Light Of Blue(Taekook/Taegi)

Light Of Blue(Taekook/Taegi)
A Decision



Hanya keheningan yang terjadi setelah Hoseok memberikan kabar yang cukup mengejutkan itu. Baik Taehyung maupun Yoongi sama-sama terdiam dan masih memproses apa yang baru saja mereka dengar. Tidak dipungkiri lagi, keduanya masih sedikit bingung dan syok. Menikah? Bahkan mereka sudah seperti adik kakak yang terbiasa bersama sedari kecil, apalagi keduanya sudah memiliki seseorang yang telah lama singgah di hati mereka.


Bahkan kini kopi yang semula panas dengan uap yang menyeruak memenuhi cafe itu menjadi dingin dan terabaikan. Hoseok hanya menghela nafas melihat keduanya terdiam tanpa adanya reaksi sedikitpun. Ia sebenarnya sudah mengira akan jadi seperti ini, tapi mau bagaimana lagi Omma nya sudah memintanya mengatakan secara langsung pada mereka berdua.


" Tae... Omma ingin kau cepat pulang dan menikah dengan Yoongi Hyung. Omma sangat ingin bertemu denganmu."


" Tapi Hyung... Bagaimana mungkin Tae menikah dengan Yoongi Hyung, itu tidak mungkin. Lagipula Yoongi Hyung juga pasti akan menolaknya, benar kan Hyung?"


Taehyung bertanya langsung pada Yoongi, namun Yoongi terlihat tengah memikirkan sesuatu dengan begitu serius. Yoongi masih memikirkan tentang rencana pernikahan ini. Mungkinkah orang tuanya juga terlibat? Karena sudah setahun terakhir ini orang tuanya sibuk menjodohkannya dengan beberapa anak koleganya. Apa ini juga yang menyebabkan Yoongi harus pergi ke Istambul untuk menangani masalah yang sebenarnya bisa di tangani orang lain.


Mungkinkah ini juga jalan yang terbaik untuknya? Karena sampai saat ini hubungannya dengan Jimin masih terlihat abu-abu dan tanpa kejelasan. Dan mungkinkan ini juga kesempatan untuknya menyakinkan Taehyung untuk kembali melakukan hal itu.


" Aku tidak keberatan, Tae. Hyung tidak akan menolaknya."


Setelah berfikir cukup lama, Yoongi akhirnya menerima perjodohan ini hingga membuat Taehyung terkejut dan tidak percaya karena ia tahu Yoongi mencintai orang lain.


" Hyung apa yang kau katakan? Bagaimana mungkin kau menerima perjodohan ini semudah itu. Kau pasti tahu dengan pasti bagaimana ini semua akan berakhir dengan-/ Hyung mengerti Tae, dan Hyung sudah siap dengan semua resikonya."


Taehyung terdiam, tidak mengerti dengan jalan pikiran Hyung nya ini. Iya jadi gelisah dengan segala pemikiran yang memenuhi kepalanya. Di satu sisi, ia sangat mengkhawatirkan Omma nya, namun disisi lainnya ia juga tidak bisa memaksa Yoongi menerima perjodohan ini karena keinginan Omma nya.


" Hyung.... Bisa tinggalkan kami sebentar. Ada hal yang harus ku bicarakan lebih dulu dengan Yoongi Hyung."


" Baiklah. Hyung tunggu dirumah saja sekalian istirahat sebelum penerbangan malam ini."


Hoseok meninggalkan mereka dan mendekati Soobin yang masih sibuk dengan ponselnya. Mau bagaimana pun ia tidak mau mengganggu pembicaraan mereka, dan alasan Hoseok mengajak Soobin pulang karena ada hal yang ingin ia sampai kan juga pada namja super tinggi itu.


Detik jam masih menjadi melodi dalam keheningan mereka, walau hujan rintik-rintik mulai membasahi jendela yang membuat pandangan sekitar tampak tertutup samar. Baik Taehyung maupun Yoongi masih menunduk memikirkan kelanjutan pembahasan tadi. Hingga helaan nafas Taehyung mengalihkan atensi Yoongi.


" Hyung... Kenapa kau menerima perjodohan ini? Kau sendiri tahu bagaimana keadaanku yang sebenarnya. Dan bukankah kau mencintai orang lain?"


Tentu saja hal itu sedikit membuat Yoongi kaget, bagaimana mungkin Taehyung tahu tentang perasaannya saat ini. Tapi, ia juga tidak bisa mundur setelah semua yang ia lihat selama ini.


" Sampai kapan aku harus menunggunya Tae? Bahkan orang tuaku sudah beberapa kali mengenalkan ku pada anak teman mereka. Setidaknya kalau denganmu, aku bisa memakluminya. Kita sudah saling mengenal sejak kecil."


