
Mata bulat itu menajam saat melihat sosok yang dicarinya hendak masuk ke ruangannya. Tanpa basa-basi Jungkook langsung mengejarnya dan masuk begitu saja, membuat sang pemilik ruangan terkejut walau dengan wajah datarnya.
" Hyung... Hyungie... Akhirnya Kookie menemukanmu Hyung...."
Taehyung melihat dengan jelas bagaimana air mata itu mulai menggenang di pelupuk mata dan jatuh begitu saja dari mata bulat itu. Namun itu justru membuatnya mengingat semua hal yang membuatnya sakit dan tersiksa.
" Maaf, tapi urusan kita sudah selesai. Dan anda sangat tidak sopan masuk begitu saja keruangan saya. Jika anda sudah selesai, bisakah anda pergi. Banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan."
Nada tegas dan dingin. Tidak ada kelembutan sedikitpun dari kata-kata itu, dan Jungkook sadar akan itu.
" Hyungie... Maafin Kookie... Kookie mohon Hyung.... Kookie masih sangat-"
"Saya bukan orang yang anda maksud Jungkook-ssi. Orang itu sudah lama mati, jadi silahkan tinggalkan tempat ini secepatnya."
Taehyung mengambil kotak hadiah di mejanya dan pergi begitu saja dari ruangannya, meninggalkan Jungkook yang terisak dilantai menangisi semuanya.
" Hyung.... Hyung... Taehyungie....
Kookie mohon, kembalilah..."
Jimin yang melihat itu hanya bisa memeluknya tanpa bisa berbuat banyak. Bagaimana pun dia tidak bisa sembarangan berbuat sesuatu, apalagi ini mengenai Jungkook yang notabennya sudah ia anggap adik sendiri. Ia hanya bisa berharap semuanya akan berubah lebih baik.
Setelah pertemuan tidak terduga itu, Taehyung segera pergi meninggalkan perusahaan itu. Keputusan nya semakin bulat untuk menikah dengan Yoongi. Dalam benaknya masih tergambar bagaimana keegoisan Jungkook yang masih seperti dulu, bahkan setelah 7tahun berpisah tidak ada yang berubah. Walaupun hati kecilnya sedikit bahagia melihatnya baik-baik saja tanpa dirinya, hingga air matanya kembali menetes setelah sekian lama mengering.
Tangannya dengan cepat mengambil ponsel dalam saku. Menekan nomor terakhir dalam kontak telepon nya. Karena memang tidak banyak nomor yang ia simpan. Decakan sebal keluar begitu saja saat panggilan nya tak mendapat respon. Kembali ia menghubungi orang tersebut. Hingga dering ketiga mendapat respon.
Soobin :"Ayolah, Hyung... Hari ini kan jatah cuti ku! Tidak bisakah Hyung tidak menggangguku dulu!" Keluhnya dari ujung telepon.
Taehyung :" Kembali ke kantor sekarang, dan urus surat pengunduran diriku."
Soobin :" WHAT!!! ARE YOU KIDDING ME!!!. Kenapa Hyung ingin mengundurkan diri? Lalu bagaimana dengan ku disini! Hyung jangan gila deh!"
Taehyung :" Aku akan kembali ke Korea hari ini juga. Dia sudah tahu keberadaan ku disini. Cepatlah datang, dan urus semuanya. Satu lagi... Sepertinya aku lupa mengambil cincinku. Tolong kau ambil pada sekretaris ku nanti."
Soobin :" Tapi hyung-"
Panggilan itu ia tutup begitu saja. Langkahnya semakin cepat menuju mobilnya. Ia tidak ingin berlama-lama ditempat ini, apa lagi dengan keberadaan nya yang mungkin akan semakin mudah dicari.
Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi menuju mansion. Ia harus bergegas membereskan semua barang-barangnya dan mencari penerbangan tercepat sore ini. Seharusnya ia mengikuti permintaan Hyung nya untuk kembali bersama Yoongi siang tadi, sehingga ia tidak perlu bertemu lagi dengannya. Pasti Yoongi masih dalam penerbangan menuju Seoul saat ini.
