
Meja makan sedikit terasa canggung pagi ini, dengan sepasang manusia yang mulai menyantap sarapannya. Bahkan beberapa maid terlihat canggung saat ingin bertanya pada keduanya. Mereka hanya bisa memperhatikan interaksi keduanya yang terkesan biasa saja. Padahal mereka sangat senang saat mengetahui bahwa majikannya itu akan segera menikah dengan namja manis didepannya itu.
Mereka sangat senang, mengingat selama 5 tahun bekerja di mansion ini tuannya itu tidak pernah membawa kekasihnya sama sekali. Atau bahkan tidak pernah berkencan karena terlalu gila kerja. Hanya Soobin yang kadang-kadang mengajak sang kekasih datang ke mansion, itupun sangat jarang karena kekasih Soobin bekerja di Jepang tempat tinggalnya dulu.
" Penerbangan Hyung nanti siang kan?"
" Hemm... Semoga saja tidak turun hujan. Memangnya ada apa, Tae?"
" Nanti biar Tae saja yang antar. Hyung siap-siap saja."
" Tapi... Bukankah kau ada meeting dengan klien penting nanti. Kau tidak perlu mencemaskan hyung, Tae. Hyung bisa pergi dengan taksi nanti."
" Tidak apa-apa, Hyung. Lagipula rapatnya juga setelah makan siang, jadi Tae bisa mengantar Hyung lebih dulu. Apa lagi kemarin Hoby Hyung sudah memberi perintah seperti itu kan, jadi Tae harus melakukannya."
Yoongi tertawa kecil mendengar itu semua. Walaupun sudah dewasa, tapi Taehyung masih tetap mengikuti perintah hyung nya itu. Ia tidak pernah berubah dari dulu, hanya sikap dinginnya yang kini terlihat jelas dimata orang lain. Tapi bagi Yoongi, Taehyung masihlah teman dan adik kecil yang terlihat lucu dimatanya. Dan itu belum berubah.
" Walaupun kau tidak mengantarku, Hosiky tidak akan mengetahuinya Tae. Jadi tenang saja, Hyung tahu kau juga sangat sibuk."
" Tidak apa-apa Hyung, bukankah ini juga sudah menjadi tanggung jawabku."
Yoongi diam tidak menjawab lagi. Hampir saja dia lupa kalau mereka sudah sepakat menerima perjodohan ini. Dan sebentar lagi mereka akan segera menikah.
Setelah Taehyung berangkat bekerja, Yoongi mulai merapikan barang-barangnya. Satu persatu ia tata dengan rapi, hingga mata kucingnya melihat cincin biru yang tersemat manis dijari manisnya. Mungkinkah ia harus memberitahukan pada kedua orang tuanya kalau dia bersedia menikah dengan Taehyung?
Kembali ia lihat jam yang tergantung di dinding kamar itu. Kalau disini masih jam 8pagi berarti di Korea. Sudah tengah malam. Apa tidak mengganggu waktu istirahat mereka. Namun, saat ia hampir meletakkan ponselnya kembali, ponsel itu menyala tanda panggilan masuk. Ia melihat ID penelepon itu, dan ternyata sang Omma. Mungkin ikatan ibu dan anak itu terlalu kuat hingga saling terhubung seperti ini.
" Omma.... Baru saja Ugie mau menghubungi Omma, apa Omma belum tidur?"
" Bagaimana Omma bisa tidur, kalau putra manis Omma jauh dari Omma. Kau jadi pulang hari ini kan, sayang?"
" Iya, Omma... Ugie pulang hari ini. Ini juga lagi beres-beres."
" Baguslah kalau begitu. Bagaimana disana? Apa ada yang menarik untukmu? Atau perlukah Omma mengenalkan mu pada putra sahabat Omma? Anaknya........"
Mungkinkah ia harus membicarakannya sekarang, Apa tidak masalah? Yoongi mulai berfikir dan mengabaikan Omma nya yang berbicara panjang lebar dari tadi.
" Ugie sayang....
Kau tidak apa-apa nak?"
