Light Of Blue(Taekook/Taegi)

Light Of Blue(Taekook/Taegi)
A letter from Yoongi



Pesta sederhana di kediaman keluarga Kim menyambut kepulangan mereka. Sangat sederhana walaupun untuk keluarga yang terbilang cukup terkemuka di Korea. Tapi itu tidak mengurangi suasana hangat didalamnya.


Tawa ria si bungsu menguar begitu melihat semua Hyung nya ada disana. Namjin(9th) putra tunggal Namjoon dan Seokjin, Beomgyu(8th) putra tunggal Hoseok, dan si kecil Jungwoon(4th) putra Yeonjun dan Soobin. Jihoon yang melihat sahabatnya Jungwoon, langsung berlari menghampirinya meninggalkan sang ayah dan Hyungjay.


" Kalian sudah datang?"


Sapaan sang ayah menyambut mereka begitu memasuki rumah. Chanyeol menyambut mereka diatas kursi rodanya. Setelah Baekhyun meninggal karena sakit yang dideritanya, Chanyeol juga akhirnya tahu kebenaran tentang keadaan sang putra dan itu membuatnya terpuruk hingga terkena stroke.


Beruntung saat itu Yoongi dan Taehyung memutuskan untuk tinggal kembali di Korea karena memang Yoongi yang sedang hamil besar ingin bersama keluarga besarnya. Namun siapa sangka, itu adalah keinginan terakhirnya sebelum meninggalkan mereka semua.


" Nee Appa, kami mengunjungi Yoongi lebih dulu. Apa kami datang terlambat?"


" Tidak juga, tapi tadi Mingyu menelpon tidak bisa datang karena Wonwoo tidak bisa mengambil cuti. Mungkin bulan depan mereka baru bisa ke Korea."


" Begitu ya, padahal Hyungjay sangat ingin bertemu dengan Sunoo. Dia selalu menanyakannya belakangan ini, apa mungkin anak itu mulai tertarik kepadanya Appa?"


" Sunoo anak yang manis dan ceria, Appa tidak masalah kalau mereka berjodoh nantinya."


" Tapi menjodohkan mereka bukankah itu masih terlalu awal? Mereka bahkan masih anak-anak."


" Itu juga terserah mereka, kita tidak bisa memaksanya bukan. Kau sendiri tidak ada niatan untuk menikah lagi? Sudah empat tahun kau hidup sendiri, Tae..."


" Tae tidak sendiri Appa... Ada Hyungjay dan Jihoon, itu sudah cukup untukku."


" Tapi apa kau yakin putra mu tidak merindukan sosok seorang Omma? Apalagi Jihoon masih sangat kecil, ia juga butuh figur seorang ibu Tae..."


" Tae bisa menjadi keduanya untuk mereka Appa... Selama ini Tae sudah merasa cukup memperhatikan mereka, Appa tidak perlu khawatir lagi."


Chanyeol hanya pasrah menghadapi sang putra. Padahal sudah berulang kali ia menyarankan putranya itu untuk menikah lagi, tapi Taehyung selalu menolaknya. Bahkan sang mertua juga tidak mempermasalahkan jika Taehyung akan menikah kembali, asalkan sang cucu tetap mendapat kasih sayang dan perhatian darinya.


" AIGOOO!!! Keponakan Imo ini sungguh sangat menggemaskan!!! Jadi anak Imo saja ya?"


Suara nyaring Seokjin mengalihkan perhatian mereka. Bisa Taehyung lihat, Hyung nya itu sedang menciumi seluruh wajah Jihoon. Ia sudah biasa melihatnya, dihentikan pun justru ia yang akan dimarahi nantinya. Jihoon sendiri pun tidak masalah diperlakukan seperti itu.


" Imo... Yang ulang tahun itu Hyungjay, kenapa Imo selalu menyapa Jihoon lebih dulu?"


Hyungjay yang melihat sang bibi lebih menyayangi adiknya tentu saja sedikit sebal. Padahal ia yang berulang tahun, tapi Imo nya yang satu ini tidak pernah berubah.


" Karena Jihoon lebih imut darimu, adikmu ini jiplakan Omma mu. Sedangkan kau mirip Appa mu, tidak ada manis-manisnya."