Dengan tergesa-gesa Taehyung memasuki mansion, mengabaikan beberapa maid yang menyapanya. Tentu saja itu membuat mereka bertanya-tanya, ada apa dengan majikan mereka itu. Walaupun terkesan dingin dan tertutup, tapi mereka sangat tahu majikannya itu seorang yang baik dan pengertian.
Tak selang berapa lama, Taehyung turun dengan koper dan sebuah tas yang lumayan besar. Walaupun Taehyung bukan pemilik mansion itu, tapi mansion itu sudah menaunginya selama ini. Melihat kebingungan maid disana, Taehyung sempatkan untuk berpamitan dan mungkin berterimakasih karena sudah menemaninya selama ini.
Taehyung :" I have to go back to Korea. Thank you for accompanying and taking care of me all this time. Send my regards to Mr Alexander, And sorry for my leaving too suddenly."
(Saya harus kembali ke Korea. Terimakasih sudah menemani dan menjaga saya selama ini. Sampaikan salam saya untuk tuan Alexander, dan maaf karena saya pergi terlalu mendadak.)
Maid :" We are very pleased to work with you sir, I will pass your greetings to mr Alexander. I hope you are happy with Mr. Yoongi. He's a very warm person."
(Kami sangat senang bekerja dengan anda tuan, akan saya sampaikan salam anda kepada tuan Alexander. Saya harap anda bahagia dengan tuan Yoongi. Beliau orang yang sangat hangat.)
Taehyung tersenyum tipis. Mungkin mereka pikir dia kembali ke Korea karena perjodohan nya dengan Yoongi, namun nyatanya ia hanya ingin kembali menghindari masa lalunya. Langkahnya tegap meninggalkan mansion itu tanpa melihat kebelakang. Ini sudah menjadi pilihannya, dan ia tidak akan mundur lagi.
Dilain sisi, Soobin kembali ke kantor dengan menggerutu. Padahal sudah jauh-jauh hari ia merencanakan ini semua, tapi hanya karena masa lalu Hyung nya itu acara kencannya kali ini harus ia batalkan. Untung saja kekasihnya itu mengerti dan tidak marah. Tapi kalau V pindah ke Korea, untuk apa juga dirinya ada disini? Kenapa tidak sekalian saja dirinya mengundurkan diri. Toh ada manajer lain yang bisa mengantikan mereka.
Maka setelah memikirkan itu semua, senyumnya mulai terlihat. Dengan langkah yang tenang ia menuju ruangan Taehyung. Dilihatnya sekretaris Hyung nya itu ada di mejanya.
Soobin :" Carren, apa Mr V menitipkan sesuatu padamu? Emm.... Cincin misalnya?"
Carren :" Ah... Benar tuan. Tadi cincin Mr. V jatuh, dan meminta saya untuk mencarinya. Ini tuan."
Soobin :" Thank You.... Baiklah kalau begitu, saya akan pergi untuk menemui Mr Alexander. Tolong cek ulang jadwal hari ini karena kemungkinan saya dan Mr. V akan kembali ke Korea."
Carren :" Tapi tuan Soobin..."
Soobin :" Ya, ada apa?"
Soobin :" Di dalam ada klien yang tadi. Beliau menunggu Mr. V dari tadi, tapi Mr V tidak kunjung kembali."
Kening Soobin berkerut, yang ia tahu klien kali ini berasal dari Eropa, untuk apa dia bertemu dengan V? Pasti ada alasan lain. Mungkinkah ini juga alasan yang membuat V Hyung mendadak ingin kembali ke Korea? Kalau begitu yang di dalam itu pasti mantan V Hyung yang dihindarinya. Ia jadi ingin tahu seperti apa orang itu, sampai tega membuat Hyung nya jadi seperti ini.
Diraihnya handel pintu itu dan membukanya. Bisa ia lihat seseorang yang berdiri di dekat jendela langsung membalikan badan begitu mendengar pintu terbuka.
Oh jadi ini orangnya. Pantas saja sampai sekarang belum bisa move on. Manis begitu.'
Soobin :" Excuse me, who are you?"
Jimin :" Kau orang Korea juga?"
Soobin sedikit terkejut mendengar suara dari arah lain. Ternyata tidak hanya satu orang yang ada di ruangan itu, melainkan ada orang lain yang tengah duduk di sofa.