" Nee Omma? Oh soal itu...
Omma... Apa kalau Ugie... menikah dengan Taehyung, apa Omma setuju?apa tidak masalah?"
" ......."
Cukup lama Yoongi menunggu jawaban sang Omma dengan jantung yang berdetak sangat kencang. Bagaimana pun ia sudah mengambil keputusan ini, dan ia harus memberitahukannya pada keluarganya. Bagaimana kalau nanti mereka tidak setuju. Hingga teriakan melengking hampir saja membuat Yoongi melempar ponselnya.
" TENTU SAJA OMMA SETUJU SAYANG!!!! OMMA IJINKAN, BAHKAN APPA MU SANGAT BAHAGIA MENDENGARNYA."
" Terima kasih Omma."
" Tapi sayang, apa kau sudah bertemu dengan Taehyung? Bukankah dia menghilang 7th yang lalu? Apa Taehyung sudah..."
" Tae ada disini, Omma... Tae selama ini ada di Istambul."
" Benarkah?!! Baekhyun pasti senang saat mendengar kabar ini."
" Omma, bisakah Omma merahasiakan ini dulu. Ini permintaan Taehyung, Omma. Dia akan segera pulang."
" Kenapa begitu, sayang.... Hah... baiklah, yang penting kalian segera menikah."
Yoongi menutup panggilan itu setelah mereka selesai berbicara. Bisa ia dengar betapa bahagianya Omma nya saat mendengar berita itu. Keluarga mereka memang sudah saling mengenal sejak dulu, bahkan Appa mereka berteman baik. Jadi dengan mendengar kabar seperti ini tentu saja membuat mereka senang bukan kepalang. Apalagi memang sudah sejak lama orang tua Yoongi menginginkan Yoongi segera menikah.
Yoongi menengadah menatap langit yang sedikit mendung. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Perlahan senyum tipis terukir di wajah manis itu, namun itu bukanlah senyum kebahagiaan melainkan senyum sendu yang penuh kesedihan.
" Jim... Sepertinya, kau tidak akan pernah bisa tahu tentang perasaanku padamu. Dan kuharap kau bahagia dengan pilihanmu kelak. Aku akan mencoba menerima Taehyung mulai sekarang, walau mungkin aku tidak akan bisa mencintainya."
Bulir bening membasahi mata nan indah itu. Kenangan awal ia bertemu dengan pemilik mata sipit itu melintas kembali dalam pikirannya. Bagaimana mereka mulai dekat dan saling mengerti satu sama lain. Hingga benih cinta mulai tumbuh di hati Yoongi untuknya. Namun karena sifat pasifnya, ia enggan menyampaikan perasaannya itu. Bahkan ia sering melihat Jimin mendapat perhatian lebih dari beberapa namja atau yeonja yang terang-terangan menyukai jimin, dan terkadang itu membuatnya sakit.
Tapi bukankan itu sebuah kenyataan yang ironi. Kadang perasaan yang terlalu lama tersimpan, juga tidak akan pernah terbalaskan jika tak pernah diungkapkan.
Begitu pula jika kita tidak berani mengambil langkah maju, tempat itu pasti lambat laun akan diisi oleh orang lain yang memang ingin melangkah maju.
Jadi ambillah kesempatan jika waktu itu sudah datang. Karena kita tidak akan tahu, baik atau buruk suatu hubungan tidak akan berjalan tanpa adanya sebuah kepastian.
Jangan sampai kita menyesal saat semuanya sudah terlambat, dan waktu tidak dapat diulang kembali.
Tepat tengah hari, V sudah sampai di mansion untuk mengantar Yoongi. Sedangkan Soobin sudah pergi dari pagi menjemput kekasihnya di bandara. Dan mungkin mereka langsung pergi jalan-jalan menghabiskan waktu bersama.
V masih menunggu Yoongi yang masih belum selesai merapikan beberapa barang-barangnya. Padahal ia sudah menawarkan diri membantu, tapi dengan halus Yoongi menolaknya. Bahkan ia disuruh makan siang lebih dahulu sambil menunggu Yoongi selesai berkemas.
