
Barisan jas dan kemeja mewah terpampang rapi didepan. Baik Taehyung dan Yoongi sama-sama terdiam melihat betapa antusiasnya kedua orang tua mereka memilihkan baju untuk mereka.
Bisa mereka lihat wajah bahagia Omma Kim yang tengah berdiskusi dengan Omma Min tentang warna baju yang akan mereka kenakan. Walaupun wajah pucat Omma Kim masih sedikit terlihat tapi ia sangat senang akhirnya putra kecilnya akan segera menikah.
Yoongi sendiri justru lebih memilih menatap Taehyung yang terlihat diam tanpa ada sedikitpun suara. Ia hanya takut Taehyung sengaja menahan rasa sakitnya didepan orang tua mereka. Apa lagi tangan itu masih terlihat sedikit gemetaran.
Yoongi :" Tae..."
Yoongi memberanikan diri menggenggam tangan itu, dan benar saja... Tangan itu berkeringat dan sangat dingin. Baru saja Yoongi ingin membuka mulutnya, Taehyung sudah menjawab pertanyaan yang ada dibenaknya.
Taehyung :" Aku tidak apa-apa, Hyung... Hanya sedikit pusing."
Yoongi :" Kau yakin? Apa kita pulang lebih dulu saja, lagipula Mereka sudah mengambil ukurannya. Hanya desain dan warna nya saja yang masih dicari."
Taehyung :" Tidak masalah, Hyung. Aku tidak ingin mereka khawatir."
Yoongi :" Tapi Tae... Tanganmu sangat dingin... Bagaimana kalau nanti-"
Taehyung :" Bolehkah aku bersandar padamu sebentar, Hyung... Aku ingin tidur sebentar saja."
Yoongi hanya mengangguk kan kepalanya, membiarkan pundaknya menjadi sandaran Taehyung untuk sementara. Yoongi kembali teringat saat dulu mereka sering bermain bersama Seokjin dan Hoseok. Taehyung yang memang paling muda selalu bermanja-manja padanya dan ia sangat menyukainya. Bahkan jika Taehyung tertidur saat mereka bermain, hanya Yoongi yang setia menjaganya. Karena menurutnya, Taehyung sangat lucu apa lagi saat tidur. Benar-benar mirip bayi beruang.
Sedangkan para Omma yang melihat adegan itu hanya bisa berteriak tanpa suara. Sepertinya keputusan mereka menjodohkan kedua putra mereka tidak salah. Lihat saja betapa mesranya mereka saat ini. Lain yang di dalam, lain pula yang berada di luar butik. Air mata itu kembali menetes saat melihat bagaimana Taehyung begitu dekat dengan Yoongi. Jungkook yang sejak tadi mengikuti mobil Yoongi hanya bisa melihat semuanya dari luar dengan hati yang terluka.
Begitu pula dengan Jimin, ia hanya tersenyum kecut melihat bagaimana Yoongi begitu memperhatikan Taehyung. Bahkan dengan sukarela memberikan pundaknya sebagai sandaran untuknya.
Jimin :" Ternyata hatimu bukan untukku Hyung..."
Entah apa yang dipikirkan Jungkook saat ini. Tiba-tiba saja ia berlalu pergi menuju mobilnya. Jimin yang melihatnya pun langsung mengejarnya. Beruntung ia bisa masuk sebelum mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Bagaimana pun Jungkook adalah prioritas nya saat ini. Ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Cukup lama Yoongi dan Taehyung berada di butik tadi. Dan kini saat mereka baru saja sampai di apartemen Yoongi, wajah marah Seokjin sudah menyambut mereka di depan pintu. Taehyung bahkan sampai menelan ludah melihatnya. Mungkin dalan pandangan Taehyung, sudah terlihat dua tanduk panjang di kepala Seokjin dan kobaran api mengelilinginya.
Taehyung :" Hyung... Apa kau mengundang Jin Hyung kemari?"
Yoongi :" Aku bahkan terkejut melihatnya disini saat ini..."