" Tapi Hyungjay tampan mirip Appa."


" Iya, kalian sangat mirip, bahkan sama-sama menyebalkan."


Jihoon hanya diam melihat sang Imo dan sang Hyung berdebat. Sudah biasa baginya melihat keduanya berdebar seperti itu karena ingin ikut pun ia tidak mengerti apa yang mereka perdebatkan. Hingga mata kucingnya melihat beberapa kotak besar yang sang Imo bawa.


" Imo bawa apa? Semua itu untuk Hyungie?"


" Ani.... Yang satu ini untuk Hyungjay dari Daddy Namu sama Mommy Jin. Dan yang satu ini dari Namjin Hyung."


Seokjin memberikan keduanya kepada Hyungjay. Namun ia justru penasaran dengan kado yang satu lagi, karena ukurannya yang lebih besar dari yang lainnya.


" Lalu yang itu untuk siapa? Apa itu untuk Jihoon?"


" Aniyaa... Ini untuk kalian berdua. Hadiah ini khusus untuk kalian, ini dari Omma kalian... Dari Omma Yoongi."


Keduanya terdiam dan saling tatap. Dari ibu mereka? Bagaimana bisa? Walaupun Jihoon masih kecil, ia juga sudah mengerti kalau sang Omma sudah meninggal dan tidak mungkin bisa kembali kepada mereka. Lalu bagaimana itu mungkin?


" Kalian pasti bingung ya? Hadiah ini sudah Omma kalian siapkan sejak empat tahun yang lalu. Imo menyimpannya untuk kalian. Tapi jangan bilang ke Appa kalian ya? Ini rahasia."


" Imo tahu apa isinya?"


" Tentu saja Imo tidak tahu, itu kan milik kalian."


Hyungjay menerima kado itu dan segera menyimpannya di kamarnya. Senyum terpatri jelas di wajah tampannya. Baru kali ini ia mendapatkan hadiah dari Omma nya setelah Yoongi pergi meninggalkan mereka.


Acara itu terasa hangat dengan canda tawa anak-anak dan obrolan ringan disela-sela perbincangan para orang tua. ditambah kedatangan Haruto yang tiba-tiba bersama kedua orang tuanya dan adik kecilnya Kazuya.  Walaupun sangat jarang mereka berkumpul seperti ini, tapi kali ini kehadiran mereka semua membuat Taehyung sangat bahagia. Banyak yang menyayangi dirinya dan kedua putranya. Dan itu membuatnya yakin untuk tidak menikah kembali, karena kedua putranya sudah cukup mendapatkan cinta dan kasih sayang dari keluarga besarnya.


Pagi ini suasana gaduh sangat terasa di keluarga kecil Taehyung. Bagaimana tidak, mereka kesiangan karena semalam pulang larut malam. Alhasil ketiganya terlambat bangun. Bahkan Taehyung tidak sempat sarapan dan berakhir meminta maaf kepada pihak sekolah Hyungjay karena putranya itu terlambat sepuluh menit.


Setelah itu, Taehyung mengantar Jihoon taman kanak-kanak. Semua pengajar memakluminya, apalagi harus merawat dua putranya seorang diri tentu saja sedikit merepotkan. Tapi Taehyung bisa melakukannya.


" Jihoon sayang... Nanti jangan kemana-mana, oke? Appa janji akan menjemput Jihoon sepulang sekolah nanti."


" Emm!!! Appa, fighting!!!"


Jihoon mencium pipi sang ayah dan masuk kedalam. Tidak lupa melambaikan tangan sebelum benar-benar pergi bersama sang guru yang sudah menunggunya.


Taehyung segera bergegas kembali ke mobil setelah Jihoon masuk. Sudah dipastikan ia akan mendapat omelan dari sang Hyung nantinya.


Ditempat lain, Hyungjay sama sekali tidak memperhatikan pelajaran. Ia hanya melamun melihat keluar jendela dengan menopang dagu. Sang guru bahkan tidak menegurnya karena mereka tahu, Hyungjay sangat pandai dalam semua perjalanan. Pikirannya menerawang memikirkan kado yang Omma nya berikan tadi malam.