Mungkin Yoongi memasak dulu untuknya, makanya ia belum selesai berkemas. Pikiran Taehyung kembali memikirkan perjodohan ini. Bagaimana pun ia tidak tega jika harus memaksa Yoongi menerima perjodohan ini, apa lagi dengan keadaannya yang sekarang ini. Waktunya tidak akan lama, dan ia juga tak ingin melihat orang tuanya kecewa.
Suara langkah kaki menuruni tangga memecahkan keheningan itu. Dapat Taehyung lihat Yoongi yang sedikit kesusahan mengangkat koper yang lumayan besar itu. Kakinya melangkah mendekat dan mengambil alih koper itu dari Yoongi.
" Lain kali minta tolong saja Hyung, kalau kau memang tidak sanggup membawanya."
" Maaf Tae... Hyung hanya tidak ingin merepotkan siapa-siapa."
" Tapi ini justru membuatmu repot sendiri Hyung."
Yoongi kembali terdiam dan mengikuti Taehyung dari belakang sebelum salah seorang maid menghentikan langkah Yoongi. Dapat ia lihat, maid itu membawa sesuatu dalam sebuah bag kecil.
"You haven't had lunch, sir. It's not good to go out on an empty stomach."
( Anda belum makan siang, tuan. Tidak baik berpergian dalam keadaan perut kosong.)
" Hasn't he eaten since morning?"
( Apa dia juga belum makan dari pagi?)
" Not yet sir, since morning Mr. Yoongi has been busy cooking and hasn't had time to eat anything."
( Belum, tuan. Dari pagi tuan Yoongi sibuk memasak dan belum sempat memakan apapun)
Segera Taehyung menerima bingkisan itu dan menyerahkannya kepada Yoongi. Sedangkan Yoongi hanya bisa tersenyum kikuk dan mulai berjalan kembali mengikuti Taehyung yang sudah keluar rumah. Tidak lupa ia melambaikan tangan pada beberapa maid yang ada disana.
Didalam mobil hanya ada keheningan, Yoongi masih merasa tidak enak karena kejadian tadi. Mungkinkah Taehyung marah padanya. Hingga ia tersadar akan sesuatu. Ia mencari sesuatu dalam tas kecilnya, dan tersenyum saat menemukannya.
" Ini untukmu. Maaf kalau terlalu cepat sehari. Selamat ulang tahun Taehyung."
Yoongi memberikan sebuah kado kecil yang terbungkus rapi. Sedangkan Taehyung sendiri hanya berkedip lucu, bahkan ia sampai lupa kalau besok adalah hari ulang tahunnya. Perlahan ia menepikan dulu mobilnya, dan menerima kado dari yoongi disertai senyum tipis.
" Terima kasih, Hyung. Aku bahkan tidak ingat kalau besok itu ulang tahunku. Maaf merepotkan mu."
" Tidak masalah, lagipula itu hanya hadiah kecil. Maaf hanya bisa memberimu itu, Hyung janji akan memberikan yang lebih bagus saat kita bertemu lagi."
" Tidak perlu, Hyung. Ini sudah cukup untukku."
Mereka melanjutkan perjalanan menuju bandara dengan beberapa obrolan kecil. Setelah 35 menit perjalanan akhirnya mereka sampai. Taehyung turun dan membantu membawakan koper milik yoongi bertepatan pula dengan panggilan penerbangan Yoongi.
" Maaf tidak bisa lama-lama, Hyung. Sampaikan saja salamku pada Samchon dan Imo."
" Emm... Akan Hyung sampaikan. Hati-hati, jangan ngebut Tae."
Taehyung hanya mengangguk dan melambaikan tangan. Yoongi berjalan dengan menarik kopernya ke arah gerbang keberangkatan. Ia harus Chek In terlebih dahulu. Hingga ponsel di saku jasnya bergetar. Ia menyerahkan paspor untuk diperiksa dan mengangkat panggilan itu yang merupakan panggilan dari Jimin.
