
Angin dingin yang menerpa wajah Liodra dengan lembut.Dari belakang Liodra tak menyadari kedatangan seseorang dan menepuk lembut pun pundaknya.Liodra yang kaget membalikkan badannya.
"Papa..." Kata Liodra lirih
"Kamu kenapa sayang...ngelamun gitu,papa dari tadi manggil sampe gak kamu jawab??"Tanya Demian lembut.
" Enggak kenapa-napa Pa,cuma lagi kangen sama mama.."Jawab Liodra tersenyum tipis.
Demian memeluk anaknya dengan lembut diam-diam ia mengusap air matanya,karena Demian adalah salah satu orang dari keluarga itu yang teramat sangat merindukan sosok Lilian.
"Udah...kamu jangan nangis yuk makan malem tadi papa beli makanan di luar..." Demian berusaha menyembunyikan kesedihannya.
Selesai makan malam Liodra kembali ke kamarnya.Demian duduk seorang diri di taman belakang rumahnya.Ketika malam tiba dahulu ia dan sang istri selalu duduk di sana memandang bintang menikmati waktu bersama.Dan kini dia hanya sendiri cintanya yang begitu besar kepada sang istri membuatnya tak bisa menikah lagi.
Demian mengeluarkan sapu tangan yang terlihat telah lusuh dari sakunya di ujung sapu tangan itu berinisial "De💗Li".Pikirannya melayang kemasa lalu ketika ulang tahun pernikahan mereka yang pertama dimana sapu tangan itu buatan Lilian sang istri dengan penuh cinta.Demian tersenyum namun air matanya menitik tak mampu sembunyikan kerinduannya ke pada sang istri yang kini tak di sampingnya lagi.
.
.
.
.
Ting!"suara pesan masuk.
Liodra mengambil handphonenya,ia tersenyum tipis.
[Lagi apa???]Alex
[Baca komik kak😁😁]Liodra
[Oohh...udah makan??]Alex
[Udah...kaka???]Liodra
[Udah...jangan sampe malem bacanya]Alex
[Iya...☺]Liodra
[Besok inget janjinya ya...kamu yang traktir...he...😁😁]Alex
[Siap pak bosss😎]Liodra
Alex memegang jepit rambut mutiara yang tadi ia beli waktu pulang,ia tersenyum membayangkan betapa manisnya Liodra jika mengenakan jepit rambut ala korea itu.
.
.
.
.
Genova berdiri di balkon rumahnya yang bak istana.Ia memandang bintang dengan tersenyum pikirannya melayang saat ia menghabiskan waktu bersama Liodra.Ia belum pernah merasakan perasaan aneh seperti ini,karena ia sesungguhnya tak pernah membenci Liodra saat pertama berjumpa hanya ingin mencari perhatiannya saja.
"Ahhh....aku bisa gila...kenapa gadis itu terus muncul dalam pikiranku..." Genova mengacak-acak rambutnya.
Genova merasakan wajahnya memerah saat ia mengingat Liodra tidur di pundaknya.Wajah polos seperti peri kecil,benar-benar membuat Genova tak bisa melupakannya barang sebentar.
Hingga pukul 02.00pagi Genova masih belum bisa memejamkan matanya,Liodra selalu muncul dalam pikirannya.
"Aahhh..gadis kecil ini benar-benar tak bisa membiarkanku tidur...." Gerutu Genova.
Tok..tok..tok..*Suara pintu di ketuk pelan.
"Tuan...bangun ini sudah siang..." Suara lembut terdengar di balik pintu kamar.
Genova mencoba membuka matanya meraba handphone yang di sampingnya.Ia kaget menatap layar handphone yang menjukkan pukul 08.00 pagi yang memberi isyarat bahwa ia sangat telat untuk pergi ke sekolah.Genova melompat dari tempat tidurnya.Bahkan ia mengabaikan sarapannya.
"Tuan sebaiknya anda sarapan dulu..." Seorang asisten rumah tangga membawa nampan berisi roti dan juga susu.
"Nggak usah aku udah telat.." Genova mempercepat langkahnya.
Kedua asisten rumah tangga itu saling pandang merasa heran dengan tingkah tuan mereka.
"Tuan kenapa ya...tumben dia begitu bersemangat untuk sekolah??" Kata salah seorang asisten.
"Iya..ya...di sekolah yang dulu tuan tak serajin ini,bahkan untuk sekolah saja bisa seminggu sekali,eh..sekarang tuan khawatir karena telat???" timpal seorang lagi.
"Wah..wah...aku penasaran siapa yang merubah tuan menjadi seperti ini??" katanya lagi.
Kedua asisten tumah tangga itu tersenyum memandang punggung Genova yang semakin menghilang.