
Zest sedang berada dihalaman belakang yang menghadap langsung ke pegunungan. Angin terasa sedikit kuat. Nissa yang berada disampingnya langsung memberikan mantel untuk menjaganya agar tidak kedinginan. Tempat ini sudah lama sekali tidak dikunjunginya. Ia tidak terkejut dengan ketidakadilan ditempat ini selama ia pergi. Melihat wajah Juan yang sangat marah itu membuatnya terkesan. Juan adalah Raja yang baik dan bijaksana. Ia salah karena telah berfikir tentang Juan yang tidak-tidak. Sejak dulu Ia berfikir jika Juan tidak serius memimpin Artaleta. Buktinya ia banyak menemukan daerah yang tidak tersentuh. Namun ia tahu alasannya. Juan baru saja menjadi Raja. Butuh waktu baginya untuk beradaptasi.
"Seorang ratu cantik sedang berdiri seperti itu layaknya dewi yang sedang memikirkan kekasih hatinya. Apakah ada masalah?"
Zest membalikkan badannya dan melihat Leo berada disana. Zest tersenyum ramah begitupula dengan pria yang ada dibelakangnya.
"Panglima.. " jawab Zest lembut.
"Hamba dengar, Paduka sedang tidak enak badan?" Tanya Leo dengan nada khawatir.
"Ya. Tapi sudah membaik."
"Ratu ternyata sangat terkenal disini. Hamba sungguh terkesan."
Zest tersenyum dan menatap Nisa. "Nisa.. bisa kau ambilkan minuman untuk kami?" Nisa langsung beranjak dari tempatnya berdiri.
"Tadi aku melihat kau bersama seorang wanita. Dimanakah lady itu, panglima? Apakah ia calon istrimu?"
Leo tersenyum simpul. "Bukan. Tidak mungkin lady Nicole mau dengan saya yang hanya seorang panglima. Ia kini sedang berbincang dengan Paduka Raja." Leo menyandarkan tubuhnya kebelakang. "Sudah lama sekali mereka berdua tidak bertemu. Rasanya seperti mengenang masa lalu." Tambahnya.
"Masa lalu?"tanya Zest bingung.
Leo menganggukkan kepalanya. "Mereka adalah sepasang kekasih. Mereka saling mencintai, Paduka. Konspirasi politik yang membuat keduanya berpisah. Sungguh sangat disayangkan karena seluruh negeri ini mengenal mereka sebagai pasangan yang serasi." Leo langsung berpura-pura terkejut dan merasa tidak enak ketika melihat wajah Zest berubah. "Maafkan hamba Paduka. Hamba tidak pantas mengatakannya."
"Tidak apa-apa, panglima. Akan lebih bagus jika saya mengetahui masa lalu suami saya." Zest mencoba untuk tersenyum didepan Leo. Namun jangan katakan ia adalah Leo jika ia tidak tahu keaslian atau kepalsuan seseorang.
Ketika sedang berbincang, Juan menghampiri mereka. "Aku harap kau tidak mengatakan sesuatu yang tidak-tidak pada Ratuku." Ucapnya dengan wajah tidak suka. Ia menekankan ucapan Ratu ketika mengatakannya.
"Tidak, Yang Mulia. Hamba undur diri." Leo langsung berdiri dari kursinya dan beranjak pergi.
Juan menatap Zest yang sejak tadi memandangnya aneh. "Apa yang ia katakan?"
Zest menggeleng. "Tidak ada."
"Zest, aku harap kau mendengarkanku. Aku ingin kau tidak hilang dari pandanganku."
"Mengapa?"
"Aku ingin kau berhati-hati."
Maksudmu, aku harus berhati-hati pada segala kemungkinan yang terjadi. Kau berpisah dengan wanita itu karena konspirasi politik. Kemudian kau menikahiku agar aku terjebak pada konspirasi itu? Aku dijadikan pion?
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Bukan itu yang terjadi. Aku hanya tidak mau kehilanganmu." Ujar Juan menghapuskan kebimbangan hati Zest. Ia menggenggam kedua tangan zest. Ia yakin Leo telah mengatakan sesuatu padanya.