" Jim... Bisa kau hubungi kembali nanti. Aku sedang..."
" Kau ada dimana, Hyung! Aku perlu bicara padamu. Ini penting!!!."
" I'm sorry sir, but could you please turn off your phone. We'll be leaving soon."
(maaf tuan, tapi bisakah anda mematikan ponsel anda. Kita akan segera berangkat.)
" Oh oke. Just second. Maaf, Jim. Aku harus menutup panggilan ini. Aku sudah harus masuk pesawat. Nanti ku hubungi lagi."
Yoongi langsung mematikan ponsel itu dan berjalan menuju pesawatnya, tanpa mengetahui orang di seberang sana mengumpat karena lagi-lagi gagal berbicara dengannya.
Ya... Jimin dan Jungkook sudah sampai di Istambul 10 menit yang lalu. Sekarang mereka sedang berada dalam mobil menuju perusahaan yang akan bekerjasama dengannya. Bahkan mereka tidak tahu bahwa perusahaan itu adalah tempat kerja Taehyung.
" Ada apa, Hyung? Kenapa kau jadi kacau begini. Apa Yoongi Hyung masih sibuk?"
" Aku terlambat Kook. Yoongi Hyung sudah dalam penerbangan ke Korea. Kalau saja kita sampai sejam lebih awal, pasti kami akan bertemu."
" Tenanglah Hyung. Kau bisa langsung pulang setelah kerjasama ini selesai. Aku bisa mencarikan penerbangan sore atau malam ini."
Jimin hanya mengangguk dan mulai fokus membaca dokumen yang dia siapkan untuk rapat nanti, dan tentu saja itu membuat Jungkook geleng-geleng. Hyung nya ini memang gila kerja sama sepertinya. Bahkan gara-gara terlalu fokus bekerja dan mengurusinya sampai lupa dengan dirinya sendiri. Bahkan saat dirinya hampir gila karena tidak menemukan keberadaan Taehyung, Jimin selalu menemaninya dan menggantikannya saat ada rapat penting. Dan untuk itu Jungkook sangat bersyukur.
Jam istirahat telah berakhir, dan Taehyung sudah berada dalam ruangannya. Ia tengah merapikan dokumen yang akan diserahkan kepada Mr Alexander besok. Hingga hadiah Yoongi dimeja kerjanya membuatnya menghentikan aktivitasnya itu.
Di bukanya perlahan kertas berwarna hijau muda itu, hingga isi didalamnya membuatnya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Sebuah parfum, dengan aroma sitrus yang menenangkan dan menyegarkan.
" Kau selalu tahu apa yang ku sukai Hyung. Dari dulu, kau tidak pernah berubah. Apa aku bisa membuatmu bahagia nantinya Hyung..."
Senyum itu luntur berganti dengan pandangan sendu. Di pandanginya cincin itu kembali dan perlahan melepaskannya. Ia genggam erat dengan pikiran yang berkecamuk. Yoongi seorang yang baik, tidak seharusnya ia bersanding dengan dirinya yang sakit ini. Apalagi keduanya tidak memiliki perasaan satu sama lain.
" Hyung... Apa kau tidak ingin bahagia dengan orang yang kau cintai... Kenapa kau justru mengorbankan perasaan mu untuk bersama orang penyakitan seperti diriku."
Taehyung masih melamun dengan pandangan keluar jendela. Menatap langit yang sedikit mendung. Hingga panggilan sekretaris nya membuatnya kaget, sehingga cincin yang sempat digenggamnya jatuh entah kemana. Tentu saja Taehyung langsung mencarinya. Namun, tidak kunjung ditemukan.
" Sorry Mr V, but the client ia waiting for you."
( Maaf tuan V, tapi klien sudah menunggu anda.)
" Oke. Can you help me reach my ring? Ring whit blue colour."
( Baiklah. Bisakah kau membantuku mencari cincinku? Cincin berwarna biru.)
" Of course, Sir."
( Tentu saja tuan.)
