
"APPA! HYUNGIE!"
Teriakan anak kecil lainnya mengalihkan perhatian mereka. Itu Jihoon bersama sang kakak ipar, istri dari Jung Hoseok. Jihoon langsung memeluk sang Appa, meminta agar dirinya di gendong.
" Aigooo... Apa kau menunggu lama? Maaf, nee... Appa harus ke sekolah Hyungie dulu, biasa... Hyung mu ini mau jadi pahlawan kesiangan."
Tatapan itu beralih kepada sang Hyung yang memandangnya murung. Padahal ia sudah merentangkan tangannya, tapi sang adik justru lebih memilih sang ayah.
" Hyungie berantem lagi?"
" Anii!! Hyung tidak berantem kok."
" Tapi wajah Hyungie ada lebamnya itu."
" Dengar ya Jihoon_aa.... Ini bukan karena berkelahi, tapi Hyungie baru saja membela teman Hyungie yang teraniaya."
" Memang itu tidak sama ya, Hyung?"
" Tentu saja tidak!"
Taehyung hanya tersenyum melihat perdebatan kedua putranya. Dirinya tidak pernah terasa sepi sejak keduanya hadir dalam kehidupannya. Bagaimana bisa sepi kalau mereka setiap hari selalu berisik dan kadang membuatnya pusing sendiri. Namun itulah keistimewaan keduanya.
" Maaf, aku jadi harus merepotkan Noona lagi."
" Hei... Kita keluarga, tidak ada yang direpotkan jika itu mengenai anak-anak. Tapi kalau Yoongi tahu, kau bisa habis Tae..."
" Aku akan meminta maaf nanti padanya."
" Oh iya, jangan lupa... Nanti malam Appa sudah menyiapkan pesta kecil untuk Hyungjay, yang lain juga diundang. Jangan sampai terlambat Ok. Aku pergi dulu, jam pulang Beomgyu juga masih lama."
" Hati-hati dijalan Noona..."
Hana pergi meninggalkan mereka menggunakan mobil ya. Dan keluarga kecil itu masuk ke mobil mereka. Di kursi belakang, keduanya sibuk bercerita satu sama lain mengabaikan Taehyung yang duduk di kursi kemudi. Hingga keduanya terdiam saat mobil mereka berhenti namun yang mereka lihat bukanlah tempat tujuan mereka.
" Appa, kenapa kita berhenti disini?"
" Appa harus membeli bunga untuk membujuk Omma kalian agar tidak marah lagi."
" Ah benar, Omma suka white Lily. Beli itu saja, Omma pasti akan sangat menyukainya."
Setelah membeli bunga, mobil itu kembali melaju membelah jalanan ibukota yang mulai padat. Padahal kini sedang musim dingin, namun entah kenapa udara disekitar mereka terasa hangat sehangat musim panas.
...~Light Of Blue 2~...
Mobil mewah itu memasuki pekarangan yang luas. Banyak tanaman dan berbagai bunga menghiasi hampir seluruh sudut. Barisan maid berbaris rapi menyambut kedatangan mereka. Namun ada satu orang yang berdiri dengan tangan di pinggang melihat mereka dari kejauhan.
Para maid membungkuk hormat saat sang majikan keluar dari dalam mobil bersama majikan kecil mereka. Namja tadi hanya geleng-geleng kepala melihat putranya seperti tidak melihatnya dan terus berjalan.
" Hei, boy!!! Daddy ada disini, kau tidak lihat?"
" Oh! Hello Daddy... Tumben Daddy sudah pulang, biasanya kan pulang malam."
" Astaga... Anak ini mirip siapa sih? Kenapa tidak ada baik-baik nya sama sekali."
" Sudahlah Hyung... Kau baru pulang dari perusahaan kan, kau pasti juga capek. Istirahat saja dulu, biar aku yang urus sisanya."
" Kau lihat itu! Bibi mu saja bisa lulus kuliah diusia 16 tahun Daddy juga bisa mengejarnya! Tapi kau bahkan tidak mau belajar, dan hanya ingin bermain."
