
"Saudara Min Yoongi... Apa anda berjanji akan mencintai pasangan anda baik susah maupun senang sampai maut memisahkan kalian?"
Sekali lagi, Yoongi memandang Jimin... Namun pandangannya beralih pada Taehyung yang memandangnya dengan penuh harap...
Perlahan ia menunduk, dan menghembuskan nafas....
" Saya, Min Yoongi.... Berjanji... Akan mencintai dan menjaga Kim Taehyung sebagai suami baik senang maupun susah sampai ajal memisahkan kami berdua."
" Dengan ini kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri dihadapan Tuhan. Silahkan mencium pasangan anda."
Disaksikan puluhan pasang mata, hari itu mereka sudah menjadi pasangan Dimata tuhan dan dunia. Tidak ada ******* ataupun ciuman mesra. Hanya sebuah kecupan di kening, namun itu justru membuat yang lainnya terdiam. Karena ini pertama kalinya seorang Kim Taehyung tersenyum setelah tujuh tahun menghilang. Bahkan Soobin yang selalu bersamanya dulu, tidak pernah sekalipun melihatnya tersenyum.
" Wah, V Hyung tersenyum... Apa kiamat sudah dekat ya, Beb?"
" Hust! Jangan bicara sembarangan."
Tidak hanya mereka, bahkan Yoongi pun sampai tertegun dan tanpa sadar senyum diwajahnya mengembang. Ia berjanji dalam hatinya, bahwa ia akan terus menjaga senyum itu. Senyum cinta pertamanya, senyum seorang adik, dan senyum seorang sahabat. Baginya, senyum itu kini lebih berarti dari cintanya yang ia rasa tak pernah terbalaskan kepada Jimin.
Perlahan langkah kaki mulai mendekati mereka. Itu Jungkook, berjalan dengan ekspresi yang sulit sekali dibaca. Berjalan seorang diri menuju keduanya tanpa ragu, bahkan keberadaan Jimin yang tadi sempat terlihat kini tidak tahu dimana. Yoongi yang seperti paham situasi mencoba melangkah pergi, namun sedetik kemudian pinggangnya ditarik mendekat. Siapa lagi kalau bukan Taehyung.
" Tidak perlu pergi, Hyung... Kau sudah menjadi istriku. Tak ada yang perlu disembunyikan diantara kita."
" Tapi.../ Selamat atas pernikahan kalian, Hyung..."
Suara Jungkook menginterupsi mereka. Dengan senyum tipis dan tatapan lembut itu memang terlihat sebuah ketulusan disana, namun apa yang terasa di hati mungkin penuh dengan beribu luka.
" Terima kasih."
Tanpa basa-basi, Taehyung membuang muka kearah lain selain memandang wajah yang begitu ia hindari itu.
" Aku harap kau bisa bahagia, Hyung. Maaf atas sikapku selama ini, aku harap kau bisa melupakan semuanya dan memulai dari awal lagi."
Jungkook tersenyum getir, lagi-lagi tak ada jawaban, apa mau dikata karena ini memang kesalahannya. Pandangannya ia tujukan pada Yoongi... Namja manis itu sedikit cemas dan kebingungan saat ia tatap dan itu membuatnya tertawa canggung.
" Kau tidak perlu khawatir seperti itu Hyung... Aku.... Aku sudah merelakan Hyungie bersamamu dan aku tak akan pernah muncul lagi dihadapan kalian, aku berjanji. Tolong jaga Hyungie dan buat ia bahagia, Hyung. Aku mohon...."
" Nee... Hyung janji akan membuatnya bahagia. Walaupun mungkin hanya kaulah sumber kebahagiaannya Kook." Sambungnya dalam hati.
" Kalau begitu aku permisi Hyung... Kami harus pergi sekarang........
Selamat tinggal..."
Jungkook berbalik meninggalkan mereka. Bohong kalau dia sudah mengikhlaskan Taehyung, karena kini mata indah itu sudah tampak berkaca-kaca. Langkahnya yang tenang juga sedikit goyah, apalagi setelah mendengar suara yang begitu ia rindukan.
" Kuharap kau bisa melupakan semuanya, dan jaga dirimu baik-baik."
