Light Of Blue(Taekook/Taegi)

Light Of Blue(Taekook/Taegi)
Different way



Langit mendung di Istanbul kali ini menjadi teman perjalanan mereka menuju kediaman Taehyung. Hujan telah reda beberapa saat lalu, dan kini hanya keheningan yang ada diantara mereka berdua. Yoongi tidak pernah menyangka Taehyung banyak berubah setelah kepergiannya 7 .tahun lalu. Dia semakin dewasa dan semakin tampan, hanya saja kini terkesan dingin dan tak tersentuh. Seperti ada Diding tebal yang sengaja ia bangun dalam dirinya.


" Apa Hoseok yang memberitahu kalau aku akan kesini?"


" Tidak. Soobin yang memberitahu kalau Hyung akan kemari. Dia mendapat pesan itu dari Yuri Imo. Mungkin Hoby Hyung yang menyuruhnya."


Yoongi hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Bagaimana Yoongi bisa sesantai itu bertemu dengan Taehyung setelah 7tahun lamanya? Jawabannya karena 2tahun yang lalu Yoongi tidak sengaja bertemu dengannya disini, saat dia tengah melakukan perjalanan bisnis seorang diri. Dan tentu saja itu membuatnya senang. Semua orang sudah berusaha keras mencari Taehyung, dan dia bisa menemukannya. Namun hal pahit harus Yoongi terima, ia harus merahasiakan pertemuannya dengan Taehyung dari semua orang kecuali Hoseok, karena Taehyung yang memintanya juga karena suatu alasan yang tidak bisa ia jelaskan.


Disini, Taehyung dikenal dengan nama V alias Vante. Pengusaha muda yang sukses mengembangkan karir di negara asing ini. 7tahun lalu dia dikirim kesini bersama Soobin. Sepupu Yuri yang usianya terpaut 3tahun lebih muda dari Taehyung. Namun walau terbilang muda, Soobin sangat pandai dan jenius, hampir menyamai Jungkook.


Kehidupan mereka disini tidak bisa terbilang mulus, karena Taehyung ingin memulai semuanya dari awal. Ia bahkan harus mondar mandir antara kuliah dan pergi bekerja, mungkin itu juga sebagai salah satu cara menyibukkan diri dan melupakan semua masalah yang ada dalam hatinya.


Terakhir kali Yoongi bertemu Taehyung setahun yang lalu, dan ia masih sama saat memperlakukan dirinya. Yoongi hanya menyayangkan keputusan Taehyung yang enggan kembali ke Korea. Itu membuatnya sedikit sedih. Bagaimanapun mereka sudah berteman dari kecil, sulit baginya tidak mengkhawatirkan nya begitu saja. Apalagi di negara asing ini.


Rumah bergaya Eropa ini menjadi kediaman Taehyung disini. Ini adalah pemberian atasannya karena kinerjanya yang bagus dan selalu kompeten. Sebelumnya Taehyung hanya berdua saja dengan Soobin, tidak benar-benar berdua sih ada beberapa pelayan yang sengaja dipekerjakan disana hanya untuk memasak dan membersihkan rumah. Tapi kini Yoongi akan menempatinya untuk beberapa hari.


Yoongi berjalan mengimbangi langkah Taehyung yang besar, sedikit susah mengingat dirinya yang bertubuh mungil. Langkahnya terhenti saat mendengar panggilan dari seseorang dari lantai atas. Dan Yoongi tidak kaget mendengar teriakan melengking yang ditujukan untuknya itu.


" Kau sudah sampai, Hyung. Bawa ramyon tidak? Soobin sedang ingin makan itu."


" Turunlah dulu, disitu berbahaya. Hyung bawa banyak untukmu."


Yoongi benar-benar khawatir kalau anak itu akan terjatuh. Bagaimana ia bisa santai duduk ditepian atap Seperti itu tanpa rasa takut sedikitpun. Ditambah tadi turun hujan yang lumayan deras. Udara di malam ini juga sangat dingin dan sedikit berangin. Sedangkan Taehyung terlihat tidak perduli sama sekali dengan kelakuan bocah satu itu.


" Tapi disini sejuk, Hyung. Apalagi sehabis hujan seperti ini. Udaranya sangat segar, Hyung mau coba?"


" Berhenti bermain disana, Bin. Atau aku tidak akan membiarkan Yoongi Hyung memberikanmu ramen kesukaanmu itu."