" Kan Daddy sama Mommy udah pintar, jadi Ochi nggak usah belajar aja. Ochi jadi bodoh juga nggak papa. Kan nanti bisa belajar sama Mommy."
Hoshi pergi meninggalkan Jungkook yang geleng-geleng kepala dan Jimin yang frustasi akan melakukan sang putra.
" Kau jangan terlalu memaksanya Hyung... Hoshi sebenarnya anak yang pintar... Tapi sepertinya dia tidak ingin memamerkan ya. Aku bahkan pernah mengetesnya sebelumnya, dan dia bisa mengerjakan tugas untuk anak sekolah dasar pertengahan."
Jimin yang mendengar itu menatap Jungkook tidak percaya. Apa ia salah selama ini berfikir bahwa putranya itu malas? Nyatanya justru sebaliknya.
" Beneran, Kook?"
" Iya Hyung.... Aku juga sudah mendaftarkan Hoshi ke salah satu TK terbaik disini dan sepertinya dia sudah dapat teman baru tadi, anaknya sangat manis."
" manis? Perempuan? Anak itu sudah berani menggoda anak kecil sekarang?"
" Kalau kau melihat nya kau juga akan menyukainya, Hyung. Dia benar-benar sangat manis."
" Aku bukan pedofil yang akan tertarik dengan anak dibawah umur kok. Dan ingat, aku tidak pernah berfikir untuk menikah lagi. Seharusnya dirimu yang harus memikirkannya. Kau lupa, Sehun sudah berulang kali melamar mu tapi kau selalu menolaknya."
" Kau juga tahu diriku Hyung.... Aku tidak pernah punya keinginan itu lagi. Bagiku kalian berdua sudah cukup. Setelah kepergian Omma, kalian adalah keluarga ku satu-satunya.
Ah iya... Tentang teman baru Hoshi tadi...
Dia bukan perempuan Hyung... Dia anak laki-laki... Dan....saat tersenyum...
kurasa dia sangat mirip dengan Yoongi Hyung."
Jungkook pergi meninggalkan Jimin yang terdiam bak patung setelah mendengar nama itu. Tidak dapat dipungkiri, sosok itu masih menghuni relung hati terdalamnya.
" Yoongi Hyung ya... Sudah lama aku tidak melihatnya. Kurasa dia sudah bahagia bersama Taehyung. Hah... Kenapa kau harus mengungkit mereka lagi Kook.... Akui saja, hatimu juga masih menyimpan potret dirinya bukan?"
Selama tuju tahun ini, Jungkook dan Jimin berbusana bangkit dari sakit hatinya. Dua tahun setelah kepindahan mereka ke inggris, Omma Luhan menjodohkan Jimin dengan salah satu putri kolega mereka yang seorang artis. Namun apa mau dikata jika pernikahan itu tidak berjalan lancar dan hanya berumur satu setengah tahun.
Begitu pula dengan Jungkook, disana tidak hanya satu dua orang yang berusaha menjadikannya pendamping. Namun ia selalu menolak, hanya satu orang yang masih terus mengejarnya setelah penolakan berulangkali itu. Oh Sehun, salah satu pengusaha muda yang cukup berpengaruh disana namun itu juga tidak pernah bisa meluluhkan hatinya sampai saat ini bahkan saat kini sang Omma juga sudah tidak bersamanya. Baginya, Jimin dan Hoshi sudah cukup untuk menjadi keluarganya. Ia tidak membutuhkan yang lainnya.
Langkah kaki itu menyusuri jalan setapak setelah turun dari mobilnya. Sebelah tangannya menggandeng si kecil yang sibuk bercerita tentang kesehariannya tadi di sekolah dan tentang pertemuannya dengan teman barunya. Taehyung tidak pernah bosan mendengarnya, karena itu adalah sumber kebahagiaannya. Sebelah tangannya lagi membawa sebuket bunga Lily putih untuk sang istri. Sedangkan putra sulungnya sudah lebih dulu melangkah masuk.