Ingin rasanya Taehyung kembali ke Istanbul saat ini juga. Karena bagaimanapun, diantara ketiga hyung nya itu... Hanya Seokjin yang paling menakutkan menurutnya.
Taehyung :" Ha.. hai Hyung... Lama tidak bertemu..."
Seokjin :" TAEHYUNG!!!!"
Dengan cepat Seokjin mengapit kepala Taehyung begitu mereka bertemu. Entah sudah berapa pukulan manis Taehyung terima di badannya dari Seokjin. Yoongi yang melihat itu ingin menghentikan itu semua. Bagaimana pun, Taehyung masih sakit. Apa lagi pukulan Seokjin tidak main-main.
Namun pergerakannya terhenti saat melihat isyarat dari Taehyung. Sepertinya Taehyung tidak ingin ia menghentikan perbuatan Seokjin padanya. Yoongi justru melihat Taehyung tersenyum walau itu sangat tipis. Mungkin Taehyung merindukan suasana seperti ini.
Seokjin :" Kemana saja kau selama ini hah!!! Berani sekali kau pergi tanpa pamit dan kembali hanya untuk menikahi Yoongi!!! Kau pikir bisa semudah itu beruang kutub!!"
Taehyung :" Iya Hyung...iya... Aku juga merindukanmu."
Yoongi yang mendengar jawaban Taehyung justru tidak bisa menahan tawanya, sementara Seokjin terdiam dengan mulut menganga. Beruang kecilnya tidak berubah sedikitpun, masih aneh seperti dulu.
Seokjin :" Sepertinya 7 tahun ini kau tidak pernah belajar, hanya tubuh mu saja yang berkembang."
Yoongi :" Sudah cukup Hyung.... Ayo masuk dulu. Tetanggaku akan komplain nanti kalau kau marah-marah disini."
Begitu pintu dibuka, dengan cepat Seokjin menarik belakang kerah kemeja Taehyung. Benar-benar seperti mengambil anak kucing dari dalam kardus. Anehnya, Taehyung justru membiarkan saja dirinya diperlakukan seperti itu.
Yoongi kembali geleng-geleng kepala melihat bagaimana Seokjin memperlakukan Taehyung seperti itu. Bahkan dulu Seokjin pernah menculik Taehyung yang masih berusia 5tahun karena menurutnya Taehyung adalah adiknya karena sama-sama bermarga Kim.
Seokjin :" Jadi kalian benar-benar akan menikah?"
Taehyung :" Begitu undangan nya jadi, Hyung orang pertama yang akan menerimanya."
Seokjin :" Aku tidak bertanya soal undangan!!! Kalian benar-benar akan menikah!!!"
Taehyung :" Emm... Kami akan menikah."
Seokjin :" Kalian yakin akan melakukannya? Maksudku, dengan perasaan kalian yang-/Maaf Hyung aku ke kamar dulu."
Bahkan ucapan Seokjin belum selesai sepenuhnya, Taehyung sudah berdiri dan berniat masuk ke kamar. Yoongi tahu, Taehyung tengah menghindari pertanyaan-pertanyaan seperti ini, jadi ia hanya membiarkannya pergi.
Yoongi :" Jangan lupa minum obatmu."
Ungkapan sederhana, namun justru menjadi pertanyaan besar bagi Seokjin. Dan sialnya, Yoongi lupa akan hal itu.
Seokjin :" Obat? Obat apa? Kau sakit Tae? Kenapa tidak bilang padaku?"
Taehyung yang melihat Yoongi kebingungan mencari alasan, dengan santai nya menjawab seadanya.
" Obat flu, Hyung. Tae cuma sedikit pusing saja. Mungkin karena masih beradaptasi dengan cuaca disini."
Seokjin :" Oh... Mau Hyung buatkan bubur? Tidak baik minum obat dengan perut kosong."
Taehyung :" Tidak perlu Hyung... Tadi kami sudah makan sebelum pulang kemari. Maaf, tidak bisa menemanimu disini."
Seokjin :" Tidak masalah, Hyung bisa menculik calon istrimu sebagai gantinya."