Itu Taehyung, suara yang begitu ia rindukan mengalun lembut di telinganya.
" Aku harap juga begitu, Hyung."
Tanpa menoleh, Jungkook pergi dari sana meninggalkan semuanya. Meninggalkan kenangan yang membuatnya bertahan sejauh ini hanya untuk kembali pada satu orang yang kini bukan miliknya lagi.
Langkah yang tadinya tegap kini perlahan gemetar, tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah juga.
Jimin ada disana, diam tak bergerak. Hanya bisa menyaksikan sang adik yang kini begitu rapuh menangis begitu menyakitkan untuknya. Tak jauh berbeda dengan dirinya yang kini menangis dalam diam diam. Harapan nya untuk bersama dengan Yoongi juga sudah musnah.
Ia masih ingat apa yang dikatakan Hoseok tadi, dan itu membuat mereka memilih jalan ini.
Flashback.
Begitu menginjakkan kaki di kota Daegu, Jungkook mulai mencari dimana lokasi Taehyung dan Yoongi saat ini. Dan tak butuh waktu lama, ia berhasil sampai ditempat itu. Namun, belum juga masuk, dirinya harus berhadapan dengan Hoseok yang sudah menantinya bersama beberapa orang.
Kalau Jungkook mau, bukan hal sulit menyingkirkan mereka semua. Tapi bukan itu yang dia inginkan saat ini. Bagaimana pun Hoseok adalah Hyung Taehyung. Ia harus menahan semuanya demi bisa bersama Taehyung.
" Hyung ... Bisakah aku bicara sebentar dengan Hyungie? Hanya sebentar, Kookie janji!"
" Untuk apa? Kau ingin membatalkan pernikahan ini? Setelah semua yang kau lakukan, kau pikir aku akan mengijinkannya?"
" Hyung... Kookie sudah berubah. Kookie akan melakukan apapun agar Hyung dan Hyungie mau memaafkan Kookie..."
" Apa kau serius mengatakan semua itu?"
" Kookie serius, Hyung!!! Kookie akan melakukan apapun yang Hyung minta, asal Kookie bisa bertemu dengan Hyungie sebentar saja."
" Kalau begitu...
Kau harus pergi dari kehidupan Taehyung sejauh mungkin. Jangan pernah tunjukkan lagi wajahmu padanya. Apa kau bisa melakukannya?"
" Hyung... Itu..."
"Sudah kuduga... Kau tidak bisa kan?"
" Aku..."
" Apa kau tahu kalau Taehyung sakit?"
Jungkook terdiam, begitu juga dengan Jimin yang ada dibelakangnya. Bagaimana mungkin ia tidak tahu hal itu? Apa ini alasan Taehyung menjauhinya?
" Hyung... Kau bercanda kan? Hyungie tidak mungkin sakit. Dia baik-baik saja selama ini."
" Ha ha ha .....
Baik-baik saja katamu?
SEMUANYA KARENA MU! DIA PERGI MENINGGALKAN KAMI DAN MENAHAN SAKITNYA SENDIRIAN. APA KAU MENGERTI PERASAANKU SAAT MENDENGAR HIDUPNYA HANYA TINGGAL BEBERAPA BULAN, HAH! APA YANG AKAN ORANG TUAKU RASAKAN SAAT MENDENGAR KABAR INI!
APA KAU DENGAR ITU, JEON JUNGKOOK!!!"
Baik Jimin maupun Jungkook hanya terdiam. Apa yang mereka dengar seperti sebuah boom yang meledak dihati mereka. Taehyung sakit, dan tidak punya banyak waktu. Jungkook jatuh bersimpuh, air matanya mengalir begitu saja.
" Hyung... Kookie akan terus bersama Taehyungie... Kookie janji apapun keadaannya, Kookie akan selalu bersamanya.. Kookie mohon jangan minta Kookie untuk-"
Belum juga selesai berbicara, Jungkook justru terkejut dengan Hoseok yang tiba-tiba saja berlutut didepannya.