Mendengar itu, tentu saja membuat Soobin langsung pergi dari sana. Entah turun dari mana, anak itu dengan cepat sampai dilantai bawah. Yoongi bahkan sempat ketar ketir kalau-kalau Soobin akan terjatuh dan berakhir dengan luka. Walaupun Soobin sangat pintar, bagi Yoongi Soobin masihlah terlihat lucu dan kekanak-kanakan. Pertemuan mereka yang singkat juga tidak membuat mereka canggung, justru Soobin yang banyak bicara terlihat antusias saat berbicara dengannya.


" Kau benar-benar tidak asik, Hyung!!! Di Kantor maupun dirumah kau sama saja. Tukang tindas."


" Katakan itu pada rapat besok pagi yang menunggu. Kau belum menyiapkan laporan itu kan? Kau tahu besok Mr. Alexander akan datang kan."


Taehyung meninggalkan Yoongi dan Soobin yang masih menggerutu diluar. Ia menyerahkan koper Yoongi pada salah satu maid disana agar membawanya ke kamar tamu. Mata kucing Yoongi masih mengikuti kemana Taehyung melangkah dan menghilang menuju kamar dilantai dua. Pandangannya ia alihkan pada namja tinggi disampingnya ini.


" Apa Taehyung masih keras kepala dan tetap pada pendiriannya?"


" Iya, Hyung. Aku sudah berulang kali mencoba membujuk nya, tapi nihil. Dia tetap tidak mau melakukannya."


Yoongi kembali memandang kearah kamar Taehyung, pandangannya berubah sendu dan tak terbaca. Lama ia menunggu dilantai bawah, namun sepertinya Taehyung tidak berniat turun lagi. Mungkin ia sudah tertidur mengingat kini sudah larut malam. Yoongi pun memutuskan memasuki kamarnya yang terletak dilantai 2, didepan kamar Taehyung. Saat ia sampai pun, hanya keheningan yang terasa. Mungkin Yoongi akan mencoba bicara lagi esok pagi. Tidak tahu saja, pemilik kamar didepannya itu tengah duduk termenung dan hanya melihat bulan di gelapnya malam. Entah sedang memikirkan apa tidak seorangpun yang akan tahu.


Hujan pagi ini nampaknya sedikit mengganggu Yoongi yang masih tertidur lelap dalam dekapan hangat selimut tebalnya. Udara yang cukup dingin, membuatnya semakin meringkuk mencari kehangatan. Hingga ia teringat tentang jadwal pemesanan parfum yang diinginkan Hoseok. Ia harus memberikan sample hari ini agar lusa nanti Hoseok bisa langsung mengambilnya. Mungkin ia juga akan mempercepat pertemuan perusahaannya agar masalah itu segera selesai, dan nanti ia bisa jalan-jalan mengelilingi kota ini.


Saat menuju meja makan, Yoongi hanya melihat beberapa maid yang sedang merapikan meja makan dan sebagian membersihkan rumah. Ia tidak melihat Taehyung maupun Soobin. Mungkinkah mereka belum bangun, tapi ini sudah jam 8pagi. Atau mungkinkah Yoongi yang kesiangan dan tidak sempat menyapa mereka. Padahal ada sesuatu yang ingin ia bicarakan, tapi lagi-lagi tidak ada kesempatan untuknya.


" Do you need anything sir?" ( Apa anda membutuhkan sesuatu, tuan?)


" No, thank you. Where are Mr. V and Soobin? Haven't they woken up yet?" (Tidak, terimakasih. Dimana tuan V dan Soobin? Apakah mereka belum bangun?)


" Mr. V had left early this morning. He has a meeting this morning with Mr Alexander. Maybe he'll be home this afternoon, sir." ( Tuan V sudah berangkat pagi tadi. Beliau ada meeting pagi ini dengan tuan Alexander. Mungkin beliau akan pulang nanti sore tuan.)


" I see. Thanks, you can continue your work. Sorry to disturb."( Begitu ya. Terimakasih, kau bisa melanjutkan pekerjaanmu. Maaf telah mengganggu.)


" No problem, sir. Then I'll excuse myself."( Tidak masalah, tuan. Kalau begitu saya permisi.)


Yoongi tidak habis pikir, bagaimana bisa mereka berangkat sepagi ini padahal mereka baru saja pulang ke rumah dini hari tadi. Apa mereka tidak lelah, apa mereka selalu seperti ini. Yoongi semakin mengkhawatirkan Taehyung saat ini. Ia seperti ingin menghancurkan dirinya sendiri dengan bekerja mati-matian Seperti ini. Bagaimana pun Yoongi harus bicara dengan Taehyung nanti. Ia harus menghentikan sikap keras kepalanya itu. Yoongi bergegas bersiap meninggalkan rumah itu, ia harus menyelesaikan urusannya lebih dulu baru setelah itu berbicara dengan Taehyung.