Yoongi :" Tapi Hyung... Ada yang harus ku bicarakan dengan Taehyung."
Seokjin :" Tidak ada tapi-tapian, pokoknya kau ikut denganku."
Taehyung :" Kalau begitu aku masuk dulu Hyung..."
Taehyung berlalu masuk ke kamarnya. Merasa sudah tidak ada suara dari dalam kamar, Seokjin langsung menarik Yoongi keluar. Yoongi yang ditarik pun pasrah, mau bagaimana pun Seokjin lebih kuat darinya. Melawan pun percuma.
Seokjin benar-benar membuktikan ucapannya. Ia membawa Yoongi pergi ke sebuah kafe yang tidak jauh dari apartemen itu. Ia masih penasaran dan tidak percaya bahwa sahabat nya ini benar-benar akan menikah dengan Taehyung. Bukannya Seokjin tidak setuju, tapi dia tahu bagaimana perasaan mereka masing-masing.
Seokjin :" Yoon, Lo yakin akan menikah dengan Taehyung? Apalagi dalam waktu yang tidak lama lagi, kau serius? Maksudku-"
Yoongi :" Hyung... Kau sudah menanyakan itu berulang kali, dan jawaban ku masih sama Hyung. Aku dan Taehyung tetap akan menikah."
Seokjin :" Maksudku kau tahu kan bagaimana Jungkook... Dia bisa menggila karena hal ini, Yoon. Apa kau lupa kejadian dulu? Kau lihat sendiri kan bagaimana Jungkook saat Taehyung pergi 7 tahun yang lalu? Dia hampir gila, Yoon... Bagaimana kalau nanti dia nekat... atau yang lebih parahnya, melukaimu... Apa kau tidak memikirkannya?"
Bagaimana mungkin Yoongi tidak memikirkannya, ia bahkan melihat sendiri betapa frustasi nya Jungkook mencari keberadaan Taehyung. Bahkan sampai beberapa kali masuk rumah sakit karena stres berat. Tapi ini yang diinginkan Taehyung. Dan Yoongi tidak ingin Taehyung menderita lebih lama lagi. Apalagi Taehyung masih kekeh tidak ingin melanjutkan pengobatannya. Apapun akan Yoongi lakukan untuk menjauhkan Taehyung dari semua yang membebani pikirannya, walaupun itu mungkin akan menyakitinya juga.
Yoongi :" Aku tahu Hyung... Tapi, ada sesuatu yang membuatku tidak bisa meninggalkan Taehyung seorang diri Hyung... Dan aku tidak bisa memberitahukan nya padamu."
Kerutan di dahi Seokjin mulai terlihat. Ia memperhatikan baik-baik sahabat di depannya ini dari ujung rambut sampai ujung kaki, kanan ke kiri, depan dan belakang. Tentu saja Yoongi yang dilihat seperti itu sedikit tidak nyaman.
Yoongi :" Kenapa kau melihat ku seperti itu Hyung? Ada yang aneh?"
Seokjin :" Yoon.... Kau tidak sedang hamil anak Taehyung kan?"
Yoongi yang baru saja menyeruput americano ditangannya itu pun langsung tersedak, bahkan sebagian kopi yang rasanya pahit itu mengenai wajah Seokjin lantaran wajahnya yang terlalu dekat.
Seokjin :" ASTAGA YOON!!! KENAPA KAU SEMBURKAN KOPI MU PADAKU!!! MENDING UANG, INI KOPI YOON!!! MANA PANAS LAGI!!!"
Yoongi :" UHUK UHUK!!! Maaf Hyung... Habisnya ucapan mu ngelantur kemana-mana. Bagaimana mungkin pikiran seperti itu bisa ada di kepala mu. Kau kira kami ini tidak punya etika."
Seokjin :" Tentu saja kalian manusia. Siapa tahu aja kan kalian kebablasan, kalian kan tinggal dalam satu apartemen, belum lagi saat kau di Istanbul... Kan banyak kesempatan kalian tidur bersama."