" Tapi apa harus denganku, Hyung? Kau tahu keadaanku yang sebenarnya. Aku sakit Hyung, bahkan mungkin umurku tidak akan lama lagi."


" Sebab itulah Hyung menerima perjodohan ini, Tae. Hyung akan bersamamu, Hyung tidak akan memaksamu melakukan pengobatan lagi, tapi setidaknya Hyung bisa menjalani semuanya bersamamu."


" Tapi, Hyung..../Apa kau masih mencintainya?"


Diam..... Taehyung hanya terdiam tanpa menjawab apapun. Bibirnya bungkam seribu bahasa, dan Yoongi tahu itu. Ia hanya tersenyum, mengerti keadaan Taehyung saat ini karena ia juga merasakannya. Pertemuan kembali Taehyung dan Yoongi dulu juga terjadi di rumah sakit. Yoongi yang tengah menengok koleganya di Istambul justru bertemu dengan Taehyung.


Awalnya Yoongi bahagia karena bisa menemukannya, tapi mendengar dokter mengatakan vonis penyakit Taehyung senyuman itu justru berganti air mata. Taehyung yang terkejut melihat Yoongi ada disana pun kebingungan dan memohon pada Yoongi untuk tidak memberitahukan keadaannya pada siapapun, termasuk keluarganya.


Yoongi berjanji akan merahasiakan semuanya namun tidak dengan keberadaan Taehyung pada Hoseok, karena sahabatnya itu seperti hilang akal karena tidak pernah mengetahui keberadaan adiknya. Dan Taehyung setuju. Namun yang membuat Yoongi heran, Taehyung tidak mau melakukan pengobatan, bahkan membiarkan penyakitnya semakin menjadi. Tumor otak... penyakit yang sebenarnya bisa disembuhkan dengan operasi dan terapi, tapi Taehyung menolak itu semua.


" Biarkan Hyung bersamamu melewati semuanya, Tae. Kau tidak sendiri."


" Tae hanya tidak ingin Hyung menyesal nantinya. Tae tahu Hyung menyukai orang lain, tapi kenapa Hyung justru memilih perjodohan ini."


" Kita sama-sama menyukai orang lain, Tae. Hyung sudah pasrah dengan semuanya. Setidaknya dengan begini Hyung bisa membuat orang tua kita bahagia."


" Bagaimana kalau nantinya justru aku yang menyakitimu, Hyung?"


" Kita sudah tumbuh bersama dari kecil, dan Hyung tahu seperti apa dirimu. Kau tidak pernah bisa menyakiti orang lain tanpa alasan." 'Dan sebab itu juga kau menjadi cinta pertamaku dulu. Walau kini hati ini sudah menjadi milik orang lain.' lanjutnya dalam hati.


Mereka kembali terdiam, menunggu hujan reda dengan perasaan yang bisa dibilang bimbang dan tumpang tindih. Biarkan saja mereka mengambil keputusan yang terbaik untuk mereka berdua.


Di mansion yang cukup luas ini, Hoseok masih terjaga menunggu adik dan sahabatnya yang masih belum juga kembali setelah ia tinggalkan tadi. Padahal 2jam lagi pesawatnya akan segera tiba dan ia belum mendapatkan jawaban dari keduanya. Atau hanya Taehyung saja? Karena tadi Yoongi sudah mengiyakan perjodohan ini.


Ia masih tetap menunggu sambil berjalan kesana kemari dengan koper di sampingnya, bahkan Soobin sampai jengah melihatnya.


" Bisakah kau diam sebentar, Hyung... Mereka pasti akan kembali. Ya kalau nggak, mungkin mereka menginap di hotel."


Tentu saja itu membuat Soobin mendapat pukulan sayang berkali-kali dari Hoseok dengan menggunakan bantal sofa yang ada disana.


" Taehyung dan Yoongi Hyung tidak punya pikiran kotor seperti mu ya!! Kau saja Sono sama kekasihmu!"


" YAAK!! Sakit Hyung!!"


Bersamaan dengan itu pula, terdengar suara mesin mobil dari depan rumah. Hoseok langsung duduk dengan posisi santai, mengabaikan Soobin yang berdecak sebal padanya. Ya mau bagaimana pun juga ia harus menjaga image didepan adiknya. Hingga pintu itu terbuka mengambilkan keduanya yang terlihat biasa saja.


Mereka terlihat biasa saja. Apa mungkin Taehyung berhasil membujuk Yoongi agar menolak perjodohan ini juga? Kalau sudah begini bagaimana Hoseok bisa menjelaskan semuanya pada orang tuanya.


" Kami sudah sepakat menerima perjodohan ini, Hyung."


