
"Zest! Kau harus membawa Nisa untuk menjagamu, sayang!"teriak Imelda, Dutchess of Vanguard kepada anak perempuannya.
Zest membalikkan tubuhnya dan tersenyum pada ibunya. "Mama, kau lihat disana. Nisa sudah berada dikereta. Aku pergi hanya dua jam saja. Aku akan segera kembali!" Zest menghampiri ibunya dan mengecup pipinya.
Ia berlari menuju kereta. Hari ini ia memakai pakaian yang sangat sederhana sekali. Walaupun sebenarnya harganya sangat mahal. Khusus hari ini, ia tidak akan membantu Nina untuk memasak. Bunga-bunga disana pasti sudah bermekaran. Ia tidak mau kehilangan moment yang indah
Imelda hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Zest, tidak ada yang tahu mengenai gadis itu. Disaat usianya yang sekarang menginjak 19 tahun, ia belum diperkenalkan ke publik. Saat usianya 17 tahun dan ia bersiap diperkenalkan keseluruh kerajaan Artaleta, ia menolak mentah-mentah. Ia tidak mau jika diperkenalkan nanti, kehidupan pribadinya akan terungkap.
Zest berada diluar negeri untuk sekolah. Namun mereka harus bersekolah ditempat berbeda karena urusan keamanan.
Berbeda dengan kakaknya, Zest memiliki IQ diatas rata-rata sehingga diusia 17 tahun ia sudah lulus. Sejak pulang 2 tahun yang lalu, tidak pernah seharipun ia berada di rumah. Ia selalu pergi ke Azalea dan Tonzoni untuk membantu para warga miskin disana.
Sering sekali Zest membicarakan kejahatan yang dilakukan kerajaan pada rakyat Azalea, tapi ia tidak pernah mendapat jawaban dari ayahnya. Terkadang ia memliki keinginan untuk bertemu langsung dengan Raja. Tapi ia mengurungkan niatnya kembali. Jika ia menemui Raja, rahasianya akan terbongkar. Seluruh rakyat Artaleta akan tahu mengenai anak perempuan Duke of Vanguard yang tidak pernah diketahui oleh siapapun. Hidupnya tidak akan sama lagi. Pasti banyak undangan yang berdatangan. Lebih parahnya yaitu nasib kedua orangtua dan kakaknya yang sekarang menjadi tangan kanan Raja. Ia tidak mau ada anggapan Duke of Vanguard, kepercayaan istana telah menyembunyikan putrinya. Bagaimana jika Raja yang memberikan lamaran padanya?
Zest menggelengkan kepalanya. Tidak!tidak! Tidak mungkin ia bisa berfikiran seperti itu.
"Nisa.. aku membenci Raja Juan. Aku tidak mengerti mengapa papa dan Vale bisa mendampingi Raja itu. Kau sudah tahu bukan jika aku selalu memberikan perhatian pada warga Azalea, tapi mana? Pihak kerajaan tidak pernah datang. Pajak yang mereka kenakan sangat tinggi." Zest berkeluh kesah diatas kereta pada Nisa.
Hanya Nisalah, pelayannya yang selalu mendengarkan keluh kesahnya. Saat ini ia hanya tersenyum mendengar celotehan majikannya.
"Lady.. apakah kau tahu kalau Raja Juan sangat tampan?" Tanya Nisa menggodanya.
"Aku tidak peduli dengan tampan atau tidaknya Raja itu. Yang pasti dia telah menyakiti rakyat miskin!" Jawab Zest dengan wajah kesal. Mengapa kedua orangtua dan kakaknya suka membanggakan Raja yang jelas-jelas salah itu. Kini Nisa yang membanggakannya.
Nisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Jika Zest seperti saat ini, ia mengingat Zest kecil yang sangat cengeng tanpa menghilangkan kelucuannya. Lima belas tahun telah berlalu. Jika saja Zest tahu dan mengingat tentang Pangeran Juan saat itu, ia pasti sangat senang dan malu. Nisa jadi ingat ketika keduanya saling bermarahan. Jika saja Ratu Isle masih hidup, ia pasti akan lebih mudah menyatukan mereka. Tapi sebelum Ratu meninggal, ia pernah mengatakan jika Zest akan menjadi anaknya jika sudah besar nanti.
Seandainya saja kau mengikuti setiap acara yang dilakukan kerajaan, kalian akan bertemu. Kau memang tidak ingat kejadian itu tapi kini kau pasti akan terpesona pada ketampanan Raja Juan, lady. Sayangnya sudah lama sekali tidak ada yang mengetahui tentang keberadaanmu, Lady. Nisa berucap dalam hatinya sambil menatap Zest yang tidak bersemangat sejak mendengar Raja Juan dibicarakan.
"Lady.. apa yang kau bawa hari ini?" Tanya seorang anak kecil yang tadi tengah mengantri.
"Aku, membawakanmu boneka beruang, sayang.." Zest mengeluarkan boneka miliknya pada gadis kecil itu.
"Selamat siang, Lady.."
"Selamat siang, Nina. Aku membawakan beberapa bahan makanan dan sejumlah uang untuk dibagikan pada warga." Zest melihat Robi,pengawalnya dan berkata untuk menurunkan semua barang.
"Kau sangat mulia sekali, Lady. Kami bahkan tidak mengetahui siapakah Lady ini sebenarnya."
"Aku hanya pencinta bunga yang berada dibelakang bangunan ini."
Wanita itu berbisik. "Apakah kau tidak tahu, besok bunga ini akan berkembang. Kau dapat melihatnya secara langsung, nona.."
Zest terkejut senang namun sedikit kecewa "Bukan hari ini?"
"Hari ini belum semuanya bermekaran."
"Benarkah Nina?"
Wanita itu mengangguk.
Leo menatap gadis didepannya. Serena, seorang PSK yang biasa melayaninya tengah menghidangkan minuman padanya. Gadis itu memberikan gelas yang tadi dituangi minuman pada Leo dengan wajah genitnya. Leo tidak membutuhkan pesona gadis itu. Ia sangat marah mengingat hinaan tadi. Gelas itu ia ambil lalu dilemparkan ketembok sehingga hancur berkeping-keping. Alkoholnya membuat sisi sofa dan tembok basah dengan cepat.
Aarrghh! Serena berteriak ketakutan melihat pria yang biasa dilayaninya tiba-tiba menjadi menyeramkan. Ia berlari tapi Leo menarik tangannya sehingga ia tertidur disofa. Leo langsung menindihnya. Mulut Serena dibekam olehnya hingga ia kesulitan bernafas. Kemudian ia membalikkan tubuh Serena dan mengunci lengannya kebelakang tubuhnya dengan satu tangan. Tak hanya itu, Leo juga mengambil pedang miliknya dan menghunuskan pedang itu tepat dibelakang lehernya. Ketika merasa tidak ada lagi rontaan dari Serena, iapun keluar dari ruangan klub itu. "Bereskan!" Ucapnya pada pengawalnya.