Yoongi :" Astaga Hyung... Disana kami tinggal di mansion, dan kami tidak sendirian. Disana ada Soobin dan maid juga. Kalau disini, kami juga tidak tinggal satu atap Hyung. Sementara waktu aku pulang kerumah Omma. Aku kesini juga kalau ada yang tertinggal atau sekedar mengirimkan makanan untuk Taehyung saja."
Seokjin tak lantas percaya begitu saja. Bagaimana pun Taehyung itu laki-laki yang pasti punya nafsu, tidak mungkin kan membiarkan mahluk mungil didepannya ini begitu saja.
Seokjin :" Beneran kau tidak hamil?"
Yoongi :" Beneran Hyung..."
Seokjin :" Lalu apa alasan mu yang sebenarnya? Kau benar-benar tidak ingin memberitahukan ku, Yoon?"
Kecurigaan itu semakin terlihat saat bagaimana sikap Yoongi yang begitu memperhatikan Taehyung, walaupun sebelumnya juga seperti itu tapi sekarang jauh lebih terlihat.
Seokjin :" Katakan dengan jujur,
apa Taehyung sakit parah?"
DEG!!!
Leher Yoongi bagai tercekik saat itu. Bagaimana mungkin Seokjin bisa tahu hal itu. Apa yang harus ia katakan sekarang? Taehyung sudah memohon untuk merahasiakan penyakitnya kepada siapapun. Tapi kalau terus didesak seperti ini, bagaimana Yoongi bisa terus menyimpan nya.
Yoongi :" Ka... Kau bicara...apa sih, Hyung. Taehyung baik-baik saja.. kok."
Seokjin melihat nya. Wajah Yoongi yang biasanya tenang, kini terlihat terkejut dan penuh rasa takut. Ia jadi yakin bahwa Taehyung benar-benar sedang sakit, dan itu pastilah cukup serius.
Seokjin :" Jangan berbohong padaku, Yoon. Wajahmu sudah membuktikan semuanya. Kau ingin menutupi hal ini juga dariku?"
Yoongi :" Wajahku memang selalu seperti ini kok Hyung."
Seokjin :" Jangan berkelit lagi, Yoon. Katakan yang sebenarnya, ada apa dengan Taehyung? Atau aku akan tanya sendiri ke Hoseok!"
Yoongi :" JANGAN HYUNG!!!
Tapi bisakah Hyung tidak mengatakan ini pada siapapun, termasuk Taehyung sendiri? Aku tidak ingin dia bertambah khawatir."
Seokjin :" Baiklah, katakan sekarang."
Yoongi :" Sebenarnya..."
Mobil itu melaju kencang menuju kediaman keluarga Jeon. Jungkook menulikan pendengarannya dan tidak perduli dengan kata-kata Jimin disamping nya.
Begitu sampai, ia bergegas turun dan memasuki rumah besar itu. Ia benar-benar mengabaikan semuanya dan berlari menuju kamarnya. Sontak beberapa maid dan pekerja yang melihat itu menjadi bertanya-tanya, ada apa dengan tuannya itu.
Jimin :" Kook!!! Jungkook!!! Dengarkan Hyung dulu!!!"
Omma Luhan :" Jim... Apa yang terjadi dengan Jungkook? Kenapa dia bisa seperti itu?"
Jimin :" Jimin jelaskan nanti saja Omma, yang terpenting sekarang kita harus menghentikan Jungkook. Jimin takut Jungkook akan mengamuk dan berbuat nekat seperti dulu."
Mereka bergegas menuju kamar Jungkook, namun pintu itu sudah tertutup rapat. Luhan dan Jimin semakin khawatir apa lagi terdengar suara gaduh dari dalam sana. Jimin yang sudah belajar dari pengalaman sebelumnya langsung pergi mengambil kunci cadangan yang diam-diam dia buat untuk situasi seperti ini.
Dan benar saja, begitu pintu itu terbuka kamar itu sudah hancur berantakan. Luhan begitu terkejut dengan sikap putranya yang hilang akal seperti itu.
Omma Luhan :" Jim, ada apa sebenarnya? Kenapa Jungkook jadi seperti ini?"