Siang ini Jimin tidak bisa konsentrasi sama sekali. Pikirannya masih berpusat pada namja mungil itu. Berulang kali ia mencoba menghubungi Yoongi, tapi tetap saja tidak aktif. Ia berencana menyusulnya kesana, namun masalah lain timbul. Semua penerbangan dibatalkan selama 3hari ke depan karena cuaca buruk. Ditambah lagi perusahaan sedang mengalami masalah yang menuntutnya tetap tinggal di Korea. Padahal Jungkook sudah tidak mempermasalahkan jika Jimin akan pergi. Tapi lagi-lagi ia merasa ini juga bagian dari tanggung jawabnya sebagai karyawan perusahaan.


" Hyung... Tenanglah. Kau semakin membuatku bingung. Kalau kau mau bisa memakai jet pribadiku, tapi aku juga ragu apa ada pilot yang mau take off di cuaca Seperti ini."


" Entah kenapa perasaanku tidak enak, Kook. Yoongi Hyung tidak mengaktifkan ponselnya, kemarin juga kami tidak sempat bertemu."


Mungkinkah Yoongi sengaja menonaktifkan ponselnya? Jimin terus saja tenggelam dalam pikirannya dan tidak mendengarkan perkataan Jungkook yang sejak tadi bicara padanya. Dan itu tentu saja membuat Jungkook sedikit geram. Ia mendekati Jimin yang masih melamun di sofa kantor, menepuk pelan pundak yang lebih tua darinya itu.


" Hyung, apa kau tidak mendengarkan apa yang kukatakan tadi?"


" Ha? Memang kau bicara padaku?"


Kalau bukan karena ia menghormati Jimin dan keluarganya, mungkin sekarang Jungkook sudah memukuli Jimin yang masih melamun saat jam kerja seperti ini.


" Maksudmu proposal yang direncanakan perusahaan kita di Jerman itu? Kenapa kita yang harus kesana? Bukankah seharusnya Leo yang akan menangani itu semua."


" Tidak apa-apa, Hyung. Hanya entah kenapa Kookie juga ingin kesana. Lagipula ini juga kesempatanmu mengejar Yoongi Hyung kan?"


" Lalu bagaimana kita kesana dengan cuaca seperti ini?"


" Kita akan berangkat dari Jepang hyung, 3hari lagi kita berangkat. Kudengar Hoseok Hyung juga akan berangkat dari sana. Sekarang dia sudah ke Jepang dengan kapal."


" Kau masih memata-matai orang itu, Kook? Ini sudah 7tahun berlalu."


" Hanya dia yang ku yakini tahu dimana Taehyung saat ini, Hyung. Tapi anehnya Hoseok Hyung terlihat santai dan tidak memperdulikan apapun. Serta semua info dari ponsel, laptop dan lainnya tidak ada yang janggal, justru terkesan sangat bersih seperti ada seseorang yang menyetel semuanya."


" Kau yakin, Kook? Memangnya ada seseorang yang lebih pintar darimu?"


" Kookie juga tidak tahu, Hyung. Tapi ini memang sedikit aneh. Setiap Kookie mencoba mencari keberadaan Taehyung, semua data yang ada tiba-tiba hilang begitu saja. Seperti ada seseorang yang sengaja menutup semua akses."


" Kalau kau saja sampai kesulitan seperti itu, pasti orang itu sangat jenius atau bisa jadi dia seorang hackers."


Jungkook hanya terdiam. Mungkin benar apa yang dikatakan Jimin. Pasti ada seseorang yang sengaja menutup semua akses dan menghapus semua informasi tentang Taehyung, karena biasanya tidak serumit ini untuknya hanya untuk mencari seseorang seperti ini.


Yoongi  baru saja menyelesaikan urusannya dengan perusahaan yang berkerja sama dengannya. Sebelumnya tadi ia sudah menyerahkan sample parfum pesanan Hoseok dan besok ia akan mengambilnya. Sekarang ia bingung mau apa lagi, urusannya sudah selesai. Ingin jalan-jalan sebentar tapi ia tidak tahu jalan sama sekali. Ingin menghubungi Taehyung maupun Soobin tapi ia ingat mereka sedang ada rapat juga. Terpaksa ia berjalan menyusuri jalan setapak dipinggiran sungai yang cukup memanjakan mata. Urusan pulang ke rumah, bisa ia pikirkan nanti. Kalaupun terpaksa tidak tahu jalan ia akan menghubungi Taehyung atau Soobin untuk menjemputnya.