" Hyung... Apa yang kau lakukan! Kau tidak pantas-/Kumohon... Biarkan adikku menikah dengan Yoongi Hyung. Ini keinginan terakhirnya. Dia hanya tidak ingin kau menderita karena dirinya. Bahkan sampai kapanpun, dia mungkin akan terus mencintaimu. Tapi aku mohon... Pergilah... Pergilah dari kehidupan adikku, Kook. Aku ingin dia melanjutkan pengobatannya bersama Yoongi. Jika kau benar-benar ingin Taehyung bahagia.... Kumohon... Kumohon relakan Dia, Kook."
Jungkook tidak tahu harus berbuat apa, Hoseok yang selama ini ia lihat penuh dengan wibawa dan dingin padanya... Kini bersimpuh dan menangis dihadapannya.
" Akan kulakukan, Hyung... Aku akan pergi dari kehidupan mereka setelah ini. Kookie janji."
Flashback end.
Perlahan Jimin mendekati Jungkook, dan membawanya menuju mobil. Luhan sudah tidak banyak bicara lagi, hanya diam membiarkan semuanya. Bagaimana pun, semua sudah berakhir. Walaupun dia tidak mengerti kenapa putra nya menyerah begitu tiba-tiba, tapi baginya itu sudah cukup.
.
.
.
.
.
.
Tak banyak tamu yang datang di acara itu, karena memang hanya kerabat dekat yang mereka undang plus tamu dadakan yang memaksa ikut bergabung. Siapa lagi kalau bukan Kim Mingyu. Bahkan dari tadi ia terus berbicara dengan semua orang. Wonwoo bahkan dibuat malu olehnya.
" Katakan padaku, kau pasti pergi ke dukun kan untuk mendapatkan Wonwoo? Udah ngaku aja, Gyu!"
" Mana ada yang seperti itu! Asal Jin Hyung tahu, Woonu menerimaku karena kagum dengan perjuanganku selain itu aku juga sangat tampan. Iya kan, yang?"
" Aku terpaksa menerimamu karena kau sangat berisik dan selalu menggangguku."
" Yang! Kok kau bicara seperti itu sih!"
Mereka semua tertawa, mungkin hanya Mingyu saja yang cemberut karena sang istri justru tidak membelanya.
Dilain sisi, Hoseok mendekati pasangan Taegi yang kini tengah menyapa beberapa orang.
" Tae... Bisa kita bicara sebentar?"
" Ada apa Hyung? Apa ada masalah?"
" Ikut Hyung saja sebentar."
Tak mau membantah, Taehyung ikut saja kemana sang Hyung membawanya. Mereka keluar rumah menjauh dari keluarga yang tengah sibuk berbincang.
" Ada apa Hyung?"
" Hyung ingin kau dan Yoongi pindah ke Canada setelah ini."
" Canada? Kenapa mendadak sekali? Bagaimana dengan perusahaan Appa disini? Dan apa yang harus kulakukan disana nanti Hyung?"
" Perusahaan Hyung yang ada disana sedikit bermasalah, Hyung ingin kau yang memegang semua kendali disana. Tentang perusahaan Daddy, Soobin bisa menggantikan mu sementara. Kau tidak perlu khawatir dengan semuanya, Hyung akan mengurusnya. Dan satu lagi, ini..."
" Ini amplop apa Hyung?"
" Ini hadiah dari Hyung untuk pernikahan kalian."
Taehyung membuka amplop putih itu, ada dua lembar tiket pesawat dan sebuah kertas. Ia sedikit bingung karena tanggal dan jam yang tertera disana adalah malam ini.
" Ini tiket apa Hyung?"
" Tiket bulan madu kalian ke Jepang. Malam ini kalian bisa berangkat. Hyung sudah menyiapkan semuanya, kalua hanya perlu tiba disana tepat waktu "
" Hyung, bukankah ini terlalu mendadak? Aku bahkan belum bertanya pada Yoongi Hyung apakah dia ingin pergi atau tidak? Bagaimana kalau dia menolak?"
" Dia tidak akan menolak, Omma dan Imo juga sudah memberi ijin."
" Tapi Hyung ...."
" Tinggal pergi saja apa susahnya sih!
Pokoknya kalian harus pergi, jangan lupa harus ada kabar baik nanti."