Jimin tidak menjawab, dan langsung menghampiri Jungkook yang terduduk di lantai balkon. Jungkook benar-benar sedih, dan kalut. Jimin masih bisa melihat air mata adiknya itu terus mengalir dari mata bulatnya.
Ia benar-benar tidak menyangka akan melihat keadaan adiknya yang seperti ini untuk kedua kalinya.
Jimin :" Kook... Hyung mohon jangan seperti ini. Kau membuat semuanya sedih. Lihat Omma, Kook... Omma sangat sedih melihat mu seperti ini lagi."
Jungkook :" Kenapa ini terjadi padaku, Hyung... Hyung tahu kan, Kookie sangat mencintainya... Kenapa Hyungie tidak mau memaafkan ku lagi, kenapa dia juga membuang ku? Kenapa harus Yoongi Hyung... Kenapa harus dia... Kenapa harus dia!!! Kenapa harus Yoongi Hyung yang Hyungie pilih!!! Kenapa bukan Kookie!!!"
Jimin hanya bisa memeluk adiknya itu, hatinya juga merasa hancur saat mengetahui tunangan Taehyung adalah Yoongi. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena ini juga salahnya tidak mengungkapkan semua perasaannya selama ini pada namja manis itu. Yang bisa ia lakukan sekarang hanya menerima kenyataan dan membantu adiknya melewati ini semua.
Jungkook :" Hyung... Kau mencintai Yoongi Hyung kan? Kumohon menikahlah dengannya, dengan begitu Kookie bisa bersama Hyungie... Kumohon Hyung!!! Kookie tidak mau kehilangan Taehyungie lagi!!!"
Jimin :" Kook!!! Hyung mohon kendalikan dirimu!!! Apa kau benar-benar sudah kehilangan akal!!! Mereka sudah memutuskan semuanya! Kau pikir semudah itu melakukannya!!!"
Jungkook :" Aku tidak perduli, pokoknya Taehyungie harus bersamaku!!! Apa pun akan aku lakukan, kalaupun perlu kekerasan pun akan-"
PLAK!!!!
Jungkook terdiam, Omma Luhan yang melihatnya pun hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan. Selama hidupnya, ia tidak pernah melihat Jimin marah sampai seperti ini. Senakal apapun Jungkook, Jimin hanya akan menasehatinya dan selalu menyayanginya.
Jungkook :" Hyung...."
Jimin :" APA KAU BENAR-BENAR SUDAH TIDAK WARAS!!! KAU INGIN MENGGUNAKAN APA! KEKERASAN!!! YANG ADA JUSTRU TAEHYUNG AKAN SEMAKIN MEMBENCIMU!!!"
Jungkook tertunduk dengan air mata yang kembali mengalir. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi agar Taehyung memaafkannya dan kembali padanya.
Jimin kembali memeluk dongsaeng kesayangannya itu. Bagaimana pun Jungkook sedang sangat terluka saat ini.
Jimin :" Maafkan Hyung karena menamparmu tadi, Kook. Hyung hanya tidak ingin kau salah jalan dan justru membuatmu semakin terluka nantinya."
Jungkook :" Hyung... Kookie ingin Hyungie, Hyung... Kookie mencintainya Hyung..."
Jimin :" Hyung akan coba bicara dengan Taehyung dan Yoongi Hyung nanti, Kook. Hyung mohon bersabarlah."
Mata bulat itu terpejam setelah lelah menangis cukup lama. Jimin terpaksa memberikan obat penenang agar Jungkook tidur dan tidak mengamuk lagi. Dilihatnya wajah adiknya yang sembab karena terlalu lama menangis dan betapa kacaunya kamar itu. Benar-benar sama seperti 7tahun yang lalu.
Luhan :" Jim... Ada apa sebenarnya? Kenapa Jungkook bisa mengamuk seperti ini lagi?"
Jimin :" Taehyung sudah kembali Omma..."
Luhan :" Benarkah? Bukankah itu bagus, mereka bisa segera menikah kan?"
Jimin :" Taehyung memang akan menikah, Omma... Tapi bukan dengan Jungkook... Taehyung akan menikah dengan Yoongi Hyung."
