Liodra

Liodra
Rasa yang sama



Davin yang telah lama duduk di sofa menatap jam dinding yang menunjukkan telah lewat tengah malam namun Demian sang ayah belum pulang juga.Davin merasa khawatir,ia mengambil handphonnya lalu menelphone papanya.


Tutt..tuttt...tutt...suara telephone memecah ke sunyian di ruangan itu.Demian menatap layar handphonenya,nama Davin muncul ia menggeser ke atas tombol hijau yang bergerak.


(Halo...)Demian


(Halo...pa kok belum pulang???)Davin


(Papa mau tidur di kantor aja hari ini Vin...)Demian


(Oh...iya aku ngerti pa,tapi jangan terlalu mabuk ya...kita semua sayang sama papa)Davin


(Iya papa cuma minum dikit Vin,Liodra udah tidur???)Demian


(Udah pa...papa udah makan??)Davin


(Udah tadi,kalo kalian udah makan???)Demian


(Udah pa...)Davin


(Tidur gih,udah malem ini...)Demian


(Iya..pa..bay..bay...)Davin


(Bay...sayang...)Demian


Demian menutup telephonenya,dia memegang gelas yang setengah berisi,tampak di lantai beberapa botol kosong di taruh tak beraturan.Demian duduk sendiri di ruangan kecil dalam kantornya nyala lampu remang membuat dirinya tak tampak jelas.Sebelah tangannya memegang bingkai foto,tampak wanita bergaun putih tersenyum begitu cantik nan anggun wanita itu tak lain adalah Lilian mendiang istrinya.


"Lian....apa kamu sekarang bisa melihatku disini???,ini udah lima tahun begitu berat aku lewatin setiap hari tanpa kamu,aku sekarang begitu kesepian,aku masih bisa bertahan sampai sekarang hanya karena anak-anak kita,aku sangat...sangat mencintaimu,hal terindah untukku saat kau memeluk ku,menungguku pulang dari kantor,memasak untukku dan anak-anak..." Demian memeluk erat foto itu air matanya berderai isak terdengar lirih di ruangan sepi itu,sampai akhirnya Demian tertidur di lantai dingin itu.


.


.


.


.


.


Liodra meraba-raba handphone'nya.


"eehh...jam berapa ini...???" gumam Liodra


"Astagahhh....jam setengah tujuh...mati....telat gue pasti...!!!!" sambungnya,Liodra beranjak bangkit dan langsung lari kekamar mandi.


Liodra tak sempat mengikata rambutnya untuk kali pertama ia ke sekolah,dengan rambut di gerai ia menyelipkan jepit bunga di sebelah kiri,terlihat manis untuk gadis seusianya.Ketika Liodra keluar dari rumah nampak seorang laki-laki berseragam yang sama dengannya menunggu Liodra,laki-laki itu melambaikan tangan sembari tersenyum manis,sorot mata elang yang begitu memikat.Liodra berlari menghampirinya tanpa ragu,dia adalah satu-satunya lelaki yang membuat jantungnya ingin meledak rasanya.


"Lhoo...Ge lo ngapain kesini???" tanya Liodra


"Jualan sayur...." cetus Genova,Liodra mengerutkan keningnya.


"Nih...pake..!!!" Genova menyodorkan helm berwarna pink pada Liodra.


"Ciiieehhh...lo jemput gue nih ceritanya...???" Goda Liodra.


"Menurut lo....udah ikut gak nih..??!!" Genova memasang wajah cemberut.


Liodra merasa gemas lalu mencubit pipi Genova,tampak senyum menghiasi wajah Genova.


"Pegangan ya...ntar kalo lo jatuh gue gak tanggung jawab...." kata Genova


Liodra mengangguk ia memegang jaket yang di kenakan Genova karena merasa malu.Genova tiba-tiba melajukan motornya dengan cepat,Liodra kaget dan akhirnya memeluk erat Genova.Jantung ke dua remaja itu berdebar semakin cepat,tampak senyum kebahagian menghiasi keduanya.


Saat lampu merah tetiba Genova menggenggam tangan Liodra,tak ada penolakan darinya,sekarang Genova semakin yakin bahwa rasanya tak bertepuk sebelah tangan.


Liodra merasa sangat bahagia untuk kali pertama merasakan tangannya di genggam dengan penuh kehangatan ini cinta pertama dan berharap semua baik-baik saja.