Soobin :" Ya... Tapi kalian siapa? Kenapa ada di ruangan V Hyung?"
Jungkook :" V? Siapa orang yang kau maksud?" Sambung Jungkook.
Soobin :" Tentu saja direktur disini, Mr Vante. Mr Alexander sudah mempercayakan semuanya kepada V Hyung."
Jungkook :" KAU PASTI SALAH! DIA ITU TAEHYUNG, KIM TAEHYUNG!!!"
Jungkook yang sedikit emosi justru membuat Soobin tersenyum tipis. Dulu ia sempat sebal karena harus pindah sekolah hanya untuk mengawasi seseorang atas perintah sepupunya. Dan sekarang dia tahu kenapa ia harus memblokir semua akses tentang Hyung nya itu. Orang seperti ini akan melakukan apapun agar keinginannya bisa tercapai. Pantas saja Hoseok sampai seperti itu. ( Kalau kalian ingin tahu, Soobin ini adalah sepupu Yuuri. Ibu sambung Hoseok saat ini.)
Soobin :" Kim Taehyung? Ah nama itu.... Sudah lama sekali aku tidak mendengarnya. Tapi sayangnya, V Hyung sudah tidak ingin mengenang masa lalunya."
Jungkook :" Apa maksudmu!!! Dimana dia sekarang!!! Aku harus bertemu dengannya!!!"
Soobin :" Mana aku tahu, mungkin dia sudah pulang ke mansion atau pergi ke tempat lain. Lagi pula untuk apa kau mencarinya? Bukankah kau tidak perduli kalau dia hidup atau mati?"
Jimin :" Maaf, tapi bisakah kau beritahu saja dimana Taehyung saat ini."
Jimin mencoba menenangkan Jungkook yang mungkin saja akan mengamuk lagi kali ini. Ia tidak ingin mengambil resiko nama baik perusahaan mereka tercemar di negara ini. Soobin yang melihatnya hanya bisa membuang nafas.
Tentu saja baik Jungkook maupun Jimin terkejut. Jadi selama ini yang sengaja menutup semua akses pencariannya adalah orang ini, bahkan ia terlihat masih sangat muda tapi bisa berbuat sejauh itu.
Soobin :" Kenapa? Kalian terkejut saya bisa melakukannya? Bukan cuma anda yang bisa melakukan hal itu tuan. Banyak orang di luar sana yang juga bisa melakukannya, tapi hanya tidak ingin mereka tunjukan. Oh!!! Satu lagi.... Lebih baik anda tidak berusaha untuk mencari V Hyung lagi, karena V Hyung sudah mempunyai calon. Mungkin sebentar lagi mereka akan bertunangan. Oh... kurasa mereka sudah bertunangan, jadi berhenti mengganggunya lagi."
Setelah mengatakan itu Soobin meninggalkan Jungkook yang mematung. Ia tidak menyangka akan mendengar kabar seperti itu.
Jungkook :"Bertunangan? Dia pasti berbohong kan, Hyung? Taehyungie tidak mungkin menikah dengan orang lain kan Hyung? Taehyungie pasti masih mencintai Kookie kan Hyung? Hiks.... Hiks... Ini... Tidak.. mungkin..."
Jimin :" Tenang Kook, kita akan mencaritahu semuanya. Apapun itu, kau harus tenang."
Jimin Sebenarnya juga kaget mendengar penuturan namja tadi. Ia pikir setelah Jungkook bertemu dengan Taehyung dan menjelaskan semuanya, mereka akan kembali bersama tapi kenapa jadi seperti ini. Bahkan kini Jungkook jauh lebih menderita dari sebelumnya.
Jungkook :" Hiks... Taehyungie....."
Hampir tengah malam Yoongi sampai di bandara internasional Seoul. Perjalanan selama sepuluh jam sungguh melelahkan untuknya. Butuh waktu 10 menit baginya mengendarai mobilnya itu. Memang tidak ada yang menjemputnya, karena ia sudah berpesan sebelumnya akan langsung pulang ke apartemen dulu. Walaupun sang Omma sudah memintanya untuk tinggal bersama, tapi memang Yoongi yang terlalu mandiri dan tidak ingin menyusahkan orang lain.