Luhan :" Apa maksud mu? Yoongi? Bukankah dia orang yang kau cintai itu? Bagaimana bisa?"
Jimin :" Jimin tidak tahu, Omma. Keluarga mereka sudah merencanakan itu semua. Mereka bahkan sudah bertunangan."
Luhan :" Biar Omma yang menyelesaikan itu semua. Bisa kau antar Omma ke rumah Taehyung?"
Jimin :" Tapi Omma..."
Luhan :" Kau tidak perlu khawatir, Jim... Akan Omma pastikan kalian berdua akan bahagia."
Dengan ditemani Jimin dan beberapa bodyguard, Luhan nekat pergi kerumah Taehyung. Tentu saja ia tidak mendapati keberadaan Taehyung disana, karena saat ini baik Taehyung maupun Yoongi tengah berada di apartemen.
Kedatangan Luhan yang tiba-tiba tentu saja mengagetkan Baekhyun dan Chanyeol yang berada dirumah itu. Bahkan Hoseok yang baru kembali dari perjalanan bisnis juga menjadi saksi bagaimana Omma hampir koleps karena hal itu.
Luhan :" Coba pikirkan kembali, Jungkook sangat mencintai Taehyung begitu pun sebaliknya. Bagaimana mungkin anda tega menikahkannya dengan orang lain yang jelas-jelas tidak bisa mencintai Taehyung."
Baekhyun :" Tahu apa anda tentang putra kami! Apa anda melihat bagaimana perlakuan putra anda padanya! Apa anda tahu bagaimana menderitanya Taehyung gara-gara dia!!! Yoongi bahkan 1000x lebih baik darinya!!!"
Hoseok :" Omma, hoby mohon tenanglah. Ingat kesehatan Omma."
Baekhyun :" Bagaimana mungkin Omma bisa tenang!!! Mereka dengan mudahnya mempermainkan perasaan adikmu hanya karena mereka terpandang!!! Sedangkan Taehyung kita harus menderita bahkan hampir mati karena ulahnya!!!"
Luhan terkejut dengan fakta yang baru didengarnya. Apa mungkin separah itu hubungan mereka? Ia hanya tahu Taehyung pergi 7 tahun yang lalu karena tidak percaya dengan perasaan Jungkook. Tapi kenapa jadi seperti ini yang ia dengar.
Jimin :" Maaf Imo, tapi ada alasan kenapa dulu Jungkook melakukannya. Dia hanya tidak ingin hal yang sama terulang lagi padanya."
Hoseok :" Maaf Jim. Tapi apapun alasannya, Jungkook tidak berhak melakukan hal itu pada Taehyung. Kalaupun dia benar-benar mencintai adikku, seharusnya dia jujur dari awal agar Taehyung bisa mengerti. Tapi apa? Jungkook justru membuatnya seperti sebuah boneka mainan yang bisa ia mainkan sesukanya."
Jimin :" Bukan seperti itu yang-"
Chanyeol :" Sudah cukup. Lebih baik anda pulang. Bukan saya tidak menghormati anda, tapi keputusan kami sudah final untuk menikahkan Yoongi dan Taehyung. Saya harap anda tidak ikut campur dalam urusan keluarga kami lagi."
Jimin :" Tapi, Samchon-"
Luhan :" Sudahlah Jim, kita kembali saja. Saya harap anda mengambil keputusan yang tepat."
Baru Lima langkah kaki itu melangkah pergi, tubuh tegap Taehyung sudah ada dihadapan mereka dengan wajah datar dan tatapan dinginnya. Luhan sadar wajah itu yang ada di setiap sudut kamar putranya, namun yang ia lihat kini penuh dengan luka dan kekosongan. Begitu juga Jimin yang terkejut melihat Yoongi datang bersamanya.
Jimin :" Taehyung... Yoongi Hyung..."
Taehyung :" Anda tidak perlu memohon apapun nyonya, karena saya akan tetap menikah dengan Yoongi Hyung.... Apapun yang terjadi."