Halaman luas dan pepohonan rindang menghiasi bangunan yang cukup besar itu. Bahkan dari luar, Taehyung bisa mendengar suara sang putra yang sibuk berbicara dengan sang istri.
" Omma!! Hari ini Hyungjay ulang tahun, dan Omma tahu... Kemarin Hyungjay dapat nilai sempurna saat ulangan. Haraboji sangat senang, tapi Appa semakin sibuk dan tidak ada waktu lagi untuk kami. Omma marahin Appa ya?"
" Hei, kau mengadukan Appa lagi? Kau sendiri tadi bertengkar dengan temanmu, tidak bilang ke Omma juga?"
Hyungjay hanya nyengir dan keluar dari sana bersama sang adik. Tak lupa melambaikan tangan kepada sang ibu. Taehyung kembali menggelengkan kepalanya, anaknya itu sangat nakal tapi baik dan hangat disaat yang bersamaan. Pandangannya beralih kepada potret sang istri yang tersenyum manis. Diletakkannya buket itu dan menyentuh kaca didepannya
" Hai Hyung... Aku datang lagi..."
" Hyungjay sudah cukup besar sekarang. Hari ini ulang tahunnya yang ke tujuh, tapi ia justru membuat masalah disekolah. Tapi kau tidak perlu khawatir, dia anak yang hebat seperti mu. Jihoon juga tidak kalah menggemaskan seperti dirimu dulu. Kau tidak akan memarahiku karena itu kan, Hyung?"
Walaupun tak ada balasan dari setiap ucapan dan pertanyaannya, tapi Taehyung merasa tenang setiap kali datang kesini. Tempat ini seolah-olah menjadi tempat ternyaman nya setelah semua masalah yang ia hadapi. Apapun masalah nya, ia selalu datang kesini dan mengatakannya padanya. Sosok istri yang sudah lebih dulu pergi meninggalkan nya setelah melahirkan putra kedua mereka.
Ya... Yoongi meninggal setelah melahirkan Jihoon. Dalam diam, Yoongi menyembunyikan penyakitnya yang mungkin akan merenggut keduanya. Ia kekeh mempertahankan kandungannya setelah tahu ada kangker ganas bersarang dalam rahimnya. Ia bahkan tidak memberitahukan hal itu pada Taehyung, hingga saat Jihoon lahir semuanya menjadi semakin berat untuk mereka.
Kepergian Yoongi, tidak ayal membuat Taehyung menyalahkan dirinya sendiri karena tidak menyadari semuanya dari awal. Ia merasa bersalah dan kadang menghukum dirinya sendiri, namun semangat dan bantuan dari keluarga nya membuat ia bisa bertahan dari keterpurukan. Apalagi mengingat putra nya yang masih kecil sangat membutuhkan dirinya.
Kadang ia bingung harus menjawab apa saat Hyungjay bertanya tentang Yoongi. Putra sulungnya baru berusia tiga tahun saat itu, dan ia hanya bisa menjawab seadanya. " Apa Hyungjay tahu... Omma saat ini juga bersama kita. Omma melihat kita dari atas sana. Omma tidak pernah pergi, hanya saja Tuhan lebih menyayangi Omma. Tapi Hyungjay tidak perlu khawatir, selama Hyungjay ingat Omma... Omma akan selalu ada disini.... Dihati Hyungjay." Tunjuk nya pada dada sang putra.
" Aku dan anak-anak pulang dulu Hyung... Kami akan sering mengunjungimu."
Ia sentuh lagi kaca yang berfoto kan Yoongi didalamnya, kemudian pergi menghampiri kedua malaikat kecilnya yang tengah menunggunya. Menggendong si bungsu yang sudah mengangkat tangan tinggi-tinggi saat melihat kedatanganya. Melangkah pergi meninggalkan bangunan yang berisikan abu orang-orang yang sudah pergi meninggalkan dunia ini.