" Jadi begitu.... Ha????"


Hoseok cengo saat ini. Apa ia salah dengar atau telinga nya yang bermasalah? Taehyung benar-benar mau menikah dengan Yoongi? Seketika pula senyuman Hoseok mengembang dan langsung memeluk keduanya.


" Hyung yakin mau menikah dengan si muka tembok ini ? Apa lagi calon kakak iparmu ini sangat menyebalkan."


" YAAK!!! Apa kau bilang!"


Dan malam itu dipenuhi gelak tawa Soobin, Hoseok dan senyum manis Yoongi. Hanya Taehyung yang terlihat biasa tanpa ekspresi. Mungkin ini memang jalan terbaik untuknya, ia hanya perlu menjalaninya dan berusaha menerima semuanya. Mengabaikan isi hatinya yang menolak semua ini.


Setelah berdebat dengan Soobin dan meninggalkan mansion itu, kini Hoseok telah tiba di bandara internasional Istambul. Ia diantar oleh Taehyung dan Yoongi. Padahal tadi hujan sangat lebat, tapi lihatlah sekarang langit malam ini penuh dengan bintang yang bersinar terang.


Bahkan udara yang biasanya dingin sehabis hujan, kini tak sedingin biasanya. Tak banyak penumpang saat malam hari seperti ini, apalagi pesawat yang akan dinaiki Hoseok tidak akan transit ke negara lain lagi karena akan langsung terbang ke Korea. Sehingga itu sedikit memudahkannya.


" Sebelum Hyung pergi, Hyung ingin kau memasangkan cincin ini pada Yoongi Hyung Tae. Cincin ini Omma yang memilihnya sendiri. Anggap saja ini cincin pertunangan kalian, dan sebagai lambang pengikat kalian."


Hoseok memberikan sepasang cincin biru yang sangat indah. Bahkan Yoongi mengakui pilihan nyonya Kim sangat bagus. Ia jadi ragu menerima benda yang sangat indah dan pastinya mahal itu. Bahkan disana terdapat ukiran 'Forever love' yang artinya cinta selamanya, apa ia bisa menjadi istri yang baik nantinya sedangkan sekarang saja masih ada orang lain yang tinggal di singgasana tertinggi.


" Tapi Hyung, bukankah ini terlalu cepat untuk itu?"


" Tidak ada kata cepat atau lambat Tae, semuanya untuk kebaikanmu juga. Dan satu lagi pesan Hyung, kau harus cepat pulang. Selesaikan semua urusanmu disini, dan segera kembali ke Korea. Cepat pakaikan cincinnya!!!"


Akhirnya dengan terpaksa mereka saling memakaikan cincin itu di jari manis pasangannya, sehingga Hoseok dapat tersenyum puas karenanya.


" Perlakukan Yoongi Hyung dengan baik Tae. Ah tidak! Kau harus memperlakukan Yoongi Hyung dengan baik, baik sekarang maupun nanti. Ingat, Yoongi Hyung akan menjadi tanggung jawabmu setelah ini."


" Nee Hyung."


" Hati-hati Hoby_aaa... Kirimkan salamku untuk orang dirumah."


" Nee Hyung. Kau akan kembali besok siang kan? Sempatkan waktu untuk mengantarkan Yoongi Hyung Tae, kalau perlu kau juga ikut pulang saja."


Taehyung tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan. Tak berselang lama panggilan penerbangan menuju Seoul terdengar, maka dari itu Hoseok harus segera masuk dan berpisah dengan mereka.


Setelah mengantarkan Hoseok, kini hanya ada keheningan dalam mobil itu. Bukan karena keduanya yang sama-sama terdiam, melainkan Yoongi yang tertidur lelap setelah beberapa saat dalam perjalanan. Taehyung yang melihatnya pun tak tega bila harus mengganggunya.


Sesaat ia melirik jari manisnya yang telah tersemat cincin yang sama dengan milik Yoongi, ia sangat bingung dengan keadaannya sekarang. Di satu sisi ia masih menyimpan perasaan pada seseorang itu, tapi tak lama lagi ia akan menikah dengan Yoongi.


Yoongi sudah sangat membantunya Selama ini, tapi waktunya juga tidak banyak untuk membalas semuanya. Padahal ia tahu Yoongi juga mencintai orang lain, tapi ia dengan mudah melepaskannya demi Omma nya. Bukankah itu sebuah pengorbanan yang sangat besar.


" Hyung.... Bisakah aku membahagiakanmu disisa umurku ini? Aku ingin membalas semuanya, walaupun aku bukanlah Jimin Hyung. Aku harap kesempatan ada."