Apartemen miliknya memang tidak terlalu luas, namun sangat nyaman. Setelah memastikan ia mengunci pintu, Yoongi berjalan menuju kamarnya sambil menarik kopernya. Badannya terasa kaku dan memang butuh istirahat. Ia berbaring dan mulai membuka ponselnya.
Ia ingat harus menghubungi Jimin lagi, namun setelah beberapa kali mencoba tak satu panggilan pun dijawab. Mungkinkah Jimin sudah tidur? Mengingat sekarang hampir pukul 11 malam. Tapi, biasanya jam 12 pun orang itu masih sibuk bekerja.
Tak ingin berfikiran buruk, ia membuka beberapa pesan masuk yang belum sempat ia baca.
Pesan dari Soobin yang merajuk karena belum sempat berpamitan dengan nya membuatnya tersenyum, hingga satu pesan masuk dari Taehyung mengalihkan atensinya. Tidak biasanya anak itu mengirimkan pesan padanya, apa lagi nomornya tidak di privat.
' Hyung, aku akan menyusul mu. Aku akan pulang ke Korea hari ini juga. Mungkin besok pagi aku akan tiba.'
Tentu saja itu membuat Yoongi langsung terduduk dari tidurnya, bahkan ia masih mencerna setiap kata yang ia baca.
Yoongi :" Kenapa begitu tiba-tiba? Bukankah dia bilang akan pulang 2-3 minggu lagi? Apa Hoseok yang menyuruhnya? Apa perlu aku tanyakan padanya juga?"
Tanpa menunggu lama Yoongi segera menghubungi Hoseok. Ia tidak menyadari bahwa ini sudah hampir tengah malam, dan mungkin saja orang yang ia hubungi sedang tertidur lelap. Tapi sepertinya nasib Yoongi sedikit beruntung, kala dering ke 3 terdengar suara dari sebrang sana.
Hoseok :" Hallo, Hyung... Ada apa? Kau sudah sampai Korea?"
Yoongi :" Seok, kau tahu kalau Taehyung akan pulang pagi ini?"
Hoseok :" WHAT!!!! Kau tidak bercanda kan Hyung! Astaga!!! Anak itu Benar-benar!!! Dia tidak bilang apapun padaku atau yang lainnya Hyung! Memangnya Hyung tahu darimana?"
Yoongi :" Aku baru membuka ponselku, dan dia mengirimiku pesan akan tiba pagi ini, Seok. Kupikir Tae sudah memberi tahu mu hal itu."
Hoseok :" Astaga, Hyung. Kenapa anak itu melakukan hal ceroboh seperti itu. Kau tenang saja, pasti ada yang sedang dipikirkannya saat ini. Sudah malam Hyung, lebih baik Hyung istirahat saja. Hyung pasti capek kan, biar aku saja yang menjemputnya besok."
Yoongi :" Tidak perlu, Seok. Biar aku saja yang menjemputnya. Lagipula besok kau ada jadwal rapat dengan Namjoon ke Busan kan?"
Hoseok :" Apa benar tidak apa-apa, hyung... Benar juga, sekalian aku minta tolong Hyung... Biarkan dia menginap di apartemen mu selama beberapa hari. Maaf Hyung, aku tutup teleponnya... Hanna memanggilku."
Belum sempat Yoongi menjawabnya, Hoseok lebih dulu mematikan ponselnya. Kini Yoongi hanya duduk sambil menatapi ponselnya yang telah mati. Pikirannya kini mulai berputar-putar tentang esok hari.
Yoongi :" Menginap disini.... Tapi....
Disini hanya ada satu kamar, Bagaimana kami akan tidur nanti?"
Pesawat itu mendarat dengan sempurna pagi ini, bahkan kabut titis masih terlihat di setiap sudut kota. Kaki itu mulai melangkah menapaki tangga dan menuju pintu keluar. Ia melihat kembali setiap sudut yang sudah terasa asing baginya. Entah sudah berapa lama ia tidak pernah menginjakkan kakinya lagi setelah kepergiannya dulu.
