Zest?"


"Karena aku mencintai istrimu! Puas?"teriak Leo dengan wajah babak belur. "Aku tahu alasanmu menikah untuk memberikan pelajaran padaku. Dan benar, kau berhasil membuatku jatuh cinta padanya."


"Kau tidak berhak mencintainya karena aku yang telah mencintainya sejak dulu!"teriak Juan. "Bawa dia ke penjara!!!" Tambahnya pada prajurit.


Leo dibawa oleh para prajurit keluar.


"Aku sudah mengatakan berkali-kali padanya bahwa aku mencintainya." Ucap Juan sedih. "Jika Zest sudah melarikan diri dua hari yang lalu, seharusnya ia sudah berada di istana." tambahnya bertambah sedih


"Hamba yakin Zest akan pulang." Jawab Vale menenangkan. Jauh dilubuk hatinya, ia sangat mengkhawatirkan keselamatan Zest. Bagaimanapun ia masih adiknya.


"Kita pulang, Vale. Aku harap Zest sudah kembali." Ucap Juan lemas.