Flashback.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, saat mereka sampai dirumah. Taehyung segera memindahkan Jihoon yang sudah tertidur lelap ke kamarnya. Sedangkan Hyungjay sudah berlari membawa kado besar bersamanya. Sementara kado lainnya ia tinggal di kediaman sang kakek, lagipula kalau dibawa semua tidak akan cukup di mobil. Jadi ia hanya membawa kado yang paling ia inginkan, yaitu dari sang Omma.


Setelah mengunci pintu, dengan pelan-pelan ia membukanya takutnya sang Appa mendengar kegaduhan yang ia buat. Begitu banyak hadiah didalamnya. Dari robot, baju, topi dan yang paling menonjol sebuah boneka hitam yang ia sangat kenali. Itu adalah boneka Kumamon yang sangat Omma nya sukai.


Hyungjay sangat antusias melihatnya. Walaupun tidak terlalu besar, tapi itu sudah sangat membuatnya senang hingga pandangannya tertuju pada kotak kecil yang ada didalam tumpukan hadiah itu. Perlahan ia buka, dan terlihat beberapa buah surat yang ia yakini itu pasti dari sang Omma.


Ia ambil semuanya dan membacanya satu persatu.


^^^"Happy birthday Hyungjay _aaa...^^^


^^^Miane...^^^


^^^Omma tidak bisa menemani Hyungjay. Tapi Omma yakin Hyungjay sudah menjadi namja yang kuat dan pintar sekarang.^^^


^^^Maafkan Omma nee?^^^


^^^Bagaimana keadaan Appa dan Jihoon? Hyungjay pasti bisa menjadi Hyung yang baik untuk Jihoon kan? Karena Omma percaya, Hyungjay anak yang baik.^^^


^^^Appa baik-baik saja kan? Apa masih suka pilih-pilih makanan? Masih suka begadang?"^^^


Hyungjay tertawa membacanya, bahkan dalam surat pun Omma nya masih saja cerewet. Tapi entah kenapa ia justru menyukainya.


^^^" Hyungjay...^^^


^^^Apa Hyungjay mau mengabulkan satu permintaan Omma?^^^


^^^Jika Appa masih belum mau menikah kembali, bahkan sampai surat ini sampai...^^^


^^^Maukah kau meminta Appa menikah kembali?"^^^


Senyum di wajah Hyungjay memudar. Apa yang ia baca sungguh membuatnya bingung. Siapa sangka Omma nya akan meminta hal semacam itu padanya.


^^^"Apa Hyungjay tahu... Sebelum Appa dan Omma menikah, ada seseorang yang sangat Appa mu itu cintai. Omma ingin mengembalikan kebahagiaan itu lagi. Appa dan orang itu saling mencintai, tapi karena keadaan mereka harus berpisah. Dulu Appa bukan seorang yang keras kepala seperti saat ini. Appa memiliki hati yang sangat rapuh, dan orang itu adalah satu-satunya penyemangat untuknya.^^^


^^^Bukannya Omma tidak mencintai Appa... Omma sangat mencintai Appa kalian, tapi Omma juga ingin yang terbaik untuk kalian. Omma yakin ia akan menjaga Appa kan kalian dengan baik, karena Omma tahu dia yang terbaik untuk Appa.^^^


^^^Omma mohon..^^^


^^^Cari dia untuk Omma, nee...^^^


^^^Cari Jeon Jungkook sebagai pengganti Omma. Hanya dia yang Oma percaya untuk Appa kalian."^^^


Flashback end.


Hyungjay kembali membuang nafas. Dimana ia harus mencari orang itu, fotonya saja ia tidak punya. Kalau bertanya pada sang ayah, tentu saja itu tidak mungkin. Satu-satunya cara, ia harus bertanya kepada bibinya yaitu Seokjin. Karena Omma nya sudah menitipkan surat itu padanya.


Tapi, apa yang harus ia lakukan nanti saat sudah bertemu dengan orang itu? Tidak mungkin kan ia terang-terangan meminta orang itu untuk menjadi ibunya? Yang ada ia bisa dianggap gila. Lagi pula kenapa Omma nya meminta hal seperti itu? Ia tidak pernah membutuhkan sosok lain menggantikan Omma nya. Namun saat pikirannya menerawang jauh, ia masih ingat saat Jihoon terus menangis ingin bertemu Omma nya.