Taehyung berbicara sangat pelan karena tidak ingin mengganggu tidur Yoongi. Mungkin Yoongi sangat capek, bahkan jalanan yang cukup ramai pun tidak mengusiknya.


Satu jam perjalanan dihabiskan dengan kesunyian. Bahkan saat sampai didepan mansion pun, Yoongi masih tetap tertidur. Taehyung yang melihat itu bingung sendiri. Ingin membangunkan tapi tidak tega. Terpaksa dengan hati-hati ia menggendongnya ala bridal style menuju rumah. Maid yang memang masih terjaga segera membukakan pintu setelah mendengar suara mobil sang majikan.


Beberapa dari mereka tersenyum melihat bagaimana cara V membawa Yoongi. Bahkan hampir ada yang menjerit heboh kalau tidak ditahan maid yang lainnya. Dengan hati-hati ia membawa Yoongi ke kamarnya. Salah satu maid yang mengerti mengikuti V dari belakang. Dengan sigap sang maid langsung membukakan pintu kamar Yoongi begitu V sudah sampai didepan kamar Yoongi.


V dengan pelan menidurkan Yoongi di kasurnya. Dan benar saja Yoongi sama sekali tidak terbangun maupun terganggu sedikitpun. Bahkan Yoongi langsung menarik selimutnya saat dirasa tubuhnya sedikit kedinginan karena pendingin ruangan.


" Semoga keputusan kita ambil ini, memang keputusan yang tepat Hyung. Maaf karena harus menyeret mu masuk dalam kehidupanku."


Setelah itu V meninggalkan Yoongi dan masuk ke kamarnya Sendiri. Dan ketika pintu tertutup sempurna, Maya kucing itu terbuka perlahan. Ya... Yoongi tidak tidur, atau lebih tepatnya ia sudah terbangun saat V menggendongnya tadi. Tapi karena malu, ia memutuskan untuk pura-pura tidur saja.


Perlahan Yoongi bangun dari tidurnya dan meraih sebuah buku yang selalu ia bawa kemanapun. Dengan hati-hati ia membuka satu persatu halaman hingga ia bisa melihat sebuah foto yang sudah lama ada dalam buku itu.


" Cukup sampai disini penantian ku, Jim. Aku akan berusaha melupakan semua perasaanku padamu. Mungkin ini butuh waktu, tapi aku sudah memikirkan semuanya."


Perlahan ia taruh kembali foto itu dalam buku, menggenggamnya erat dan tak terduga air matanya mengalir begitu saja. Berat baginya harus menerima semua ini, tapi Yoongi sudah lelah menanti dan ini yang terbaik untuk semuanya.


" Aku juga akan berusaha membahagiakanmu Tae, setidaknya kita bisa saling menguatkan untuk tetap bertahan."


Yoongi akan mencoba menjalani ini semua, penantiannya selama 8tahun harus ia kubur dalam-dalam. Karena bagaimanapun ia juga ingin membahagiakan orang tuanya. Mereka sangat menginginkan Yoongi segera menikah, dan mungkin dengan menerima perjodohan ini ia bisa membahagiakan mereka juga.


Ditempat lain, di bandara internasional Seoul. Jungkook dan Jimin sudah siap dengan koper yang dibawa oleh para bodyguard nya. Hari ini juga mereka akan berangkat ke Istambul untuk bisnis mereka dengan beberapa klien. Dan juga ini kesempatanku Jimin untuk berbicara dengan Yoongi.


" Hyung... Entah kenapa Kookie sangat gugup, seperti akan ada sesuatu yang terjadi nanti."


" Tenanglah Kook, seharusnya aku yang gugup bukannya dirimu. Lagipula sudah biasa kita pergi ke berbagai negara, kenapa kau jadi gugup begini?"


" Kookie tidak tahu Hyung, hanya dari tadi perasaan Kookie tidak tenang. Apakah mungkin ini pertanda buruk, Hyung?"


" Tidak akan terjadi apa-apa, Kook. Tenanglah, kau sendiri yang memaksaku ikut denganmu kan? Selama ada Hyung, kau akan baik-baik saja."


'kau tidak tahu, Hyung. Perasaan Kookie benar-benar tidak menentu. Kegelisahan ini, debaran ini, seperti saat pertama kali Kookie mendengar kepergiannya dulu Hyung.'


Panggilan penerbangan menginterupsi mereka. Kaki itu melangkah menyusuri bandara yang sedikit ramai menuju gerbang keberangkatan. Mata monolite itu melirik langit biru dari jendela besar disampingnya dengan debaran jantung yang berpacu kencang. Memikirkan seseorang yang selalu ada dalam ingatan dan hatinya dari dulu.


'Mungkinkah kau ada disana Hyung?'


...Dukung author terus ya🥰...