Taehyung berjalan menuju ruang rapat, tidak adanya Soobin disini memang sedikit membuat nya kerepotan. Karena perlu digaris bawahi, Soobin itu termasuk namja yg jenius. Ia juga yg menutup semua akses data milik Taehyung. Bahkan mungkin ia hour menyamai Jungkook dalam segala bidang hanya saja Soobin lebih fokus dalam bidang komputer seperti hacker misalnya.
Perlahan Taehyung membuka pintu itu, bisa ia lihat Mr Alexander yang merupakan pemilik perusahaan ini sudah duduk dan tersenyum saat melihat kedatangannya. Dan dua orang yang duduk membelakanginya.
Taehyung berjalan mendekat, dan jantungnya seperti Berhenti berdetak saat melihat seseorang yang sedang diperkenalkan padanya. Bahkan keduanya- bukan ketiganya seperti patung yang hanya diam tak bersuara.
" Mr. jeon. Recommend, he is my confidant here. V, those will cooperate with us."
( Mr. Jeon. Perkenalkan, dia adalah orang kepercayaan saya disini. V, mereka yang akan berkerjasama dengan kita.)
" Hello, I'm victor. You can call me V. Nice to work with you."
(Hello, saya victor. Anda bisa memanggil saya V. Senang berkerjasama dengan anda.)
Taehyung menahan diri untuk tidak segera pergi dari tempat itu. Bagaimana pun ia tidak ingin mengecewakan bosnya. Bahkan ia sengaja tidak menatap langsung mata bulat itu. Ia bisa melihatnya sekilas tadi. Jungkook nya jauh lebih menawan dari sebelumnya, dan itu membuatnya tersenyum kecut mengingat dirinya yang dulu hampir putus asa. Setidaknya Jungkook hidup jauh lebih baik darinya.
Sedangkan Jungkook tak sedetik pun melepas pandangannya dari orang itu. Seseorang yang dicarinya 7 tahun ini. Bahkan ia juga mengganti namanya. Sebegitu bencinya kah orang itu, sampai enggan menatapnya. Bahkan Jimin juga sempat terdiam saat melihatnya.
Rapat itu berjalan lancar, dan mendapat kesepakatan yang sangat bagus untuk kedua belah pihak. Bahkan Mr Alexander sangat memuji hasil kerja Taehyung. Namun, yang dipuji justru biasa saja. Wajahnya tetap datar dan terkesan dingin. Kalau Mr. Alexander sudah terbiasa dengan sikap dingin dan kaku Taehyung beda lagi dengan Jungkook yang terkejut dengan perubahan itu. Karena seingatnya dulu, Taehyung adalah seorang yang hangat dan sering tersenyum. Baru mulutnya ingin buka suara, seseorang datang dan berbisik pada Taehyung dan membuat namja itu undur diri lebih dulu.
" I'm sorry, looks like I have to go back to the office because there is a little problem."
(Maafkan saya, sepertinya saya harus kembali ke ruang kerja karena ada sedikit masalah)
" Is there a serious problem, v?"
( Apa ada masalah serius, v?)
" No Mr Alexander, just a small problem. I can handle it myself. Then I'll excuse myself."
(Tidak tuan Alexander, hanya masalah kecil. Saya bisa menanganinya sendiri. Saya permisi.)
Taehyung pergi menuju ruangannya dengan hati yang mulai bimbang. Dirinya tidak menyangka akan bertemu dengan Jungkook disaat seperti ini. Padahal sudah susah payah dirinya melupakan namja bergigi kelinci itu. Tapi entak nasib buruk siapa mereka bertemu kembali. Tanpa diketahui, Jungkook juga pergi menyusulnya setelah berpamitan dengan Mr Alexander.
Jungkook tidak ingin berlama-lama lagi. Ia harus bertemu dengannya, dan mengatakan semuanya. Sebelumnya ia sudah bertanya dimana ruangan Taehyung pada Mr Alexander, tapi ia salah menyebut nama karena disini Taehyung dikenal dengan nama V alias Vante.