Yoongi hanya ingin menenangkan pikirannya sejenak. Hubungannya dengan Jimin tidak ada kemajuan sama sekali, hanya terlihat seperti rekan kerja maupun sahabat dekat. Yoongi tidak menampik perasaannya pada pemuda bermata sipit itu. Kadang ia berfikir untuk menyatakan perasaannya lebih dulu, tapi ia terlalu malu dan semakin tidak berani apalagi banyak sosok yang lebih menarik darinya ada disekitarnya.


Terlalu lama memikirkan semua itu, ia sedikit terkejut saat menyadari kalau dirinya belum mengaktifkan ponselnya dari kemarin. Pasti orang tuanya sangat khawatir tidak mendapat kabar darinya. Namun begitu ia mengaktifkan ponselnya, begitu banyak notifikasi panggilan dari Jimin. Bahkan dari jamnya, ia bisa melihat itu saat dirinya hendak lepas landas. Ada apa sebenarnya? Apa ia harus menghubunginya kembali?


Belum sempat Yoongi menekan tombol panggilan, ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Ia pikir itu Jimin yang kembali menghubunginya, tapi ternyata itu sahabatnya.... Hoseok.


" Hallo... Ada apa kau meneleponku? Bukankah kau besok akan kesini juga?"


" Aku sedang cek in di bandara, Hyung. Semua penerbangan di korea dibatalkan 3hari ke depan. Ini saja gue harus berangkat dari Jepang. Oh iya... Kau sudah memberikan sample itu kan, Hyung? Hana selalu mendesak ku segera membawanya pulang!"


" Sudah, tadi pagi sudah kuberikan pada pemilik toko itu. Besok sore sudah bisa diambil katanya."


" Syukurlah kalau begitu, aku tidak ingin anakku ileran nanti gara-gara keinginan Omma nya tidak dituruti. Oh sudah dulu ya, Hyung.... Pesawatku sudah menunggu. Tunggu gue datang ya, Hyung... Pastikan Soobin menjemput ku kali ini."


" Baiklah... Nanti aku akan mengabarinya."


Yoongi kembali menghela nafas, kalau bukan karena alasan kehamilan Hana mungkin ia akan menolak keinginan sahabatnya itu. Ia lebih suka berdiam diri dirumah dan tidur dari pada berkeliling tak tentu arah Seperti ini. Dering ponselnya kembali mengganggu, kali ini Soobin yang menghubunginya. Mungkin rapat mereka juga sudah selesai.


" Iya, Bin.... Apa rapatnya sudah selesai?"


" Hyung ada dimana? Kenapa tidak ada dirumah? Hyung tidak pulang ke Korea lagi kan? Katanya Hyung ingin jalan-jalan, kenapa pergi sendiri!"


Yoongi tersenyum mendengar sederet pertanyaan yang ditujukan untuknya itu. Soobin benar-benar cerewet, bagaimana Taehyung bisa bertahan bersamanya selama 7tahun ini. Pasti sangat melelahkan.


" Kau lupa Hyung kesini untuk apa? Hyung baru selesai rapat dengan perusahaan yang berkerja sama dengan Hyung. Kau tidak pernah khawatir begitu, Bin_ah.... Hyung hanya jalan-jalan sebentar, sejam lagi Hyung akan pulang."


" Kalau begitu Soobin kesana sekarang. V Hyung akan marah padaku kalau kau pergi sendirian apalagi kalau sampai hilang. Katakan Hyung ada dimana sekarang?"


" Kau tidak perlu menyusulnya. Yoongi Hyung sudah bersamaku."


Yoongi terkejut saat seseorang mengambil ponselnya dan berkata seperti itu. Bahkan ia tidak menunggu jawaban Soobin lebih dulu dan langsung mematikan sambungan begitu saja. Benda pipih itu dikembalikan padanya tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


" Tidak seharusnya kau bicara seperti itu padanya, Tae.... Soobin pasti sedang khawatir padaku saat ini."


Sedangkan orang yang diajaknya bicara hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaannya. Sebenarnya untuk apa dia datang kemari, kalau hanya diam saja seperti ini tanpa mau berbicara padanya.


" Kau hanya akan diam seperti itu atau jelaskan mengapa kau bisa sampai disini?"


" Tidak ada. Hanya tidak sengaja melihatmu tadi."


" Tae..... Kenapa kau hentikan pe-/ Hyung, bisakah kau tidak memaksaku melakukannya. Sudah cukup bagiku Seperti ini. Biar waktu yang menentukan segalanya."


Yoongi hanya memandang sendu namja didepannya ini. Tak lagi bisa memaksa karena ini semua keputusannya.


' Apa kau yakin akan menyerah atas segalanya secepat ini, Tae? Kau masih memiliki seseorang yang selalu ada di hatimu. Dan Hyung tahu siapa orang itu.'


^^^^^^Don't forget to follow 🥰^^^^^^