Hoseok pergi begitu saja meninggalkan Taehyung yang kebingungan. Bagaimana caranya dia berbicara pada Yoongi nanti?
Setelah berbicara dengan Yoongi, mereka akhirnya pergi juga. Walaupun agak canggung mengingat kini status mereka sudah berubah. Walaupun begitu, mereka sudah berjanji akan saling menjaga satu sama lain.
" Tae... Apa kita benar-benar akan pindah ke Canada nanti?"
Sebenarnya Yoongi sempat kaget saat Taehyung mengatakan kalau setelah ini mereka akan tinggal di Canada, bagaimana bisa kebetulan semacam itu terjadi? Ia bahkan tidak bersusah payah meyakinkan Taehyung untuk pindah kesana.
" Iya, Hyung. Maaf karena ini sangat mendadak. Hoby Hyung memintaku mengurus perusahaan disana secepatnya. Ada masalah yang cukup serius katanya. Kau benar-benar tidak keberatan kan Hyung?"
" Tidak, aku tidak keberatan sama sekali. Justru aku sangat senang mendengarnya."
" Kau senang? Ada apa memangnya?"
" Itu... Ah! Sebenarnya aku sudah lama ingin kesana, tapi tidak pernah sempat. Iya seperti itu "
" Kenapa kau tidak pernah bilang kalau ingin kesana?"
" Ha ha ha... Tidak apa-apa. Lagipula sebentar lagi kita akan kesana kan?"
Taehyung hanya mengangguk dan kembali pada acara membaca dokumen yang dibawanya. Yoongi sedikit lega karena Taehyung tidak menaruh curiga sama sekali. Mereka kini tengah berada di bandara, seperti rencana awal tadi... Kini mereka tengah menunggu pesawat menuju Jepang.
" Wah wah wah!!! Coba lihat beb, pengantin baru ini akan pergi berbulan madu ke Jepang."
Suara yang sangat mereka kenali datang dari arah samping. Soobin dan Yeonjun mendekati mereka. Insting Taehyung yang tajam menangkap hal aneh dari situasi itu
" Apa yang kalian lakukan disini? Bukankah kau harus mengurus perusahaan sementara waktu?"
" Hei, V Hyung! Kau pikir hanya dirimu saja yang butuh liburan! Otak cerdas ku juga butuh istirahat! Lagi pula kakak ipar membutuhkan ku disana!"
" Paman Jung yang memanggilmu?"
" Kalau bukan dia siapa lagi kakak iparku!"
" Sudah cukup, Bin. Maaf kalau dia banyak bicara Hyung. Selain itu kami memang harus pulang ke Jepang sebentar Hyung, Omma ingin bertemu dengan Soobin sekaligus meminta ijin pindah kerja ke Korea."
" Tuh, dengar! Calon mertua ku ingin bertemu dengan calon menantunya."
" Lebih baik kau berfikir ulang untuk menikahinya, Jun... Kau akan menyesal jika bersamanya seumur hidupmu."
" YAAK!!! HYUNG!!!"
Mereka terus berdebat sembari menunggu waktu keberangkatan, dan Yoongi hanya bisa tersenyum melihat perdebatan kecil itu. Sedikit demi sedikit, Taehyung lebih banyak bicara walaupun tidak menunjukkan ekspresi sedikitpun. Wajahnya tetap datar dan dingin.
Tak jauh dari sana, berdiri sosok yang terus menatap kearah mereka. Hodi hitam hampir menutupi seluruh wajah yang tertutup masker itu. Mata sayu nan berembun itu, terus memandang pedih dengan air mata yang mulai mengalir.
" Kook..."
" Sebentar, Hyung... hanya sebentar. Kookie hanya ingin memastikan mereka akan bahagia. Hyung tidak perlu khawatir, janji Kookie waktu itu tidak akan ter-ingkari. Kookie hanya ingin melihat nya sedikit lebih lama Hyung."
Jimin hanya bisa terdiam. Hatinya juga masih belum bisa menerima semuanya. Namun apa mau dikata, takdir berkata lain. Sosok yang begitu diinginkannya, telah bersama yang lain. Dan itu bukanlah dirinya.