Hatinya masih terasa perih jika mengingat saat-saat itu, saat dimana semuanya terasa kosong dan hampa. Hingga kini seolah semuanya terasa semu untuknya.
Taehyung :" Semuanya akan berubah mulai saat ini, Tae... Kau harus bisa menghadapinya, atau kau akan terluka untuk kesekian kalinya."
Monolog nya pada diri sendiri. Kaki itu kembali melangkah menuju pintu keluar. Baru beberapa langkah dirinya keluar dari pintu kedatangan, ia mendengar suara seseorang memanggilnya. Ia melihatnya, tubuh mungil dengan kulit pucat nya berjalan mendekatinya.
Taehyung :" Yoongi Hyung? Kenapa kau kemari, Tae bisa naik taksi. Hyung pasti masih lelah dari penerbangan semalam kan, tidak perlu menjemput ku."
Yoongi :" Tidak apa-apa... Lagipula Hosiky menyuruhmu tinggal sementara di apartemen ku, jadi apa salahnya kalau aku menjemputmu. Kau juga belum tahu dimana tempatnya kan."
Taehyung :" Tae bisa tinggal di hotel sementara, Hyung. Kau juga pasti tidak nyaman kalau aku juga tinggal disana."
Yoongi :" Aniyaa... Hyung harus ke rumah untuk sementara, jadi kau bisa tinggal di apartemen hyung."
Sebenarnya Yoongi juga bingung kalau sampai mereka harus tinggal bersama, kebetulan pagi tadi Omma nya menelepon dan ide itu muncul begitu saja. Lagi pula Hoseok juga sudah meminta tolong padanya tadi malam.
Tidak banyak bicara, Taehyung menurut saja dan mengikuti Yoongi. Sebenarnya ia ingin membawa mobil itu, namun ia belum tahu dimana apartemen Yoongi. Jadi ia terpaksa duduk disamping kemudi setelah berdebat tentang hal itu.
Taehyung :" Apa Hoby Hyung tahu Tae pulang hari ini, Hyung?"
Yoongi :" Emm... Hyung memberitahukan nya semalam, dan dia terdengar sangat marah. Lalu, kenapa kau memutuskan pulang? Bukankah kau akan pulang 2 atau 3 Minggu lagi?"
Hening terjadi setelah Yoongi bertanya seperti itu. Taehyung tidak menjawab apapun dan hanya memandang keluar jendela.
Yoongi :" Baiklah kalau kau belum ingin-/ Dia ada disana Hyung." Potong Taehyung dengan mimik muka yang sulit diartikan.
Yoongi paham siapa yang Taehyung maksud, dan dirinya lagi-lagi tidak bisa berbuat apapun. Keinginan Taehyung untuk melupakan sosok itu begitu besar walau itu juga melukai perasaannya sendiri.
Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai. Yoongi menunjukkan dimana letak apartment miliknya. Sebenarnya apartemen milik Yoongi terbilang cukup bagus dan mewah, selain itu letaknya cukup strategis untuk memangkas jarak menuju kantornya dari pada rumah miliknya yang membutuhkan waktu lebih dari satu jam.
Yoongi :" Kau bisa memakai kamar utama. Jangan khawatir... Hyung sudah membersihkannya tadi."
Taehyung :" Apa hanya ada satu kamar Hyung?
Apa itu alasan Hyung pulang ke rumah, kalau benar begitu Tae bisa tidur di sofa."
Yoongi " Ah.. bukan seperti itu,Tae.... Sebenarnya ada dua kamar, tapi sudah Hyung rubah menjadi studio music. Dan tentang Hyung, Omma yang memang ingin Hyung pulang ke rumah. Mereka ingin menghabiskan waktu dengan..."
Taehyung :" Ada apa Hyung?"
Yoongi :" Kenapa pintunya tidak terkunci? Padahal Hyung yakin sudah menguncinya sebelum pergi tadi."
Taehyung yang sedikit curiga langsung melepaskan koper yang ditariknya. Perlahan ia geser tubuh mungil Yoongi kebelakang tubuhnya. Perlahan ia buka pintu itu, namun belum sepenuhnya pintu itu terbuka tubuhnya sudah dipeluk erat oleh seseorang yang berlari dari arah dalam.